
Sesampainya di rumah sakit, Adit langsung berteriak dan berlari memanggil perawat, bulan langsung di bawa keruangan rawat darurat.
Sarah mondar-mandir merasa bersalah, air mata tak luput mengalir di pelupuk mata nya, sedang kan novi berusaha menenangkan adik ipar nya itu.
"sabar yah, kita doakan semoga bulan tidak apa-apa..."
dokter pun keluar dari ruangan rawat darurat dan memberi tahu bahwa bulan butuh perawatan secara intensif, karena bulan positif mengidap gejala malaria tifus.
tangis Sarah pecah, ia menyalahkan diri nya atas penyakit yang di derita bulan, karena bisa saja atas ego nya yang memisahkan bulan dari ayah nya membuat ia tersiksa seperti ini.
Sarah mengikuti dokter yang sedang membawa bulan keruangan rawat inap dengan infus yang menancap di tangan mungil bocah itu, di ikuti Adit dan Novi yang berjalan beriringan.
Sarah membelai tangan anak nya yang telah menancap jarum infus itu dengan air mata yang mengalir deras di pelupuk mata nya, ia bingung saat ini, ia tak ingin anak nya menderita karena ego nya, tapi ia juga tidak sanggup jika harus bertahan jika batin dan mental nya menjadi taruhan.
"kamu dan Novi istirahat lah, biar kakak yang menjaga bulan..."ujar Adit sambil mengelus rambut adik nya yang tertunduk memegang tangan ponakan nya.
"ayo Sarah, kita beristirahat, Kakak nggak mau kamu juga ikut sakit nanti nya..."ujar Novi lagi, ia kasihan melihat Sarah yang menderita seperti ini.
"kak Adit sama kak Novi istirahat saja, kalian dari perjalanan jauh pasti sangat kelelahan, Sarah di sini saja menemani bulan." tolak halus Sarah, ia tak ingin meninggalkan anak nya yang malang sedang terbaring di atas ranjang rumah sakit.
Sarah berkali-kali menyalahkan diri nya atas insiden yang di alami anak nya, ia merasa tidak becus menjadi seorang ibu, bulan entah sudah berapa kali menjadi korban atas keegoisan nya, Sarah sangat kasihan terhadap bocah kecil itu, semenjak dalam kandungan bocah itu tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari ayah nya, hingga ia terlahir tanpa mengenal sosok ayah, dan sekarang anak itu dengan senang nya berada di sisi ayah nya, malah Sarah pisah kan dengan cara yang tidak baik.
sesekali sarah menarik nafas panjang dan tak henti-hentinya meminta maaf saat melihat jarum infus yang menancap di punggung tangan anak itu.
"maaf kan mama nak, maaf kan mama... mama nggak kuat melihat kamu menderita seperti ini, mama janji nak, jika dengan bertemu papa bulan bisa sembuh, mama rela nak bertahan meski harus tersiksa terus menerus demi bulan..."ucap Sarah lirih, pasal nya bulan tidak pernah mengalami sakit seperti ini, kalau pun sakit palingan hanya batuk atau flu biasa dan jika Sarah membeli obat di warung atau apotik, seketika bocah itu langsung sembuh biasa nya.
"papa...papa..."anak itu kembali mengigau hingga membuat Sarah tak bisa berbuat apa-apa, namun Adit yang melihat apa yang di alami oleh Sarah dan bulan saat ini berusaha menepis ego nya yang sangat membenci Alex.
"kalau mau menghubungi Alex, ini pakai telpon kakak..."ucap Adit sambil menyodorkan benda pipih kearah Sarah, Sarah diam sambil mempertimbangkan apa yang akan ia lakukan, di sisi lain ia tak ingin menghubungi Alex, di sisi lain ia kasihan terhadap anak nya yang malang itu.