
Meskipun keguguran yang dialami oleh Novi sudah beberapa hari berlalu, namun Novi masih saja syok dan tidak bisa menerima kepergian anak nya itu, setiap pagi Novi hanya duduk melamun di depan teras rumah, yang terdapat kursi rotan di depan nya, sedang kan Adit berusaha melupakan kesedihan nya dengan sibuk melayani pelanggan berjualan bakso, mungkin itu adalah salah satu cara manjur untuk melupakan kesedihan hati nya.
Sarah tidak bisa berlama-lama cuti karena dia adalah pegawai baru di sekolah dasar tempat nya bekerja, sehingga Sarah terpaksa meminta bulan untuk tidak sekolah beberapa hari untuk menemani Novi di rumah.
"Tante, Tante mau makan, bulan ambilin ?"tanya bocah itu kepada Tante nya, seperti nya Novi memang enggan bersuara, dari tadi setiap bulan berbicara selalu di jawab dengan anggukan atau pun gelengan, namun seperti nya bulan paham, karena ia sempat di beritahu Oleh Sarah, bahwa Tante Novi sedang sakit Jangan terlalu menyusahkan Tante atau membuat Tante jadi sedih, dan bulan pun mengiyakan ucapan mama nya.
"Tante, kalau Tante mau makan, Tante panggil bulan saja yah, bulan ada di kamar nonton film kartun di laptop mama..."ucap bulan lagi dan di jawab anggukan oleh Novi.
bulan pun langsung lari ke kamar untuk kembali menikmati film kartun favorit nya sedang kan Novi masih duduk melamun dengan air mata yang seketika mengalir di pelupuk mata nya
Seperti ada sesuatu tragedi besar yang membuat Novi seperti ketakutan dan sering berteriak minta tolong tanpa ada yang menggangu nya,namun Sarah dan Adit malah berpendapat mungkin itu hanya depresi biasa, sebab Novi sangat menyayangi anak nya nya itu.
"aku akan, membalas mu...aku akan membalas mu..."ujar Novi dengan gigi yang beradu, dan air mata yang mengalir deras, tatapan mata nya tajam mengarah ke jalan setapak di depan kediaman nya, namun seketika tanpa ada yang mengetahui nya Novi pun berdiri dan berjalan tanpa beralas kaki memotong jalan setapak itu, dengan Mulut yang meracau, Novi sangat berantakan saat ini bahkan ia sudah enggan mengurus tubuh nya selama ia pulang dari rumah sakit.
setelah beberapa menit kemudian, Adit pun masuk kedalam rumah memanggil bulan dan Novi untuk makan, setahu Adit, dari pagi Novi memang belum makan, kecuali bulan yang sempat sarapan dengan nya sedikit pagi tadi.
"bulan....Novi..."panggil Adit ketika melihat di sekitar rumah tidak terlihat keberadaan istri dan ponakan nya itu
"bulan...Novi..."panggil Adit lagi sambil membuka pintu kamar nya dan berlari ke kamar Sarah, ia pun membuka kamar Sarah, terlihat bulan sedang serius dengan sinema film kartun nya.
"bulan..."ucap Adit sambil mendekat kearah bocah itu
"om, Adit .."jawab bulan sambil berlari kearah Adit yang berada di depan ranjang nya.
"Tante Novi mana ?" tanya Adit, bulan pun langsung bergegas berlari menuju luar rumah dan melirik ke sekeliling rumah dengan tatapan yang bingung
"kenapa bulan, Tante mana ?"tanya Adit lagi, bulan pun masih celingak-celinguk mencari keberadaan Novi.
"tadi Tante duduk di sini om, bulan udah izin nonton kartun di kamar Tante izinin kok om, tapi saat bulan ajak makan Tante nggak mau, Tante mau duduk di sini..."jawab bocah itu dengan nada bergetar ,ia takut di marahin oleh Adit, meskipun selama ini ia tidak pernah di marahin atau di salah kan oleh paman nya itu .
"iya sudah, bulan di kamar aja yah, nonton kartun nya, jangan kemana-mana sampai om pulang yah, ingat, jika ada orang asing yang masuk jangan di buka kan pintu yah nak.."bulan pun mengangguk mengiyakan dan kembali berlari kearah kamar nya.
"Novi....."teriak Adit menggema di perkampungan itu.
"Novi...."
"pak, ada lihat wanita ini..."tanya Adit sambil menunjuk kan foto istri nya di galeri handphone nya.
"oh iya saya lihat tadi berjalan kearah sana..."ucap lelaki itu sambil menujuk kearah lurus .
"terimakasih yah pak..."
"iya..."
Adit kembali mencari keberadaan Novi dengan sedikit berlari , ia takut terjadi sesuatu terhadap Novi,
"Novi...."panggil Adit lagi, namun tetap tidak ada jawaban dari wanita itu
"Novi...."
"kamu dimana Nov, jangan bikin aku khawatir seperti ini .."tak terasa air mata mengalir dari pelupuk mata Adit, hidup nya sangat berat, setelah kejadian tak diinginkan menimpa adik nya sekarang malah menimpa istri dan anak nya,
Adit pun memutar otak dan sedikit berpikir, "mungkin kah Novi ada di kediaman orang tua nya ?" Adit pun langsung berlari menjemput kendaraan nya, pulang dan langsung bergegas tancap gas menuju kediaman keluarga Novi, ayah Novi adalah seorang walikota dan tentunya saat ini sedang berada di rumah dinas, sedang kan ibu nya adalah seorang kepala sekolah, dan jam segini juga sedang bekerja di sekolah,
"kemana perginya Novi ?"
dan benar saja, di rumah mewah itu tidak ada tanda-tanda keberadaan Novi dimana pun, Adit pun memutar motor nya dan berniat mencari di rumah dinas ayah nya atau kesekolah tempat ibu nya mengajar , mana tau mereka menemukan petunjuk keberadaan Novi.
Adit dan Novi menikah di tentang keras oleh keluarga Novi, lebih tepatnya ayah Novi, karena kehidupan mereka yang bagaikan langit dan bumi , mereka memang berbeda kasta, namun Novi rela meninggalkan orang tua nya untuk hidup susah senang bersama Adit dan keluarga nya, bahkan kehamilan Novi pun tidak di ketahui oleh keluarga nya, mana mungkin mereka mengetahui pasca keguguran nya.
adit tak pantang menyerah, ia terus melaju kan motor nya mencari keberadaan Novi, dengan bertumpu dengan keyakinan, bahwa Novi baik-baik saja dan Novi pasti cepat di temukan nya