
Sarah mengusap layar ponsel kakak nya mencari kontak Alex dan menghubungi nya namun selalu di reject otomatis, ia tidak patah semangat, ia berusaha menekan nomor tersebut untuk melakukan panggilan lagi dan lagi, tapi tetap tidak bisa di hubungi, nomor Adit ternyata sudah di blokir oleh Alex.
Sarah semakin frustasi, ia tak menyangka Alex akan berbuat seperti ini kepada nya, bahkan Alex juga menghapus kontak dengan keluarga satu satunya Sarah, apa Alex benar-benar marah kepada nya, atau Alex sudah tidak menginginkan nya dan bulan.
air mata sarah tumpah seketika, ia menangis tersedu-sedu, apa lagi saat ini bulan terus terusan mengigau memanggil ayah nya.
"Ada apa dek...?"tanya Adit bingung sambil berjalan kearah adik nya, namun Sarah langsung berlari dan memeluk erat tubuh kakak nya, ia ingin menumpahkan gundah gelisah yang sedang meraja nya saat ini.
"ka-kak Alex memblokir kontak..."ucap Sarah, hingga membuat dada Adit naik turun,. Adit pun mengepal erat tangan nya, ia sudah tidak tahan dengan perlakuan Alex terhadap keluarga nya.
"sudah lah, kamu jangan pedulikan bajingan itu lagi..."ujar Adit berusaha mengontrol emosi nya, meski wajah nya berwarna merah karena menahan amarah yang bergejolak.
"ta-tapi kak, bulan... hiks hiks hiks bulan butuh ayah nya kak..." Sarah menangis tersedu-sedu, apa yang harus ia lakukan saat ini, ia sangat bingung dengan keadaan ini.
"jadi kamu lebih memilih tersiksa?"ucap Adit mencekam kedua tangan Sarah, ia sangat tidak menyangka jalan pikiran adik nya yang dangkal ini.
namun seketika suara seseorang memecahkan perang dingin yang terjadi antara kakak beradik itu.
"bulan, tidak apa-apa kan Sarah ?"tanya lelaki itu yang tak lain adalah Agam dengan mengenakan seragam operasi lengkap di tubuh nya.
"tidak apa-apa, Agam..." Sarah paham, pekerjaan Agam adalah seorang dokter kandungan, pasti ia sedang bertarung membantu melahirkan pasien-pasien nya.
"papa...papa..."ucap bulan dengan keringat yang membasahi pelipis nya, tanpa meminta persetujuan Sarah, Agam langsung menggenggam tangan bocah itu dan menenangkan nya.
"sayang, ini papa nak, kamu cepat sembuh yah, supaya kita bisa bermain bareng lagi..."perlakuan Agam seketika membuat bulan terdiam dari mengigau nya, seperti ada ikatan batin antara Agam dan bulan, Adit,Sarah dan Novi bersitatap saat ini, mereka tidak menyangka semudah itu Agam menenangkan bocah kecil itu.
mungkin Agam adalah lelaki pertama yang di lihat kala bulan lahir atau Agam adalah lelaki penyayang yang di sukai banyak anak-anak, pikir mereka, tanpa mereka ketahui bahwa Alex dan Agam memiliki darah yang sama, sama-sama mengalir dari dalam tubuh nya, meski mereka berbeda rahim tempat pembuahan nya, mereka tetap saudara.
"terima kasih Agam..."ucap syukur Sarah, ia senang melihat bulan yang sudah agak tenang.
"iya Sarah, ouh yah aku ada jadwal operasi lagi saat ini, nanti kalau selesai operasi aku akan kesini lagi menemui bulan."ujar Agam meyakinkan sambil melirik Sarah, Adit dan Novi secara bergantian.
"iya Agam, terima kasih banyak yah, sudah berbaik hati mau menenangkan bulan."sambung tulus Adit.
"iya kak, sama-sama"