
teguh memandang sebuah cincin emas bertahta permata kecil di atas nya, ia tersenyum mengembang seakan membayangkan sesuatu di benak nya.
"mbak, saya mau lihat cincin yang itu yah,"ujar nya kepada sang penjaga toko perhiasan tersebut.
penjaga pun memberikan cincin itu kepada teguh, teguh pun melirik cincin tersebut secara seksama.
"ngapain Lo, lirik-lirik cincin seperti itu? mau nikahan Lo yah ?"tiba-tiba yoga mengangetkan teguh, dan teguh seketika lupa bahwa ia sedang bersama si ember yoga saat ini.
"aah, Lo ngagetin aja... ngapain sih Lo ngikutin gue, sana ngajar lagi di sekolah..."usir teguh sambil melirik tajam kearah yoga.
"ya elah Lo, Lo lupa apa tolor, gue kan Lo paksa tadi ngikutin Lo, kalau nggak di paksa mana mau gue ikut-ikutan sampai ke sini, mending gue goda dedek ayu di sekolah..."lirih yoga sambil tersenyum bahagia, ia dan ayu sedang pendekatan saat ini, ia senang ayu dan Arsya telah lost kontak beberapa Minggu ini, ini adalah saat yang tepat ia masuk di antara renggang nya hubungan mereka.
"cincin ini bagus nggak? gue mau kasih buat Sarah, apa Sarah suka ?"tanya teguh sambil memutar cinta yang ada di jemari nya.
"bagus, permata nya juga tidak terlalu norak, agak kecil, dan pasti nya Sarah pasti suka kalau di beli permata mahal seperti ini..."ucap yoga, ia sangat mendukung jika teguh menginginkan Sarah menjadi istri nya.
"aku akan berusaha mendapatkan mu Sarah, dan semoga kamu mau menerima cinta ku, meski akan sangat sulit meyakinkan ayah ku lagi, tentang hubungan kita, tapi aku akan berusaha untuk memperjuangkan mu...". batin teguh.
setelah membayar harga cincin yang ia beli, teguh dan yoga pun langsung menuju restoran, teguh ingin yoga ikut membantu nya meyakinkan papa nya untuk merestui hubungan mereka.
"pa, ada yang ingin teguh katakan ?"ujar teguh sambil menghampiri ayah nya yang sedang duduk di bangku kasir.
"mau bicara apa kamu nak...?"ujar papa teguh sambil melirik kearah teguh
"teguh ingin mengatakan tentang..."belum sempat teguh mengutamakan yoga sudah menyenggol lengan teguh dengan siku nya hingga membuat teguh menatap kearah nya.
"ada apa ?"tanya teguh, bingung.
"masa iya, Lo mau ngomong di tempat seperti ini..."ucap yoga sambil melirik ke semua arah, banyak para pelayan dan para pelanggan yang sedang berada di restoran tersebut, teguh pun menepuk jidat nya, ia benar-benar bodoh tidak membaca situasi terlebih dahulu sebelum meyakinkan papa nya, sakit ia sangat bersemangat ingin mengungkapkan perasaan nya.
"pa, bisa bicara di ruangan teguh saja..."teguh memiliki ruangan khusus di restoran tersebut, di ruangan itu sudah terdapat sofa, dan rajang untuk teguh beristirahat, ayah nya pun setuju dan berjalan berdampingan dengan teguh menuju ruangan nya.
"eeh, seram amat Lo lihatin gue, ya udah gue ikut deh..."yoga pun mengekor mengikuti teguh dan ayah nya menuju ruangan tersebut.
setelah sampai di dalam sana, teguh pun langsung mengeluarkan sebuah kecil kotak berwarna merah dengan berbalut kain bludru.
"apa ini ?"tanya papa nya bingung, apa lagi saat ini teguh sedang memperlihatkan sebuah cincin permata emas dari dalam kotak tersebut.
"ini untuk Sarah pa..."ujar teguh tersenyum bahagia, hingga membuat papa nya membelalakkan matanya terkejut menatap teguh.
"maksud kamu, kamu mau melamar Sarah ?"tanya papa nya lagi dengan suara yang di naikan.
"bukan pa, maksud teguh hanya ingin mengungkapkan perasaan teguh kepada Sarah..."ucap teguh .
"tidak, papa tidak setuju..."ujar papa nya menatap tajam kearah nya.
"kenapa pa...?"tanya teguh lagi, ia mengerjit kening nya bingung.
"pokok nya papa tidak setuju,titik."ujar nya.
teguh menarik rambut nya kasar, ternyata papa nya masih belum bisa menerima Sarah, untuk menjadi calon istri nya.
"om,maaf yah kalau yoga angkat suara, merut yoga, apa salah nya om, kan yang menjalani biduk rumah tangga adalah teguh dan Sarah, bukan om, kenapa om yang sangat melarang keras..."ujar yoga hingga membuat papa teguh menatap tajam kearah yoga, yoga pun sesekali menelan Saliva nya, ia sangat ngeri dengan tatapan tajam dari ayah sahabat nya itu.
"aah, te-teguh gue cabut dulu yah, seperti nya ini hal yang sangat serius, tidak seharusnya orang luar seperti gue, ikut-ikutan..."
"tapi..." belum selesai teguh berbicara yoga sudah sampai di ambang pintu melarikan diri.
"untuk saja, gue masih bisa bernafas setelah keluar dari sana...
seram amat papa teguh ternyata...iiii..."ujar yoga bergidik ngeri.