
Tak berselang lama,Novi pun sadar dari tidur nya,ia pun terlihat celingak-celinguk ke semua arah, ia seperti nya bingung saat ini hingga Sarah dan sahabat nya mendekat kearah Novi yang sedang terbaring dengan tubuh yang berbalut kain jarik.
"kak, kakak sedang di rumah sakit saat ini..."ucap Sarah sambil mengelus tangan kak Novi yang bagian kiri yang sedang terpasang jarum infus.
"ada apa dengan kakak Sarah ?, Adit mana ?"tanya Novi sambil mencari keberadaan suami nya, Sarah pun menarik nafas panjang dan berusaha menjawab pertanyaan Novi.
"kak Adit sedang di luar, cari angin kata nya, sekalian cari makanan, kan kak Novi belum makan dari pagi tadi..."ujar Sarah, meski sedikit berbohong ia tak tau harus cerita seperti apa, ia bahkan tidak tau Adit menenangkan diri di mana.
"kenapa kakak bisa berada di rumah sakit Sarah ?"tanya Novi sambil melirik kearah Sarah dan sahabat nya satu persatu
hingga ayu pun berusaha berjalan mendekati Novi dan perlahan mengusap tangan satu nya Novi di bagian kanan, yang sedang tidak terpasang jarum infus.
"kak, kakak yang sabar yah, ayu yakin kakak wanita kuat, kakak pasti bisa melewati ini dengan baik..."ujar ayu menenangkan wanita itu, Novi terlihat bingung hingga ia mengelus perut nya dan membelalakkan kedua matanya kearah Sarah dan sahabat Sarah
"Sarah, jangan kata kan kalau kakak ?"ujar nya dengan air mata yang mengalir deras, Sarah hanya mengangguk ia tak bisa berkata apapun selain memeluk tubuh kakak ipar nya yang sedang histeris ini.
"kak, yang sabar yah...maaf kan Sarah, Sarah tidak ada di saat kakak menggelami insiden itu..."Sarah sangat merasa bersalah, Novi selalu ada di saat dia kesusahan,namun saat Novi kesulitan Sarah malah tidak bisa berbuat apapun.
"anak ku di mana sarah ?"tangis Novi pecah, ia berteriak histeris, mencari keberadaan anak nya, Sarah hanya bisa memeluk erat tubuh Novi untuk menenangkan, Sarah tahu betul, pasti sakit rasanya kehilangan seorang yang kita cintai, dan Novi sangat mencintai dan menyayangi anak nya itu, ia bahkan sangat menunggu kelahiran anak nya, hingga ia sangat antusias membeli perlengkapan bayi untuk anak nya, meski usia kandungan nya baru menginjak 6 bulan.
"dok, kakak saya..."ujar Sarah dengan air mata yang mengalir deras.
"saya hanya memberikan suntikan penenang, supaya ibu Novi bisa tenang, saya takut bekas jahitan pasca operasi terlepas nanti nya, kalau itu sampai terjadi takut nya akan mengancam keselamatan nya."ucap perawatan tersebut, Sarah pun mengangguk setelah mendengar ucapan perawat itu hingga ia pergi dari ruangan rawat inap Novi.
"kak yang sabar yah..."ucap Sarah sambil mencium kening kakak ipar nya yang terlelap itu.
"Sarah, kamu tidak apa-apa kan ?"tanya teguh dan Sarah hanya mengangguk,
"Sarah, gue ikut prihatin terhadap musibah yang menimpa kakak ipar Lo..."sambung yoga
"thanks semua nya, telah berkunjung ke sini, gue sangat kasihan terhadap Kak Novi, dia pasti sangat terpukul hingga histeris seperti itu..."ujar Sarah lagi.
"ouh ya,kok gue merasa aneh yah atas keguguran yang di alami oleh kak Novi, masa iya perut sebesar itu bisa keguguran, biasa nya kan di usia kandungan yang mau memasuki 7 bulan, bukan kah janin nya sudah mulai kuat dan berkembang ,atau ada yang sengaja menyakiti kak Novi hingga ia menggelami ke guguran, dan tadi Lo juga sampat bilang, kalau di rahim Kak Novi sempat terkena benturan keras, bisa jadi kan kak Novi... ?"ujar ayu ia merasa ganjal, Sarah pun seketika terdiam, ia merasa yang di katakan ayu ada benar nya.
"hmm"