
"Bagaimana keadaan nya?" tanya Zayn yang melihat anggota nya yang berprofesi sebagai dokter sudah keluar.
"Kondisinya sangat lemah dan memprihatin kan king. Dia bukan hanya terluka fisiknya saja, mentalnya juga. Sepertinya dia juga sering mendapatkan suntikan-suntikan obat-obatan berbahaya lain nya. Juga... " dia tidak melanjutkan penjelasan nya.
"Lanjutkan" ucap Zayn dengan tegasnya.
"Salah satu organ nya sudah rusak king. Dan yang lain nya juga berdampak. Seperti ginjal sudah rusak semuanya, bahkan hatinya sudah terkena racun yang sangat mematikan. Jika saja dia tidak bisa lolos, mungkin dia sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Ini juga untuk bisa seperti sediakala itu sangat tidak mungkin. Jalan satu-satu nya adalah operasi, mengganti semuanya dengan organ yang baru" jelas dokter yang sudah sangat ahli dalam bidangnya.
"Otaknya. Otaknya tidak terjadi apa-apa?" tanya Zayn.
"Untuk yang satu ini tidak terjadi apa-apa king. Mungkin mereka memang hanya menginginkan otaknya saja dibandingkan dengan anggota tubuh lain nya" jawab Aaron, dokter tersebut.
"Lakukan yang terbaik untuk nya. Dia harus tetap hidup supaya bisa membalaskan dendam nya pada orang yang sudah membuat nya seperti ini" jelas Zayn lalu pergi begitu saja dari hadapan Aaron.
"King untuk apa anda membawa semua mayat orang-orang ini?" tanya Jeff yang menunjukan beberapa mayat yang sudah dibahisi oleh king nya tadi.
"Berikan pada Aaron, dia tahu untuk apa mereka semua" jawab Zayn yang sudah berlalu dengan diikuti oleh Chris dibelakngnya.
"Baik king" jawab Jeff, walau orang nya sudah tidak terlihat lagi.
Zayn sudah masuk kedalam mobil yang biasa dia gunakan setiap dimarkas, dan akan berganti setelah melewati jalanan tertentu untuk selalu mengelabui semua klan nya.
"Tuan, apa anda ingin sesuatu? Saya ingin berhenti sejenak untuk meneteral kan perut saya yang sudah sangat bergejolak ini sejak tadi" ucap Chris yang sudah memegangi perutnya yang sudah sangat sakit.
Zayn hanya diam saja. Dia tidak menimpali atau mengeluarkan suara nya. Zayn tahu ini adalah pengalaman pertama bagi Chris dalam dunia hitam ini. Dia ingin Chris lebih berhati-hati lagi untuk bisa menahan semua rasa takut dan juga rasa tidak nyaman jika sudah berhadapan dengan situasi seperti ini.
"Apa uncle Dion tidak pernah memberitahu mu jika ini adalah pekerjaan ku sebelum menjadi CEO diperusahaan EDC.CORP?" tanya Zayn saat melihat Chris sudah terlihat lebih baik.
"Tidak Tuan Muda. Dan saya juga tidak bertanya akan hal itu. Karena saya berfikir jika anda seperti CEO-CEO pada umumnya" jawab Chris dengan mengatur nafasnya.
"Lebih baik kau tanyakan langsung pada uncle Dion. Supaya kau bisa menahan dan juga bisa menjadi seperi yang ku inginkan" ucap Zayn yang sedang menatapi layar tab nya yang sejak tadi dia pegang.
"Baik Tuan Muda" jawab Chris dengan tegas dan jelas.
Mobil mereka memasuki mainson yang sangat mewah juga sangat besar. Lebih besar dari pada bangunan-bangunan yang lain nya. Ini adalah mainson pribadi miliknya sendiri, dia juga sudah memiliki perusahaan nya sendiri juga dengan nama yang tidak pernah terfikirkan oleh orang lain.
"Selamat datang Tuan Muda" ucap seorang kepala pelayan dan beberapa pelayan yang berjejer rapih untuk menyambut kedatangan Tuan Muda mereka.
Zayn melangkahkan kaki nya menuju lift yang berada dipojok ruangan, dia menekan lantai 3. Dimana lantai paling atas dan itu adalah area pribadinya yang tidak boleh sembarangan orang bisa masuk. Karena Zayn tidak suka ada sembarangan pelayan atau orang asing masuk kedalam nya.
Terlihat ruangan yang sangat mewah dan tidak ada sekat sama sekali, yang terlihat seperti ranjang berukuran sangat besar dan juga ada beberapa lemari dan juga sofa. Jangan lupakan berbagai layar pipih besar berjejer rapih disana.
Zayn langsung masuk kedalam bathroom untuk membersihkan dirinya. Dia memutusakan untuk berendam supaya aroma amis darah yang melekat pada tubuhnya menghilang.
Zayn menatapi kedua tangan nya yang sudah membu*uh puluhan bahkan ratusan nyawa orang. Walau itu adalah para klan nya yang sangat merugikan bagi semua orang.
Tiba-tiba dia dikejutkan denga suara dering ponsel yang sejak tadi berdering tidak dia angkat. Karena merasa sudah tidak mau mendengar ponselnya yang berisik, dia mengangkatnya. Dan ternyata yang menghubunginya adalah Zia, kakak perempuan nya yang paling berani dan juga sering memarahinya.
Baru saja mendekatkan ponselnya didepan telinganya tiba-tiba terdengar suara cempreng dari ujung sana. Hingga membuat Zayn menjauhkan benda itu dari telinganya.
"Zayn..... kau dari mana saja! Kenapa baru mengangkatnya?" tanya Zia saat Zayn sudah mengangkat nya.
"Baru pulang" jawab Zayn singkat padat dan jelas.
"Kau ini selalu sibuk setiap hari. Tidak bisakah meluangkan waktu mu untuk kakak? Kakak sangat merindukan mu Z" ucap Zia yang sudah mulai meneteskan air matanya.
"Nanti juga aku akan pulang kak" jawab Zayn dengan suara datarnya.
"Baiklah. Besok pagi kakak datang lah kebandara, nanti orang-orang ku yang akan menjemput kakak. Jangan lupa bawa juga Jack bersama mu kak" ucap Zayn.
"Oke, kakak akan bersiap" ucap Zia yang selalu memutusakan panggilan nya secara sepihak.
"Untung dia kakak ku, jika bukan entah apa yang akan terjadi padanya" gumam Zayn yang sedang memutar-mutarkan ponselnya yang sedang dia pegang.
.
Sedangkan titempat lain Azalya sedang menyelinap untuk bisa keluar rumah, dia sudah berjanji untuk bertemu dengan Kimberly. Dia ingin berjalan-jalan keluar pada malam hari tanpa didampingi oleh para bodyguard yang selalu membuntuti nya seperti seekor lalat.
Tapi setelah bisa keluar dan pergi lumayan jauh. Ternyata Kimberly tidak bisa menemuinya, dia bilang dia sedang bersama dengan kekasihnya yang barusaja datang dari Swiss.
"Oh ya ampun. Kenapa jadi pergi sendirian seperti ini. Tahu begini aku diam saja dirumah dan menonton drakor kesukaan ku" gerutu Azalya saat sudah disebuah taman yang sangat indah jika sudah malam hari seperti ini.
"Wah, ternyata disini sangat indah jika malam-malam begini" gumam Azalya yang mengagumi keindahan taman kota ini.
Dia sudah menggunakan pakaian tebalnya, karena disini sudah musim dingin. Jadi jika dimalam hari seperti ini akan sangat dingin.
Dia berjalan-jalan menyusuri jalanan yang semakin malam malah semakin ramai. Dia berhenti disebuah cafe yang menyediakan makanan halal.
Azalya memesan berbagai macam makanan juga minuman hangat. Dan tidak diduga pria yang waktu itu bertabrakan dengan nya juga berada didekat nya juga tanpa mereka berdua sadari.
Mereka saling menikmati makanan dan minuman mereka berdua, hingga seorang pria mendengar suara yang menurutnya sudah tidak asing lagi ditelinga nya.
"Jika dinegara ku, sedang dingin begini enaknya meminum bandrek atau bajigur yang hangat jika sudah masuk kedalam perut" ucap wanita cantik yang sedang memakan makanan nya dengan sangat lahap.
"Dasar rakus" gumam seorang pria yang duduk dibelakngnya.
"Biar saja rakus dari pada sok. Karena takut gemuk" gerutu Azalya yang ternyata mendengar ucapan pria dibelakang nya.
Azalya masih asik dengan makanan nya dan tidak terganggu sama sekali dengan suara-suara yang membuat nya malah barna*su untuk menghabiskan berbagai hidangan yang ada didepan mata nya.
Eeeuuu...
"Alhamdulilah" ucap Azalya yang habis sendawa dengan sangat keras nya.
"Dasar aneh" ucap seseorang yang sudah sangat mengganggu pendengaran Azalya sejak tadi.
Azalya tahu, jika dia juga mungkin sama dengan nya. Alias satu negara. Yaitu Indonesia, karena dia dengan sangat fasih mengucapkan nya.
Azalya langsung berbalik, dan betapa terkejut nya dia melihat siapa yang berada di belakang nya sekarang.
Pria culun yang sudah membuat nya sangat geram. Dia adalah pria yang sudah menabraknya dan malah nyelonong saja pergi tanpa mengucapkan apapun.
"Oh, jadi loe cowok yang punya mata empat tapi masih saja menabrak!" ucap Azalya dengan sangat kesal pada pria didepan nya.
Pria yang tidak lain dan tidak bukan adalah Zayn, tentu saja sangat marah mendengar ucapan gadis ini yang menyebut nya dengan mata empat. Zayn sudah mengepalkan tangan nya, jika saja ini adalah bukan tempat yang ramai dan banyak orang.
Sudah pasti Zayn akan membuat gadis ini bungkam untuk selamanya. Tapi otak Zayn masih bekerja, dia tidak mungkin melakukan itu padanya. Hanya karena dia menyebut nya dengan mata empat.
Zayn mencoba mengatur nafasnya dan menahan emosinya yang kan naik. Jika sudah naik, maka dia sendiri yang akan rugi. Mungkin saja disini ada klan nya yang sedang menyamar juga.
Azalya langsung maju dan menghampiri pria berkaca mata itu dan langsung menabrak kan tubuhnya pada pria tersebut, lalu pergi dengan gaya yang sangat elegant.