
"Bang Daf makasih yah sudah nemenin aku buat nongkrong dicafe. Habisnya gabut banget, mana tugas kuliah banyak banget lagi. Thanks" ucap Zaniya yang sekarang sudah berada didalam mobil bersama dengan Daffy yang sedang mengemudi.
"Sama-sama Zan, sudah tugas abang juga kan jagain kamu dan nemenin kamu. Tapi abang tadi sempet lihat dosen pembimbing kamu adalah disana deh, apa kamu melihatnya juga?" jawab Daffy yang memberitahukan pada yang dia lihat pada Zaniya juga bertanya.
"Nggak tuh, aku nggak lihat dia. Apa dia sedang makan dengan seseorang atau hanya sendiri bang?" tanya Zaniya penasaran juga ada rasa kesal didalam hatinya jika memang benar dia sedang jalan bersama dengan orang lain.
"Kayaknya nggak deh, abang lihat dia malah pake seragam pelayan disana. Sepertinya dia bekerja disana sebagai pelayan disana. Tapi entahlah, abang lupa nggak nanya sama auntie atau uncle tadi" jawab Daffy yang mengingat-ingat jika penglihatan nya tidak salah mengenali orang.
"Yang bener bang? Masa dia jadi pelayan disana, bukankah dia seorang dosen ya?" tanya Zaniya lagi yang sudah bisa diterbak jika Tama pasti tidak mau menerima uang darinya dan dia sudah pernah berjanji akan mengganti semua biaya rumah sakit Ibunya.
"Ya bener Zan, tadi abang saat ketoilet malah menyapanya dan dia juga sama. Mana mungkin abang salah mengenali orang, apa lagi dia juga menyapa abang kan?" jawab Daffy yang mencoba menjelaskan pada Zaniya.
"Mungkin sedang butuh banyak duit kali, makanya dia kerja ditempatnya auntie and uncle" ucap Zaniya dengan cuek dan dia tidak ingin memikirkan nya terus.
'Padahal gue nggak minta buat dia gantiin semua uang yang sudah gue keluarin, tapi kenapa dia bersikeras? Memang, harga diri seorang pria lebih tinggi' gumam Zaniya yang hanya bisa dalam hati. Dia juga memandang kearah luar jendela mobil dan terus menerawang.
"Kamu kenapa Zan? Tumben diam saja?" tanya Daffy yang bingung dengan sikap Zaniya yang tiba-tiba diam saja.
"Ngantuk bang" jawab Zaniya asal dan dia memejamkan matanya.
"Oh, abang kira kenapa. Tidurlah, nanti jika sudah sampai abang bangunkan" ucap Daffy yang dijawab anggukan oleh Zaniya.
Daffy mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, bahkan dia sesekali memandang kearah Zaniya yang tertidur. Dia tersenyum saat melihat cara tidur Zaniya yang seperti anak kecil, membuka mulutnya saat tertidur.
Daffy tidak membangunkan Zaniya untuk masuk kedalam mainson. Dia malah menggendongnya hingga dia berpapasan dengan Zayn dan Azalya yang memang sedang menunggu mereka datang.
"Assalamualaikum" ucap Daffy saat sudah sampai diteras mainson.
"Wa'allaikumsalam, dia ini selalu saja merepotkan kamu Daf" jawab Zayn dan Azalya yang mengatakan itu pada Daffy.
"Tidak apa-apa auntie, dia kan adik Daffy. Jadi sudah tugas Daffy buat menjaga dan direpotkan juga" jawab Daffy yang membawa Zaniya menuju kamarnya.
"Dia ini tidur apa pingsan? Nggak ada gerak-geraknya sedikitpun juga" ucap Azalya yang sedang menyelimuti putrinya.
"Dia mungkin sangat lelah auntie, makanya nyenak banget tidurnya. Daffy pamit keluar ya auntie, mau bersih-bersih juga" ucap Daffy yang pamit untuk keluar kamar Zaniya dan dia memasuki kamarnya.
"Iya, istilahat lah. Kamu juga pasti cape, apa lagi habis gendong Zani yang berat ini" ucap Azalya yang memerintahkan Daffy untuk istirahat.
"Iya auntie, selamat malam" ucap Daffy yang dijawab anggukan oleh Azalya dan Zayn yang masih berada didalam kamar Zaniya.
"Dia ini tidur sudah seperti kerbau saja" ucap Azalya yang mencium kening Zaniya sebelum keluar dari kamarnya.
"Sama seperti kamu sweetie" ucap Zayn yang memeluk Azalya dari belakang dan menaruh dagunya dipundak Azalya.
"Oh, jadi Hubby ngatain aku kerbau?!!" tanya Azalya yang menatap Zayn dengan tatapan tajamnya.
"Aku tidak mengatakan apa-apa, kau sendiri yang mengatakan nya" jawab Zayn yang membalikan tubuh Azalya untuk menghadap kearahnya.
"Benarkah? Kenapa aku tidak mengingatnya?" tanya Azalya lagi sambil mengalungkan tangan nya dileher kokoh Zayn.
"Hmm" jawab Zayn dengan deheman saja lalu dia mengangkat tubuh Azalya menuju kamar mereka berdua.
"Hubby, kenapa jadi seperti pengantin baru seperti ini? Apa Hubby akan baik-baik saja?" tanya Azalya saat Zayn menggendongnya ala bridal style menuju kamar mereka berdua. tangan Azalya juga mengalungkan sempurna dileher Zayn.
"Aku baik-baik saja dan masih kuat hanya untuk menggendongmu dan melakukan nya dengan mu" jawab Zayn yang malah menggoda Azalya sambil mengedipkan sebelah matanya pada Azalya.
"By, aku tahu jika Hubby ini kuat. Tapi harus ingat dengan kesehatan Hubby sendiri, jangan memaksakan diri untuk bisa melakukan itu" ucap Azalya yang mengusap rahang tegas Zayn lalu dia beralih menuju dada Zayn dan mengusapnya juga.
"Aku hanya ingin seperti ini hingga tua nanti dan keriput, aku tidak mau jika melihat Hubby selalu mendapatkan perawatan dan banyak kabel atau jarum yang terpasang pada Hubby. Aku tidak mau itu terjadi By" ucap Azalya yang sudah merebahkan dirinya dan Zayn juga merebahkan dirinya disamping Azalya.
"Itu tidak akan terjadi sweetie. Kita akan selalu bersama-sama terus hingga kelak menua nanti, aku sudah berjanji akan hal itu. Jika perawatan, itu adalah hak yang wajib aku lakukan supaya aku bisa sehat seperti ini terus. Jangan pernah bersedih karena memikirkan ku, aku tidak suka itu" ucap Zayn yang mengusap pipi Azalya dan memeluknya dengan erat lalu menciumi pucuk kepalanya berulangkali.
"Itu tidak akan aku lakukan By, karena bersama dengan kamu aku selalu bahagia dan bisa merasakan dicintai sedalam ini oleh Hubby" jawab Azalya yang menelusupkan wajahnya didada bidang Zayn yang sangat nyaman untuknya.
"Good girl" ucap Zayn yang mengecup bibir Azalya sekilas lalu keduanya memejamkan matanya dan terlelap bersama dengan saling berpelukan erat.
.
Sedangkan Zahiya masih merencanakan apa yang dia inginkan. Bahkan dia hampir menyerah, dan benar saja Zahiya menyerah untuk mengambil gelang miliknya dari pria tersebut.
"Aku sudah menyerah untuk mengambil mu. Jika suatu saat nanti ada kesempatan dan itu akan aku ambil segera" gumam Zahiya yang langsung pergi dari rumah tersebut.
Dia mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, dia ingin menikmati udara malam yang sangat sejuk ini. Dia berhenti disebuah taman yang sudah sepi dan itulah yang dia inginkan jika keluar mainson.
"Ini adalah ketenangan yang nyaman" gumamnya sambil terus menatap langit malam yang gelap dan tidak ada bintang satupun disana.
"Huh, semoga saja bisa segera mendapatkan nya. Aku sangat menyayanginya dan juga sangat menyukainya. Sebaiknya jangan aku ingat terus supaya tidak membuat sedih" ucapnya yang berulang kali menghembuskan nafasnya kasar lalu memejamkan matanya sejenak untuk bisa meringankan rasa yang mengganjal dalam dirinya.
Tiba-tiba ada seseorang yang datang dari belakang ingin mencelakainya. Zahiya yang sangat sensitive akan adanya pergerakan segera bangkit dan menyerang balik orang yang ingin menyerangnya.
"Siapa kau!" ucap Zahiya yang sudah mengunci tubuhnya dengan sangat kencang.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku. Yang jelas kau harus mati, dan tidak ada yang bisa mencegah itu semua. Hahaha" ucapnya dengan tawa yang menggelegar.
"Coba saja jika kau bisa melakukan nya!" tantang Zahiya pada pria tidak dikenal itu.
Dengan mudahnya Zahiya mematahkan lehernya dan dia sudah tidak bernyawa lagi. Saat yang bersamaan datang beberapa orang yang membantu pria tersebut.
"Bawalah dia dari hadapan saya! Karena saya tidak mau melihat cecunguk berada dihadapan saya" ucap Zahiya yang memerintahkan mereka menyingkirkan mayat tersebut.
Lalu Angga dan pada anggotanya juga datang dengan jumblah yang tak kalah banyaknya dari mereka.
"Maaf Queen kami terlambat" ucap Angga yang langsung melindungi Zahiya dari para musuh mereka yang sudah tahu jika penerus kelompok Zayn adalah Zahiya.
Jadi mereka ingin membuat perhitungan dengan Zahiya atas apa yang sudah Zayn lakukan. Walau mereka tidak tahu siapa yang mereka hadapi sebenarnya.
"Tidak apa-apa uncle, saya baik-baik saja. Uncle urus mereka semua, saya ingin segera tahu siapa dalang dari semua ini" ucap Zahiya yang ingin pergi dari sana tapi mendapatkan serangan mendadak mengakibatkan bahu sebelah kirinya tergores pluru yang sengaja ditujukan padanya.
DOR...
"****!" ucap Zahiya yang langsung menghindar dari tembakan tersebut, walau bahunya sudah terluka.
Angga langsung menghampiri Zahiya dan dia melihat ada banyak darah. Dia ingin membawa Zahiya pergi tapi Zahiya tidak ingin pergi sebelum bisa menangkap orang yang sudah melukainya.
BRAK...
BUK...
BUK...
"Kau tidak akan bisa selamat dari malaikat mencabut nyawa!" seringai dari Zahiya pada pria yang tadi membidiknya.
"Kau, kau sudah mendapatkan tembakan. Kenapa, kenapa kau masih hidup?!" teriaknya sambil membolakan matanya dan dia sungguh tidak menyangaka jika yang dia hadapi adalah iblis berwujud manusia.
"Apa kau kaget? Sekarang giliran ku untuk melakukan serangan" ucap Zahiya yang mengatakan nya penuh dengan senyuman mengerikan dibibirnya.
"Jangan, jangan lakukan itu. Saya hanya disuruh dan saya akan melakukan apapun yang kau inginkan, asalkan lepaskan saya" ucapnya sudah sangat panik akan dibu*uh oleh Zahiya.
"Sayangnya permohonan mu itu sudah terlambat" ucap Zahiya yang mengarahkan senjatanya pada kepala pria tersebut yang sudah sangat ketakutan akan tatapan juga senyuman mengerikan dari wanita dihadapan nya.
DOR...
DOR...
DOR...
"Aaa, ampuni saya. Tolong jangan bunuh saya" ucapnya yang merangkak dibawah kaki Zahiya dan memegang kakinya dengan sangat erat. Juga terus memohon ampunan dari Zahiya.
"Kita impas" ucap Zahiya yang menyeringai saat sudah melukai bahu kiri pria tersebut.
"Permohonan mu saya terima" ucap Zahiya lagi dan itu membuat pria tersebut merasa lega karena hanya tangan, kaki dan bahunya saja yang dilukai oleh Zahiya.
"Kau, bawa dia kemarkas" ucap Zahiya pada salah satu anggotanya yang berada didekatnya dan dengan sigap dia menjalankan perintah dari Queen nya.
"Queen, mereka sudah kami kalahkan. Kita harus segera pergi, sebelum ada serangan balik dari mereka" ucap Angga yang sudah mendekat dan menatap pria yang dibawa oleh Zahiya.
"Kalian pergilah. Saya akan kesuatu tempat" ucap Zahiya yang langsung pergi dan menggunakan motornya lagi untuk pergi.
"Queen bahu anda terluka, sebaiknya diobati dulu" ucap Angga yang menahan supaya Zahiya tidak langsung pergi dari sana. Karena dia takut disalahkan dan mendapatkan hukuman dari King nya karena tidak bisa menjaga dan melindungi Queen mereka.
"Saya tidak apa-apa, saya akan mengobatinya sendiri. Uncle tidak perlu khawatir akan mendapatkan hukuman dari King. Karena saya tidak akan bicara apa-apa padanya" ucap Zahiya yang menepuk bahu Angga lumayan keras.
"Tapi Queen, anda harus.... " belum selesai berbicara sudah dipotong lebih dulu oleh Zahiya.
"Sudah saya katakan, jika saya baik-baik saja dan akan segera pulang. Diam dan kerjakan semuanya" ucap Zahiya yang tidak ingin dibantah lagi oleh Angga atau anggotanya yang lain. Zahiya langsung pergi memacu motornya setelah mendengar ucapan dari Angga padanya.
"Baiklah Queen, akan kami lakukan" jawab Angga yang menunduk dan pasrah apa yang akan dilakukan oleh Zahiya nantinya.
"Dia memang sama seperti King jika bertarung. Akan membawa orang yang berpotensi untuk mengatakan segalanya" gumam Angga yang melihat Zahiya sudah menggunakan motornya pergi dari hadapan mereka, dan ucapan nya diangguki oleh anggotanya yang lain.
"Anda benar Tuan. Setahu dan seingat saya, mereka berdua amat sangat sama persis satu sama lain" ucap anggota Zayn mengiyakan ucapan dari Angga karena dia yang sudah lama mengikuti jejak Zayn sejak dulu.
"Kita kembali kemarkas. Jika Queen membutuhkan sesuatu baru kita akan bergerak, kita harus tetap memantau dan menjaganya dari jauh" perintah Angga yang langsung diangguki oleh mereka semua.
Zahiya sudah sampai didepan mainson dan dia langsung masuk kedalam menggunakan pintu rahasia yang menghubungkan dengan ruangan yang ada dilantai atas. Dia berjalan sambil memegangi lengan nya yang terasa sakit.
"Syukurlah semua orang sudah tidur" gumam Zahiya saat melewai kamar Daffy.
Tapi dugaan nya salah, karena pada saat melewati kamarnya Daffy. Daffy malah keluar dari dalam kamarnya dan melihat kearahnya. Zahiya memejamkan matanya saat Daffy menegurnya.
"Za, kamu dari mana? Apa kamu baru pulang?" tanya Daffy yang melihat punggung Zahiya.
"Aku sudah pulang dari tadi bang. Malah habis tidur, abang sendiri kenapa keluar kamar?" jawab Zahiya yang balik bertanya tanpa membalikan tubuhnya.
"Abang mau mengambil air minum. Air minum dikamar abang sudah habis" jawab Daffy yang mengacungkan teko air yang kosong.
"Ya sudah, aku duluan masuk kamar ya bang" ucap Zahiya yang akan masuk kedalam kamarnya. Karena dia tidak ingin jika Daffy melihat wajah pucatnya.
"Iya, istirahatlah. Abang juga akan turun dulu" ucap Daffy yang melihat Zahiya melangkah dan dia melihat ada darah yang menetes dari tangan kiri Zahiya.
"Apa kau terluka Za? Apa yang terjadi?" tanya Daffy yang segera menghampirinya dan menatap wajah Zahiya yang pucat.
"Aku tidak apa-apa bang, aku masuk dulu" jawab Zahiya yang akan masuk kedalam kamarnya tapi ditahan oleh Daffy.
"Jawab aku Zahiya! Jangan menghindar" ucap Daffy yang mengatakan nya dengan penuh penekanan. Lalu dia membuka sweeter bagian bahu kiri Zahiya. Betapa terkejutnya Daffy saat melihat luka memanjang dan lumayan dalam dibahunya dan darahnya terus mengalir.
"Aku nggak apa-apa kok bang. Ini hanya luka kecil dan juga hanya goresan saja, aku akan mengobatinya" ucap Zahiya yang akan menutupi bahunya tapi ditahan oleh Daffy.
"Diam dan tunggu disini! Jangan membantah" ucap Daffy penuh dengan penekanan dan dia tidak ingin jika Zahiya membantahnya.
Zahiya hanya diam dan tidak mengatakan apa-apa lagi setelah mendengar ucapan dari Daffy. Zahiya membuka sweeter yang dia gunakan semuanya, dia sedikit meringis saat menggerakan tangan nya. Dan dia hanya menggunakan kaos dalam yang juga berlumuran darah.
Daffy kembali lagi dengan kotak obat ditangan nya. Dia duduk disamping Zahiya dan melihat kearah Zahiya yang tidak menampilkan ekspresi apapun diwajahnya.
"Apa ada yang menyerang mu?" tanya Daffy saat sedang mengobati luka dibahu Zahiya.
"Apa kamu tidak ingin menjawabnya Za?" tanya Daffy lagi yang sedang membersihkan luka Zahiya menggunakan kapas yang sudah diberi alkohol.
Zahiya hanya diam saja, dia tidak mengatakan apa-apa dan tidak menjawab pertanyaan dari Daffy. Bahkan saat Daffy membersihkan lukanya dia tidak menampilkan ekspresi sakitnya atau meringis sekalipun.
Dan itu membuat Daffy hanya menghela nafasnya melihat Zahiya yang selalu diam saja. Tapi Daffy tidak ingin memaksanya untuk berbicara. Apa lagi melihat wajahnya yang sudah pucat saja membuatnya ikut merasakan sakitnya. Daffy memberikan obat untuk Zahiya meinum dan itu langsung dituruti oleh Zahiya yang sudah sangat lemas.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya untuk like, komen, vote dan hadiahnya ya....
Supaya Othor makin semangat buat selalu up... Syukur-syukur ngasih kembang tujuh rupanya dan juga kopi item pait....
Happy reading.... 🤗🤗🤗