My Little Baby

My Little Baby
238. Lelaki tua



"andai saja papa masih hidup dan bersama kita!" lirih pelangi dengan air mata yang mengalir.


"iya dek, kakak juga merindukan papa." ujar bulan lagi dengan penuh kesedihan.


"sudahlah, jangan lagi kalian hanyut dalam kesedihan." ujar Sarah setiap hari nya, dia selalu saja setia menenangkan anak-anak nya.


"iya ma.."lirih bulan dengan suara sedih nya.


"iya ma..." ujar pelangi lagi.


"kalian seharusnya menunjukkan pada arwah papa kalian, kalau kalian tak akan pernah mengecewakannya." tutur Sarah memberi dorongan semangat untuk anak-anak nya.


"iya ma..." lirih mereka bersama.


Dengan dorongan semangat dari Sarah dan Adit maupun Agam sekeluarga nya, bulan dan Pelangi pun, berusaha untuk mengabulkan harapan almarhum papa mereka.


Bulan pun kembali menyibukkan diri dengan bekerja sebagai seorang jaksa, membantu yang lemah dan menegakkan keadilan.


Sedangkan Pelangi menyibukkan diri memberikan pelayanan kesehatan kepada para sopir-sopir dan pegawai perusahaan, serta masyarakat sekitar yang kurang mampu.


Dengan hal itu kesedihan di hati mereka ditinggal mati oleh orang, yang sangat mereka sayangi dan dijadikan idola serta panutan hidup mereka akhirnya sedikit berkurang, hari-hari dijalani mereka dengan berusaha memberikan amal kebajikan kepada orang-orang lemah sebagaimana yang diamanahkan oleh almarhum papa mereka.


Pada pagi harinya saat bulan keluar dari rumah hendak menjalankan tugasnya sebagai seorang jaksa yang agung dan bertemu klien nya, dia tak sengaja melihat seorang lelaki berpakaian lusuh, dengan tubuh lemah terduduk menyender di dinding pintu gerbang rumahnya, dengan perasaan iba bulan pun menghampiri lelaki itu.


"pak..." lirih bulan memanggil lelaki yang bersandar itu, dengan keadaan lemas, lelaki setengah baya itu pun perlahan menengok dan membuka kedua matanya


" iya non!" ujar lelaki itu, dengan pakaian lusuh dan compang-camping nya.


"kenapa bapak tidur di sini ? di mana rumah bapak?" tanya bulan lagi.


"saya tak punya rumah non ?" jawab nya.


"kalau keluarga ?" tanya bulan lagi.


" juga tak ada non..." jawab lelaki itu mendongak menatap bulan.


"memangnya bapak berasal dari mana ?" tanya bulan lagi.


"saya berasal dari sini juga non!" ucap lelaki itu lagi.


"loh, kok bapak mengatakan tidak punya keluarga ?" ujar bulan mengerutkan keningnya.


"memangnya ke mana istri dan anak bapak pergi ?" tanya bulan lagi.


"saya tak tahu non istri saya pergi dengan anak saya, bersama lelaki lain." lirih lelaki itu dengan tertunduk sedih.


"kasihan sekali bapak !" iba bulan.


"pak, bapak ikut saya masuk yah !" ujar bulan lagi sambil membantu memapah lelaki itu.


"jangan non, saya kotor dan tidak pantas." ucap lelaki itu lagi sambil menatap rumah besar dan mewah di hadapan nya ini.


"sudah, tidak apa-apa kok pak." jawab bulan tersenyum manis.


"seandainya kamu anak bapak non, pasti bapak akan senang, tapi bapak nggak tau dimana pergi nya anak pertama bapak, kalau bapak tau keberadaan nya, pasti sekarang dia sudah sebesar non." ujar lelaki itu mengiba.


"maksud bapak ?" tanya bulan lagi namun tiba-tiba pelangi datang menyusul kakak nya, ketika ia melihat kakak nya bercengkrama dengan seseorang di depan pagar rumah nya.


"siapa kak ?" tanya pelangi mendekati kakak nya yang sedang membantu mendirikan lelaki tua itu.


"dek, tolong bantu kakak bawa bapak ini masuk yah!" pelangi pun mengangguk dan membantu memapah tubuh lelaki itu tanpa ada rasa jijik dan risih sama sekali.


"kalian benar-benar anak yang baik, terima kasih ya." ucap lelaki itu dan dibalas senyuman oleh bulan dan pelangi.


Namun saat berada di depan pintu lelaki itu pun menolak masuk.


"biar di sini saja non." ujar lelaki itu mendudukkan bokong nya di depan pintu rumah mereka, bulan pun memandang pelangi sehingga pelangi mengangguk kearah kakak nya.


"baiklah, sebentar ya pak!" pelangi pun berjalan masuk ke dalam rumah untuk mengambil makanan, sementara lelaki setengah baya itu dengan rasa haru dan kagum memandang kepergian Pelangi dan menatap ke arah bulan yang tersenyum manis ke arahnya, kemudian memandangi sekeliling rumah mewah itu dengan perasaan kagum.


Tak berapa lama Pelangi pun telah kembali dengan diikuti dua orang pembantu rumah mereka dengan membawakan makanan dan kemudian dihidangkan di atas meja di mana lelaki setengah baya itu duduk di teras rumah.


"dek, kakak berangkat dulu yah ?" ujar bulan sambil melirik jam tangan mewah nya.


"iya kak, hati-hati yah." ucap pelangi.


"pak, saya mau kerja dulu, bapak sama adik saya yah, kalau bapak butuh apa-apa bapak nggak usah sungkan-sungkan." ujar bulan tersenyum kearah lelaki itu.


"terima kasih yah non, terima kasih banyak." ucap lelaki itu tulus, bulan pun mengangguk dan pergi meninggalkan lelaki itu bersama pelangi.