My Little Baby

My Little Baby
216. Kontrol



Ada begitu banyak para client penting yang memutuskan sepihak bekerja sama di perusahaan Mahesa dan Surya hanya karena seorang pria yang mengacaukan di sebuah pernikahan politik antara dua perusahaan.


Dua perusahaan besar ini pun harus menerima kenyataan pahit atas kerugian besar yang telah mereka alami atas insiden itu.


"Alex...bangun...aku lapar..." Meci membangun kan suami nya yang masih terlelap dengan selimut yang melekat pas pada tubuh nya.


Alex tidak menggubris bahkan ia semakin menarik selimut tebal nya dan semakin membenamkan nya di atas bantal.


"Alex bangun..." Meci semakin menarik selimut Alex yang membungkus tubuh nya dengan kasar.


Alex pun terpaksa membuka kedua matanya dan menatap tajam kearah meci.


"apa yang kamu lakukan hah !" ujar nya sinis, sebab dia sangat kesal tidur nya di ganggu oleh Meci.


"aku menyuruh kamu bangun, karena aku lapar ! dan ini juga sudah siang, kamu harus pergi kerja !" meci bersidekap dada menatap tajam kearah Alex yang masih mematung di bibir kasur.


"kerja ? untuk apa kerja ?" Alex berdiri dan menatap kesal kearah meci.


"untuk menafkahi ku lah, dan ingat sebentar lagi aku bakal lahiran, dan melahir itu perlu membutuhkan uang yang banyak." tambah meci lagi.


"sana kamu mandi dan siap-siap aku mau ke rumah sakit buat kontrol setelah ini..." tambah meci berlagak pinggang.


"iya sana ke rumah sakit, kenapa gangguin tidur ku !" tutur Alex tak terima tidur nya di ganggu.


"iya karena kamu ayah dari anak ku dan suami ku juga, ya jelas kamu harus temani aku." ujar meci lagi hingga membuat Alex mendengus kesal dan pergi meninggalkan meci menuju kamar mandi rumah nya.


"ada apa sih, jam segini udah berisik !" ujar Riska yang merasa terganggu dengan suara meci yang nyaring di sudut ruangan.


"mama kenapa wanita itu sama Kaka Alex harus tinggal di sini sih ! jadi nggak nyaman aja Arsya menetap di sini." ucap Arsya sambil menikmati makanan di meja makan bersama mama nya yang merasa risih dengan suara istri baru kakak nya.


"terus bagaimana? ini kan keputusan kakak kamu, nanti biar mama minta sama Alex untuk pindah saja ke kediaman Surya." ucap Riska lagi.


"hmm, seterah mama..." Arsya pun mendirikan tubuh nya dan pergi meninggalkan mama nya.


"kamu mau kemana Arsya ?" tanya Riska yang melihat anak kedua nya yang pergi menuju arah pintu.


"Arsya mau mencari udara segar yang belum tercemar oleh menantu kesayangan mama..." tutur Arsya pergi meninggalkan mama nya yang menatap kearah nya.


Arsya sudah selesai dengan kuliah nya, dia pun memutuskan untuk bekerja di rumah sakit swasta milik ayah nya.


Di tempat lain terlihat teguh,Sarah dan bulan siap-siap untuk memeriksa kandungan Sarah, sebab kandungan nya yang telah menginjak 7 bulanan dan sekalian mengetahui gender nya.


Teguh dan bulan ikut membimbing Sarah masuk ke poli kandungan, bahkan menemani Sarah saat di periksa dokter memeriksa kandungan Sarah.


"bagus !" ujar dokter "kesehatan anak nya bagus, namun sebaiknya ibuk jangan terlalu banyak pikiran dan bekerja keras, banyak lah memakan buah dan memakan makanan yang bergizi." jelas dokter SpOG.


"mau di USG agar tahu jenis kelamin bayi apa yang nyonya kandung ?" tawar dokter itu, namun seketika Sarah dan teguh pun bersitatap terlihat teguh mengangguk antusias namun berbeda dengan Sarah dia menggeleng kepala nya cepat kearah teguh dan dokter.


"tidak usah dok..." tutur Sarah menatap dokter.


"tadi kata nya pengen tahu ?" tanya teguh, sebab sejak pagi tadi Sarah memang memaksa untuk ke SpOG guna mengetahui jenis kelamin.


"nggak usah, biarlah menjadi teka teki." ucap Sarah lagi dan terlihat teguh mengangguk memahami ucapan Sarah.


"ma, kapan adek bayi nya keluar ?" tanya bulan yang sangat senang melihat di sebuah monitor gambar adik bayi nya.


"mama masih 7 bulan nak, tunggu 2 bulan lagi." ujar Sarah, seketika ia menjadi mengingat waktu Sarah melahirkan bulan, dia juga berjuang sendiri dan sekarang juga sendiri, tak terasa air mata pun mengalir di sela mata nya.


"Sarah kamu kenapa ?" tanya teguh khawatir.


"hmm, nggak aku nggak apa-apa..." jawab Sarah sambil mendudukkan bokong nya sebab pemeriksaan juga sudah selesai.


"pak teguh...!" panggil dokter SpOG hingga teguh pun duduk berhadapan dengan wanita itu.


"jaga istri anda dengan baik, sebab sebentar lagi anda dan keluarga anda akan mendapatkan seorang anak, jika dia perempuan maka pasti akan secantik ibu nya dan jika dia laki-laki dan tentunya juga akan setampan anda." ucap dokter tersebut memuji.


"kalau boleh saya tahu,ini anak keberapa ?" tanya dokter itu lagi.


"anak kedua dok, ini yang pertama nama nya bulan." jelas teguh, terlihat dokter itu pun mengangguk dan memperhatikan seksama wajah bulan.


"cantik, sangat cantik..." puji dokter tersebut melihat anak yang berusia 5 tahun itu.


"terima kasih dokter..." jawab bulan tersenyum manis.


"mirip dengan teman kerja saya..." tambah wanita itu sambil menatap intel kearah bulan.


"hmm iya sudah, tolong resep ini di tebus untuk menambah kesehatan janin." ujar dokter lagi sambil menyerahkan secarik kertas kepada teguh.


"baik dokter, terima kasih..."