
"apa sarah sudah melahirkan ?" tanya ayu antusias menunggu persalinan Sarah.
"iya Sarah sudah melahirkan, anak nya perempuan, sangat cantik sama seperti bulan." ujar teguh menatap kearah bulan yang sangat bahagia.
"horeee adek bayi udah keluar..." teriak bulan bahagia.
"syukur lah..." ucap yoga menarik nafas lega nya.
"ouh ya, tadi kamu ke rumah kak Alex kan ? apa yang Kak Alex katakan?" tanya yoga, sebab ia tak sempat menanyakan apapun tadi.
Teguh hanya menggeleng kepala kearah yoga.
"aku berharap nya , hati lelaki itu akan terketuk dan mengiba sedikit terhadap Sarah dan anak-anak nya, namun seperti nya hati nya itu memang bukan terbuat dari segumpal darah, tapi segumpal batu." tutur teguh geram mengingat apa yang di katakan oleh Alex kepada nya.
"sebab dia memang lebih percaya terhadap hasutan ibu nya ketimbang orang lain." tambah teguh lagi.
"dia kan bisa melakukan test DNA ?" protes ayu mendengar ucapan teguh.
"aku dan yoga sudah menyarankan nya, namun ia tetap menolak." jelas teguh lagi terlihat yoga mengangguk membenarkan ucapan teguh.
"tapi anak nya seorang perempuan, bagaimana pun dia memerlukan wali yang sah kelak untuk menikahi nya !" ujar ayu lagi, ia semakin membenci sikap Alex, yang begitu egois.
"tapi kita harus bagaimana lagi ! ayah kandung nya bahkan tak menginginkan nya." sambung yoga.
"iya sudah besok biar gue lagi yang temui kak Alex, semoga hati nya perlahan melunak." tutur yoga menambahkan.
Sarah di pindah kan ke ruangan rawat inap, ketiga sahabat nya dan bulan pun berjalan mengikuti langkah kaki perawat yang membawa Sarah dan anak nya.
setelah sampai di sana, ayu ambil alih mengendong bayi perempuan cantik itu.
"hello cantik..." sapa ayu mencium wajah bayi itu.
"hallo adik cantik..." sapa bulan mencium adik nya, yang sudah berbalut cantik dengan kain jarik.
"mau di kasih nama siapa si cantik ini ?" tanya ayu menatap Sarah dan bayi nya Sarah secara bergantian.
"entah lah, belum kepikiran..." ucap Sarah menatap kearah anak nya yang berada di dalam dekapan ayu.
"bulan sini nak !" Sarah memanggil bulan anak sulung nya, bocah 5 tahun itu, yang sangat senang dengan kehadiran adik bayi nya.
"bulan senang kan ?" tanya Sarah mencium wajah bulan.
"senang dong ma..." lirih bulan tersenyum manis.
"bulan mau kasih nama adik bayi nya apa ?" tanya Sarah, meminta saran bulan anak pertama nya.
"apa yah ma ?" ujar bulan berusaha berpikir.
"bulan tak tahu ma..." tutur bulan memperlihatkan gigi ompong nya.
"pelangi aja Sarah ! bulan kan menyinari bumi kala kegelapan, sedang kan pelangi, hingga di bumi setelah hujan datang." ucap ayu memberi saran, sehingga Sarah mengangguk setuju.
"pelangi." lirih Sarah tersenyum senang.
"pelangi, nama yang indah." ucap teguh mencium wajah bayi cantik itu.
"bagus dan unik" tambah yoga lagi.
"hallo pelangi..." lirih teguh, ia sangat senang bisa melihat anak kedua Sarah, yang terlahir sehat tanpa ada kekurangan sedikit pun.
keesokan harinya dengan membawa harapan kiranya setelah mendengar anaknya telah lahir Alex akan tersentuh dan mau datang ke rumah sakit untuk menjenguk istri dan anaknya, Teguh dan Yoga kembali menemui Alex, mereka rela mengorbankan harga diri mereka demi orang yang sangat dicintai oleh Teguh tersebut.
"ada apa lagi kalian ke sini ?" tanya Alex dengan raut wajah tak suka.
"kami hanya ingin memberitahu kalau anakmu telah lahir seorang perempuan, dan kami datang untuk meminta pendapatmu mau diberi nama siapa dia ?" tanya yoga to the points.
"itu bukan anakku ! jadi aku tak mau memberi nama untuk nya atau apapun itu, jika kalian memang mau, kalian saja yang membuat nama nya dan kalian rawat saja dia !" ujar Alex menatap tajam kearah teguh dan yoga.
" dan ku ingatkan sekali lagi, jangan lagi-lagi menemuiku atau mendatangi rumah ku, sebab aku sudah mempunyai istri dan aku juga sudah mempunyai anak dari istri ku itu, aku tak ingin anak ku tahu kelak tentang anak haram itu, seumur hidup ku, aku hanya mempunyai dua orang anak, bulan dan anak yang meci lahir kan ini." ucap Alex tegas.
"lelaki macam apa kamu Alex ! bahkan binatang saja tak akan menelantarkan anaknya tapi kamu ?" teguh sangat tak menyangka ucapan yang keluar dari mulut Alex seperti itu.
"persetan dengan omongan kalian, terserah kalian mau menganggap ku apa ? yang pasti walau kau meratap dan menyembah padaku agar aku mau menemui mereka dan mengakui anak itu sebagai anak ku, aku tetap tidak akan pernah mau." ujar Alex menatap tajam kearah kedua orang di depan nya ini.