Mr. Z CEO Of The Mafia

Mr. Z CEO Of The Mafia
S2~ Perdebatan pertama



Keesokan harinya Zaniya bertemu dengan Tama dan keluarganya juga untuk firing gaun pengantin yang mereka inginkan. Keduanya sedang mencoba gaun pengantin dan keduanya sudah keluar dengan pakaian masing-masing.


"Sayang, apa ini bagus aku kenakan?" tanya Zaniya yang sudah menggunakan gaun pertamanya.


"Terlalu terbuka" jawab Tama yang menatap Zaniya dengan tatapan datarnya dan tidak suka.


"Aku juga merasa tidak nyaman dengan gaun ini" ucap Zaniya yang langsung masuk kembali kedalam fitting room.


"Bagaimana dengan yang ini?" tanya Zaniya lagi yang menggunakan gaun kedua.


"Tidak" jawab Azalya, Zayn, Mama Sinta dan Tama bersama-sama.


"Kompak banget" gerutu Zaniya yang masuk kembali kedalam fitting room nya lagi.


Setelah mengganti belasan gaun tetap saja Tama tidak ada yang dia setujui, bahkan Zaniya sudah sangat lelah dan tidak bisa mengganti gaun kembali dan dia sudah menyerah.


"Aku nyerah, aku sudah tidak mau mengganti gaun lagi dan mencobanya. Aku sangat lelah dan cape, kalian fikir mengganti banyak gaun tidak cape apa" gerutu Zaniya sambil menatap semua orang dengan kesal dan juga ingin menangis.


"Maaf sayang. kami bukan bermaksud untuk tidak menyukai gaun yang ada disini, tapi semua gaun nya terlihat sangat terbuka. Bisa ada yang lain dan lebih tertutup dibandingkan dengan yang tadi digunakan oleh kamu sayang. Maaf jika Mama mengatakan itu pada kamu sayang" ucap Mama Sinta yang mengatakan nya dengan pelan dan penuh kepembutan.


"Aku mengerti Ma, jika seperti ini kenapa harus menggunakan gaun sebanyak itu juga..." keluah Zaniya yang masih kesal dan juga marah.


"Maaf" ucap Tama yang mengatakan maaf saat semua orang sudah tidak ada disana.


"Nggak ada kata maaf untuk abang. Tega banget sih sama aku? Abang kira semua gaun-gaun itu tidak berat apa?! Bikin kesel aja" ucap Zaniya yang langsung keluar dari butik terkenal tersebut dengan cemberut.


"Sayang, maafkan aku. Sungguh, aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku tidak tahu semua itu dan aku juga tidak tahu jika didalam butik itu hanya menyediakan gaun pengantin yang terbuka saja. Aku minta maaf" ucap Tama yang berhasil mengejar dan menghentikan Zaniya.


"Aku tidak perduli. Jika aku tidak boleh memilih sendiri yang aku suka dan aku inginkan, terserah kalian mau pilihkan yang seperti apa" ucap Zaniya yang mulai ingin meledak-ledak.


"Apa, apa yang ingin abang buktikan? Apa abang sudah mau mengatur-ngatur hidup aku walau belum resmi? Apa ini yang abang inginkan? Jika seperti itu, aku tidak ingin melakukan itu. Karena menurutku semuanya tidak harus menuruti apa kemauan dari seseorang, walau orang itu adalah calon suami dan bahkan suami itu sendiri" ucap Zaniya lagi yang sudah ditutupi oleh kemarahan.


Tama mencoba untuk tenang dan tidak terpancing emosinya. Karena dia sadar jika Zaniya masih muda dan tidak akan mudah untuknya beradaptasi dengan keadaan juga semuanya yang berbau dengan rumah tangga.


"Oke, sekarang aku tanya pada kamu apa arti pernikahan versi kamu?" tanya Tama pada Zaniya dengan menangkup kedua pipinya.


Zaniya yang ditanya seperti itu hanya bisa diam dan menatap pada Tama, dia baru menyadari jika semua yang dia ucapkan adalah kesalahan dan juga tidak seharusnya mengatakan hal yang tidak diinginkan. Zaniya menunduk dan tidak berani menatap mata Tama yang menatapnya dengan sangat lekat.


"Kenapa tidak menjawab? Apa menurut kamu yang benar?" tanya Tama yang menatap wajah Zaniya dan memegang dagunya.


"Aku tidak tahu, aku hanya tahu jika pernikahan itu saling mencintai dan menyayangi. Lalu selalu bersama-sama dalam suka dan duka, dan saling percaya satu sama lain" jawabnya yang menunduk saat mengatakan nya pada Tama.


"Apa itu menurut hati dan fikiran kamu? Jika iya, maka itu tidak sepenuhnya salah dan juga tidak dibenarkan. Karena pernihakan tidak seperti itu, pernihakan menyatukan dua hari, dua karakter, dua fikiran, dua menjadi satu. Jika perbedaan dan perdebatan terjadi, itu adalah hal yang wajar dan lumrah pada pasangan rumah tangga. Karena semuanya tidak ada yang sempurna dan menjadi terbaik. Kita berdua hanya bisa berusaha untuk bisa melakukan semua itu" ucap Tama yang mengatakan semuanya dengan pelan supaya Zaniya mengerti dan tidak akan meledak-ledak lagi.


"Apa lagi jika tujuan kita menikah adalah untuk menyempurnakan ibadah kita, maka lakukan itu harus dengan keikhlasan dan mencari ridho Allah. Apa kamu mengerti?" tanya Tama yang membuat Zaniya hanya bisa diam dan mencerna semua ucapan yang diberikan oleh Tama.


"Jika sudah mengerti maka kita akan kemana?" tanya Tama lagi dan itu malah mendapatkan pelukan dari Zaniya dan isak tangisnya.


Tama hanya bisa diam dan diam saat Zaniya bersikap kekanakan seperti ini. Dia sama sekali tidak marah apa lagi menyalahkan Zaniya dalam hal itu. Dia hanya bisa mengimbangi dan membimbingnya supaya tidak seperti itu lagi. Dengan begitu Zaniya bisa berfikir dewasa dalam menghadapi setiap masalah yang ada kedepan nya nanti.


"Sudah, jangan menangis, untuk apa kamu menangis dan apa yang kamu tangisi?" tanya Tama yang mengurai pelukan nya dan menangkup kedua pipi Zaniya lalu mengusap air mata yang ada dipipi Zaniya.


"Maaf, aku bersikap seperti itu dan meneriaki abang. Aku seperti anak kecil, tolong maafkan aku" ucap Zaniya yang masih memeluk Tama dan dia mengakui semua kesalahan nya.


"Ssstttt, tidak, jangan seperti ini. Lihat, semua orang memandang kearah sini. Mereka pasti berfikir jika aku membuat kamu menangis dan berbuat tidak baik pada kamu" ucap Tama yang pura-pura menatap sekeliling dan ternyata tidak ada orang.


"Iiihhh, abang nyebelin" ucap Zaniya yang mengurai pelukan nya dan malah mengerucutkan bibirnya.


"Makanya jangan nangis, jelek tahu kalo nangis. Lebih baik tersenyum, kan terlihat cantik" ucap Tama yang menggoda Zaniya untuk tersenyum kembali.


"Apa mau fitting gaun pengantin lagi atau kemana?" tanya Tama yang langsung membuat Zaniya melotot.


"Abang ngejek aku?" ucap Zaniya yang masih mengerucutkan bibirnya menatap Tama.


"Maaf, abang hanya bertanya saja, itu jika kamu menginginkan yang terbaik menurut kamu" ucap Tama yang tersenyum padanya.


"Aku lelah bang, besok saja ya. Dan aku tidak ingin mencobanya, hanya memilih saja" jawab Zaniya yang menghela nafasnya saat mengatakan itu.


"Terserah pada kamu sayang. Yang penting kamu happy dan nyaman" ucap Tama yang mengusap pipi Zaniya lalu mereka berjalan menuju Mal terdekat dari butik tersebut.


"Kita akan kemana lagi bang? Apa akan mencari gaun lagi?" tanya Zaniya yang sudah tidak bersemangat lagi saat mengatakan gaun pengantin.


"Tidak, Mama mengajak kita kemari untuk memilih cincin pernikahan untuk kita. Tapi maaf ya, abang tidak bisa membelikan yang mahal dan tentunya bukan berlian juga. Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Tama yang langsung membuat Zaniya berhenti jalan dan dia menatap Tama dengan horor.


"Abang jangan pernah merasa rendah ya bang, karena kita semua boleh merendah dihadapan Allah saja. Bukan kesesama manusia, jadi jangan pernah berfikiran dan mengatakan itu lagi" ucap Zaniya yang memegang pipi Tama lalu tersenyum padanya sangat manis.


"Terimakasih, karena sudah mengerti keadaan ku" ucap Tama yang mengusap kepala Zaniya dan mengacak rambutnya.


"Sama-sama" jawab Zaniya yang langsung menggandeng tangan Tama hingga mereka berdua menjadi pusat perhatian semua orang yang ada didalam Mal tersebut.


Mereka berdua masuk kedalam toko perhiasan yang biasa saja dan juga harganya standard. Zaniya ternyata bingung harus memilih yang mana, karena menurut Zaniya semuanya bagus-bagus dan juga sangat elegant. Walau harganya cuman ratusan ribu saja, itu sudah menyaingi harga yang ratusan juta.


"Kenapa diam dan malah menghela nafasnya? Apa tidak ada yang kamu sukai dari semua cincin ini?" tanya Tama yang melihat Zaniya hanya diam saja dan tidak mau memilih cincin yang ada disana.


"Bukan begitu iiihhh, aku sedang bingung pilih yang mana. Semuanya bagus-bagus dan imut-imut, aku tidak bisa menentukan pilihan nya. Bisa abang pilihkan?" jawab Zaniya lalu dia bertanya dan menatap Tama dengan puppy eyes miliknya.


"Baiklah, tapi, jika kamu tidak menyukainya bagaimana?" tanya Tama saat melihat wajah Zaniya yang tidak memperlihatkan ekspresi apapun.


"Aku kira, pilihan abang tidak buruk juga" jawab Zaniya yang melihat cincin yang dipilihkan oleh Tama untuknya.


"Ini lumayan, dan aku. Menyukainya" ucap Zaniya yang membuat Tama deg-degan saat Zaniya menatap pilihan nya dengan datar.


"Abang kenapa wajahnya tegang gitu?" tanya Zaniya yang membuat Tama menghela nafasnya dan dia langsung membayarnya.


"Bang, kenapa abang diam terus sih dari tadi? Emang sih, abang itu pendiam. Tapi tidak seperti ini juga, aku jadi bingung bang. Apa abang sudah banyak mengeluarkan uang ya untuk membeli cincin pernikahan kita ini bang?" tanya Zaniya yang merasa tidak enak akan sikap Tama yang seperti ini. Dia takut jika Tama benar-benar menguras seluruh uang yang ada dalam tabungan nya, hanya untuk membeli sepasang cincin pernikahan ini.


"Tidak, tentu saja tidak. Justru abang mersa tidak pantas dan tidak layak bersanding dengan kamu, kamu bahkan dengan mudahnya membeli semua perhiasan yang ada ditoko itu. Atau mungkin membeli tokonya sekalipun, kamu pasti bisa. Tapi hanya karena kamu akan menikah dengan abang, kamu jadi hidup serba pas-pasan dan tidak bisa membeli apa yang kamu inginkan" ucap Tama yang merasa rendah diri saat membelikan cincin pernikahan tersebut untuk Zaniya.


"Abang ini bicara apa sih. Ya tentu saja tidak, masa aku seperti itu sih. Justru ya bang, disana bagus-bagus banget, sampai-sampai aku tidak bisa menentukan pilihan. Abang tahu, jika berlian atau sapphire sekalipun. Modelnya tidak akan berbeda jauh dengan yang sebelum-sebelumnya, atau bisa dibilang modelnya kuno. Bahkan cincin yang sering Daddy dan Mommy belikan tidak pernah aku pakai, karena modelnya jadul dan aku tidak menyukainya. Tapi jika Zahiya, dia senang mengoleksi barang-barang itu semua dan dia memang sangat menyukai barang branded" jawab Zaniya panjang lebar dan menjelaskan semuanya pada Tama. Jika dia tidaklah terlalu suka dengan perhiasan mahal.


"Terimakasih sayang. Maafkan aku yang belum bisa membelikan atau memberikan yang terbaik untuk kamu. Tapi abang janji akan selalu membuat kamu bahagia bersama abang, abang janji itu" ucap Tama penuh dengan kesungguhan dan juga tatapan nya itu dipenuhi oleh cinta dan sayang untuk Zaniya.


"Sama-sama, jadi bahagia versi aku adalah... Bisa bersama dengan abang dan menjalin ikatan ini menjadi lebih kuat lagi" ucap Zaniya yang memeluk Tama saat sedang menyetir mobil.


Keduanya saling tersenyum dan Tama membawa Zaniya kembali ke mainson. Karena dia tidak ingin membawa Zaniya lebih jauh dan berdekatan terus dengan nya. Yang ada adik kecilnya sulit ditenangkan dan meronta ingin keluar terus. Walau bagaimana pun juga, Tama adalah pria dewasa yang sudah sangat ingin juga merasakan yang namanya surga dunia. Jadi walau dia menahan-nahan nya sekalipun, tetap saja tidak bisa. Dia akan selalu mandi air dingin setelah bertemu dan berdekatan dengan Zaniya.


"Abang kenapa? Kenapa abang tegang gini? Apa abang sakit?" tanya Zaniya yang tidak tahu, jika tindakan nya itu membuat adik kecil Tama semakin meronta-ronta didalam sarangnya.


"Ti... Tidak apa-apa, hanya sedikit mulas saja. Kamu abang langsung antarkan pulang saja ya, abang tidak bisa mampir lagi ya, karena sudah tidak bisa berlama-lama lagi" ucap Tama yang memberi alasan tidak masuk akal untuk Zaniya.


"Jika abang mulas, berhenti saja dulu dan abang bisa menuntaskan semuanya disini saja" ucap Zaniya yang sudah didepan mainson.


"Tidak perlu. Abang langsung pulang saja ya, Assalamualaikum, bye" ucap Tama yang langsung masuk kembali kedalam mobil dan segera mengemudikan nya.


"Bisa bahaya jika berlama-lama didalam dengan Zaniya terus. Apa lagi si entong sudah menggeliat ingin segera dipuaskan, tong, Sabar ya. Sebentar lagi kamu akan masuk kedalam rumah kamu dan kamu bisa muntah sampai lemas" gumamnya yang mengusap-ngusap adik kecilnya yang mengangguk didalam kandangnya.


"Kadang-kadang, aku ini seperti orang tidak waras saja berbicara sendiri. Apa lagi yang diajak bicara milik ku sendiri yang sama sekali tidak bisa diajak bicara" ucapnya yang menghela nafasnya berkali-kali hingga dia merasa tenang dan adik kecilnya, tentu saja tidak mau tidur ksmbali sebelum dia merasa dipuaskan.


Tama mengemudikan mobilnya menuju rumahnya yang memang tidak jauh dari mainson milik Zayn. Tama sengaja membeli rumah tersebut dan dia melakukan itu supaya Zaniya bisa sering berkunjung ke mainson keluarganya.


Ya walau dengan harga yang sangat mahal, hanya untuk rumah kecil minimalist. Juga sudah menguras semua tabungan nya dulu, tapi tidak masalah. Asalkan Zaniya merasa nyaman tinggal dengan nya dan keluarganya nanti.


"Assalamualaikum, Ma" ucap Tama saat sudah berada didepan pintu rumahnya.


"Wa'allaikumsalam, tumben sudah pulang? Nggak jalan-jalan dulu? Biasanya akan pulang telat jika sudah berduaan, sampe lupa waktu. Biasanya" tanya Mama Sinta saat Tama masuk kedalam kamarnya langsung.


"Aku sedang mulas Ma, makanya aku buru-buru pulang. Karena jika tidak pulang, yang ada berduaan nya tidak tenang" jawab Tama yang langsung masuk kedalam kamar mandi untuk menyiram tubuhnya dengan air dingin.


"Oh, apa kamu salah makan nak? Biar Mama siapkan obat yang untuk kamu minum setelah mandi" teriak Mama Sinta dari luar kamar mandi supaya Tama bisa mendengarnya.


"Tidak perlu Ma, aku sudah meminum obat dan sebentar lagi juga akan sembuh. Mama jangan khawatir ya" ucap Tama sambil berteriak juga mengatakan nya.


Karena dia sedang mengguyur seluruh tubuhnya menggunakan air dingin hingga suhu tubuhnya membaik dan adik kecilnya tidur kembali. Walau harus berlama-lama didalam kamar mandi, tapi itu lebih baik. Dari pada harus membuat kepala atas dan bawahnya cenat cenut.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya untuk like, komen, vote dan hadiahnya ya... Othor tunggu...


Jangan lupa juga rating bintang 5 nya, dan yang belum subscribe langsung subscribe saja. Supaya bisa tahu saat Othor sudah up. Dan pollow juga akun Othor ya....


Terimakasih and happy reading... 🤗🤗🤗