
"ouh ya, apa rencana kalian selanjutnya ?" tanya teguh menatap satu persatu anak-anak nya.
"bulan ? apa kamu tidak mau menikah lebih cepat nak, umur kamu sudah menginjak 25 tahun lebih loh." ujar teguh menatap bulan, yang seperti tidak begitu memikirkan tentang pernikahan.
"nggak pa, bulan takut nanti malah nggak dapat cowok yang seperti papa..." ujar bulan, trauma yang di berikan oleh Alex sangat membekas di hidup anak itu, bahkan di usia yang menginjak 25 tahun lebih, bulan tak pernah sama sekali berpacaran bahkan berdekatan dengan teman cowok nya saat di sekolah.
"terus, bulan mau gimana ? mau jadi perawan tua yah ?" ujar teguh lagi.
"bulan belum terlalu tua pa, umur 25 tahun masih banyak kok yang belum menikah." ujar bulan dengan ekspresi kesal nya kalau menyingung soal pernikahan.
"iya sudah, terus kamu mau gimana sekarang nak." tanya teguh penuh perhatian.
"bulan mau sukses dulu, baru memikirkan langkah selanjutnya." jelas bulan, dan teguh hanya mengangguk paham.
"kalau kamu gimana pelangi ?" tanya teguh lagi menatap anak kedua nya.
"pelangi mau mengambil spesialis, sekalian mau buka praktek." ujar pelangi antusias.
"bagus, tapi apa perlu papa bangun kan klinik tempat praktek mu ?" tanya teguh lagi.
"tidak ! nggak usah pa, di rumah saja praktek Pelangi di buka nya, praktek itu akan pelangi khusus untuk para sopir dan karyawan Papa saja, tetapi kalau masyarakat sekitar sini yang kurang mampu mau berobat juga tidak apa-apa." ujar pelangi menjawab.
"Papa setuju, oh ya apa Pelangi akan mengambil spesialis penyakit dalam ? seperti rencana Pelangi semula."tanya teguh.
" iya pa, Kenapa memangnya pa ?" tanya pelangi lagi.
"tidak, papa justru senang dan sangat mendukung." ujar teguh tersenyum senang.
"makasih pa..." tutur pelangi.
"terima kasih, untuk apa ?"tanya teguh bingung.
"untuk semua yang telah Papa berikan kepada Pelangi dan Kak Bulan, sehingga Pelangi kini berhasil meraih gelas sarjana dan menjadi seorang dokter, tanpa dukungan dan dorongan dari papa dan keluarga, entah Pelangi akan jadi apa nanti nya !"ujar pelangi bersyukur.
" oh papa, Pelangi ngomong serius, eh Papa malah bercanda !" rajuk pelangi.
" siapa yang bercanda, papa kan berkata, memangnya pelangi itu apa ?" tanya teguh lagi.
"manusia." jawab pelangi singkat.
" nah berarti papa benar kan ?" ujar teguh tersenyum melihat pelangi yang mulai ngambek.
" iya deh iya, tapi sungguh kalau tak ada dukungan dari papa, mama dan Kak bulan pasti tak akan seperti sekarang ini Pelangi." tambah pelangi lagi.
Teguh hanya tersenyum dengan penuh kasih dan sayang dia pun memeluk bulan dan Pelangi, tanpa terasa air matanya mengalir deras, bahkan kemudian menetes ke rambut anak-anaknya, hal itu membuat anaknya tersentak lalu gadis-gadis cantik itu pun, mengadah memandang ke wajah ayahnya.
"kok papa nangis ?" tanya bulan menghapus air mata ayah nya.
"papa kenapa ?" tanya pelangi lagi.
"tak ada nak, papa hanya terharu dan bahagia." ucap teguh mencium kepala anak-anak nya.
"terharu dan bahagia kenapa pa ?" tanya bulan dan pelangi serentak.
"terharu, Karena tanpa terasa anak-anak Papa sudah dewasa, bahagia karena Papa berhasil mendidik dan membimbing kalian sehingga kalian pun menjadi orang yang baik dan tidak sombong." ujar tulus teguh sambil mencium kening putri cantik nya.
"itu semua kan papa yang mengajar kan !" ujar pelangi.
"iya pa, itu semua karena papa ! kalau tanpa papa entah bagaimana jadi nya kami ini !" tambah bulan lagi.
"itu lah sebab nya papa terharu dan bahagia sayang..." tambah teguh.
"kami juga bahagia punya papa seperti papa..." bulan dan pelangi memeluk erat tubuh teguh.
Semakin bertambah haru saja Teguh mendengar panutan putri-putrinya, bagaimanapun juga dia sadar bahwa sesungguhnya anak-anak itu bukanlah anak kandungnya, namun semenjak mereka kecil dia yang merawat dan menjaga, serta kemudian mendidik dan membesarkan mereka, sehingga anak-anaknya pun tahunya kalau dialah ayahnya.