
"Hubby, apa aku akan lama tidak bisa jalan seperti ini?" tanya Azalya saat masih merangkul lengan Zayn yang berada didekat nya saat ini.
"Jika kamu tidak banyak menggunakan nya mungkin akan cepat sembuh" jawab Zayn dengan menatap wajah Azalya yang juga sedang menatapnya.
"Abang yakin?" tanya Azalya lagi pada Zayn yang juga menatapnya.
"Hmm" jawab Zayn sambil mengangguk juga mengusap kepala Azalya.
"Apa abang sudah mulai ada rasa sama Aza?" tanya Azalya yang mengalihkan pertanyaan.
Zayn tidak menjawab dia hanya diam saja menatap pada Azalya. Zayn malah menggelengkan kepalanya karena mendengar pertanyaan yang sama terus menerus dari Azalya.
"Apa abang tidak mau mengatakan nya? Padahal aku ingin sekali mendengarnya langsung loh dari mulut hubby" ucap Azalya lagi dengan menampilkan puppy eyes nya didepan Zayn.
"Jangan pernah bicarakan atau menanyakan yang tidak penting" jawab Zayn yang malah tidak mau membahas masalah perasaan atau lain sebagainya.
"Ih, hubby nyebelin. Masa bertanya begitu saja tidak boleh" gerutu Azalya yang memanyunkan bibirnya.
"Itu berlaku sampai kapan pun" ucap Zayn lagi.
"Ya sudah, jangan harap bisa meminta jatah hubby lagi. Karena hubby kan tidak memiliki perasaan apapun bukan?" ucap Azalya yang tersenyum sinis pada Zayn.
"Tidak berlaku untuk yang satu itu. Karena itu adalah kewajiban mu" ucap Zayn dengan seringai tipis dibibirnya.
"Itu sih, enak di hubby. Masa aku nggak diberikan perasaan sih sama hubby? Kan curang itu namanya" gerutu Azalya yang protes akan ucapan Zayn yang tidak mau kalah jika urusan yang iya iya.
"Ini bukan permainan yang ada curang, menang atau kalah. So, jangan membuat ku marah. Oke" ucap Zayn lagi yang menatap dengan sangat dingin pada Azalya.
"Whatever!!! Aku nggak perduli, yang pasti aku nggak mau tidur sama hubby jika sudah sembuh dan harus memberikan apa yang hubby mau. Jangan harap itu terjadi!" ucap Azalya dengan sangat tegas juga pada Zayn.
"Kita lihat saja nanti. Jika nanti kamu sendiri yang akan memintanya sendiri" ucap Zayn dengan begitu percaya diri sekali.
"Oke. Kita lihat saja nanti, siapa yang akan memintanya lebih dulu" jawab Azalya yang dengan tugasnya pada Zayn. Padahal hatinya ketar ketir.
Zayn hanya menarik sudut bibirnya saja mendengar penuturan dari Azalya yang sangat yakin sekali. Zayn juga tahu jika Azalya sudah sangat menikmati apa yang pernah dia berikan padanya.
"Hubby, apa aku bisa kuliah lagi?" tanya Azalya yang mengalihkan pembicaraan mereka yang mana kearah yang lebih serius.
"Boleh, nanti akan ada dosen yang akan membimbing kamu disini" jawab Zayn yang mengiyakan permintaan Azalya tapi tidak untuk keluar mainson.
"Loh, kenapa datang kemari hubby? Bukan nya aku masih semester awal, jadi mana mungkin aku mendapatkan dosen pembimbing" tanya Azalya yang masih belum mengerti dengan apa yang dilakukan Zayn untuknya.
"Yang pasti sekarang kamu harus selalu ada dimainson dan tidak usah keluar mainson jika tidak ada keperluan dan jika itu bersama dengan ku" jelas Zayn yang seperti sebuah perintah yang mutlak untuk Azalya.
"Iya kenapa hubby? Apa alasan nya? Kenapa hubby melarang ku untuk keluar mainson, tanpa adanya hubby didekatku?" tanya Azalya yang ingin tahu apa alasan nya.
"Yang pasti kamu sedang dalam bahaya. Karena orang-orang Zian masih mengincar kamu" jawab Zayn yang tidak sepenuhnya berbohong.
"Oh, itu alasan nya. Jika iya, ya sudah aku mau diam saja dimainson. Dari pada harus berurusan dengan pria aneh itu" ucap Azalya yang mau menurut pada ucapan dari Zayn.
Zayn hanya mengangguk dan juga mengusap kepala Azalya dengan penuh kelembutan. Dia senang, Azalya mau mendengarkan apa yang dia perintahkan padanya.
"Hubby jangan pernah meninggalkan aku dengan keadaan apapun. Aku tidak mau menjadi janda diusia ku yang masih muda ini" ucap Azalya yang memeluk Zayn dengan sangat erat.
Tapi diujung kalimatnya malah membuat Zayn heran dan malah langsung menyentil kening Azalya dengan lumayan keras nya.
PLTAK...
"Kamu mendo'akan ku supaya cepat mati begitu?!" ucap Zayn yang tidak terima jika Azalya berbicara sembarangan seperti itu padanya.
"Hmm" jawab Zayn dengan deheman saja. Dia tidak bisa mengucapkan kata-katanya, karena dia sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi kedepan seperti apa.
Dari pada dia salah mengucapkan kata-katanya lebih baik dia diam saja. Karena dia tidak ingin menjanjikan sesuatu yang belum ada kepastian nya sama sekali.
"Kenapa hubby hanya berdehem saja?" tanya Azalya yang menatap wajah Zayn dengan seksama dan juga penuh selidik.
"Tidak apa-apa. Apa kamu ingin sesuatu?" jawab Zayn yang juga mengalihkan pembicaraan nya kearah lain.
"Hubby jangan mengalihkan pembicaraan by" ucap Azalya yang tahu jika Zayn sedang menghindari lertanyaan nya saat ini.
"Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa padamu. Karena aku sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi padaku kedepan nya" jawab Zayn pada akhirnya pada Azalya yang sedang menatapnya.
"Kenapa tidak bisa berjanji? Apa hubby sudah merencanakan akan pergi dari ku? Makanya tidak bisa berjanji padaku?" berbagai pertanyaan yang Azalya berikan padanya sungguh membuat hati Zayn terasa perih.
"Kamu jangan berfikiran macam-macam. Karena umur mana ada yang tahu kedepan nya seperti apa" ucap Zayn yang mencoba menenangkan Azalya supaya tidak bersedih.
"Hubby tega. Kenapa harus bilang seperti itu? Apa hubby tidak ingin jika kita akan selalu bersama-sama hingga tua dan juga bersama anak-anak kita nantinya? Mungkin saja jika saat ini sudah ada didalam sini" ucap Azalya yang dengan panjang lebar juga meletakkan tangan Zayn diatas perutnya sendiri sambil mengusapnya.
"Berjanjilah jika hubby akan selalu ada untuk aku dan Zayn Junior. Promise me?" tanya Azalya dengan tatapan yang sudah sangat serius menatap mata Zayn dengan sangat dalam.
Zayn hanya mengangguk dengan semua yang diucapkan oleh Azalya barusan. Harinya menghangat mendengar penuturan Azalya yang bilang jika dia harus bisa berada didekat Azalya dan juga Zayn Junior.
Mereka berdua saling berpelukan dengan mencurahkan semua rasa sayang yang ada didalam hatinya. Hingga mereka berdua tidak sadar jika sikap keduanya disaksikan oleh para orang tua yang tidak sengaja mendengarkan semua pembicaraan mereka berdua.
.
Sedangkan ditempat lain Angga sudah menyuruh seseorang untuk bisa masuk dan juga menjadi bagian dari musuh mereka sendiri. Saat mengatakan jika ini adalah kasus yang sangat berbahaya dia sendiri yang menyanggupinya.
"Apa kau sudah yakin dengan semua yang sudah aku katakan?" tanya Angga untuk yang keberapa kalinya.
"Saya sudah siap Tuan. Karena hidup dan mati saya sudah saya serahkan kepada Tuhan saja" jawabnya dengan sangat tegas juga tidak ada ketakutan sedikit pun.
"Jika kau sudah yakin. Lakukan lah sesuai yang sudah saya jelaskan pada mu tadi" ucap Angga pada anggotanya yang sudah siap untuk dikirim kesana.
"Siap Tuan" jawabnya dengan sangat tegas.
"Untuk yang lainnya. Lakukan tugas kalian dengan baik, karena King tidak suka jika ada kesalahan sekecil apapun" ucap Angga yang memerintahkan pada semua anggotanya yang lain.
"Siap Tuan" jawab mereka semua serempak dengan penuh ketegasan dan juga keberanian nya sendiri.
"Sekarang kerjakan dengan baik dan juga benar" titah Angga pada semua anggotanya yang ada dihadapan nya saat ini.
Angga langsung pergi dari tempat pelatihan dan juga akan segera melaporkan apa yang sudah dia lakukan dan juga semuanya sudah sesuai dengan rencana yang ada. Dengan begitu Angga dan Zayn hanya akan menunghu informasi dari orang yang dia suruh.
Angga sudah sampai dimainson Zayn dengan wajah yang seperti biasa. Dia yang akan memasuki lift heran melihat para orang tua sedang menatap kearah ruang keluarga semuanya. Entah apa yang sedang mereka lihat saat ini. Yang jelas Angga tidak ingin ikut campur dalam masalah keluarga dari King nya ini.
.
.
.
Saweran nya mana ya... 💃💃
Othor minta kembang dong sekebon.... Dan juga kopinya seember.... 😁😁😁