
Umur, rezeki dan jodoh, memang urusan yang kuasa, tak seorangpun yang dapat mengetahuinya, begitu juga dengan Teguh.
Setelah Pelangi membuka praktek nya dan bulan bekerja sebagai kejaksaan seperti biasanya, beberapa bulan kemudian Teguh pun jatuh sakit.
bulan dan pelangi yang sangat sayang pada papanya, tentu tak mau sedikitpun jauh dari papanya itu.
"bulan, pelangi kenapa kalian tidak pulang nak ?" ucap teguh dengan terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.
"tidak, bulan sama pelangi tak mau pergi kemana-mana, kami ingin terus berada di samping papa." ujar bulan yang duduk di sebelah ranjang ayah nya.
" kalian tak mandi atau tak makan terlebih dahulu ?" ujar teguh kepada kedua putri nya.
"tidak pa..." lirih singkat bulan.
"kami akan mandi dan akan makan Setelah Papa sembuh." tambah pelangi dan di balas anggukan oleh bulan.
"itu tak baik sayang, pulanglah dulu untuk istirahat, nanti malah kalian lagi yang akan sakit." ujar teguh meminta anaknya pulang, sebab semenjak dia di bawa ke rumah sakit pagi tadi, anak-anak nya enggan untuk berpisah dari nya, mereka selalu menempel pada ayah nya terus-menerus.
"eh, jangan berkata seperti itu, apa gunanya usaha dan jerih payah papa selama ini, kalau kalian jadi begitu, semuanya papa lakukan selama ini untuk kalian sayang, kalaupun Tuhan memang menginginkan papa kembali kepadanya, papa rela ! Karena kini kalian pun sudah dewasa dan menjadi orang yang telah membuat Papa bangga dan bahagia." tambah teguh lagi menatap kedua anaknya dengan senyum yang mengembang.
"tidak, papa jangan berkata seperti itu pa, papa tidak boleh mati !" ujar pelangi menatap ayah nya berkaca-kaca.
"Pelangi, kau tak boleh berkata seperti itu nak, ingat apa yang kita miliki harta, keluarga, nyawa, semua milik Tuhan, jadi jika memang Tuhan menginginkannya kembali, kita harus merelakannya." ujar Teguh berusaha mengingatkan putrinya.
"tapi Pelangi dan kak bulan belum siap menghadapinya pa, kami masih ingin berada di samping papa, kami masih butuh kasih sayang dan bimbingan serta perhatian papa." tambah pelangi dengan air mata yang mengalir deras.
"ya papa pun berharap begitu sayang, bahkan jika tuhan mengizinkan nya, papa ingin tetap hidup dan bisa mendampingi kalian, bisa melihat kebahagiaan kalian, bisa menggendong cucu papa dari kalian, tetapi jika Tuhan tak mengizinkan nya ! makanya papa pun harus ikhlas dan rela, begitu juga yang papa harapkan dari kalian berdua, jika memang Tuhan menginginkan papa kembali, papa berharap kalian akan rela melepaskan kepergian papa." ujar teguh tersenyum kearah kedua anak nya.
"tidak, papa Jangan bicara begitu, papa harus tetap hidup, kami masih membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari papa, kami masih butuh bimbingan papa." bulan dan Pelangi pun menangis menggenggam tangan ayahnya dan meletakkan tangan ayahnya di pipi mereka.
"berdoalah sayang, mohonlah petunjuk dari Tuhan, hanya Tuhanlah yang punya wewenang atas hidup dan matinya kita." tambah Teguh berharap.
Mereka pun selalu berdoa supaya papa mereka sembuh dan tetap hidup, sehingga papanya akan tetap berada di samping mereka, memberi perhatian dan cinta kasih serta bimbingan kepada mereka, bulan maupun Pelangi, dengan rajinnya dan penuh semangat berdoa untuk kesembuhan ayah tercinta mereka setiap hari nya.