Mr. Z CEO Of The Mafia

Mr. Z CEO Of The Mafia
S2~ Sekenario



"Baiklah Nona Zahiya, saya akan pergi setelah anda benar-benar masuk" jawab Albert Einstein pada Zahiya yang hanya diam saja.


"Baiklah, tapi benar ya anda akan pergi? Karena saya takut anda tiba-tiba masuk kedalam dan mencelakai saya setelah saya masuk kedalam. Karena difilm-film yang saya tonton seperti itu" ucap Zahiya yang menatap dengan penuh takut padanya.


"Saya berjanji" jawab Albert Einstein.


"Baik, saya masuk dulu" ucapnya yang mengeluarkan kunci rumah kecil tersebut.


"Apa dia sudah pergi? Untung saja aku memang memiliki rumah ini. Jika tidak pasti akan ada masalah baru" gumam Zahiya yang mengunci pintu dan menatap layar ponselnya. Dimana dia memasangkan kamera tersembunyi diberbagai titik rumahnya.


"Dia memang benar-benar pergi. Dia percaya begitu saja dengan semua ucapan ku. Semoga saja memang seperti itu" ucap Zahiya pada dirinya sendiri.


TOK...


TOK...


TOK...


"Queen, ini saya. Angga" ucap Angga setelah mengetuk pintu rumah tersebut.


"Ada apa uncle datang kemari?" tanya Zahiya yang menatap Angga yang sedang berdiri dihadapan nya saat ini.


"Apa Queen baik-baik saja? Apa Queen tahu pria itu siapa? Dia adalah.... " tanya Angga dan Angga belum selesai mengatakan semuanya sudah disela oleh Zahiya.


"Albert Einstein, pria yang dulu dinyatakan hilang dan bahkan sudah meninggal oleh Ayah nya sendiri" sela Zahiya pada Angga.


"Apa Queen tidak akan bertindak? Dia sangat berbahaya, dan dia juga bisa melakukan apapun untuk mencapai tujuan nya" tanya Angga yang tidak ingin jika Queen nya kenapa-kenapa dan salah mengambil tindakan.


"Biarkan saja. Selagi dia tidak melakukan apapun, kita akan bertindak setelah dia melakukan sesuatu. Jika tidak, maka diam" jawab Zahiya yang mengatakan itu dengan sangat santai dan dia malah masuk kedalam kamarnya dan dirumah itu hanya ada satu kamar dan terlihat sangat sempit.


"Baik Queen. Kami akan melakukan apa yang anda inginkan, kami permisi dan akan mengawasi dari jauh" ucap Angga yang akan keluar tapi ditahan oleh Zahiya.


"Tunngu uncle, dia masih ada diluar dan sedang mengawasi kita. Sebaiknya kalian pura-pura mengambil barang-barang berharga dalam rumah ini. Jangan sampai dia curiga, lakukan dengan rapih" ucap Zahiya yang menatap sekelilingnya dan disana memang ada bayangan sedang mencari-cari sesuatu.


"Saya akan masuk kedalam kamar. Buat seberantakan mungkin seperti habis dirampok habis-habisan" ucap Zahiya yang masuk kedalam kamar dan menatap layar laptopnya.


"Akan kami lakukan Queen" jawab Angga yang membawa laptop milik Zahiya yang untuk dia mengerjakan tugas kuliahnya.


Zahiya langsung masuk kedalam kamarnya dan menyimpan semula barang-barangnya yang selalu dia gunakan untuk mengerjakan pekerjaan nya. Bahkan rumah ini adalah markas miliknya.


"Untung saja aku sudah memasang kedap suara diseluruh ruangan ini. Jika tidak apa yang kami bicarakan tadi akan menimbulkan masalah pastinya" gumam Zahiya setelah selesai menyembunyikan semua barang-barang miliknya.


Tidak lama kemudian terdengar suara ribut-ribut diluar dan itu sudah dipastikan jika mereka benar-benar melakukan apa yang dia perintahkan. Sedangkan Angga sudah pergi menggunakan jalan lain untuk bersembunyi. Anggotanya yang lain melakukan tugasnya dengan baik.


"Aaaa, ada apa ini??!!" teriak Zahiya yang pura-pura panik saat melihat ruangannya berantakan dan beberapa barang-barangnya tidak ada.


"Apa anda baik-baik saja? Saya tadi tidak sengaja melihat ada beberapa orang mencurigakan masuk kedalam sini dan ternyata mereka semua adalah perampok" tanga Albert Einstein yang memang sejak tadi mengawasinya dan tidak percaya sepenuhnya padamu Zahiya.


"Apa? Rampok! Inalillah" ucap Zahiya yang pura-pura pingsan dan itu berhasil membuat Albert Einstein berhenti menghajar anggotanya yang menyamar dan mereka bisa melarikan diri dari amukan Albert Einstein.


"Nona, hey. Anda tidak apa-apa? Nona" ucap Albert yang menepuk-nepuk pipi Zahiya dan dia juga membawa Zahiya menuju kamarnya lalu membaringkan tubuhnya diatas ranjang berukuran kecil yang hanya muat untuk dirinya saja.


Albert mencari minyak angin atau kayuputih yang tersedia didalam kamar Zahiya. Setelah mendapatkan kayuputih dia mengoleskan nya pada hidung dan juga kening.


'Sial! Kenapa dia banyak sekali mengoleskan minyak pada hidung ku? Jadi sangat panas' gerutu Zahiya dalam hati dan dia langsung bangun dari pura-pura pingsan nya.


"Saya dimana? Dan... Aaa, tugas-tugas kuliah ku" ucap Zahiya yang menangis sesegukan sambil menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangan nya.


"Apa mereka membawa barang-barang berharga anda?" tanya Albert yang memang melihat semua nya sudah tidak ada disana.


"Jika sudah melihat kenapa malah bertanya? Anda ini mau mengejek saya?!" ucap Zahiya yang menangis sambil menggerutu pada Albert Einstein.


"Maaf, bukan nya saya bermaksud seperti itu. Saya hanya bertanya saja, apa saja yang sudah mereka ambil dari anda? Anda sendiri baik-baik saja kan?" tanya Albert yang mulai simpati dan mempercayai Zahiya.


"Kulkas, walau dia kecil. Televisi, kipas angin, ponsel, dan yang paling penting adalah laptop milik ku. Disana ada materi-materi kuliah ku, dan aku sudah mengerjakan nya dengan susah payah. Mereka mengambilnya dengan sangat gampang. Huaaaa, mereka tega sekali padaku yang miskin ini. Hiks... Hiks..." jawab Zahiya yang menangis semakin kencang. Dia benar-benar memainkan sekenario dengan sangat baik. Walau itu berbanding terbalik dengan dirinya yang sebenarnya.


"Apa kamu tidak menyalin atau membuat duplikat tugas kuliah kamu?" tanya Albert pada Zahiya yang masih menangis sesegukan sambil membuang ingusnya.


Sroottt...


Albert sebenarnya merasa jijik pada Zahiya yang membuang ingus sembarangan. Dan itu menggunakan pakaian nya sendiri. Zahiya juga sebenarnya jijik juga, tapi demi usahanya tidak sia-sia.


"Gunakan ini" ucap Albert menyodorkan saputangan nya pada Zahiya.


"Terimakasih" jawab Zahiya menerima saputangan dari Albert lalu...


Sroottt...


"Buat anda saja" ucap Albert yang mendorong tangan Zahiya untuk menyimpan saputangan miliknya. Karena dia merasa sangat jijik dengan apa yang dilakukan oleh Zahiya.


"Sekali lagi saya ucapkan terimakasih banyak Tuan, anda sudah banyak membantu saya. Dan sudah dua kali saya dibantu oleh anda" ucap Zahiya yang menatap dengan serius dan dengan tatapan sendunya.


"Saya akan membelikan barang-barang anda yang sudah hilang dengan yang baru untuk anda bisa mengerjakan tugas kuliah anda" ucap Albert yang menawarkan bantuan nya pada Zahiya.


"Tidak perlu Tuan. Saya tidak mau banyak berhutang budi lagi pada anda. Saya masih bisa mengerjakan tugas kuliah saya melalui warnet dan mengeprin nya. Jadi anda tidak perlu repot-repot membelikan barang-barang untuk saya. Saya tidak mau anda terbebani oleh saya, apa lagi kita baru saling kenal. Itu sangat tidak baik untuk anda, saya tidak mau dicap sebagai wanita yang memanfaatkan keadaan. Saya bukan wanita seperti itu. Selagi saya bisa dan mampu untuk memenuhi kebutuhan sendiri, maka akan saya lakukan. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih banyak dan jangan merasa jika saya menolak kebaikan anda. Karena harga diri saya sangat tinggi jadi saya tidak ingin ada yang membantu saya" ucap Zahiya dengan panjang lebar dan juga tegasnya. Dia ingin melihat seberapa berusahanya Albert untuk bisa dekat dengan nya.


Albert hanya mengangguk dan dia merasa sangat kasihan sebenarnya melihat Zahiya yang seperti itu. Apa lagi mendapatkan musibah, perampokan rumahnya yang mana barang-barang miliknya sudah habis dibawa oleh perampok-perampok itu. Dia akan membantunya tanpa sepengetahuan dirinya.


"Baiklah Tuan, saya mau mulai pekerjaan saya. Jadi anda boleh pergi" ucap Zahiya yang mengusir Albert untuk pergi dari rumahnya.


"Apa anda mengusir saya?" tanya Albert dengan tatapan tajamnya pada Zahiya.


"Anda menyeramkan sekali Tuan. Saya memang mengusir anda, karena saya harus membereskan semua kekacauan ini. Jadi supaya saya bisa mengerjakan semuanya dengan baik dan cepat, ya anda harus pergi. Karena jika tidak. Anda akan membantu saya lagi dan saya akan berhutang budi lebih banyak pada anda" ucap Zahiya yang mendorong tubuh kekar Albert Einstein.


"Saya tidak menganggap semua ini hutang budi. saya tulus dan ikhlas membantu dan menolong anda. Jadi jangan pernah beranggapan hutang budi atau apapun itu. Biarkan saya membantu anda sekarang, dengan bantuan saya pekerjaan akan cepat selesai" ucap Albert yang tidak menerima bantahan dari Zahiya.


"Ternyata anda ini pemaksa sekali Tuan. Tapi, terimakasih banyak untuk segalanya" ucap Zahiya yang tersenyum sangat manis pada Albert Einstein.


'Kenapa senyuman nya terlihat tidak asing lagi? Dia seperti... Mommy, senyuman itu sangat mirip dengan Mommy' ucap Albert dalam hati sambil menatap Zahiya yang tersenyum padanya.


"Apa ada sesuatu Tuan? Kenapa anda memandangi saya seperti itu? Awas loh, nanti naksir saya bisa berabe urusan nya. Karena saya ini adalah mahasiswi miskin dan tidak punya apa-apa" ucap Zahiya yang mengatakan itu semua pada Albert.


"Jika memang benar saya naksir anda bagaimana?" Albert balik bertanya pada Zahiya yang membolakan matanya juga membuka mulutnya sangat lebar.


"Hey, saya hanya bercanda. Kenapa membuka mulut mu sangat lebar? Bisa-bisa ada lalat atau nyamuk yang masuk kedalam mulut mu itu" ucap Albert yang menutup mulut Zahiya dengan meyentuh dagunya.


"Aaa, hampir saja saya menerima anda Tuan. Tapi karena anda bilang bercanda, ya tidak jadi. Jadi semuanya sudah expired" ucap Zahiya yang menatap penuh kecewa pada Albert.


"Baiklah, saya tarik kembali ucapan saya yang tadi. Jika saya serius naksir dan suka pada anda sejak pandangan pertama" ucap Albert yang menatap wajah Zahiya dengan sangat lekat.


"Jadi maksud anda Love at first sight? Begitu? Tapi sayangnya itu sudah tidak berlaku lagi. Jadi karena saya sudah tidak tertarik lagi pada anda Tuan" ucap Zahiya sambil tersenyum dan kemudian dia tertawa cekikikan melihat ekspresi Albert yang ingin marah.


"Anda jangan marah Tuan. Saya hanya bercanda mengatakan itu, sebaiknya anda jangan memiliki perasaan pada saya. Karena saya tidak pantas mendapatkan itu semua. Selain saya miskin saya juga banyak bicara dan pastinya akan membuat hidup anda terganggu oleh saya. Jadi jangan pernah berfikiran untuk menyukai saya, apa lagi menggunakan hati anda. Sangat tidak boleh" ucap Zahiya yang sudah menghentikan tawanya yang terdengar sangat sebuah dan juga sangat manis dimata Albert Einstein.


"Jika saya memang benar-benar menyukai anda dan saya menginginkan anda untuk mendampingi hidup saya bagaimana? Juga jika hati saya sudah memilih anda bagaimana? Apa anda akan tetap menolaknya juga?" tanya Albert pada Zahiya dengan sangat serius dan juga tatapan teduhnya.


"Sudah saya katakan Tuan. Saya tidak ingin jika anda menggunakan hatinya anda untuk saya. Karena saya tidak percaya akan perasaan seperti itu. Apa lagi Love at first sight, saya tidak mempercayainya. Jadi sebelum anda menyesal karena ulah saya, lebih baik anda jauhi saya dan jangan pernah mendekati saya lagi. Karena saya tidak bisa melakukan itu semua" ucap Zahiya yang mengatakan nya dengan sangat serius juga tatapan tegasnya.


"Baiklah jika anda tidak percaya akan perasaan seperti itu. Karena sebenarnya saya juga tidak mengerti dan tidak perduli dengan semua itu. Tapi saat bertemu dan dekat dengan anda seperti ini, perasaan saya yang sebelumnya entah seperti apa. Tiba-tiba sangat merasa nyaman dan juga sangat tenang. Enatah itu perasaan seperti apa, tapi anda jangan khawatir dan menjauh dari saya. Karena saya ingin jika kita berteman saja, bagaimana?" ucap Albert lalu dia bertanya dan mengulurkan tangan nya pada Zahiya.


"Emm, jika berteman saya setuju. Tapi, jika saya tidak ada disini suatu saat. Berarti saya sedang pulang kampung, karena saya disini hanya menimba ilmu saja untuk kuliah dikota besar seperti ini" ucap Zahiya yang menyambut uluran tangan dari Albert Einstein.


keduanya saling tersenyum dan interaksi mereka berdua tidak luput dari pantauan dan juga pengawasan dari Zayn. Ya, Zayn sudah mengetahui semuanya. Jika Zahiya sekarang sedang dekat dengan seorang pria muda dan itu ternyata adalah klan nya sendiri. Zayn hanya berharap jika apa yang dilakukan oleh Zahiya tidak membuat klan nya itu semakin marah pada mereka. Khususnya pada Zahiya, karena bisa saja jika dia merasa dibohongi dan juga dimanfaatkan oleh Zahiya untuk menggali informasi darinya.


"King, apa kita akan diam saja melihat semua ini?" tanya Angga yang mengatakan nya sambil terus melihat Zahiya yang sedang berinteraksi dengan Albert Einstein.


"Kita lihat dan dukung apapun yang dilakukan oleh Queen. Karena apa yang dia lakukan lastinya sudah dia fikirkan dengan baik dan matang. Jadi percayakan saja semua padanya" jawab Zayn yang terus menatap layar monitor didepan nya yang menampilkan Zahiya dan Albert Einstein sedang membereskan perabotan yang berantakan.


"Baik King. Tapi jika semua ini ketahuan dan ternyata dia juga memiliki perasaan pada Queen bagaimana King? Apa dia akan tetap memiliki perasaan yang sama atau malah sebaliknya? Saya sungguh ingin mengetahuinya" tanya Angga yang sudah sangat penasaran akan semua ini.


"Rupanya kau sudah sangat ingin mengetahuinya? Jika kau ingin mengetahui semuanya, lebih baik diam dan, tutup mulutmu itu! Karena saya paling tidak suka dengan orang yang banyak bertanya" ucap Zayn dengan sangat tegas dan juga tatapan tajamnya seperti elang yang sedang mengincar mangsanya.


"Maafkan saya King, saya tidak akan melakukan nya lagi. Saya permisi" ucap Angga yang sudah gemetaran karena tatapan Zayn yang sangat membunuh itu.


Zayn hanya diam dan terus menatap layar didepan nya saat ini. Dia tidak menghiraukan apa yang Angga katakan padanya. Karena menurutnya tidak penting dan tidak bisa untuk didengar.


.


.


.


Hai... Hai... Hai... Para reader kesayangan Othor.... Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya untuk like, komen dan hadiahnya...


Juga rat ⭐️5nya ya... Supaya Othor makin semangat buat selalu up tiap hari, syukur-syukur ada yang mau ngasih sajen buat Othor... Kembang tujuh rupanya dan juga kopi item paitnya juga 😁😁...


Terimakasih and happy reading... 🤗🤗🤗