Mr. Z CEO Of The Mafia

Mr. Z CEO Of The Mafia
S2~ Mengakuinya



Keesokan harinya seperti biasa didalam mainson Zayn masih terlihat sepi dan tidak ada yang menampakan batang hidungnya satupun. Tak berapa lama Zahiya turun lebih dulu dan merasa heran dengan keadaan mainson yang sepi tersebut.


"Pada kemana semua orang? Masih pagi seperti ini sudah tidak ada siapa-siapa?" gumam Zahiya yang menatap sekelilingnya tidak ada siapa-siapa.


"Apa anda membutuhkan sesuatu Nona Queen?" tanya Pak Mun yang bisa membedakan Zahiya dan Zaniya.


"Tidak Opa. Kemana semua orang? Apa saya bangun terlalu siang, dan semua orang sudah dengan aktifitasnya masing-masing?" tanya Zahiya yang selalu saja menampilkan wajah datarnya.


"Setahu saya belum ada yang keluar kamar Nona Queen. Baru anda yang keluar" jawab Pak Mun yang menunduk saat berbicara dengan siapa saja.


"Terimakasih Opa. Jika mereka mencari saya, tolong bilang jika saya sudah keluar" ucap Zahiya yang berpesan pada Pak Mun.


"Akan saya sampaikan Nona Queen" jawab Pak Mun sambil membungkuk.


Zahiya langsung pergi menggunakan motornya kembali. Dia akan selalu menggunakan motor setelah dia diberi kebebasan oleh Zayn. Sebelumnya dia masih ragu untuk melakukan apa yang dia sukai, tapi Zayn selalu mendukung dan memberikan motifasi untuknya.


"Aku harus segera menemukan gelang itu. Itu sangat berharga untukku, itu adalah pemberian dari Daddy untuk pertama kalinya. Apapun yang terjadi aku harus menemukan nya" gumam Zahiya yang langsung memacu motornya menuju suatu tempat yang ditunjukan oleh gelang tersebut.


"Perusahaan D.DRC?" gumam Zahiya yang melihat papan nama perusahaan yang sangat besar dan megah itu.


"Ada hubungan apa yang memegang gelang ku dengan perusahaan ini? Aku akan memeriksanya lebih teliti lagi untuk tahu dimana dia berada dan lebih pasti lagi" gumamnya yang langsung membuka ponselnya dan dia bisa melihat ada pergerakan dari gelangnya.


"Kenapa bergerak? Apa dia mengggunakan nya? ****! Dia benar-benar menggunakan nya" ucap Zahiya saat dia melihat seseorang yang keluar dari perusahaan dan alatnya juga menunjukan titik yang sama.


"Huh, tenang. Kamu pasti bisa Zahi" gumamnya menyemangati dirinya sendiri untuk bisa mendapatkan gelangnya.


Setelah mengamati semuanya dan dia tidak bisa mendapatkan kesempatan untuk bisa mengambil tanpa diketahui. Pasalnya Zahiya tidak tahu pria itu mengenakan nya disebelah mana bagian tubuhnya, ini sangat sulit untuk bisa menemukan nya.


"Huh, jalan satu-satunya aku hanya harus minta maaf pada Daddy. Karena aku sudah menghilangkan identitas ku sebagai Queen" gumam Zahiya yang menghela nafasnya berkali-kali dan dia terlihat sangat lesu.


Dia kembali memacu motornya untuk pulang kembali dan mengakui segalanya pada Zayn. Entah apa yang akan dilakukan oleh Zayn padanya, tapi dia lebih takut lagi jika dia berbohong.


.


Sedangkan didalam mainson sekarang sudah ramai. Karena penghuninya sudah bangun dan berkumpul bersama dimeja makan untuk sarapan. Seperti biasa Zaniya akan membuat heboh seluruh ruangan dengan tingkahnya itu.


"Morning Mommy, Daddy and bang Daf" ucap Zaniya yang menciumi pipi kedua orang tuanya dan Daffy dia menggunakan tangan nya untuk mencium Daffy.


"Morning baby" jawab Zayn pada Zaniya yang lebih suka dipanggil baby oleh Zayn.


Sedangkan Daffy hanya tersenyum dan mengangguk saat Zaniya menyapanya dan melakukan cium lewat tangan nya.


"Morning sayang. Bagaimana tidurnya? Apa nyenyak?" jawab Azalya yang menanyakan nya juga pada Zaniya.


"Seperti biasanya, selalu nyenyak" jawab Zaniya dengan senyuman mengembang dibibirnya.


"Apa kamu akan menggunakan mobil lagi? Padahal sejak kemarin motor kamu itu sudah ada digarasi loh" tanya Azalya yang memberitahukan jika motor kesayangan nya sudah ada didalam garasi.


"Apa Mommy serius? Kenapa tidak memberitahunya padaku?" tanya Zaniya yang mengerucutkan bibirnya kesal pada Azalya. Mommy nya sendiri.


"Kamu tidak bertanya. Kenapa Mommy harus repot-repot memberitahumu?" jawab Azalya dengan cueknya dan dia tidak memperdulikan putrinya yang kesal padanya.


Mereka semua langsung diam saat akan melangsungkan sarapan. Mereka merasa heran dengan kursi yang selalu digunakan oleh Zahiya selalu kosong semenjak dia tidak ingin kuliah ditempat umum lagi.


"Pak Mun, apa Queen tidak pulang dari semalam?" tanya Zayn pada Pak Mun saat melihat dia meletakan makanan diatas meja.


"Nona Queen sudah pergi satu jam yang lalu Tuan. Nona Queen bilang akan keluar dan saya disuruh menyampaikan nya jika ada yang bertanya pada saya" jawab Pak Mun pada Zayn.


"Hmm, Terimakasih" ucap Zayn pada Pak Mun.


Pak Mun mengangguk dan membungkuk lalu pergi kearah dapur lagi. Dia akan mengerjakan sesuatu atau mengawasi para pelayan yang sedang bekerja.


"Anak itu selalu saja menghilang seperti hantu. Sebentar lagi juga akan datang tiba-tiba" ucap Azalya sambil menggerutu karena putrinya yang satu ini memang lebih suka tidak ada dimainson dan diam diri saja.


"Mommy benar, jika Zahi itu sudah seperti jelangkung. Datang tak diundang pulang juga tak diantar, benerkan apa yang aku katakan?" tanya Zaniya yang malah tersenyum smirks saat mengatakan itu.


'Kapan lagi gue menistakan dia, Hahaha' ucap Zaniya yang sudah tertawa didalam hatinya dengan sangat kencangnya.


"Kamu ini ada-ada sih Zan. Saudara kamu sendiri dikatain jelangkung" ucap Daffy yang menimpali ucapan dari Zaniya.


Zaniya yang mendapatkan teguran dari Daffy hanya nyengir kuda. Dia tidak mau membahas lagi masalah itu dan berbuntut panjang nantinya.


"Mom, Dad. Aku sudah selesai dan akan berangkat sekarang, bye. Assalamualaikum" ucap Zaniya yang berpamitan pada Zayn dan Azalya lalu mencium punggung tangan kedua orang tuanya.


"Hati-hati, ingat bawa motornya jangan ngebut-ngebut" ucap Azalya yang memperingatkan putrinya.


"Oke Mom" jawabnya sambil melambaikan tangan nya pada Zayn dan Azalya.


"Dasar anak itu. Kamu tidak berangkat kuliah Daf?" tanya Azalya pada Daffy yang masih duduk dikursinya.


"Daffy masuk siang auntie. Daffy mau keluar dulu ya auntie, sekalian ngampus nanti siang" ucap Daffy sambil berpamitan juga pada Zayn dan Azalya. Dia juga melakukan hal yang sama seperti Zaniya lakukan.


"Hati-hati, jangan bergaul dengan orang-orang tidak benar. Karena auntie tidak mau jika kamu mengikuti anak muda jaman sekarang yang selalu melakukan pergaulan bebas diluaran sana" ucap Azalya yang memperingati Daffy untuk tidak salah gaul.


"Iya auntie, akan selalu Daffy ingat" jawab Daffy yang langsung pergi dari ruang makan.


Daffy melangkah menuju kamarnya untuk mengambil tas dan kunci mobil. Sekarang mobil yang digunakan oleh Zahiya sudah resmi menjadi miliknya. Karena sekarang Zahiya lebih suka menggunakan motor dibandingkan mobil.


.


Zahiya baru sampai didepan mainson. Dia seperti biasa tidak menggunakan pintu depan untuk memasuki mainson. Dia selalu menggunakan pintu penghubung ruangan kerja milik Zayn.


"Dad, apa aku mengganggu waktu Daddy?" tanya Zahiya saat sudah berada didalam ruangan kerja Zayn, Daddy nya.


"Emm, maaf Dad aku menghilangkan gelang pemberian dari Daddy" ucap Zahiya yang langsung to the point mengatakan langsung apa yang ingin dia katakan pada Zayn.


"Lalu?" tanya Zayn lagi.


"Aku sudah mencarinya dan tidak bisa menemukannya. Maafkan aku Dad, karena tidak bisa menjaga pemberian dari Daddy" ucap Zahiya lagi yang masih terus menunduk merasa bersalah.


"Apa Daddy harus membelikan yang baru lagi?" tanya Zayn yang menatap raut kesedihan diwajah putrinya ini.


"No Dad, aku berjanji akan menemukan nya apapun yang terjadi. Aku mungkin tidak bisa memasuki markas lagi tanpa identitas itu" jawab Zahiya yang tidak ingin jika Zayn merasa kecewa padanya.


"Jika begitu temukan. Jika ingin kemarkas, tinggal masuk saja. Mereka sudah tahu kamu adalah Queen" ucap Zayn yang membuat Zahiya merasa sedikit lega.


Karena Daddy nya tidak memarahinya, apa lagi murka padanya. Karena itu adalah barang berharga, selain harganya yang fantastis itu juga sangat langka. Zahiya sangat beruntung bisa memilikinya dan menggunakan nya.


"Thank you Dad" ucap Zahiya yang langsung mendekat kearah Zayn dan memeluknya dengan erat.


"Your welcome Queen. Apapun akan Daddy lakukan untukmu, jadi jangan pernah kecewakan Daddy. Jika kau mau Daddy bisa mengambilnya dari pria yang sedang kau incar itu" ucap Zayn yang pastinya sudah tahu segalanya tentang gelang dan siapa yang menemukan nya.


"Tidak perlu Dad, aku bisa menanganinya sendiri. Tapi mungkin membutuhkan waktu sedikit, tapi akan aku usahakan bisa mendapatkan nya kembali" ucap Zahiya.


"Jika begitu, buktikan pada Daddy Queen" ucap Zayn yang mengusap kepala Zahiya lalu mengecup pucuk kepalanya.


Zahiya mengangguk lalu pergi lagi. Tapi sebelum pergi dia melaporkan semua informasi yang dia dapatkan langsung dari Louis kemarin pada Zayn. Zayn dengan senang mendengarnya dan menerima semua apa yang sudah dihasilkan oleh putrinya.


"Tidak salah Daddy memilih kamu Queen. Semoga saja kali ini semuanya akan selesai dan tidak ada lagi sisa" gumam Zayn yang masih sangat ingat bagaimana dia dikhianati oleh satu-satunya orang yang sangat dia percaya.


Zayn menatap jendela dan melihat kearah depan disana sedang ada beberapa pelayan sedang membersihkan halaman. Dia masih sangat mengingat bagaimana dia bertahan sendiri dan tidak meminta bantuan dari siapa-siapa.


Karena dia hanya sendiri dan seorang introvert. Keadaan yang membuatnya kuat. Walau fisiknya tidak sekuat itu bisa dia lakukan hingga bisa menjadi King Mafia yang sangat terkenal dan juga ditakuti oleh semua Mafia maupun orang yang memiliki kekuasaan bawah.


.


Zaniya sedang duduk didalam kelasnya dan disana sudah ada Tama yang mengawasi semua gerak-geriknya dari kejauhan. Walau mereka sedang melaukan tugas mereka, Tama tidak bisa mengalihkan pandangan nya dari Zaniya yang memang sangat manis.


Setelah jam pertama selesai Zaniya bertemu lagi dengan temannya. Siapa lagi jika bukan Daniel yang sudah menunggunya didepan kelas untuk menuju kantin.


"Lama nunggu ya?" tanya Zaniya padanya Daniel.


"Lumayan lah, ada mungkin dua menit" jawab Daniel yang malah tersenyum sangat manis pada Zaniya.


"Itu baru saja bambank" ucap Zaniya yang menoyor kening Daniel yang lebih tinggi darinya.


Bisa dibilang Zaniya memang sangat imut dan tidak tinggi seperti Zahiya yang tingginya 175cm. Sedangkan dirinya hanya 165cm. Tapi itulah yang membuat Daniel semakin gemas dan sangat menyukainya, dia sangat imut dan juga manis walau tanpa riasan yang menempel diwajahnya.


"Kantin yuk, gue sudah lapar nih" ajak Daniel yang merangkul pundak Zaniya menuju kantin.


"Loe di London makan tihang listrik apa? Sampe tinggi gini?" tanya Zaniya dengan konyolnya dan menatap keatas dimana Daniel tinggi menjulang.


"Gue makan tihang sutet, puas loe! Gue dari dulu suka basket, cuman kurang pede. Tapi setelah disana gue berlatih terus makanya bisa setinggi ini" jawab Daniel yang awalnya judes jadi lebih hangat pada Zaniya.


"Oo" ucap Zaniya yang membulatkan mulutnya.


"Tinggi loe berapa sih? Rasanya lebih tinggi loe dibandingkan bang Daffy?" tanya Zaniya yang ingin tahu tinggi Daniel.


"192cm, kenapa memangnya? Tinggi banget ya untuk ukuran orang Indo?" jawab Daniel yang balik bertanya sambil menunduk kearah Zaniya.


"Banget. Makanya gue cape kalo harus lihat loe, wong tinggi bener" ucap Zaniya yang sudah duduk dikursi yang sudah disediakan oleh Daniel.


"Awalnya gue juga gitu sih. Cuman setelahnya gue nyaman-nyaman saja sih walau setinggi ini. Loe jangan cape dong, bila perlu gue gendong loe mau?" tanya Daniel yang memang sengaja ingin selalu dekat dengan Zaniya.


"Mbah surip kali ah, main gendong-gendongan segala. Gue masih punya kaki buat jalan, ngapain loe gendong" ucap Zaniya yang seperti biasa memesan banyak makanan untuknya.


"Thanks loe mau pesenin makanan buatan gue" ucap Daniel yang melihat Zaniya memesan banyak makanan.


"Siapa yang pesenin siapa? Gue pesen buat sendiri kali, loe pesen sendiri lah" jawab Zaniya yang mengatakan dengan cueknya.


Lalu dia mengecek ponselnya. Dia melihat ada pesan dari Tama, dia melihatnya dan dia terkejut. Ternyata yang mengirim pesan bukan Tama. Melainkan Ibunya, yang bilang jika ponsel Tama tertinggal dan minta tolong untuk memberitahukan nya pada Tama.


"Aaa, males banget gue. Kenapa sih harus bertemu dengan dua lagi" gerutu Zaniya yang membuat Daniel merasa bingung.


"Loe kenapa? Apa ada sesuatu yang penting?" tanya Daniel yang melihat Zaniya malah menggerutu tidak jelas.


"Nggak, nggak kok. Gue ada tugas kuliah lagi nanti" jawab Zaniya yang menutupinya dari Daniel.


'Masa iya, gue nyerita pada Daniel. Yang ada malah makin rumit saja, nanti saja lah nemuin dia setelah jam kedua selesai. Males banget jika bertemu dengan tuh kanebo kering, walau tidak bisa dipungkiri. Jika dia memang tampan' ucap Zaniya dalam hati sambil terus menatap layar ponselnya.


"Oke, jika loe butuh bantuan bilang gue saja. Siapa tahu gue bisa bantuin loe kan nanti?" tanya Daniel pada Zaniya yang masih memikirkan sesuatu.


"Oke, nanti loe siap-siap saja bakalan gue repotin loe nantinya" jawab Zaniya yang tersenyum dan menyimpan ponselnya kedalam tasnya.


"Dengan senang hati gue bakalan nerima saja apa yang bakalan loe lakukan" ucap Daniel yang juga tersenyum sambil mengusap kepala Zaniya dan sedikit mengacak rambutnya.


Mereka makan bersama. Dan disebrang sana ada seseorang yang sedang menatap kearah mereka berdua dengan sangat marah dan tatapan tidak sukanya pada mereka. Siapa lagi jika bukan Tama yang sedang melihat kearah mereka. Tapi dia tidak pernah mau mengakui jika dia memiliki perasaan lebih pada Zaniya.


.


.


.


Makanya bang, bilang saja langsung sama Zaniya nya. Nanti keburu ada yang ambil, nangis-nangis lagi dipojokan 🤣🤣🤣