
"Aku tunggu disini saja dulu. Jika sudah ada yang keluar baru aku akan masuk" gumam Daffy. Tapi dia malah menggeleng, dan akhirnya dia mengetuk pintu rumah tersebut.
TOK...
TOK...
TOK...
"Assalamualaikum" ucap Daffy saat setelah mengetuk pintu.
"Wa'allaikumsalam, eh nak Daffy. Silahkan masuk nak, tante kira tidak jadi jemput Tami? Silahkan masuk nak" ucap Mama Sinta sangat ramah dan Tama juga sudah terlihat biasa saja.
Walau Tami merasa takut-takut saat melihat sorot mata Tama yang menatap tajam padanya. Dia juga melihat ada yang berbeda dari Daffy, tapi dia bingung apa perbedaan itu? Sebelum Zaniya yang menanyakan nya.
"Bang Daf, belum sarapan kan? Yuk sarapan bersama dengan kita. Kebetulan aku sudah belajar masak bareng Mama dan Tami" ucap Zaniya yang; engajak Daffy untuk sarapan bersama.
"Terimakasih Zan, tapi abang sudah sarapan kok sebelum kemari. Kalian saja" ucap Daffy yang memang merasa tidak enak jika harus numpang sarapan.
"Oh, oke" ucap Zaniya yang sudah duduk dan menyiapkan sarapan untuk suaminya.
"Eh, bang Daf. Ngomog-ngomong kenapa wajah bang Daffy seperti zombie? Apa bang Daffy tidak tidur semalaman? Wajah Tami juga sama, apa kalian tidak bisa tidur?" tanya Zaniya yang menatap dua orang itu bergantian.
"Iya, semalam abang ngerjain tugas untuk hari ini. Makanya abang harus begadang" jawab Daffy yang mengatakan nya dengan tenang.
'Cih, bilang saja kalian berdua sedang saling memikirkan satu sama lainnya. Tapi kenapa aku begitu kesal padanya? Bukankah dia adalah pria yang baik dan tidak pernah macam-macam, tapi Enyak kenapa aku merasa sangat tidak menyukainya berdekatan dengan Tami, adik ku?' gumam Tama dalam hati dan itu sudah bisa ditebak oleh Zaniya.
"Perasaan abang sama saja dengan perasaan Daddy saat abang datang ke mainson dan memintaku secara baik-baik padanya. Jadi jangan pernah melarang seseorang yang sedang dekat dengan adik abang sendiri" ucap Zaniya berbisik pada Tama.
"Apa benar seperti itu? Jika iya, aku akan mencobanya" tanya Tama dan langsung dijawab anggukan kepala oleh Zaniya.
"Tami, kakak mengizinkan kamu dekat dengan nya. Tapi kakak minta sama kamu, jaga kepercayaan kakak pada kamu ini. Jangan pernah mengecewakan" ucap Tama yang membuat Tami berhenti mengunyah makanan nya.
"Iya kak, akan Tami jaga. Terimakasih" jawab Tami yang menunduk, tapi hatinya sangat senang mendapatkan izin dari kakaknya.
"Hmm, ingat apa yang kakak katakan tadi padamu" ucap Tama lagi yang memberikan peringatan.
"Sudahalah bang, kenapa sih ditekankan lagi. Tami juga sudah jelas pasti, lebih baik sekarang abang diam dan lanjutkan sarapan nya. Karena tidak baik berbicara saat sedang makan" ucap Zaniya yang menatap tajam pada Tama.
Semua orang akhirnya diam dan melanjutkan sarapan nya. Hingga mereka selesai dan akan bersiap pergi untuk kegiatan mereka masing-masing.
"Ma, kak, kakak ipar. Aku berangkat kuliah dulu, Assalamualaikum" ucap Tami yang menyalami Mama Sinta dan kedua kakaknya.
"Tante, saya juga permisi. Assalamualaikum" ucap Daffy yang juga melakukan hal sama dengan Tami.
"Wa'allaikumsalam, hati-hati dijalan" ucap Mama Sinta tersenyum melihat kearah Tama dan Zaniya yang sudah bersiap akan pergi juga.
Setelah kejadian itu, baik Tami dan Daffy sudah semakin dekat dan juga sangat akrab. Hingga keduanya memutuskan untuk menjalin hubungan yang semakin serius. Mereka memang tidak memutuskan untuk menikah muda, karena Tama tidak mengizinkan Tami menikah muda.
Zaniya juga dikabarkan sedang hamil muda dan dia tidak diizinkan untuk kuliah dulu oleh Tama. Karena pada saat kuliah dia masih saja didekati oleh Daniel yang tidak percaya jika Zaniya sudah menikah.
"Bang, apa aku benar-benar tidak boleh kuliah lagi? Aku bosan dan jenuh jika didalam rumah terus. Yang ada aku bisa stres lama-lama" ucap Zaniya yang merengek saat Tama akan pergi ngajar.
"Baiklah, kamu boleh kuliah dan kamu harus berhati-hati. Jangan sampai kejadian beberapa hari yang lalu terulang, aku tidak mau jika nanti baby kita kenapa-kenapa. Kamu ngerti kan maksud aku?" ucap Tama yang sudah pasrah jika Zaniya sudah merengek seperti ini.
"Yey... Thank you sayang... Aku janji akan jaga baby twins kita" ucap Zaniya yang mengedipkan sebelah matanya dan dia tidak berhenti tersenyum lalu segera menuju kamarnya dan berganti pakaian.
"Twins? Apa aku tidak salah dengar? Dia hamil baby kembar, dan dia tidak mengatakan yang sebenarnya? Awas saja kamu sayang, akan aku buat kamu tidak bisa berjalan" ucap Tama yang sangat bahagia saat mendengar, jika dia akan memiliki dua baby sekaligus.
"Dia ini dosen, kenapa mendadak menjadi bodoh seperti keledai? Sudahlah, biarkan saja dulu dia berfikir dengan otak pintarnya itu. Setelah dia sadar pasti akan menyusul kemari" gumam Zaniya yang sudah rapih dengan dres selututnya dan dia sekarang selalu berdandan seperi Zahiya.
Bahkan dia terlihat lebih feminim saat ini, dibandingkan dengan sebelumnya. Saat dia akan keluar, ternyata Tama yang lebih dulu masuk dan melihat Zaniya. Dia melihat Zaniya dari atas hingga bawah tanpa berkedip.
"Ehmm... Apa aku sangat cantik sekali sayang? Sampai-sampai suamiku ini tidak berkedip sama sekali menatapku?" tanya Zaniya yang sudah mengalungkan tangan nya dileher kokoh Tama. Dia malah semakin menggoda Tama dengan menunjuk-nunjuk dadanya dengan sensual.
"Jangan menggodaku sayang. Aku bisa saja melakukan nya sekarang, jika saja aku tidak ada tugas penting saat ini" ucap Tama yng menghela nafasnya kasar.
"Oh, oke. Ya, sudah. Kita berangkat sekarang dan jangan biarkan dia bangun lebih lama lagi, karena akan berbahaya" ucap Zaniya yang mengedipkan sebelah matanya pada Tama, lalu menggandeng lengan Tama menuju mobil mereka.
"Apa kalian akan berangkat sekarang?" tanya Mama Sinta yang melihat anak-anak dan menantunya keluar kamar dengan penampilan rapih mereka.
"Iya Ma, kami berangkat dulu. Assalamualaikum" ucap Zaniya dan Tama sambil menyalami tangan Mama Sinta.
"Wa'allaikumsalam, hati-hati dijalan nya" jawab Mama Sinta yang melihat keduanya sudah masuk kedalam mobil dan segera pergi dari halaman rumahnya.
"Tidak terasa, mereka akan menjadi orang tua. Dan aku menjadi seorang nenek, semoga saja semuanya lancar hingga persalinan nya. Amiin Ya Robb" ucap Mama Sinta yang kesehatan nya semakin membaik dan juga semakin terlihat bahagia saat melihat anak-anaknya bahagia semuanya dn sebenar lagi akan menyambut kedatangan anggota keluarga baru.
.
Sedangkan Tami masih seperti biasa, dia mengerjakan tugas kuliahnya dengan semangat dan mengejar cita-citanya. Dia ingin membanggakan Mama dan kakaknya, dia sangat bersemangat untuk bisa menggapai semuanya.
"Kenapa kamu malah diam sendiri saja?" tanya Daffy yang ternyata sudah berada disampingnya saat ini.
"Kakak, kenapa tidak memberi kabar dulu sebelum kemari?" ucap Tami yang bertanya kembali pada Daffy.
"Benarkah? Coba saja kau cek ponselmu itu" ucap Daffy yang melihat Tami yang membolakan matanya saat melihat beberapa panggilan tak terjawab dari Daffy.
"Iya tidak masalah. Oh iya, mau menemaniku bertemu dengan salah seorang klien? Aku butuh seorang sekertaris" ucap Daffy yang mengacak rambut Tami yang menatapnya heran.
"Berapa bayaran nya, jika aku menjadi sekertarisnya kakak? Aku tidak mau jika hanya dibayar dengan ucapan terimakasih saja" tanya Tami yang menatap Daffy dengan senyumnya dan menaik turunkan alisnya.
"Berapapun yang kamu inginkan. Asal jangan minta yang tidak bisa aku penuhi saja, karena itu akan membuat ku bingung" ucap Daffy yang juga tersenyum pada Tami.
"Baiklah, aku ikut. Kebetulan kelasku sudah selesai, dan aku juga tidak ingin merepotkan kakak terus untuk biaya kuliah ku sekarang. Apa lagi mereka sedang menunggu kehadiran baby mereka, apa yang harus aku lakukan disana dan apa yang harus aku bawa?" tanya Tami yang langsung membereskan barang-barangnya masuk kedalam tas.
"Kamu hanya menemani ku saja, dan menulis poin-poin penting dalam pertemuan ini. Itu saja" jawab Daffy yang sekarang sudah terlihat sangat rapih dan terlihat seperti CEO muda pada umumnya.
"Baiklah, apa aku akan menggunakan pakaian seperti ini saja atau kakak sudah menyiapkan nya seperti biasa?" tanya Tami yang sudah tahu jika Daffy akan memberikan pakaian untuk digunakan oleh Tami saat pertemuan nya dengan klien.
"Seperti tebakan kamu, kita jalan sekarang saja. Nanti disana kamu bisa mengganti pakaian mu seperti biasa. Jadi, kita berangkat sekarang atau masih berfikir lagi?" tanya Daffy yang sudah berdiri dan mengulurkan tangan nya pada Tami.
"Ayo" ucap Tami yang menyambut uluran tangan Daffy. Dan mereka masuk kedalam mobil.
"Wah kak. Aku sudah seperti istri seorang CEO saja dengan pakaian seperti ini. Aku jadi berhayal jika aku akan menjadi istri CEO sungguhan" ucap Tami yang memang berpenampilan sangat rapih dan juga sangat elegant dengan gaun yang diberikan oleh Daffy.
"Apa kamu sangat menginginkan nya? Jika iya, bersabarlah. Sebentar lagi aku akan menjadi apa yang kamu bayangkan, dengan begitu kami akan menjadi istri seorang CEO" ucap Daffy mengusap tangan Tami yang sedang memeluk lengan nya dengan sangat mesra.
"Apa kakak yakin dengan keputusan kakak? Apa aku pantas menjadi pendamping kakak? Aku takut jika nanti aku akan mempermalukan kakak kelak" tanya Tami yang sedikit tidak percaya diri akan apa yang mereka lakukan kedepan nya.
"Percayalah, aku tidak akan pernah salah dalam memilih seseorang. Apa lagi untuk masa depan aku nantinya, kamu adalah orang yang tepat menjadi pendamping hidupku dan Ibu dari anak-anak ku kelak. Sekarang tegakan wajahmu dan jangan pernah menunduk pada siapapun, jangan sa2 smpai ada yang merendahkan kamu. Aku tidak ingin kamu dipermalukan" ucap Daffy dengan kesungguhan yang membuat Tami semakin yakin akan ketulusan dan kesungguhan dari Daffy.
'Ya Allah, semoga saja memang dia adalah jodoh hamba. Jika bukan, tolong kirimkan yang sepertinya untuk ku. Jangan biarkan dia menderita jika dia bukan untuk ku ' ucap Tami dalam hati dan dia sudah memasuki sebuah ruangan yang sangat mewah dan berada disebuah mainson besar.
"Kita ini mau bertemu klien yang seperti apa? Kenapa kita datang kerumah besar ini?" tanya Tami yang melihat sebuah rumah dengan gaya eropa dan dijaga sangat ketat oleh para bodyguard.
"Ini adalah klien penting untuk masa depan kita. Jadi kamu diam dan nikmati saja semuanya, jangan banyak bertanya. Jika didalam ada yang bertanya, maka katakan saja, jika kamu adalah calon istriku. Oke" ucap Daffy dengan santai dan dengan senyuman dibibirnya.
"Oh, ho... Kau memang sangat romantis" ucap Tami yang malah tersenyum kearah Daffy.
'Kamu tidak tahu saja Tami, siapa yang akan kita temui disana. Mereka adalah orang-orang yang penuh dengan kebohongan dan kepalsuan. Aku hanya ingin lihat, apa yang akan mereka lamukan jika aku membawa wanita yang aku cintai kehadapan mereka semua. Apa mereka akan menentang? Atau malah sebaliknya? Kita lihat saja nanti ' ucap Daffy dalam hati yang mengatakan nya penuh dengan kesungguhan. Dia memang sudah tahu jika ini akan terjadi padanya, ini adalah sesuatu yang tidak disangka sukai.
Benar saja, disana sudah menunggu Dad Louis, Dad Jhon, dan Mom Sandra sudah ada disana. Jangan lupakan uncle Joyed juga ada disana dengan anak dan istrinya. Tami merasa tegang saat melihat semua orang yang ada disana menatapnya dengan tatapan tajam dan meremehkan.
"Selamat datang sayang. Kenapa baru datang sekarang? Apa kamu tidak merindukan kami semua?" ucap Mom Sandra yang langsung memeluk Daffy dan menatap Tami dengan tatapan datarnya.
"Assalamualaikum" ucap Daffy, tidak menjawab pertanyaan dari Mom Sandra.
"Bagaimana kabar kamu boy? Kami sangat merindukan kamu" ucap Dad Louis yang juga menghampiri Daffy.
"Seperti yang Daddy lihat sekarang. Aku memenuhi undangan kalian kemari hanya untuk memperkenalkan calon istriku ini" jawab Daffy yang ingin memperkenalkan Tami.
"Hai, kenalkan. Nama saya Tami, Aditami. Salam kenal semuanya" ucap Tami yang memperkenalkan dirinya dan dengan senyuman dibibirnya.
"Iya, sayang. Mommy sangat merindukan kamu, kenapa kamu baru datang kemari? Apa tidak merindukan keluargamu ini?" tanya Mom Sandra yang sama sekali tidak menatap Tami.
'Jadi ini keluarganya kak Daffy? Tapi bukankah keluarganya adalah keluarga kakak ipar juga? Kenapa aku baru melihatnya dan saat pertunangan atau pernikahan aku tidak melihatnya? Apa mungkin dia adalah keluarga dari Ibunya kak Daffy? Jika iya, kenapa mereka terlihat sangat aneh dan tidak seperti keluarganya kakak ipar yang ramah-ramah ' ucap Tami dalam hati dan dia menatapi wajah-wajah asing dimatanya.
"Biasa saja Mom. Aku hanya mengenalkan nya, dan juga aku mau minta tolong supaya jangan memaksa ku untuk menjadi apa yang kalian inginkan. Disini masih ada mereka berdua yang bisa menggantikan posisi Daddy untuk menjadi CEO EDC.CORP. Aku tidak berminat untuk menjadi itu, maaf" ucap Daffy dengan tegas dan tidak ada keraguan sedikitpun juga.
PLAK...
"Apa kamu sudah gila! Ini adalah kesempatan kamu untuk bisa sukses dan bisa melebihi Daddy kamu yang bodoh itu! Apa kamu tidak berfikir kesana?" ucap Mom Sandra sambil berteriak setelah menampar Pipi Daffy.
"Apa kakak baik-baik saja?" tanya Tami panik, saat perlakuan dari keluarganya Daffy yang ini.
"Aku baik-baik saja, jangan khawatir" jawab Daffy dengan mengusap pipi Tami dan juga tersenyum pada Tami. Lalu dia menatap wajah Mom Sandra yang memang sudah tua, tapi sikap dan ambisinya masih sama besarnya seperti dulu.
"Aku sama sekali tidak berniat untuk itu. Aku sudah memiliki pekerjaan ku sendiri dan bisa membuktikan jika aku bisa juga mampu menggunakan kaki sendiri untuk menjadi CEO atau pekerjaan lainnya. Terimakasih, karena kalian sudah mendidik dan membesarkan ku dengan kekerasan juga ambisi yang membuatku jengah" ucap Daffy dengan kata-katanya yang datar juga mengeluarkan aura pemimpin nya.
Semua orang hanya bisa diam dan menatap Daffy dengan tajam, Daffy memang sudah tahu apa tujuan mereka memanggilnya datang kemari. Daffy juga sudah mengabari Zayn akan masalah ini, Zayn juga bisa mendengarkan semua pembicaraan yang sedang mereka lakukan.
Zayn memang sudah merencanakan ini semua untuk bisa menangkap paria yang memang sudah mendidiknya menjadi seperti sekarang ini. Dan ini adalah waktu yang pas untuk menangkap dan meringkus mereka semua dengan satu kesempatan.
"Maafkan Z Mom, Z harus melakukan ini semua demi kebaikan dan juga ketenangan Mommy. Karena keselamatan juga kebaikan semuanya, harus ada yang dikorbankan dalam hal ini. Aku ingin semuanya selesai, dan juga tenang" ucap Zayn yang sudah berada diluar mainson untuk menangkap mereka semua.
"Aku tidak akan mengampuni kalian, jika kalian membuat keponakan ku terluka. Apa lagi jika kalian melakukan kesalahan yang fatal, aku akan menghabisi kalian semua satu persatu dengan tangan ku sendiri" gumam Zayn yang sudah mendekat kearah mereka semua.
.
.
.
Sebentar lagi akan TAMAT ya, karena kejahatan dari Dad Louis terungkap dan Mom Vita akan bahagia bersama dengan keluarganya. Tidak ada bayang-bayang dari Dad Louis yang membuat mereka merasa tidak tenang.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya untuk like, komen, vote dan hadiahnya ya...
Terimakasih dan happy reading... 🤗🤗🤗