
Malam ini seketika tubuh bulan menjadi panas dan kejang-kejang, Sarah pun meminta bantuan Agam untuk memeriksa anak nya, kata Agam bulan hanya demam biasa karena kekurangan istirahat dan Sarah menyetujui itu karena beberapa hari ini bulan selalu belajar di sekolah sambil menemani Sarah bekerja di sana.
Sarah pun mengompres tubuh panas bulan dengan kain yang ia basahi sedikit, sehingga Sarah terperanjat mendengar suara kecil dari bibir mungil anak nya itu.
"papa....papa...." tak henti-hentinya bulan memanggil papa nya, bulan sedang mengigau saat ini dan apa mungkin sakit nya bulan karena merindukan papa nya, Sarah pun menangis seketika melihat anak nya yang seperti sangat tersiksa karena keputusan yang ia ambil untuk meninggalkan Alex.
kegelisahan meraja di hati Sarah, karena saat tengah malam pun bulan masih mengigau memanggil ayah nya, Sarah berusaha membujuk nya dengan menenangkan dengan berbagai macam cara namun bulan semakin histeris berteriak mencari ayah nya.
karena kasihan terhadap putri nya, Sarah terpaksa berbohong kepada anak nya dengan mengatakan bahwa Alex akan kesini sebentar lagi, hingga bulan terdiam dan terlelap dalam tidur nya.
pagi ini Sarah terpaksa libur dan tidak pergi bekerja, ia ingin menemani bulan beristirahat di rumah dan mata nya juga mengantuk karena tidak tidur semalaman.
Sarah terbangun saat jam dinding sudah melewati angka 9, ia pun melirik kearah bulan yang masih tertidur pulas di samping nya.
"kamu kenapa nak, jangan bikin mama cemas seperti ini, mama khawatir sama kamu nak..."Sarah mencium kening putri cantik nya itu dengan air mata yang berhasil Lolos di pelupuk mata.
"maaf kan mama nak, maaf kan mama... mama sayang kepada mu nak..." Sarah merasa penderita yang dialami oleh anak nya di akibatkan oleh keegoisan nya yang pergi meninggalkan Alex, ayah kandung bulan.
TOK TOK TOK
ketukan pagi ini mengantar kan Sarah untuk membuka pintu rumah nya, ia melihat Khanza sedang berdiri dengan mengendong bayi kecil nya.
"bagaimana keadaan bulan, apa masih demam ?" tanya nya sambil berjalan masuk ke kontrakan Sarah.
" dari semalaman mengigau terus, aku takut ca, terjadi sesuatu terhadap bulan, suhu tubuh nya juga panas..."jelas Sarah dengan wajah muram nya.
"kalau begitu, gimana kita bawa bulan ke rumah sakit aja, biar mendapatkan pertolongan medis..."saran Khanza.
"Sarah....."terdengar teriakan seseorang di sebalik pintu dan seketika Sarah dan Khanza menatap seksama keasal suara.
"kakak....!"ucap Sarah, ia tak menyangka kakak nya akan menyusul nya saat ini.
Adit pun langsung berlari dan memeluk erat tubuh adik nya, ia sangat bahagia bisa bertemu dengan adik nya saat ini.
"kamu tidak apa-apa dek ?"tanya Adit di sela pelukan nya, hingga Sarah merasa sesuatu yang panas di bahu nya, Adit sedang menangis saat ini.
"Sarah tidak apa-apa kak, kakak apa kabar ?"tanya Sarah, ia tak ingin terlihat menyedihkan di hadapan kakak nya.
"maaf kan kakak dek, maaf kan kakak, kakak telah gagal menjadi kakak yang baik untuk mu, kakak tidak bisa menjaga mu dengan baik..." Adit merasa menjadi lelaki yang tidak berguna, ia bahkan tidak bisa membantu saat adik nya sedang kesusahan.
"kakak bicara apa, ini bukan kesalahan kakak..."Sarah pun melepas pelukan Adit dan menghapus perlahan air yang membasahi kedua mata kakak nya itu.
"Sarah baik-baik saja, kakak adalah kakak yang baik, Sarah sangat menyayangi kakak, kakak jangan merasa bersalah seperti ini yah." ujar Sarah dengan senyum mengembang nya.
"bulan mana ?"pertanyaan yang membuat Sarah semakin dilema.
"bulan masih tidur kak !"jawab Sarah sambil terlihat seolah-olah tidak terjadi apapun, Adit pun berlari kearah ponakan nya yang sedang terbaring dengan kain basah yang berada di kening nya.
"bulan sakit ?"tanya Adit dan Sarah hanya mengangguk mengiyakan.
"bulan, bulan Sayang, ini om nak... bangun sayang..." ujar Adit namun ia semakin terperanjat kala menyentuh kulit panas bulan.
"ayo kita bawa bulan ke rumah sakit sekarang !" Adit pun mengendong tubuh bulan tanpa meminta persetujuan dari Sarah, ia langsung membopong tubuh anak itu menunju mobil yang ia kendarai.