
Alex memandang kaki nya yang penuh dengan perban itu.
"kenapa kaki ku bisa seperti ini, bagaimana cara nya aku menemui Sarah dan bulan jika kondisi ku saja seperti ini..." Alex merasa putus asa ia tak mungkin menemui Sarah dan bulan dengan keadaan seperti ini, apalagi sekarang Alex sudah duduk di atas kursi roda lagi.
"nak, kamu harus ikut terapi yah, supaya kaki mu bisa secepatnya sembuh..."ucap mama Riska sambil mendekati anak nya itu, namun Alex tidak bergeming dan tidak menjawab apapun ia hanya melamun entah apa yang ada di pikiran nya saat ini, hingga Arsya yang melihat pun turut angkat bicara.
"kak, benar kata mama, bagaimana kakak mau sembuh jika kakak nggak punya semangat seperti ini,
kak ayo Arsya ikut temani kakak ke rumah sakit,kakak harus terapi hari ini..."ucap Arsya, padahal ia sudah berjanji akan menemui ayu kekasih nya, sudah sangat lama ia berada di kota ini, namun ia belum juga sempat mengunjungi kekasih nya, hanya setiap ia akan berpergian pasti mama nya selalu melerai dengan alasan Alex yang sakit, hingga Arsya terpaksa harus menemani kakak nya selama sakit.
namun Alex masih saja diam, ia tidak berniat untuk ikut terapi, ia merasa hidup nya juga tidak ada arti, sembuh pun dia belum tentu juga Sarah akan memaafkan nya, apa lagi Adit, Adit pasti sangat membenci nya saat ini.
"Alex, kamu nggak mau ikut terapi?" tanya mama Riska yang melihat Alex tidak bersuara itu, selama sakit Alex memang menjadi pribadi yang berubah, ia lebih pendiam dari biasanya.
"nggak ma, biar lah Alex seperti ini, tidak ada guna nya juga Alex bisa berjalan..."ucap lelaki itu memang mama nya.
"kak, kenapa kakak bicara seperti itu?" sela Arsya protes.
"maksud kamu apa Alex bicara seperti itu ? kamu nggak saya sama mama, kamu nggak kasihan sama mama, mama sangat khawatir dengan kondisi kamu nak..."ujar Riska sambil memekik kearah Alex.
"tentu saja Alex sayang, tapi hati Alex rasa nya sudah hilang, Alex sudah tak bersemangat lagi untuk menjalani hidup..."jawab Alex sambil menunduk memandang kembali ke arah kaki nya.
"oh, maksud kamu , kamu tidak bersemangat hidup karena tidak ada wanita udik itu, iya...? gara-gara tidak ada Sarah iya...?"ujar mama Riska, ia sangat geram terhadap Alex yang masih saja memikirkan Sarah saat keadaan nya yang seperti ini.
Alex tak ingin berdebat dengan mama nya, Alex pun memutar kursi roda nya dan melajukan menuju kamar.
setelah sampai di kamar, Arsya pun membantu memapah Alex menuju ranjang nya dan perlahan membaringkan Alex di atas kasur nya.
"kak, maksud kakak apa dengan tak punya semangat hidup ? apa benar yang di katakan mama karena tidak ada nya Sarah ?"tanya Arsya lagi sambil duduk di bibir kasur.
"iya,.."jawab Alex lirih, Arsya tak habis pikir kakak nya akan menjadi seperti ini karena tidak ada nya Sarah.
"seharusnya karena Sarah tidak ada di sini, kakak harus lebih semangat lagi untuk sembuh..." ujar Arsya Hingga membuat Alex menatap lekat kearah nya, ia bingung dengan penjelasan Arsya.
"maksud kamu apa ?"tanya nya meminta penjelasan, sedang Arsya hanya tersenyum kecil kearah kakak nya.
"arsya pikir kakak masih lah, Lelaki yang sama seperti dulu, pintar dan cerdas, tapi ternyata kakak lelaki yang bodoh..."hina Arsya hingga membuat Alex membelalakkan matanya menatap tajam kearah Arsya.
"maksud kamu apa ?"hardik Alex menatap adik nya.
Arsya hanya tersenyum kecil memperlihatkan deretan gigi putih dan rapi nya.
"kak, semakin Sarah tidak ada di sini, seharusnya kakak semakin bersemangat, supaya kakak bisa menemui nya dan memperbaiki rumah tangga kakak yang sudah retak..."ucap Arsya,sambil menatap kearah kakak nya, Alex hanya diam tidak menjawab apapun yang di katakan oleh Arsya, sejujurnya ia sangat pusin saat ini dan pikiran nya sangat kacau, hingga berpikir secara jernih pun ia tak bisa.
"kakak pikir, jika terus seperti ini,itu akan mengubah keadaan ? tidak akan mengubah keadaan apapun kak, itu akan tetap sama, kakak akan tetap lumpuh dan Sarah juga tetap akan semakin menjauh dari kakak..."ucap Arsya dengan rasa simpati yang tinggi,ia tak ingin kakak nya tidak memiliki semangat hidup seperti ini.
"kak, aku selalu ada untuk kakak, aku bahkan rela ambil cuti selama sebulan, untuk menemui kakak dan menjaga kakak, kapan perlu aku rela, tidak kuliah dan pindah kembali ke sini untuk menemani kakak terapi, yang penting kakak ada niat untuk sembuh dan bertekad kuat untuk menjalani terapi."
Alex terdiam sudah cukup lama ia mendengar apa yang di katakan adik nya itu, di dalam lubuk hati yang paling dalam, Alex sangat membenarkan apa yang di katakan oleh Arsya, jika ia sembuh ia bisa berusaha memperbaiki gubuk pernikahan nya yang sudah retak dengan Sarah.