Mr. Z CEO Of The Mafia

Mr. Z CEO Of The Mafia
Kedewasaan sebelum waktunya



Zaniya hanya mengangguk dan dia duduk disamping Alkana yang juga sedang duduk menatap kearahnya. Zaniya malah diangkat dan duduk dipangkuan Alkana dan dia melihat jika Zaniya mirip dengan Azalya kecil dulu. Tapi tidak dengan kedewasaan nya dan juga pengertian nya.


"Apa kalian sudah lama berada disini?" tanya Alkana pada Zaniya yang menggeleng dan dia hanya menatap Alkana biasa dan terkesan cuek juga.


"Oh, uncle kira sudah lama. Tapi tidak apa-apa, uncle senang bisa bertemu dan juga kalian mau uncle akan membawa kalian bermain. Bagaimana?" tanya Alkana yang langsung diangguki oleh Zahiya dan Zaniya yang mana Zahiya sudah berada disampingnya.


"Oke, kita mau main apa dan dimana? Tapi kalian harus izin dulu pada Daddy kalian, uncle tidak mungkin jika uncle disalahkan mengajak kalian bermain" ucap Alkana yang membuat kedua gadis kecil itu mengangguk dan turun dari pangkuan Alkana dan juga dari atas sofa.


Membuat semua orang yang ada disana merasa sangat gemas dan juga tidak ingin berjauhan darimu mereka berdua. Tapi mana mungkin mereka menahan mereka untuk tetap tinggal disini, yang pastinya akan tidak disetujui oleh Zayn.


"Aza, apa kamu tidak tahu sekarang Zayn dimana? Kenapa kedua putri kamu malah pergi keluar?" tanya Mama Soraya yang melihat Azalya yang sedang diam dan tidak mengatakan apapun.


"Mungkin saja mereka berdua tahu dimana Daddy mereka Ma, karena mereka berdua yang selalu peka dan sangat mengetahui dimana Daddy nya berada. Mungkin saja sekarang juga sama" jawab Azalya yang menatap kedepan dengan tatapan kosong dan seolah tidak ada apa didepan matanya.


"Sayang, maafkan Mama. Mama tidak bermaksud untuk membuat kamu sedih, maafkan Mama sayang" ucap Mama Soraya yang memeluk Azalya dengan penasaran bersalah yang membuat Azalya bisa mengalihkan pandangan nya dan tidak menatap kosong lagi.


"Mama tidak salah apa-apa Ma, aku hanya masing bingung dengan fikiran aku sendiri. Kenapa fikiran aku selalu tidak sama dengan perasaan dan juga hati aku sendiri. Jika hati dan perasaan aku sangat sikron sedangkan fikiran aku jauh berbeda. Aku merasa jika aku ini bukan aku Ma" jawab Azalya yang membuat semua orang bersedih dan saling mendekati Azalya yang sedang bersedih dan bingung dengan semua yang terjadi.


"Tidak apa-apa sayang. Kamu hanya perlu mengingat apa yang terjadi sekarang dan seterusnya, jangan memaksakan diri untuk bisa mengingat dan juga memikirkan hal yang tidak berguna dan juga tidak bagus untuk kesehatan kamu sendiri. Seperti yang Zayn selalu kayakan pada kamu, jika kamu jangan boleh memikirkan dia dan juga kedua putri kamu" ucap Mama Soraya yang masih memeluk dan sekarang Alkana malah berjongkok dihadapan Azalya untuk bisa menguatkan nya juga.


Sedangkan disamping kanan kirinya ada Mama Rena dan Oma Rena yang sedang memeluknya. Dibelakangnya ada Papa Danu dan Opa Wijaya yang juga menguatkan nya, supaya tidak banyak fikiran yang tidak-tidak dan akan menimbulkan masalah nantinya penyakit untuk Azalya nantinya.


"Terimakasih semuanya. Aza bersyukur memiliki keluarga seperti kalian dan bisa berada ditengah-tengah kalian kembali" ucap Azalya yang memeluk semua orang dengan penuh haru.


Tidak jauh dari mereka yang sedang berpelukan saling menguatkan Zayn, Zahiya dan Zaniya sedang menatap mereka semua dengan senyuman dan juga menitikan air matanya juga. Mereka bertiga saling tatap dan mengangguk untuk tidak mengganggu suasana haru mereka semua.


"My Queen, kita akan kemana sekarang?" tanya Zayn yang menatap Zahiya dan Zaniya dengan lekat setelah berada diteras rumah Wijaya.


"Apapun Dad, kami ingin jalan-jalan dan bermain dipantai. Apa boleh?" tanya Zaniya yang menatap Zayn dengan tatapan teduhnya.


"Kenapa tidak, tapi kita tunggu Mommy dulu. Mommy juga sangat menyukai pantai dan juga bermain pasir, jadi kita akan kesana setelah Mommy selesai dengan mereka" jawab Zayn yang mendapatkan kecupan dari kedua putrinya yang sangat menggemaskan itu.


"Oke Dad, selama menunggu. Bagaimana jika kita melakukan kegiatan yang menyenangkan?" jawab keduanya dan Zaniya bertanya pada Zayn.


"Apa itu?" tanya Zayn menatap kedua putrinya bergantian dan mereka saling tersenyum lalu mengangguk.


"Apa yang kalian berdua rencanakan? Apa tidak ingin memberitahukan Daddy, hmm?" tanya Zayn pada kedua putrinya yang saling tersenyum tipis berdua.


"Kami berdua ingin bisa seperti Daddy. Karena Daddy adalah King nya maka kami berdua adalah Queen nya. Jadi apa yang Daddy bisa dan Daddy mampu, maka kami juga harus bisa dan menguasai semuanya" jawab Zahiya yang memang selalu terobsesi dan selalu menginginkan seperti sangat Daddy.


"Nanti, setelah kalian berdua sudah mampu. Daddy sendiri yang akan mengajarkan kalian berdua, tapi tidak sekarang. Karena kalian masih sangat kecil, tapi boleh melakukan yang ringan-ringan saja. Tapi ingat, jangan pernah memperlihatkan dan juga ada yang tahu jika kalian berdua bisa melakukan apa yang tidak semuanya anak seumuran kalian bisa. Promise me" ucap Zayn dengan panjang lebar pada kedua putri kecilnya.


"We promise you Dad" jawab keduanya langsung memeluk Zayn dan ketiganya malah saling tersenyum dan membuat Angga dan Marcos ikut bahagia juga akan apa yang dirasakan oleh King nya sekarang. Karena beberapa tahun yang lalu, King nya seperti mayat hidup dan tidak memiliki hati dan perasaan.


"Good girl, Daddy sendiri yang akan mengajarkan kalian berdua senua yang Daddy miliki. Tapi harus selalu rukun dan selalu saling menjaga satu sama lain, jangan pernah ada selisih faham dan apa lagi harus bermusuhan hanya karena masalh tidak penting" ucap Zayn dengan tatapan datarnya dan itu membuat kedua putrinya mengerti dan mengangguk.


Setelah mengatakan itu semua ketiganya bermain bersama dengan berlarian kesana kemari. Dan itu sangat membuat Zayn senang karena dia bisa bertemu dan berkumpul lagi dengan istri dan anak-anaknya. Dia berencana untuk memperkenalkan mereka pada Mommy nya dan itu semua setelah Azalya merasa tenang dan bisa diajak untuk keluar. Walau dia tidak bisa mengingat semuanya, tapi dia bisa merasakan kedekatan dengan seluruh keluarganya juga.


"Dad, itu Mommy" ucap Zahiya yang menunjuk Azalya yang baru saja keluar dari dalam dan menghampiri mereka bertiga.


"Ada yang bisa aku bantu sweetie?" tanya Zayn yang mencoba berbicara manis pada Azalya dan itu hanya bisikan saja setelah Azalya sudah berada didekatnya.


"Tentu saja ada By, aku hanya ingin bertemu dengan Mommy dan Daddy. Karena aku juga ingin memiliki kenangan baru bersama dengan mereka semua By" jawab Azalya yang menginginkan hal-hal yang sama dengan dirinya dan kedua putrinya yang memang ingin ke mainson Edison untuk bertemu dengan mereka semua.


Apa lagi disana ada anak-anak juga yang akan membuat kedua putrinya memikirkan teman untuk bermain bersama. Zayn ingin kedua putrinya bisa berbaur dan juga akrab dengan semua sepupunya. Walau tidak bisa berbaur sepenuhnya, setidaknya bisa mengenal mereka.


"Jika begitu akan aku lakukan untuk kamu" ucap Zayn yang mengajak Azalya untuk ke mainson Edison setelah berpamitan pada keluarganya.


"Apa sudah pamitan pada Mama dan yang lainnya?" tanya Zayn pada Azalya yang mengangguk mengiyakan pertanyaan dari Zayn.


"Aku sudah berpamitan dan memang mereka yang menyuruh aku untuk bertemu dengan mereka juga. Juga dengan Zahiya dan Zaniya" ucap Azalya yang mengatakan apa yang sudah dia dengarkan dari Mama Soraya dan yang lainnya.


"Baiklah, kita akan kesana sekarang. Kita panggil Queen dulu" ucap Zayn yang mengajak Azalya menuju Zahiya dan Zaniya yang sedang bermain ditaman.


"Apa kalian ingin ikut dengan Mommy dan Daddy ketempat yang seru dan bertemu dengan seseorang lagi?" tanya Zayn yang sudah berjongkok dihadapan Zahiya dan Zaniya yang sedang berdiri dan saling menatap lalu mengangguk.


"Mau berjalan sendiri atau Daddy gendong?" tanya Zayn yang belum beranjak dari jongkoknya.


Mereka memasuki mobil yang selalu standby untuk selalu mengantar-ngantarkan Zayn kemana-mana. Seperti sekarang yang ingin menuju mainson Edison dan disana ternyata sedang berkumpul bersama. Disana juga sedang ada Quinzy yang sedang bermain dengan anaknya Zico dan Joyce yang bernama Daffy yang usinya tidak jauh berbeda dari Zahiya dan Zaniya.


"Itu seperti mobil Zayn" gumam Zia yang menyadari jika itu adalah mobil kesayangan Zayn dan hanya Zayn yang bisa menggunakan mobil seperti itu.


"Ada apa Zi?" Tanya Alexa yang kebetulan sedang duduk bersama dengan nya saat ini sambil melihat anak-anak yang sedang bermain.


Sekarang Alexa dan Zia sedang hamil dan kehamilan mereka sama, berdeda satu minggu saja. Jadi keduanya sangat kompak dan selalu bersama-sama melakukan apapun jika urusan kehamilan. Dan itu membuat para suami mereka kalangkabut menghadapi kedua bumil itu.


Benar saja, Zayn turun dengan menggendong dua anak kecil yang sangat cantik dan ada seorang lagi yang mereka sangka sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.


"Z, apa dia benar-benar Azalya?" tanya Zia yang setengah berlari menghampiri Zayn dan juga Azalya.


"Seperti yang kakak lihat" jawab Zayn yang masih dengan datarnya seperti biasa.


"Azalya" ucap Zia yang langsung memeluk Azalya dengan penuh kerinduan yang juga rasa haru dihatinya.


"Kamu apa kabar? Sudah lama sekali kita tidak bertemu" tanya Zia yang mengurai pelukan nya dari Azalya.


"Aza baik-baik saja kak, seperti yang kakak lihat sekarang. Kakak sendiri apa kabar?" jawab Azalya sambil bertanya juga pada Zia yang tersenyum lalu menjawab.


"Kakak juga baik-baik saja. Kenalin, ini adalah Alexa. Istrinya yang Zio, dan yang disana adalah istrinya bang Zico" jawab Zia yang memperkenalkan Alexa pada Azalya dan menunjuk Joyce yang berada tidak jauh dari mereka.


"Azalya. Alexa" ucap keduanya yang memperkenalkan dirinya masing-masing dan saling berjabat tangan keduanya.


Azalya langsung menghampiri Joyce yang sedang menatapnya sambil tersenyum. Padahal hatinya sakit karena sudah bertahun-tahun tinggal disini dan bersama dengan mereka. Zia tidak pernah menganggapnya ada dan tidak pernah menghargainya sebagai kakak iparnya selama ini.


"Kak, aku Azalya" ucap Azalya yang memperkenalkan dirinya pada Joyce. Tentu saja Joyce sangat bahagia, karena Azalya menghampirinya dan memperkenalkan dirinya.


Joyce langsung memeluk dan mengangguk menanggapi ucapan Azalya. Karena dia merasa terharu, walau Zia tidak menganggapnya. Setidaknya ada yang lain yang menganggapnya.


"Iya, aku Joyce. Senang berkenalan dengan kamu, maaf ya aku reflek memeluk kamu barusan" ucap Joyce yang merasa tidak enak pada Azalya yang sedang tersenyum kearahnya.


"Tidak apa-apa kak, aku malah senang mendapatkan sambutan hangat seperti ini dari kakak dan yang lainnya" jawab Azalya yang memang sudah berubah dan sangat berbeda dengan Azalya yang dulu sebelum dia hilang ingatan sepenuhnya.


Saat keduanya sedang berbicara berdua dan memperkenalkan kedua putrinya, Azalya dan Joyce sudah akrab. Itu membuat Zayn senang dan dia pergi dari halaman depan menuju tempat rahasianya saat kecil dulu. Tapi saat akan memasuki ruangan itu Zayn berpapasan dengan seseorang yang tidak ingin diajak temui sebenarnya. Siapa lagi jika bukan Dad Louis yang sedang berdiri menatapnya dengan penuh rasa penyesalan yang teramat dalam.


"Daddy tahu kamu pasti akan datang kemari Z" ucap Dad Louis yang berjalan menghampiri Zayn yang hanya berdiri dan tidak menatapnya. Itu membuat Dad Louis merasa sedih dan juga sakit saat diperlakukan seperti ini oleh Zayn.


"Apa kau tidak akan bisa memaafkan Daddy Z? Harus bagaimana caranya supaya Daddy bisa kamu maafkan? Apa dengan kematian bisa membuat kamu memaafkan dan menerima semuanya yang sudah Daddy lakukan padamu dulu?" tanya Dad Louis yang sudah berdiri beberapa meter dari Zayn berdiri.


"Itu terserah anda. Saya tidak ada hubungan apa-apa dan berkaitan apapun dengan anda, anda memang menikah dengan Ibu saya. Tapi saya tidak menganggap jika anda adalah Ayah saya" jawab Zayn dengan tatapan datarnya dan tidak mengindahkan wajah Daddy Louis yang sudah sangat memerah menahan tangis yang sudah ingin keluar dan itu tidak akan membuat hati Zayn tergelak akan sikap dari Dad Louis.


Bahkan sekarang Zayn tidak menggunakan nama Pratama maupun Edison. Dia mengganti namanya sendiri menjadi Zayn Malik tidak menggunakan kedua nama orang yang sudah membuatnya hampir mati dan juga kehilangan orang-orang kesayangan nya.


"Maafkan Daddy Zayn. Sungguh, Daddy benar-benar hanya ingin memancingnya untuk keluar dan tidak ada maksud apa-apa. Ancaman waktu itu hanya ingin membuat kamu jangan terlalu percaya pada siapapun yang akan kamu temui nantinya. Daddy sungguh minta maaf atas semua yang sudah Daddy lakukan pada kamu. Maafkan Daddy Zayn, maaf" ucap Dad Louis yang langsung berlutut dihadapan Zayn.


Tapi tidak Zayn indahkan. Zayn malah melangkah melewati pria paruh baya yang sudah merawat dan memberinya kasih sayang seorang Ayah padanya. Tapi Zayn hanya tidak ingin jika sesuatu yang dulu terulang kembali, dan dia tidak ingin semua itu. Biarlah dia disebut kacang lupa kulitnya atau bahkan disebut anak durhaka sekalipun. Dia sudah terlanjur kecewa dan juga sangat dikhianati oleh orang-orang terdekatnya.


Zayn memasuki ruangan rahasia miliknya dulu, dan itu masih sama seperti sebelumnya. Masih ada beberapa koleksi nya dulu hingga sekarang masih berada ditempatnya semula.


.


.


.


Sekarang Othor up dipanjangin bab nya ya...


Supaya tidak dikatakan kurang panjang....


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya untuk like, komen, vote dan hadiahnya...


Juga subscribe dan pollow akun Othor juga ya....