
Hari ini ada turnamen yang digelar di pusat kota, Sarah dan berserta guru-guru honorer yang lain, wajib menghadiri turnamen tersebut, guna mendukung siswa-siswi nya yang mengikuti beberapa perlombaan tersebut.
"sayang, kamu yakin nggak mau ikut mama?" tanya Sarah ke bulan, sebab bus sekolah sudah siap akan mengantarkan mereka.
"iya ma bulan di sekolah aja, bulan ada latihan soal nya bentar lagi..." jawab bulan, sambil mengaden tangan teman-teman nya.
"iya sudah, nanti mama minta papa buat jemput bulan yah, soal nya papa libur hari ini, pasti papa mau jemput bulan..." ujar Sarah sambil mencium anak nya itu.
"iya ma, hati-hati yah ma, jangan lupa jagain dedek baik nya !" tutur bulan mengelus perut rata Sarah.
"iya, sayang "
Sarah pun langsung menaiki bus dan duduk bersama ayu dan yoga di bangku bagian belakang.
"gue telpon dulu yah...!" izin Sarah sambil menekan tombol kontak Alex suami nya, tak berselang lama, panggilan nya pun di terima.
[iya sayang, ada apa ?] tanya Alex di sebalik telepon.
[kak, Sarah sama guru-guru yang lain lagi ke pusat kota, ada siswa-siswi yang akan mengikuti turnamen hari ini, Sarah ingin kakak jemput bulan yah sepulang sekolah, sebab bulan masih ada latihan di sekolah nya, dia nggak ikut Sarah saat ini ?] jelas Sarah.
[iya sayang, nanti pasti kakak jemput...]
[terima kasih yah kak, bye...]
[bye...]
panggilan handphone nya pun terputus.
"nggak romantis Lo ?" lirih ayu yang berada di sebelah Sarah.
"maksud nya ?" tanya Sarah bingung.
"iya maksud gue, kenapa Lo nggak panggil kak Alex, sayang-sayang juga, sama kayak dia manggilin Lo sayang ?" tanya ayu, yang berkomentar dengan panggilan Sarah.
"haah, gue hanya canggung yu ! sebab belum terbiasa..." jelas Sarah, entah kenapa ia merasa aneh, kalau memanggil Alex dengan sebutan yang romantis.
Di tempat lain, terlihat Alex sedang berbaring di atas kasur empuk nya, ia senyum-senyum sendiri sambil membaca chat di handphone nya.
"entah kenapa sekarang gue jadi cowok yang plin-plan seperti ini ! di sisi lain, gue sayang sama Sarah dan bulan, dan gue juga tak tega mengkhianati mereka, namun di sisi lain pula, gue merasa nyaman dengan kemewahan yang setiap hari di berikan dan di janji kan oleh meci."
Meci memang menjanjikan banyak hal untuk Alex, bahkan ia akan memberikan apapun yang Alex mau, hanya saja ia tak mengeluarkan atau memberikan dengan uang nya sepersen pun, sebab itu semua di beri kan oleh Riska mama Alex sendiri, bahkan mobil yang Alex kenakan pun, juga pemberian dari Riska, yang beriming-iming hadiah, dari keluarga meci.
Riska akan melakukan apapun, agar anak sulung nya itu, berada di bawah kendali nya, hingga harus memisahkan alex dengan keluarga nya.
"perlahan-lahan, aku akan menguras kekayaan mu meci..." lirih Alex, sambil tersenyum penuh kemenangan.
Alex pun mengendarai mobil nya dengan kecepatan sedang, memotong jalan raya.
Beberapa jam kemudian, Sarah yang sedang berada di dalam keramaian di pusat kota, tengah menghadiri turnamen sekolah, di kejutkan dengan sebutan panggilan dari nomor yang tak di kenal, tanpa menunggu lama, Sarah pun langsung menerima panggilan telepon tersebut.
[hallo...] panggil Sarah, sambil menempelkan benda pipih di telinga nya.
[mama, ini bulan ma ! bulan pake telepon teman bulan buat hubungi mama !" terang bulan.
[iya sayang, ada apa ? apa bulan sudah pulang ? atau sudah sampai di rumah?] tanya Sarah.
[ma, mama bilang papa bakal jemput bulan ! kok dari sekarang, papa belum datang-datang sih ma ? bahkan orang-orang di sekolah sudah pulang semua, hanya bulan dan teman bulan yang masih di sekolah, nungguin jemputan...] ujar bulan, hingga membuat Sarah tersentak khawatir mendengar penjelasan anak nya.
[sayang, mama sudah hubungi papa kok, papa bilang bakal jemput bulan tadi ?] jelas Sarah lagi.
[tapi papa nggak datang-datang ma ! apa papa bohongi bulan sama mama ?] ujar bulan hingga membuat Sarah berlari keluar dari gedung perlombaan tersebut.
"kemana Lo ?" tanya ayu aneh, saat melihat Sarah berlari keluar gedung.
"anak gue bulan, nggak ada yang jemput ! gue jemput bulan ke sekolah dulu yah ?" lirih Sarah sambil menempelkan handphone di telinga nya.
"bukan nya suami Lo yang jemput bulan ?" tanya ayu lagi.
"nanti gue jelasin, gue ke sekolah dulu ! gue takut bulan kenapa-kenapa nanti nya." Sarah pun keluar dari tempat perlombaan itu, tanpa berpamitan terlebih dahulu kepada panitia yang bertugas di sekolah nya.
Sarah pun berlari mencari taksi atau ojek untuk menjadi kendaraan nya menuju sekolah.
[sayang, jangan kemana-mana yah ! mama kesana sekarang ?] ucap Sarah dengan panggilan yang masih aktif.
[iya ma...] panggilan pun terputus.
Tak berselang lama Sarah sudah duduk di dalam taksi saat ini, dia berusaha mengotak-atik nomor ponsel Alex.
NOMOR YANG ANDA TUJU SEDANG TIDAK AKTIF, COBALAH BEBERAPA SAAT LAGI.
Sedari tadi,hanya Veronika yang menjawab panggilan tersebut.
"kak, kamu dimana ? kenapa handphone mu tidak aktif seperti ini ?" lirih Sarah, dengan perasaan khawatir terhadap bulan yang sendirian bersama di sekolah.
"apa yang terjadi sebenarnya ? kenapa kamu membuat ku curiga seperti ini terhadap mu kak ?" sebab Sarah punya firasat buruk terhadap gelagapan suami nya, sedari pagi tadi.