
Zaniya dengan mudahnya membuat mereka semua mengalami patah tulang. Paling ringan adalah patah tulang tangan, dengan begitu dia bisa tenang dan menghampiri Quinzy yang sedang menatapnya.
"Makasih yah. Berkat bantuan kamu aku baik-baik saja, sekali lagi terimakasih banyak" ucap Quinzy yang belum tahu jika dia adalah Zaniya. Adik sepupunya sendiri.
"It's okay kak. Kebetulan aku lewat jalan sini" jawab Zaniya yang membuka helm miliknya dan Quinzy menatap tidak percaya pada penglihatan nya.
"Zaniya? Kakak sampe pangling melihat kamu yang seperti laki-laki" ucap Quinzy yang langsung memeluk Zaniya yang hanya nyengir kuda mendengar ucapan dari Quinzy.
"Biasa saja lalu kak, auntie Zi juga jago bela diri" ucap Zaniya yang membuat Quinzy hanya bisa tersenyum menatap sepupunya ini.
"Kakak, sudah lapor polisi belum kak? Supaya bisa mengamankan mereka semua" tanya Zaniya sambil menunjuk lima pria yang sudah terkapar dan berteriak-teriak kesakitan.
"Sudah, mungkin sebenar lagi akan datang. Kamu sedang apa disini dan kenapa tidak langsung pulang?" jawab Quinzy yang bertanya pada Zaniya.
"Aku sengaja lewat sini kak. Karena memang setiap hari aku melewati jalanan ini untuk pulang ke mainson. Selain lebih dekat dan juga tidak macet" jawab Zaniya dengan senyuman dibibirnya.
"Kakak sendiri?" Zaniya bertanya pada Quinzy yang malah menghembuskan nafasnya sedikit kasar.
"Tadi kakak mendapatkan telpon dari kantor dan kakak akan menemui klien, malah kakak nyasar sampe sini dan saat bertanya malah pada orang yang salah" jawab Quinzy yang menghembuskan nafasnya kasar.
"Makanya jangan sok berani jalan sendiri. Biasanya juga menggunakan supir, ini jalan sendirian ditempat sepi dan malah bertanya pada para pecundang-pecundang itu" ucap Zaniya yang malah membuat Quinzy mengerucutkan bibirnya kesal pada Zaniya.
"Supir kakak sedang sakit. Jadi kakak terpaksa meyetir sendiri" jawab Quinzy dengan kesal pada Zaniya.
"Ya sudah, kakak pulang saja. Aku yakin kakak sudah telat" ucap Zaniya yang melihat kekesalan diwajah Quinzy. Kakak sepupunya.
"Ya sudah, kakak pulang sekarang. Kamu juga harus langsung pulang, jangan mampir-mampir kemana-mana lagi" ucap Quinzy yang langsung masuk kedalam mobilnya dan menekan tlakson dua kali tanda dia berpamitan pada Zaniya.
Tanpa mereka sadari jika semua yang Zaniya lakukan dilihat oleh seseorang yang dia sendiri tidak tahu kenapa malah mengikuti Zaniya hingga sampai disini dan melihatnya bertarung dengan sangat gesit.
"Siapa dia sebenarnya? Kenapa dia seperti memiliki kejutan-kejutan lain yang baru aku ketahui tentangnya?" gumam seorang pria yang tidak lain dan tidak bukan adalah Tama. Dimana setelah dia mengacak-ngacak rambutnya frustasi dia tiba-tiba ingin mengikuti Zaniya yang dia anggap Zahiya.
Zaniya langsung menaiki motornya tanpa menunggu polisi lagi. Karena dia tidak ingin ribet dan berurusan dengan pihak berwajib. Jadi dia langsung tancap gas untuk segera pulang dan memberikan semua tugas yang diberikan oleh Tama pada Zahiya.
"Huh, akhirnya sampai juga" gumam Zaniya yang sudah sampai didalam garasi mainson nya dan dia langsung masuk kedalam lewat pintu garasi didalam.
"Tumben sepi banget nih mainson? Apa mungkin Mommy dan Daddy sedang keluar?" gumam Zaniya yang mengedarkan pandangan nya keseluruh ruangan yang terlihat sepi dan seperti tidak berpenghuni.
"Anda membutuhkan sesuatu Nona Muda?" tanya Pak Mun yang sudah berdiri dibelakangnya sekarang.
"Ish, kenapa Opa malah mengagetkan ku sih. Jika aku jantungan Opa mau tnggung akibatnya apa?" ucap Zaniya yang menggerutu dan menatap wajah Pak Mun yang sedikit tersenyum melihat tingkah anak Tuan nya yang satu ini.
"Maafkan saya Nona Muda. Saya hanya bertanya saja" ucap Pak Mun yang sedikit menunduk pada Zaniya.
"Kemana semua orang Opa?" tanya Zaniya yang mengalihkan pembicaraan pada Pak Mun.
"Tuan dan Nyonya sedang berada didalam ruang kerja Nona. Jika Nona Zahiya sedang berada didalam kamar" jawab Pak Mun dengan sopan pada Nona Muda nya.
"Baiklah. Makasih Opa, aku keatas dulu" ucap Zaniya yang memang selalu sopan pada siapa saja yang dia temui. Baik itu pelayan maupun para bodyguard yang ada dimainson nya.
Zaniya tidak langsung membersihkan dirinya. Dia malah langsung masuk kedalam kamar Zahiya yang mana tidak dikunci. Sehingga dia dengan mudahnya masuk kedalam dan melihat Zahiya sedang sibuk dengan layar laptopnya.
"Za, nih ada tugas buat loe" ucap Zaniya yang memberikan setumpuk kertas yang diberikan oleh Tama padanya tadi.
"Biasakan jika masuk mengucapkan salam dulu Zan" ucap Zahiya yang menegur adik kembarnya yang selalu masuk tanpa mengetuk pintu apa lagi mengucapkan salam.
"Sorry, gue buru-buru. Oh iya, loe tadi nggak pake kacamata ya? Sampe-sampe dosen loe ngira jika gue itu loe. Terus memberikan ini semua buat loe kerjain dan loe setorin besok padanya" ucap Zaniya yang langsung duduk disamping Zahiya yang sedang ngoding.
"Terus dia bilang apa sama kamu? Apa dia tidak bingung dengan perbedaan yang sangat mencolok dari kamu ini?" tanya Zahiya yang tidak mengalihkan pandangan nya sedikitpun dari layar laptopnya.
"Awalnya dia bingung. Tapi kemudian dia menetralkan kebingungan nya dengan bicara biasa saja dan memberikan tumpukan kertas itu" jawab Zaniya dengan menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa disamping Zahiya.
"Oh" hanya itu yang dikatakan oleh Zahiya yang masih sangat fokus pada layar laptopnya.
"Hanya itu saja yang loe katakan? Dasar kanebo kering!" ucao Zaniya yang langsung menegakan kembali badan nya dan dia menatap lekat kembaran nya yang kembali menggunakan kacamata tebalnya.
Zahiya yang ditanya dan ditatap seperti itu oleh Zaniya hanya diam dan tidak menanggapi ucapan nya. Dia masih fokus dengan semua kodingan-kodingan yang dia buat.
Membuat Zaniya jengah dan dia meninggalkan Zahiya yang tidak menghiraukan nya. Tapi sebelum dia pergi dari kamar Zahiya, dia mengatakan sesuatu padanya.
"Loe harus hati-hati Za. Karena dari sudut pandang gue, dia suka sama loe. Jadi siap-siap saja bakalan diberikan perhatian-perhatian yang mungkin membuat loe jengah nantinya. Gue hanya mau ngasih saran saja sih, supaya loe bisa ngimbangin dosen tampan loe itu. Hahaha" ucap Zaniya yang langsung berlari menuju kamarnya.
Dia takut jika Zahiya akan murka mendengar ucapan nya barusan. Jika Zahiya sudah marah, bisa-bisa dia tidak akan bisa menggunakan internet dan juga kebutuhan nya yang lain. Karena akan dengan sangat mudah Zahiya melumpuhkan sestem miliknya.
Sedangkan Zahiya hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah adik kembarnya itu. Dia menatap tumpukan kertas itu setelah kodingan nya selesai. Lalu dia membacanya satu persatu dengan teliti. Hingga Azalya memasuki kamarnya untuk memanggilnya makan malam bersama.
"Sudah dulu mengerjakan tugasnya. Kita makan malam dulu, Daddy dan Zaniya sudah menunggu dibawah" ucap Azalya yang sudah duduk disamping Zahiya yang masih fokus pada kertas-kertas itu.
"Iya Mom" jawab Zahiya yang langsung meletakan pena miliknya lalu menatap wajah wanita cantik yang masih terlihat sangat cantik itu.
"Ayo turun" ajak Azalya pada putrinya lalu dijawab anggukan oleh Zahiya dan keduanya berjalan beriringan menuju lantai bawah untuk makan malam.
"Mom, apa Mommy sedang sakit? Kenapa Mommy terlihat pucat?" tanya Zahiya yang menatap wajah Azalya sekilas lalu melangkah kembali.
"Mommy hanya merasa tidak enak badan saja. Nanti setelah istilahat juga akan lebih enakan lagi" jawab Azalya yang sedikit gelagapan mendengar pertanyaan dari Zahiya.
'Ini semua gara-gara Daddy kamu yang selalu lupa waktu jika sedang berolahraga mengerjai Mommy' gerutu Azalya hanya bisa dalam hati. Karena dia tidak mungkin mengatakan nya pada Zahiya yang belum mengerti akan kegiatan yang menjurus kearah yang iya iya.
Keduanya sudah sampai didalam ruang makan. Dimana disana memang sudah menunggu Zayn dan Zaniya yang sudah duduk manis disana. Zahiya langsung duduk disamping Zaniya yang sedang menatapnya dengan sangat lekat.
Semuanya makan malam dengan sangat lahap dan tidak terdengar suara sedikitpun juga, kecuali suara sendok dan garpu yang bersentuhan dengan piring yang mereka gunakan. Setelah selesai makan baru mereka melanjutkan untuk berbincang-bincang sebentar dan akhirnya mereka masuk kedalam kamarnya masing-masing untuk berisatirahat.
"Apa loe sibuk Za?" tanya Zaniya yang sudah masuk kedalam kamar Zahiya setelah mengetuk pintu kamarnya.
"Seperti yang kamu lihat. Kenapa?" jawab Zahiya dan dia bertanya kembali pada Zaniya.
"Nggak, gue nggak bisa tidur saja. Semua tugas kuliah sudah selesai dan gue masih belum mengantuk" jawab Zaniya yang menatap semua soal-soal yang sedang dikerjakan oleh Zahiya.
"Jika kamu nggak keberatan. Kamu bisa mencoba aplikasi yang aku buat tadi. Kamu bisa mengoreksinya jika ada yang kurang tepat" ucap Zahiya yang memang selalu seperti itu jika dia sudah menciptakan sesuatu.
"Boleh, mana?" tanya Zaniya yang menatap wajah Zahiya penuh semangat jika disuruh untuk mencobabya terlebih dahulu dan memberikan masukan untuk aplikasi yang diciptakan oleh Zahiya.
"Ini" ucap Zahiya yang mberikan laptop miliknya pada Zaniya.
Dengan semangat Zaniya langsung memeriksanya dan dia sama sekali tidak menemukan kekurangan apa-apa didalam aplikasi yang diciptakan oleh kakak kembarnya itu.
"Semuanya sempurna. Tidak ada yang perlu diperbaiki atau dikoreksi" ucap Zaniya yang menyerahkan laptop pada Zahiya kembali.
"Loe bikin aplikasi ini buat apa? Bukan nya semua aplikasi dan juga anti virus semuanya masih aman dan tidak ada yang bisa membobolnya? Kenapa membuat ini lagi?" tanya Zaniya yang menatap Zahiya yang sedang bersandar disofa sambil memejamkan matanya.
"Aku hanya ingin memperkuat sistem penyimpanan yang aku ciptakan. Jika semakin sempurna, maka tidak akan ada yang bisa memanipulasi data. Baik sengaja maupun tidak sengaja, jika ada kesalahan. Maka sistem komputer mereka tidak bisa mengunduh apa yang dia inginkan. Apa lagi jika dengan sengaja ingin melakukan korupsi pada perusahaan" jawab Zahiya yang menjelaskan panjang lebar pada Zaniya yang hanya manggut-manggut mendengarkan penjelasan dari Zahiya.
"Oke, gue faham sejauh ini. Apa loe akan menjual aplikasi ini juga pada perusahaan-perusahaan lain?" tanya Zaniya yang sudah bisa menebak.
Jika semua project yang dikerjakan oleh Zahiya tidak akan sia-sia karena setelah semuanya dicoba san sempurna Dia akan langsung menjualnya pada perusahaan-perusahaan lain. Baik perusahaan besar maupun kecil yang berniat membelinya, menggunakan pertukaran. Pertukaran yang saling menguntungkan satu sama lain. Jika perusahaan mendapatkan keamanan, maka Zahiya mendapatkan saham dari mereka yang tidak sedikit. Dengan begitu dia sudah kaya sejak dia sudah menciptakan sistem keamanan untuk para perusahaan yang membeli jasanya.
"Seperti yang sudah-sudah" jawab Zahiya yang menegakan kembali badan nya dan mengerjakan soal-soal ujian nya.
"Dan yang pertama adalah perusahaan Daddy yang di America?" tanya Zaniya yang dijawab anggukan kepala oleh Zahiya padanya.
"PENZ.DRC" ucap keduanya dengan sangat kompak dan saling tersenyum bersama.
"Berarti loe sudah memiliki saham disana tanpa Daddy ketahui?" tanya Zaniya yang menatap wajah Zahiya yang sedang fokus pada kertas-kertas ujian nya.
"Tentu saja Daddy sudah tahu akan apa yang aku lakukan. Apa aku bisa mengelabuinya?" jawab Zahiya yang membuat Zaniya menggelengkan kepalanya mendengar jawaban yang dikatakan oleh kakak kembarnya itu.
"Daddy sudah tahu semua saat dia tahu jika sistem baru itu sama seperti yang Daddy ciptakan dan hanya lebih disempurnakan lagi. Tapi hanya Daddy saja yang tahu masalah ini" ucao Zahiya yang menjelaskan semuanya pada Zaniya.
"Jadi uncle Jeff tidak tahu. Jika yang menciptakan semuanya itu dan bernegosiasi akan saham adalah loe, anak King nya sendiri?" tanya Zaniya yang dijawab anggukan kepala oleh Zahiya yang kembali fokus pada lembar-lembar jawaban yang sudah dia selesaikan.
Zahiya membereskan semuanya dan dia memasukan nya kedalam tas yang selalu dia bawa-bawa saat kuliah. Dia langsung merebahkan dirinya diatas ranjang dan diikuti oleh Zaniya yang merebahkan dirinya disamping Zahiya.
"Gue nginep disini ya? Gue kangen saat-saat seperti ini dulu" ucap Zaniya yang menginginkan tidur disatu ranjang yang sama dengan Zahiya seperti saat dia kecil dulu.
"Hmm" jawab Zahiya dengan deheman saja lalu dia memejamkan matanya dan keduanya terlelap hingga pagi menjelang.
Saat Azalya memasuki kamarnya saja mereka tidak terusik sedikitpun juga. Zayn yang menyusul Azalya memasuki kamar Zahiya.
"Mereka berdua sangat menggemaskan sekali kan By? Sama seperti saat mereka berdua masih mecil dulu" ucao Azalya yang melihat kedua putrinya sedang tidur sambil berpelukan seperti saat kecil.
"Iya, tumben mereka tidur bersama? Biasanya akan ada yang protes jika ada yang memasuki kamar mereka dan ikut tidur bersama" tanya Zayn yang menatap keduanya sedang terlelap.
"Mungkin mereka berdua sedang teringat masa kecil mereka berdua yang sangat menyenangkan mungkin" jawab Azalya yang merangkul pinggang Zayn yang berdiri disampingnya.
"Mungkin saja. Kita juga harus istirahat sweetie, karena aku ingin meminta hak ku lagi padamu" ucap Zayn yang membuat Azalya melotot sempurna mendengar ucapan prontal dari Zayn.
"Aoch" ucap Zayn saat mendapatkan cubitan pedas diperutnya oleh Azalya yang gemas akan ucapan yang diberikan oleh Zayn.
"Makanya kalo ngomong itu jangan asal. Apa belum puas juga dengan apa yang tadi Hubby lakukan padaku? Sampe-sampe Zahiya menanyakan kenapa aku pucat" ucap Azalya yang langsung pergi dari kamar Zahiya meninggalkan Zayn yang masih berdiri sambil tersenyum samar melihat Azalya yang sedang misuh-misuh.
"Dia mamang masih saja menggemaskan seperti dulu" gumam Zayn yang menatap punggung Azalya yang sudah menjauh dari kamar putrinya.
"Good night my Queen" ucap Zayn sambil mengecup kening kedua putrinya yang sedang terlelap itu dengan tersenyum.
"Good night" jawab keduanya mengigau seperti waktu mereka kecil saat Mommy dan Daddy nya melakukan itu setiap malam hingga sekarang.
Zayn membetulkan letak selimut untuk Zahiya dan Zaniya yang semakin terlelap setelah mendapatkan ucapan selamat malam dan juga kecupan dari Daddy nya. Zayn langsung pergi setelah mengucapkan itu lalu menutup pintu kamar Zahiya.
Zayn masuk kedalam kamarnya. Dimana Azalya sudah membungkus seluruh tubuhnya menggunakan selimut dan hanya menampakan kepalanya saja. Tentu saja Azalya ingin istirahat dulu dari serudukan banteng yang selalu saja meminta jatah setiap saat.
.
.
.
Othor tidak akan pernah bosan untuk mengingatkan supaya para reader kesayangan Othor meninggalkan jejaknya untuk like, komen, vote dan hadiahnya ya....
Supaya Othor bisa terus up setiap hari... Jika perlu banyak yang Othor up untuk kalian semua. Asalkan memberikan kembang sekebon dan kopinya seember 😁😁😁