
Sungguh sangat miris melihat kondisi Zayn saat ini. Apa lagi dengan tatapan yang sangat sulit untuk diartikan. Dia terus memikirkan apakah benar, jika dia adalah orang yang sama dengan yang dia fikirkan? Hanya berbeda nama depan nya saja.
Setelahnya, nama tengah dan juga nama belakangnya saja. Ya, nama belakang yang ada tambahan nama dibagian belakang. Apa mungkin dia? Atau hanya mirip dan menggunakan marga yang sama.
Zayn terus saja memikirkan hal-hal yang kemungkinan memang berkaitan satu sama lain. Apa lagi Dad Louis tidak mau menceritakan semuanya pada dirinya. Jadi membuat Zayn harus extra mengatur dan juga memecahkan semua teka teki ini.
Zayn barusan mengingat jika malam ini adalah kepulangan keluarganya dan juga Mama dan Papa mertuanya. Tapi dia pasti sudah sangat terlambat untuk mengejar waktu kesana, Zayn masih berbaring diatas brangkar dengan kedua tangan nya ada jarum yang satu infus dan yang satunya lagi adalah transfusi darah.
"King, apa kau baik-baik saja?" tanya Zayn pada singa yang sedang berbaring juga disampingnya.
Zayn menatap wajah singa yang sedang menatapnya juga. Dia seolah-olah sedang menjaga Tuan nya yang sedang lemah. Mungkin saja dia merasa akan ada yang mencelakai Tuan nya saat sedang lemah seperti ini.
Singa hanya mengaum saja mendengar pertanyaan dari Tuan nya. Zayn hanya menatapnya saja lalu kembali memejamkan matanya, mungkin saja dia masih merasakan efek dari obat yang diberikan oleh Aaron tadi padanya. Sehingga dia tidak bisa menahan kantuknya.
Sedangkan Alvin dan juga Austin sedang menyusun strategi supaya tidak akan ada yang tahu dengan keadaan Zayn saat ini.
"Apa yang akan kita lakukan supaya King bisa tenang dan juga nyaman beristirahat untuk segera memulihkan kondisinya?" tanya Austin pada Aaron yang sedang membaca buku medis yang sedang dia pelajari untuk bisa lebih cepat memulihkan kondisi dari Zayn.
"Aku sedang berusaha untuk melakukan yang terbaik. Apa lagi ini adalah menyangkut tentang teka teki yang selalu King cari tahu. Hingga dia melakukan hal seperti ini untuk meluapkan kekesalan nya dan juga kemarahan yang sedang King rasakan saat ini" jawab Aaron yang masih fokus membaca buku medis yang dia dapatkan dari para tabib jaman dulu.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Austin lagi dengan tatapan yang lurus kedepan dan juga terus memikirkan apa yang akan terjadi kedepan nya.
Aaron tidak menjawab pertanyaan dari Austin yang sedang menatap lurus kedepan dan juga selalu memikirkan apa yang akan dia lakukan. Berbeda dengan Aaron yang biasa saja, dia sudah biasa menghadapi kejadian yang seperti ini. Jadi dia hanya harus bisa membuat King nya cepat pulih kembali.
.
Sedangkan ditempat lain, lebih tepatnya didalam mainson Zayn saat ini Azalya sedang duduk saja sendirian ditepian kolam renang. Dia malah membayangkan jika Zayn ada didalam kolam renang tersebut dan sedang menatapnya.
Dalam bayangan Azalya seperti itu...
"Hubby, kamu sedang apa sih? Kenapa kamu tidak ada kabar seperti ini? Tapi kenapa perasaanku tidak enak seperti ini" gumam Azalya yang sedang duduk menatap kearah kolam renang yang didalam benaknya ada Zayn didalam sana.
"Pantas saja dilan bilang rindu itu berat. Ternyata memang benar, rindu ini sangat berat dan juga tidak bisa ditahan" gumam Azalya lagi pada dirinya sendiri.
Sedangkan dari dalam Oma Rena dan Opa Wijaya menatapnya dengan tatapan kasihan pada cucu kesayangan nya.
"Apa dia akan selalu merasakan seperti itu Pa? Mama kasihan sama Azalya Pa" tanya Oma Rena pada Opa Wijaya.
"Kita do'akan saja yang terbaik untuk rumah tangga keduanya. Mama juga dulu merasakan nya bukan, sama seperti yang Azalya rasakan sekarang?" ucap Opa Wijaya dan juga memberikan nya pertanyaan pada Oma Rena.
"Iya Pa, Mama juga pernah merasakan hal yang sama seperti yang Azalya rasakan. Makanya Mama tidak ingin jika Azalya juga merasakan hal yang sama juga dengan Mama dulu" jawab Oma Rena yang masih menatap Azalya dari kejauhan.
Opa Wijaya tidak ingin menyahuti ucapan Oma Rena, karena akan panjang nantinya jika terus bercerita dengan istrinya ini. Jadi Opa Wijaya langsung pergi untuk menghampiri cucunya yang sangat sedih ditinggalkan oleh suaminya yang harus melakukan perjalanan bisnisnya.
"Kamu sedang apa disini sendirian?" tanya Opa Wijaya yang melihat cucunya sedang melamun ditepian kolam renang.
"Seperti yang Opa lihat. Aza sedang bermain air saja disini, habisnya bosan jika harus didalam kamar terus" jawab Azalya yang memang kenyataan nya seperti itu.
"Apa kamu terfikirkan suami kamu terus? Sehingga kamu tidak mau berlama-lama berada didalam kamarkan? Karena kamu akan selalu mengingat suami kamu terus karena aromanya masih terasa bukan jika didalam kamar?" tanya Opa Wijaya pada Azalya yang sedang senyum-senyum sendiri.
"Opa bisa saja. Tapi semua yang Opa bicarakan memang benar adanya" ucap Azalya yang membenarkan ucapan dari Opa nya.
"Opa itu sudah pernah mengalaminya Aza. Bahkan Oma kamu sering sekali meminta suapaya Opa jangan pernah mengambil perjalanan bisnis jika lama apa lagi harus keluar negri. Pasti akan membuat drama dengan menangis sangat lama dan juga pasti akan selalu membuntuti Opa kemana-mana" ucap Opa Wijaya yang sedang menceritakan bagaimana dulu saat Opa dan Oma masih muda.
"Wah, itu bisa menjadi reference untuk aku bisa tidak jauh-jauh dari hubby dong. Terimakasih banyak Opa... Opa emang paling best deh pokoknya" ucap Azalya yang memberikan dua jempolnya dan langsung memeluk Opa Wijaya.
"Itu ide bagus sayang. Jadi setelah dia kembali kamu harus selalu mengikutinya kemanapun dia pergi" ucap Opa Wijaya dengan senyuman yang sangat senang melihat cucunya sudah bersemangat kembali.
"Tentu saja. Kenapa harus bertanya lagi pada Opa?" jawab Opa Wijaya dengan tersenyum penuh arti pada cucunya ini.
"Ah, masa harus melakukan itu semua sih Opa? Apa hubby tidak akan risih selalu aku ikutin seperti itu? Aza takut jika nanti hubby malah menjauhi ku dan malah meninggalkan ku bagaimana?" tanya Azalya dengan tatapan yang takut jika dia akan ditinggalkan untuk selama-lamanya oleh Zayn.
"Coba saja dulu. Jika belum dicoba mana tahu" jawab Opa Wijaya dengan tatapan yang biasa saja dan sebenarnya menahan tertawanya karena kepolosan Azalya.
"Benar juga. Jika tidak dicoba maka tidak akan tahu" ucap Azalya yang membenarkan ucapan dari Opa Wijaya.
"Ya sudah, lebih baik masuk kedalam. Hari sudah semakin sing dan ini sudah panas" ucap Opa Wijaya yang menyuruh Azalya untuk masuk kedalam.
"Tapi masih seru disini Opa. Opa masuk saja, nanti jika Aza sudah ingin masuk pasti masuk kok. Apa lagi ini sangat indah" ucap Azalya yang masih asik bermain air.
"Kamu ini masih ingin berjemur seperti ikan asin apa hingga sampai kering dibawah sinar matahari" ucap Oma Rena yang sudah ikut bergabung dengan cucu dan juga suaminya.
"Ish, Oma... Masa cucu Oma yang cantik ini dinamakan dengan ikan asin sih Oma?" gerutu Azalya yang mendengar Oma nya bilang jika dia seperti ikan asin yang sedang dijemur.
"Habisnya, ini sudah siang bolong seperti ini dan juga sudah sangat panas, masih saja mau disini terus! Kamu mau jika suami kamu pulang melihat kamu yang hitam dan juga dekil?" ucap Oma Rena yang malah marah-marah pada Azalya.
"Oma, ingat. Jangan marah-marah terus, nanti darah tinggi Oma akan naik lagi. Mau?" ucap Azalya yang malah membuat Oma Rena semakin kesal dibuatnya.
"Sudah-sudah, jangan malah berdebat seperti ini. Lebih baik kita sekarang masuk kedalam dan kita nikmati camilan yang ada didalam. Pasti enak-enak" ucap Opa Wijaya yang melerai perdebatan diantara cucu dan juga istrinya.
"Baiklah. Aza juga ingin makan es krim, pasti sangat segar" jawab Azalya yang langsung masuk lebih dulu dibandingkan dengan Opa dan Oma nya.
"Dasar anak itu. Sudah menikah tetap saja seperti anak kecil dan seperti masih sendiri saja" gerutu Oma Rena pada Azalya yang sudah tidak terlihat lagi.
"Sudahlah Ma, jangan menggerutu seperti itu. Azalya sedang sedih karena baru pertama merasakan ditinggalkan dinas seperti ini. Jadi maklumi saja, kita harus bisa membuatnya selalu merasa bahagia dan juga selalu ada yang dia ajak bicara atau menghilangkan beban dalam hatinya" ucap Opa Wijaya yang mengingantkan Oma Rena supaya lebih bersabar menghadapi sikap Azalya.
"Iya, Mama juga tahu itu Pa. Kita memang harus selalu ada didekatnya dan juga mendukungnya, Tali juga harus mengingatkan nya supaya bisa berubah lebih baik lagi dari yang sebelumnya" jawab Oma Rena yang malah melangkahkan kakinya menuju kedalam meninggalkan Opa Wijaya yang masih berdiri disamping kolam renang.
"Salah lagi" gumam Opa Wijaya yang hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah istrinya yang tidak bisa berubah dari dulu hingga sekarang. Selalu ingin menang sendiri.
.
Sedangkan didalam markas Austin sedang melatih fisiknya sendiri dengan bertarung melawan anggota Zayn yang sudah sangat professional. Dia ingin bisa seperti Zayn, yang bisa menaklukan manusia hingga binatang sekalipun. Itu sudah bisa menjadi motifasi untuknya.
"Apa anda yakin ingin belajar bela diri Tuan?" tanya anggota Zayn yang memang sangat berpengalaman dalam hal bertarung tanpa senjata.
"Iya, saya sudah yakin dan juga siap. Karena saya juga ingin bisa menjaga diri sendiri tanpa meminta bantuan dari orang lain" jawab Austin dengan sangat mantap.
"Baiklah Tuan, saya akan mengajarkan tahapan awal dulu sebelum bisa menyerang. Kita latihan untuk bisa mempertahankan diri dari serangan depan, belakang, samping kanan dan kiri. Anda ikuti saja dulu gerakan yang saya lakukan" ucap anggota Zayn yang sudah mengambil kuda-kuda untuk bersiap.
Dengan cekatan Austin mengingat semua gerakan yang dilakukan oleh anggota Zayn. Bahkan dia bisa meresap semua yang diperaktekan olehnya. Hanya dengan melihat dan juga mengingat semuanya.
.
.
.
Saweran.... 💃💃💃
Vote dan hadiahnya donk....
Othor sudah menuruti up banyak jadi sebagai gantinya Othor minta like dan komentarnya... 🤗