My Little Baby

My Little Baby
229. Idola pelangi dan bulan



Beberapa menit kemudian mereka semua pun berangkat terkecuali bulan yang harus menyelesaikan beberapa pekerjaan, dan dia juga akan ikut menyusul setelah pekerjaan nya selesai,


Sarah,teguh dan pelangi, pergi ke kampus yang di mana pelangi kuliah dan di mana acara wisuda akan dilaksanakan, begitu sampai di kampus suasana kampus masih sepi maklumlah jam baru menunjukkan pukul 07.30.


"tu kan pa ! masih sepi !" ujar pelangi protes.


"lebih baik kepagian, dari pada telat ! ayo kita tunggu !" mereka pun menunggu kedatangan orang-orang ke universitas itu.


Tak berselang lama, seorangpun menghampiri pelangi dan keluarganya, beliau adalah rektor universitas tempat Pelangi menuntut ilmu, dan beliau juga sudah mengenal baik keluarga pelangi.


"pak teguh, kami ucapkan selamat datang." ucap rektor seraya mengulurkan tangan nya menyalami, dan segera di sambut hangat oleh teguh pula.


"Terima kasih." ucap teguh tersenyum senang.


"saya benar-benar kagum dan salut dengan anda pak teguh ." puji rektor tersebut.


"ah apalah diri saya ini prof, saya hanyalah orang biasa yang punya banyak kekurangan, rasanya kurang pantas jika anda yang punya kedudukan dan kepandaian melebihi saya, menaruh kekaguman dan rasa salut pada saya, seharusnya sayalah yang menaruh rasa kagum dan salut kepada anda prof." balas Teguh dengan tersenyum tulus.


"Bukan itu masalahnya pak Teguh, saya memang harus mengakui kalau Anda patut menerima rasa kagum dan pujian dari saya pada anda, sebab Walaupun anda seorang pengusaha yang sukses dan kaya raya, namun anda masih bisa mendidik dan membina anak-anak anda dengan baik, sehingga anak-anak Anda pun tumbuh menjadi seorang gadis, yang bukan hanya cantik, tetapi juga ramah, sopan, baik hati dan peduli pada sesama, padahal jarang sekali hal seperti itu terjadi pada kebanyakan anak-anak orang kaya lainnya." tutur rektor dengan wajah menunjukkan ketulusannya mengagumi dan merasa salut pada apa yang telah dilakukan teguh dalam mendidik dan membina anak-anaknya.


"saya tak mungkin terlalu memanjakan anak-anak saya secara berlebihan prof." ujar teguh tersenyum kepada lelaki di depan nya itu sambil memandang wajah cantik anak nya pelangi.


"kenapa ? bukan kah anda mempunyai segala nya untuk memanjakan anak-anak anda ?" tanya profesor itu lagi.


"karena, apa yang ada pada saya bukanlah milik saya prof." ucap teguh lagi.


"maksud anda ?" ujar lelaki itu bingung.


"semua yang ada pada saya hanya titipan." jelas singkat teguh.


"titipan ? saya semakin tidak mengerti, bukankah apa yang anda miliki sekarang ini adalah hasil jerih payah Anda selama ini ? dan saya baca di surat kabar, mengenai profil anda, bahwa sebelum anda menjadi orang sukses seperti sekarang ini anda hanyalah seorang sopir taksi biasa dan anda adalah anak remaja yang kabur dari rumah karena tak direstui oleh ayah anda untuk menikahi seorang wanita yang anda cintai, yang sebelumnya anda juga ikut bekerja di sebuah restoran milik keluarga anda." ujar profesor itu mengingat apa yang ia baca beberapa hari yang lalu.


"benar" ujar teguh tersenyum, ternyata kisah nya telah tersebar luas di setiap penjuru dunia, karena jerih payahnya kesuksesan nya selama ini.


"lalu Kenapa Anda mengatakan apa yang anda miliki sekarang bukan milik anda, tetapi titipan ! titipan siapa ?" tanya profesor itu bingung.


"titipan Tuhan prof ! Tuhanlah yang memiliki semuanya, Tuhan memberikan kepercayaan pada saya untuk mengelolanya, dan karena semua yang ada pada saya miliki dan kepunyaan Tuhan, sehingga jika suatu saat nanti Tuhan ingin mengambilnya, maka saya tidak akan bisa melarangnya."


Rektor universitas itu pun manggut-manggut mengerti mendengar panutan Teguh,dan dia pun semakin bertambah kagum dan salut pada pola pikir Teguh.


" itulah yang selalu saya tekankan kepada anak-anak saya, semenjak bulan anak sulung saya, maupun pelangi anak bungsu saya, saat mereka masih kecil selalu saya tekankan kepada mereka, kita datang ke dunia ini tanpa membawa apa-apa begitu juga ketika kita meninggalkan dunia ini, kita pun tak akan membawa apapun, kecuali, selembar kain kafan, bukankah begitu prof ?" tanya teguh lagi tersenyum kearah profesor tersebut.


"iya hahaha, iya anda benar sekali, malulah jadinya saya pada anda pak Teguh, anda seorang pengusaha ternama dan kaya raya, namun cara berpikir Anda begitu realitas dan penuh religius, sedangkan saya ? hahaha kadang saya merasa bahwa apa yang saya miliki ada milik saya mutlak, saya tak ingat bahwa semua yang kita miliki sebenarnya bukan milik kita tetapi milik Tuhan, oh ya saya benar-benar merasa malu sekali pada diri saya sendiri." ujar lelaki itu lagi.


"iya ya, Anda memang benar, wah saya merasa benar-benar malu menyandang gelap profesor, namun cara fikir saya masih jauh di bawa anda, semestinya andalah yang layak menyandang gelar tersebut, pak Teguh !" ucap profesor tersebut dengan penuh rasa tak enak.


" ah profesor ini, mana mungkin saya yang bodoh ini pantas menyandang gelar agung dan besar seperti yang anda sandang." ujar teguh tertawa sehingga Profesor pun ikut tertawa dan mereka sama-sama tertawa lepas.


" senang sekali saya berjumpa dan ngobrol dengan anda pak Teguh."ucap tulus profesor.


"begitu juga saya prof, saya berserta keluarga saya, juga sangat berterima kasih pada anda dan para dekan, dosen-dosen di sini, yang telah membimbing dan memberikan ilmu pada putri kami, tanpa bimbingan anda sekalian ! tentu putri kami tidak akan menjadi seorang dokter." ujar teguh lagi.


"tetapi sumbangsih yang paling besar dalam pembinaan mental dan perasaan anak-anak Anda adalah anda pak Teguh, kami di sini cuma menambah dan memoles saja, karena sesungguhnya anda telah memberikan lebih banyak pendidikan dan filsafat hidup sebagai panutan kepada putri-putri anda, dan kami rasa anda kah yang lebih pantas mendapat penghargaan atas keberhasilan dan kesuksesan yang diraih oleh putri-putri anda, sehingga putri anda merupakan kelulusan terbaik tahun ajaran ini dan Pelangi juga adalah lulusan dengan nilai coumlode." ujar profesor bangga terhadap pelangi.


"benarkah ?" ujar teguh dan semua keluarga nya tak percaya dengan panutan profesor.


"iya, itu sebabnya setelah acara wisuda berlangsung, kami akan meminta kesediaan anda selaku wali dari pelangi, untuk memberikan sedikit nasihat dan panutan pada kami semua." tambah Profesor.


"wah bagaimana ini ?" tanya Teguh sambil memandang ke arah Sarah dan Pelangi, namun yang dipandang cuma bisa tersenyum sambil mengangkat kedua pundak, sepertinya Sarah atau pun Pelangi menyerahkan keputusan itu kepada Teguh.


" kami mohon kepada anda pak Teguh, sudilah kiranya, pak Teguh berbagi ilmu kepada kami."ujar profesor lagi.


"ilmu yang mana yang harus saya bagi prof, saya hanyalah orang bodoh, seharusnya anda lah yang berbagi dengan kami ?" ujar teguh lagi.


" itulah kelebihan lain dari anda pak Teguh, rendah hati, baik,hmm, karena tak lama lagi acara wisuda akan dimulai maka saya mohon pamit dulu untuk mempersiapkan segala sesuatunya, jangan lupa kami sangat mengharapkan anda berkenan membagi ilmu dan pengetahuan kepada kami." teguh tidak bisa berkata-kata, ia pun memandang kearah istri dan anaknya.


"bagaimana ini ? pelangi apa yang harus papa lakukan ?" tanya teguh bingung.


"yang terserah Papa, Profesor kan memintanya pada Papa, bukan pada pelangi ? papa lah yang harus memutuskannya !" ujar pelangi menjawab kebingungan papa nya.


"ya, tetapi kamu kan anak papa, bantu papa dong." ujar teguh bimbang.


"apa yang dapat Pelangi bantu pak ! tenanglah pa, Pelangi yakin Profesor meminta Papa memberi sambutan bukan asal meminta saja, tetapi Profesor tentunya sudah menilai dan mempertimbangkan semuanya, dan Profesor merasa kalau papa lah orang yang pantas untuk mewakili orang tua mahasiswa yang mengikuti wisuda tahun ini." ujar pelangi.


" lalu apa yang harus Papa katakan nanti ?" tanya teguh bingung lagi.


" seperti yang Profesor inginkan pa, papa kan di minta untuk membagi ilmu ! ilmu dan pengetahuan." tutur pelangi.


" ilmu dan pengetahuan apa, papa buka orang pintar sepertimu dan kakak mu bulan, papa hanya orang bodoh yang tak tahu apa-apa, bahkan papa suka nyontek sama mama mu dan Tante ayu, om yoga, pada zaman kuliah dulu." ujar teguh menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" itulah lah papa pelangi, rendah hati dan tidak sombong, dan penuh kasih sayang dan perhatian bukan, hanya pada Pelangi dan Kak bulan saja ! tetapi juga pada orang lain dan itu pula yang membuat pelangi sama kak bulan, sangat kagum kepada Papa, Papa memang tokoh idola bagi Pelangi dan Kak bulan." ujar pelangi membangkang teguh dan memeluk erat tubuh lelaki itu.


"ah, kamu malah menambah kebingungan papa ?" ujar teguh lagi.


"tak perlu bingung pa ! ayo acara nya akan segera di mulai !"