
Zahiya dengan tersenyum tipis saat Zayn tidak pernah menginjak pedal rem saat sedang berada dijalan yang terbilang sedikit sempit. Apa lagi dia tidak terlihat takut sama sekali.
"Dad, apa Daddy dulunya adalah seorang pembalap?" tanya Zahiya saat sudah berada didepan markas milik Zayn.
"Bisa dibilang seperti itu" jawab Zayn dengan santainya lalu masuk kedalam markas setelah disambut oleh Austin yang datang dari America untuk bertemu langsung dengan nya.
"Siang King, Queen" sapa Austin pada Zayn dan Zahiya yang sudah berada dihadapan nya.
"Siang uncle" jawab Zahiya. Sedangkan Zayn hanya deheman saja yang dia katakan pada Austin.
Austin yang memang belum menikah sangat mengagumi sosok Zahiya yang sangat menawan dan juga sangat manis, walau tertutupi oleh wajah dinginnya.
"Jaga pandangan mu. Jika kau masih ingin melihat matahari terbenam sore nanti!" ucap Zayn yang memperingati Austin yang menatap Zahiya tidak berkedip.
"Maafkan saya King" jawab Austin yang langsung menundukan pandangan nya dari Zahiya yang hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap posesif dari Daddy nya.
"Uncle, apa yang ingin uncle perlihatkan pada saya?" tanya Zahiya yang mengalihkan amarah dan juga keposesifan dari Daddy nya.
"Mari Queen dan King. Saya akan memperlihatkan semuanya pada anda berdua" jawab Austin yang langsung nenggiring Zayn dan Zahiya menuju ruangan yang dikhususkan untuk ruangan kendali.
"Ini Queen. Jika ada yang kurang tepat, silahkan revisi ulang dan sesuai dengan keinginan anda" ucap Austin yang memperlihatkan layar monitornya.
"Ini sudah hampir sempurna uncle. Hanya ada beberapa yang harus direvisi, sisanya oke" ucap Zahiya yang malah asik mengutak-ngatik komputer yang sangat besar dihadapan nya.
"Terimakasih banyak Queen. Dan saya juga semakin mengagumi anda" ucap Austin yang diujung kalimatnya hanya bisa diam katakan dalam hati saja.
"Sepertinya kau memang sudah siap untuk menerima hukuman nya!" ucap Zayn dengan tatapan membunuhnya pada Austin yang sudah melelan slivanya dengan susah payah.
GLEK...
Austin benar-benar sudah tidak bisa berkutik lagi. Saat melihat Zayn sudah berubah menjadi predator yang akan siap menerkam mangsanya.
"Saya tidak berani lagi King. Sungguh" ucap Austin yang sudah berulangkali menelan slivanya dengan susah payah.
Sedangkan Zahiya hnya menggelengkan kepalanya sambil menyempurnakan penemuan dari Austin untuknya. Dia masih terus fokus pada layar monitor didepan nya dan terus menekurinya hingga Zayn dan Austin tidak dibiraukan keberadaan keduanya oleh Zahiya.
Zayn sudah bisa menebak jika putrinya sudah berada didepan komputer bisa dipastikan tidak akan berlangsung cepat. Karena dia adalah dirinya waktu muda dulu, dia paling suka dan juga sangat menyukai keheningan dan kesendirian. Dengan begitu dia bisa menciptakan sesuatu yang akan membuat masa depan nya akan bagus. Seperti sekarang ini dia rasakan, dia menuai apa yang dia kerjakan sejak dulu. Bahkan sejak dia kecil dulu.
Jadi jika sejak kecil saja uangnya sudah sangat banyak tanpa Mommy nya ketahui. Dan juga memiliki perusahaan besar dan sangat terkenal diseluruh negara. Baik Eropa maupun Asia bahkan tidak bisa diragukan lagi kemampuan nya dalam membangun bisnisnya.
"Kau akan tetap mendapatkan hukuman nya" ucap Zayn pada Austin yang sudah benar-benar sangat ketakutan melihat Zayn yang seperti ini.
"Huh, terima nasib saja. Baru saja menginjakan kaki dinegara tropis ini. Huf" gumam Austin yang menghela dan menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Dia benar-benar akan mendapatkan hukuman yang entah hukuman seperti apa yang akan Zayn berikan padanya. Saat sedang memikirkan apa yang akan Zayn berikan padanya, Zahiya menghampiri keduanya.
"Dad, Zahi mau kesuatu tempat dulu. Setelah urusan Zahi selesai akan segera kembali, Daddy selesaikan saja dulu urusan Daddy dengan uncle Austin" ucap Zahiya yang langsung bergegas pergi setelah berpamitan pada Zayn dan Austin.
"Pergilah. Segera kembali" ucap Zayn pada putri sulungnya yang sudah beranjak dewasa.
"Pasti Dad" jawab Zahiya yang langsung pergi.
"Apa yang kau lihat!" ucap Zayn yang melihat Austin tidak berkedip memandang punggung Zahiya yang semakin menjauh.
"Tidak ada King" jawab Austin yang gelagapan dan juga ketakutan.
Zayn meninggalkan Austin yang sedang berdiri mematung sambil menatap punggung Zayn yang memasuki ruangan yang tadi ditempati oleh Zahiya beberapa saat yang lalu. Dia lalu mengikutinya dari belakang menuju ruangan yang ternyata sudah hampir sempurna ditangan Zahiya.
Tapi Zayn mengerutkan keningnya saat melihat baru pertama kali ini Zahiya yang meninggalkan pekerjaan nya yang belum selesai. Zayn yang penasaran langsung mengecek tanpa merusak system keamanan yang Zahiya buat.
'Kau memang ahlinya dalam bidang ini Queen. Daddy bangga dan juga salut dengan apa yang kamu kerjakan sekarang. Sekuat dan semampu Daddy akan mendukung dan juga membantu kamu Queen, karena Daddy akan melakukan apapun untuk kalian semua' gumam Zayn dalam hati saat dia melihat apa yang sedang dilakukan oleh Zahiya.
Zayn terus mengotak-ngatik semua yang Zahiya lakukan. Pada saat Zayn akan menekan system yang sangat sensitive tiba-tiba layar monitor nya langsung mati dan tanpa aba-aba lagi langsung menghancurkan dirinya sendiri tanpa jejak.
"Hahaha, dia sudah tahu apa yang aku lakukan" Zayn tertawa dengan sangat kencangnya membuat Austin merinding mendengar tawa Zayn yang menurutnya sangat mengerikan.
'King, kenapa anda tertawa seperti itu? Apa yang sedang anda tertawakan? Sungguh bulu kuduk ku langsung berdiri' ucapnya hanya berani dalam hati dan mengusap lengan nya sendiri yang terasa merinding.
Dan itu sukses membuat Austin semakin ketakutan. Dia semakin ketakutan dan malah langsung berlutut dihadapan Zayn karena dia takut jika apa yang dikatakan oleh Zayn benar semua.
"King, ampuni saya King. Sungguh, saya tidak mengumpat anda. Sungguh, saya tidak seberani itu. Jika tentang Queen, saya akui. Jika saya memang sangat mengagumi dan juga memiliki perasaan lebih padanya. Saya beranikan untuk mengatakan itu semua pada anda. Tolong jangan hukum saya karena telah memiliki perasaan ini untuk Queen" ucap Austin yang mengakui perasaan nya pada Zayn.
Dia mengatakan itu semua karena dia sudah pasrah jika Zayn menghukumnya karena dia memiliki perasaan itu. Walau dalam hati ketar-ketir, jika dia akan mendapatkan hukuman. Sungguh, Austin merasa jika dia ini adalah seorang terdakwa yang menunggu diadili oleh algojo yang siap menghukumnya.
"Apa kau yakin dengan semua yang kau katakan padaku?" Tanya Zayn yang menatap dengan tajam pada Austin.
"Yakin King. Jika anda mengizinkan, saya akan mencoba mendekatkan diri saya perlahan-lahan" jawab Austin yang menatap dengan yakin walau hatinya ketar-ketir.
"Kenapa kau bisa yakin jika saya mengizinkan mu untuk mendekati putriku?" Zayn terus menatap Austin dengan tatapan mengintimidasi.
Austin yang memang belum seratus persen yakin, dia semakin lemas. Apa lagi jarak usia mereka terpaut sangat jauh, bisa dibilang jika Austin adalah seumuran dengan Azalya. Mommy dari Zahiya sendiri.
"Saya hanya bisa mengutarakan nya pada anda King. Saya juga sangat sadar, jika saya hanyalah pria yang sudah berusia lebih tua darinya. Mungkin bisa dibilang seperti Ayah nya sendiri. Sekali lagi saya minta maaf King, karena saya sudah lancang dan juga sangat berani pada anda mengatakan semua ini pada anda" ucap Austin yang sudah tertunduk lesu karena ucapan nya sendiri yang memang sudah tua.
"Jika kau sendiri sudah sadar kenapa saya harus menjelaskan nya?" Zayn masih terus menatap wajah Austin yang sudah sangat pasrah akan nasibnya yang sudah semakin tua tapi belum memiliki keluarga.
"Saya memang sadar diri sejak lama King. Hanya saja saya ingin mengatakan dan mengutarakan nya langsung saja. Jika memang saya harus ditolak tidak masalah, karena perasaan ini sangat menyiksa King. Tolong izinkan saya untuk mengutarakan nya selama saya disini. Saya berjanji tidak akan menampakan batang hidung saya lagi" ucapnya lagi sambil menunduk dan menghela nafasnya kasar dan dia sudah sangat sedih. Bahkan sudah meneteskan air matanya karena dadanya terasa sesak.
"Hmm" jawab Zayn yang langsung pergi menuju ruangan tahanan yang ternyata ada seseorang yang memang sedang mendapatkan hukuman dari orang-orang kepercayaan Zayn.
"Nasib, jadi perjaka tua. Huff..." gumam Austin yang memang sudah sangat frustasi karena usianya yang sudah banyak.
.
Zayn sudah berada didepan ruangan tempat ditahan orang yang sudah membuat masalah dengan nya. Bahkan yang sudah tidak biasa sekalipun sudah Zayn tundukan. Apa lagi sekarang bukanlah seorang pria atau bahkan pria atau wanita jadi-jadian sekalipun.
"King. Dia sudah tidak bisa diajak bicara baik-baik, bahkan dengan cara keras pun masih sama saja tidak mau mengatakan apapun pada kami" lapor anggota Zayn yang berada didalam sana pada Zayn.
Zayn tidak mengatakan apa-apa, tapi dia mendekat kearah wanita yang sedang duduk terikat diatas kursi. Zayn hanya menatapnya saja dengan tatapan tajamnya dan bisa seperti sebuah laser yang siap membakar apa saja yang dia tatap.
"Lepaskan saya. Saya lebih baik mati dari pada harus mengatakan apa yang kalian inginkan!" teriaknya sambil menatap Zayn dengan nyalang.
"Itu semua terserah padamu. Mau mengatakan nya terserah tidak pun tidak masalah buat saya. Tapi anda ingat satu hal penting ini" ucap Zayn yang memberitahukan dan memperlihatkan apa yang dia temukan dan dia tahu sekarang pada wanita muda itu.
"Lepaskan dia. Dia tidak salah apa-apa, kenapa kalian malah membuatnya seperti itu! Kalian kejam! Kalian semua ba****an dan tidak pantas disebut manusia! Lepaskan dia!" ucap wanita itu pada Zayn dan mengatakan berbagai macam sumpah serapah yang dia katakan.
"Ini bukanlah anggota kami. Anda bisa melihat ini bukan?" tanya Zayn yang memperlihatkan sesuatu yang bahkan bisa membuat wanita itu langsung bungkam setelah melihat tanda yang ada dibagian lengan kiri dari orang-orang hang menyekap seorang anak kecil. Dan terlihat sudah tidak berdaya sama sekali.
"Jika anda mau mengatakan yang sebenarnya pada kami. Kami yang akan menyelamatkan nya dari mereka semua yang sudah anda percayai itu" ucap Zayn yang mulai bernegosiasi dengan wanita itu.
"Saya tidak percaya! Kalian sengaja ingin membuat saya berkhianat pada mereka. Jika kalian mampu dan memang yakin kalau mereka lah pelakunya. Bawakan dia pada saya dengan selamat dan tanpa kekurangan satu apapun. Saya juga berjanji jika saya akan mengabdikan diri saya sendiri untuk anda" ucapnya yang tadi berteriak sekarang berbicara sedikit memelan dan sepertinya dia bisa menduga jika yang bisa dengan tega melakukan itu pada seorang anak kecil sekalipun.
.
.
.
Hai... Hai... Hai para reader kesayangan Othor... Maaf ya Othor baru bisa up sekarang, Othor cape banget kemarin. Boro-boro bisa pegang HP seharian dijalan mau pulang kampung. Jadi sangat lelah dan tidak bisa up...
Insya Allah besok akan up dengan rutin dan teratur jika badan sudah bisa diajak kompromi...
Oh iya nih, Othor mau ngasih tahu. Jika kisahnya Zaniya digabung disini saja atau buat Novel baru?
Tolong kasih jawaban nya ya dikolom komentar secepatnya... Soalnya sudah mulai awal bulan....
Jangan lupa hadiahnya ya buat Othor makin semangat walau badan rasanya remuk... 😔😔
Kasih saweran kembang sekebon bila perlu kembang 7rupa juga nggak masalah 😁😁
Kopinya juga ya sejembung, bila perlu pake toren sekalian 😁😁😁..
Maaf canda doank... Salam sehat semuanya dari Othor receh ini 🤗🤗🤗