
"Semua yang dia inginkan hanya salah satu dari keturunan Pratama ada yang meneruskan usahanya itu, baik yang terlihat maupun tidak terlihat Dad. Sedangkan untuk uncle Zico, dia menolak untuk melanjutkan yang tidak terlihat. Seperti menjalankan bisnis haramnya untuk membuat dan memproduksi barang-barang terlarang tersebut untuk bisa diedarkan. Dengan begitu, secara tidak langsung dia memisahkan pernihakan mereka berdua dengan cara halus. Seperti membuat jarak diantara mereka berdua disaat mereka sudah mulai membuka hati masing-masing untuk menjalin hubungan pernihakan" jelas Zahiya yang menjeda ucapan nya untuk mengambil nafas.
"Lalu apa yang kamu ketahui tentang kedua orang tua abang Za?" tanya Daffy dengan sorot mata yang berkilat penuh dengan amarah.
"Setahu aku, uncle Zi menyembunyikan sesuatu yang membuat Opa Louis terpaksa menyingkirkan nya dengan cara keji seperti itu. Aku sendiri tidak tahu apa yang uncle sembunyikan, dan membuat Opa Louis merasa terancam. Sebaiknya kita cari tahu dulu dimana uncle Zi menyimpan itu. Jika bukan bukti atau sesuatu yang sangat penting juga sangat membuat Opa Louis terancam tidak mungkin akan melakukan hal sekeji itu. Apa abang tahu sesuatu atau mungkin uncle mengatakan sesuatu sebelum dia meninggal?" jelas Zahiya dan dia menatap wajah Daffy untuk menanyakan hal itu pada Daffy dan supaya dia mengingat-ingat semua yang dikatakan oleh uncle Zico.
"Sepertinya Daddy hanya mengatakan kata maaf dan tidak berniat melakukan itu pada kami berdua. Juga... " jawab Daffy sambil terus mengingat-ingat semuanya yang dia dengar dari Zico sepelum pergi untuk selamanya.
"Apa yang abang ingat?" tanya Zahiya dengan tatapan yang ingin tahu.
"Abang belum mengingat apa-apa. Tapi abang akan berusaha untuk mengingat-ingat semuanya. Karena ini adalah halusinasi yang sangat penting juga memberikan keadilan untuk Mommy dan Daddy abang Za" jawab Daffy yang menghela nafasnya karena dia sendiri kecewa belum bisa mengingat saat kejadian tragis itu terjadi.
"Tidak apa-apa Daf, kita hanya bisa memecahkan semua ini. Jika semuanya sudah terungkap, baik kita maupun seluruh keluarga kita akan selamat dan tidak akan ada korban lain lagi selain Daddy kamu" ucap Zayn yang memberikan dukungan dan semangatnya untuk Daffy.
"Akan aku usahakan uncle, ini semua demi mereka dan keluarga kita" ucap Daffy yang terus mengingat-ingat semuanya.
"Kau pasti bisa jika berusaha. Jangan menyerah" ucap Zayn yang menepuk pundak Daffy.
"Thank you uncle" ucap Daffy sambil memaksakan senyuman nya.
"Lalu apa yang kamu ketahui lagi Queen?" tanya Zayn yang ingin mendengarkan kelanjutan informasi yang Zahiya dapatkan.
"Dia sudah merencanakan bang Daffy untuk melanjutkan usaha itu. Jika bang Daffy terus menolak dan tidak ingin, maka mereka akan menggunakan cara paksa. Seperti menghilangkan ingatan atau mengancamnya dengan menggunakan orang yang dia cintai dan dia sayangi. Seperti yang dilakukan pada uncle Zi dan auntie Joyce, itu yang aku ketahui Dad. Mungkin saja ada yang belum aku ketahui, karena itu semua mereka katakan didalam ruangan yang tidak bisa aku sadap semua pembicaraan mereka. Hanya itu informasi yang aku dapatkan dari perjalanan beberapa hari yang lalu menjadi Zaniya" jelas Zahiya yang mengatakan nya sambil menatap layar laptopnya dan memperlihatkan nya pada Zayn dan Daffy yang juga sedang melihatnya.
"Apa ini benar-benar mereka Za?" tanya Daffy yang melihat sebuah video yang Zahiya perlihatkan dan itu sedang berlangsung.
"Iya, apa abang mengenali mereka? Atau salah satu dari mereka?" tanya Zahiya yang penasaran akan apa yang akan dikatakan oleh Daffy.
"Mereka adalah teman kuliah dan beberapa orang yang abang kenal dikampus. Apa mungkin mereka juga melakukan itu pada abang? Lalu apa yang sedang mereka katakan Za?" tanya Daffy yang ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan.
"Kita setting untuk bisa mendengar apa yang mereka bicarakan" jawab Zahiya yang mengotak-ngatik keyboard dan terdengarlah apa yang mereka bicarakan.
"Apa kamu yakin jika rencana ini akan berhasil? Dia ini adalah pria yang sangat sulit untuk menerima dari orang yang menurutnya tidak meyakinkan" ucap pria muda yang seumuran Daffy.
"Kita coba saja melakukan ini dengan cara menyuntikan nya pada tubuh. Itu akan lebih ampuh dari sekedar meminumkan nya" ucap seorangnya lagi yang sangat Daffy kenal dan juga bisa dibilang sangat dekat dengan nya.
"Itu akan sangat beresiko Son, apa lagi Daffy sangat teliti dan tidak bisa dikelabui seperti Daddy nya yang bo*oh itu. Mau-maunya mengikuti semua yang dikatakan oleh bos hanya untuk melindunginya saja. Hahaha" ucap yang satu lagi dan itu juga adalah teman dekat Daffy sendiri.
"So, apa yang akan kita lakukan? Tidak mungkin kita tidak melakukan apa-apa, bisa-bisa bos akan marah dan kita tidak akan bisa mendapatkan apa yang kita inginkan. Itu lebih bahaya lagi untuk kita dan seluruh keluarga kita" ucap seorangnya lagi.
"Kita gunakan saja gadis yang selalu dekat dengan Daffy. Sepertinya dia gadis yang lugu dan tidak tahu apa-apa, itu akan membuat kita tidak perlu repot-repot untuk melakukan apapun. Sudah ada yang melakukan nya untuk kita" ucap seorangnya lagi dan itu diangguki oleh semua teman-temannya yang ada disana.
Mereka semua saling berdiskusi dan merencanakan sesuatu untuk Daffy supaya mau menjadi bos mereka dan menggantikan posisi bosnya yang sekarang.
Mereka berlima dan masih ada lagi seseorang yang sama sekali tidak Daffy kenal dan itu membuatnya mengerutkan keningnya. Bahkan mereka semua berencana untuk menggunakan Zaniya untuk melancarkan aksi mereka untuk menjerat Daffy supaya bisa masuk perangkap mereka.
"Apa yang abang lakukan setelah mengetahui semuanya?" tanya Zahiya yang menatap Daffy sedang menahan emosinya.
"Kita jangan gegabah dan salah mengambil langkah. Kita lihat saja apa yang akan mereka lakukan padaku Daffy. Jika mereka benar-benar melakukan rencananya menggunakan Zaniya, baru kita bertindak untuk mencegahnya melakukan itu" ucap Zayn yang mengatakan itu supaya Daffy dan Zahiya tidak salah dalam mengambil tindakan.
"Baik uncle, Daffy akan melakukan apa yang uncle katakan. Juga akan menjaga Zaniya" ucap Daffy dengan mantap pada Zayn.
"Itu akan lebih baik. Jika kau tidak bisa menjaganya maka kau sendiri yang akan mendapatkan hukuman dari uncle" ucap Zayn yang diangguki oleh Daffy.
"Apa semuanya sudah selesai Dad?" tanya Zahiya yang menyela pembicaraan Zayn dan Daffy.
"Sudah, apa kau mau pergi lagi Queen?" tanya Zayn yang sudah mengetahui jika Zahiya tidak suka jika tidak sendirian.
"Hmm" jawab Zahiya hanya dengan deheman saja lalu dia pergi meninggalkan ruangan kerja Daddy nya.
"Aku juga permisi uncle, aku sudah berjanji akan mengunjungi makam Mommy dan Daddy hari ini" ucap Daffy yang berpamitan juga pada Zayn yang dijawab anggukan kepala oleh Zayn.
"Mereka sudah dewasa dan sudah mengerti baik dan buruknya seseorang dan juga keadaan disekitar mereka. Semoga saja semuanya cepat berakhir dan bisa berbahagia semuanya tanpa adanya penghalang atau pengganggu diantara keluarga kita semua" gumam Zayn yang menatap punggung Daffy yang sudah hilang dibalik pintu.
"Za, apa kamu akan pergi?" tanya Daffy saat berpapasan dengan Zahiya yang sudah terlihat rapih dan sedikit berdandan.
"Iya bang, Mommy mengajak aku untuk ikut kerumah grandma. Apa abang akan pergi juga?" jawab Zahiya dan dia bertanya kembali pada Daffy.
"Hmm, abang akan kemakam Mommy dan Daddy. Abang sudah berjanji jika weekend akan selalu kesana" jawab Daffy yang sedikit lesu menjawab pertanyaan dari Zahiya.
"Baiklah, aku duluan bang" ucap Zahiya yang langsung turun menuju ruangan keluarga dimana Azalya sudah menungguinya sambil memainkan ponselnya.
"Sudah selesai sayang?" tanya Azalya saat melihat putrinya sudah terlihat sangat cantik.
"Seperti yang Mommy lihat" jawab Zahiya dengan wajah datarnya dan tanpa ekspresi.
Zahiya tersenyum tipis, bahkan sangat tipis membuat Azalya menghela nafasnya saja karena dia sudah lelah mengingatkan putrinya yang satu ini untuk tersenyum. Tapi biar begitu tetap membuatnya gemas dan juga sangat kagum padanya yang selalu tampil cantik walau dengan wajah datarnya.
"Sudah siapkan? Kita pergi sekarang" ucap Azalya yang menggandeng tangan Zahiya menuju mobilnya yang sudah terparkir dan ada seorang supir yang akan mengantarkan mereka. Siapa lagi jika bukan Angga yang bisa menjadi apa saja jika dibutuhkan.
.
Sedangkan ditempat lain Zaniya sedang berada didalam rumah keluarganya Tama dan mereka sudah terlihat sangat dekat. Tami yang awalnya sensi dan tidak bersahabat dengan Zaniya, sekarang sudah lebih baik dan bahkan sangat akrab. Mungkin karena jarak usia mereka tidak terlalu jauh.
"Berarti mulai sekarang aku memanggimu dengan sebutan kakak ipar dong?" tanya Tami yang menatap Zaniya yang sedang duduk dengan nya dan sang Mama.
"Kamu apaan sih, kita saja belum resmi masa sudah memanggil seperti itu?" ucap Zaniya yang malu-malu dan wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus.
"Semoga saja cepat resmi. Aku tidak sabar melihat kakak ku yang kaku dan datar itu menikah dan bahagia. Supaya dia bisa terlihat sedikit bisa tersenyum jika ada istrinya kelak" ucap Tami yang mengatakan nya dengan sangat semangat.
"Semoga saja. Kita do'akan saja sayang. Kakak kamu segera menikah, sebelum itu biarkan dia berusaha untuk bisa meyakinkan calon mertuanya jika dia bisa dan mampu untuk membahagiakan putrinya" ucap Mama Sinta yang mengatakan nya pada Tami dan didengar langsung oleh Zaniya tentunya.
"Semoga saja kakak bisa meyakinkan. Jika tidak gagal lah nanti acara lamaran kita untuk calon kakak iparku ini" ucap Tami yang malah terus menggoda Zaniya yang sudah sangat malu terus-terusan digoda oleh Tami.
"Amiin, semoga saja. Kita do'akan semua lancar dan berjalan sesuai kehendak Allah" ucap Mama Sinta dan tidak lama kemudian Tama keluar dari dalam kamar dengan penampilan yang sangat rapih juga terlihat semakin berwibawa sekali.
"Weissss, kakak ku sudah terlihat sangat keren dan juga sangat manis. Sungguh kak, kakak sangat pantas bersanding dengan kakak iparku ini yang masih sangat muda dan cantik jika kakak berpenampilan seperti ini. Tidak seperti biasanya yang sangat... Ah sudahlah tidak perlu dibahas, yang penting kakak sudah bermetamorfosis menjadi seperti ini. Perfect" ucap Tami yang mengacungkan kedua jempolnya pada Tama.
Sedangkan Tama hanya menggelengkan kepalanya saja mendengar apa yang dikatakan oleh adiknya itu. Dia juga melihat dirinya dicermin memang sangat berbeda dari biasanya yang terlihat sangat tua dan seperti sugar Daddy dan sugar baby jika sedang berjalan dengan Zaniya.
"Sudah siap?" tanya Tama saat melihat Zaniya yang juga berpenampilan sangat berbeda dari biasanya yang selalu menggunakan pakaian yang tidak seperti sehari-hari dia gunakan.
"Hmm, sejak tadi bang. Abang saja yang berdandan nya sangat lama, mau bertemu calon mertua saja sudah seperti mau bertemu dengan persiden" jawab Zaniya yang menggerutu karena dia menunggu Tama sudah hampir satu jam lamanya. Dan itu mengalahkan dirinya jika berdandan.
Apa lagi sejak tadi dia sudah sangat malu karena selalu digoda oleh Tami yang ada didekatnya terus. Apa lagi calon mertuanya juga sama, jadi membuatnya semakin malu.
"Iya maaf, aku tidak bisa menemukan pakaian yang pas. Dan ini memang sangat penting untuk aku Zan, ini adalah untuk masa depan kita" jawab Tama yang mengusap rambut Zaniya.
Dan itu semua membuat Tami hanya membolakan matanya melihat Tama, sang kakak memang sudah sangat berubah setelah bertemu dan dekat dengan Zaniya. Tami juga sangat bahagia jika kakaknya bahagia juga, karena dia adalah sosok kakak sekaligus seorang Ayah untuknya. Jadi sudah sepantasnya dan sewajarnya jika dia bahagia dengan wanita pilihan hatinya.
"Sudah-sudah, ini sudah sore. Nanti kalian kemalaman dijalan, bukankah Janjinya jam 8 tepat? Lebih baik sekarang berangkat" ucap Mama Sinta yang melihat putranya sudah rapih dan tinggal perginya saja.
"Iya Ma, kami pamit dulu ya Ma. Do'akan Tama supaya bisa mendapatkan restu dan bisa segera membawa kabar baik" ucap Tama yang mencium punggung tangan sang Mama dan dia berpamitan diikuti oleh Zaniya yang melakukan hal yang sama seperti yang Tama lakukan.
"Iya Mama akan selalu mendo'akan kalian berdua, hati-hati dijalan" ucap Mama Sinta dan diangguki oleh Tama juga Zaniya.
"Apa abang nervous?" tanya Zaniya yang melihat Tama tegang saat sudah didalam mobil.
"Sedikit" jawabnya dengan menarik dan menghembuskan nafasnya berulang-ulang sampai dia merasa lebih tenang.
"Abang jangan takut. Daddy tidak makan orang kok, hanya suka bicara tegas saja. Jadi abang jangan takut Danu nervous, oke" ucap Zaniya yang menyalurkan energy positive pada Tama dan menggenggam tangan nya sambil tersenyum sangat manis.
"Iya, abang akan relax dan tidak akan nervous" jawab Tama yang mengusap pipi Zaniya dan dia juga tersenyum kearah Zaniya yang mengangguk.
"Ya sudah, jalankan mobilnya. Kenapa masih diam saja?" tanya Zaniya yang membuat Tama salah tingkah dan semakin gugup dibuatnya.
"Ah iya" ucap Tama yang menyalakan mobilnya lalu melaju dengan kecepatan sedang menuju mainson Zayn yang lumayan jauh.
"Abang pasti bisa meyakinkan Daddy. Aku juga sudah bicara pada Daddy jika aku sangat bahagia jika bersama dengan abang. Dan Daddy setuju, Daddy hanya ingin bertemu dengan abang saja untuk memastikan" ucap Zaniya yang dijawab anggukan kepala oleh Tama.
'Kamu tidak tahu saja Zan, jika aku sudah pernah bertemu dengan Daddy kamu yang sangat tegas dan juga sangat mengerikan dimata aku Zan. Tapi aku akan berusaha untuk meyakinkan nya supaya mau menyerahkan putrinya untuk ku miliki selamanya' gumam Tama dalam hati dan tangan nya sudah berkeringat karena sangat gugup juga tegang akan bertemu dengan Zayn untuk yang kedua kalinya.
Setelah menempuh perjalanan lumayan panjang dan juga ada kemacetan disepanjang jalan yang mereka lewati. Akhirnya mereka sampai didepan gerbang mainson Zayn yang sangat megah itu tepat pukul 7.59 malam. Jadi mereka berdua bisa datang tepat waktu dan tidak membuat Zayn marah karena datang terlambat.
.
.
.
Visual Zahiya Zayn Malik....
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya untuk like, komen, vote dan hadiahnya ya....
Juga rat ⭐️5 ya....
Happy reading... 🤗🤗🤗