My Little Baby

My Little Baby
155. Tidak terselamatkan



Sarah dan bulan pulang dari sekolah saat ini, mereka pun bergegas berjalan menuju rumah, namun rumah sangat sepi, tidak siapapun di rumah, bahkan pintu pun di gembok dari luar.


"kemana kak Adit dan kak Novi pergi ?"tanya Sarah sambil melirik anak nya bulan yang sudah duduk di kursi depan, tempat Adit berjualan bakso.


"om, sama Tante nggak ada di rumah ya ma...?"tanya bulan sambil memandang mama nya.


"mama juga nggak tau nak, om sama Tante kamu kemana..."saat mereka sibuk memikirkan kemana perginya Adit dan Novi seketika seorang tetangga datang menghampiri mereka dengan sedikit berlari kearah Sarah dan bulan yang sedang duduk di kursi depan rumah.


"Sarah...Sarah..."panggil seorang tetangga sambil sedikit berlari kearah Sarah dengan ekspresi cemas.


"ada apa buk...?"tanya Sarah tak kalah cemas.


"Sarah, kakak mu, kakak ipar mu di larikan ke rumah sakit tadi..."ujar seorang tetangga itu dengan wajah yang sangat cemas.


"kak Novi ? kenapa buk, ada apa dengan Kak Novi ?"tanya Sarah tak kalah cemas.


"dia pendarahan, dan langsung di bawa Adit ke rumah sakit barusan, sana kamu langsung ke rumah sakit, kasihan kak Adit mu di sana sendirian menemani isteri nya..."tambah tetangga itu, Sarah sangat kaget setelah mendengar apa yang di katakan oleh tetangga nya itu, Sarah langsung mengendong bulan untuk bersiap-siap berangkat ke rumah sakit.


"terima kasih yah buk informasi nya..."ujar Sarah sambil berlari tanpa berpamitan terlebih dahulu kepada tetangga nya itu.


Sarah pun terpaksa menghentikan ojek yang lewat di depan jalan rumah nya, ia pun langsung menaiki ojek tersebut dengan bulan yang berada di tengah antara Sarah dan tukang ojek.


"mau kemana mbak ?"tanya tukang ojek tersebut.


"ke rumah sakit bang..."ucap Sarah dan di jawab anggukan oleh tukang ojek tersebut.


"Kak, kakak Adit..."ujar Sarah,Sarah pun langsung berlari memeluk kakak nya dan Adit pun membalas pelukan Sarah dengan sangat erat terasa air mata Adit yang panas di sela tekuk leher Sarah,Sarah pun melirik kakak nya yang sedang menangis saat ini.


"Kak, ada apa dengan kak Novi, kak Novi baik-baik saja kan kak ?" Adit hanya diam ia tidak menjawab apapun, air mata nya mengalir saat ini, ia sangat takut sesuatu terjadi terhadap Novi dan anak nya saat ini.


"kak, kenapa kakak diam, kak Novi baik-baik saja kan ?"tanya Sarah lagi, Adit terlihat berantakan ia sesekali menarik nafas panjang ia sangat takut hal yang tak di inginkan menimpa istri dan anak nya.


"kak..."ujar Fitri lagi.


"kakak takut dek, kakak takut sesuatu yang tidak di inginkan terjadi terhadap Novi apa lagi menimpa anak yang Ada di kandung nya saat ini..."sahut Adit dengan cemas, ia hanya bisa mondar-mandir di depan ruangan UGD itu.


"mudah-mudahan tidak apa-apa kak, kita doa kan saja semoga kak Novi dan anak nya baik-baik saja..."ujar Sarah menenangkan, padahal dirinya juga di Landa kecemasan saat ini.


"Kak, bagaimana cerita nya kok kak Novi bisa seperti ini?" tanya Sarah menatap kakak nya meminta penjelasan.


"kakak juga nggak tau dek yang jelas nya, kakak ada di depan sedang melayani pelanggan, terus kakak mendengar suara benturan sangat keras, hingga kakak berlari kearah rumah dan memeriksa apa yang sedang terjadi, namun kakak malah mendapati Novi yang sedang terkapar bersimbah darah di lantai rumah, kakak tidak tau apa yang terjadi sebenarnya, kakak Langsung membawa nya ke rumah sakit dengan di temani oleh beberapa warga yang membantu..."ujar Adit dengan air mata yang mengalir deras,ia sangat ketakutan membayangkan sesuatu yang tidak di inginkan menimpa istri dan anak nya Nanti.


tak berselang lama dokter yang memeriksa pun keluar dari ruangan UGD dan dokter pun langsung menghampiri Adit dan Sarah.


"kami sudah memeriksa keadaan pasien, pasien harus di operasi saat ini juga, untuk pengangkatan janin, karena janin yang pasien kandung tidak bisa di selamat kan lagi, jika operasi ini telat sedikit saja, maka hal tersebut bisa mengancam nyawa pasien..."ucap dokter menjelaskan, Sarah dan Adit menangis histeris, mereka tak menyangka anak yang di kandung Novi harus di lakukan tindakan aborsi saat ini.


"dok, apa tidak ada cara lain, tolong selamatkan anak dan istri saya..."ujar Adit sambil memegang kedua bahu dokter, dokter pun hanya menggeleng pasrah.


"kami sudah berusaha semaksimal mungkin, dan anak yang buk Novi kadung, sudah tidak bisa di selamat kan lagi, kami minta maaf pak,buk..."ucap dokter sambil berjalan meninggalkan Fitri dan Adit yang sedang menangis saat ini, bulan yang berada di antara mereka tak kalah menangis setelah mendengar adik kecil yang ia tunggu-tunggu kehadiran nya sudah tidak bisa di selamat kan lagi.