
Tama tidak bisa fokus melakukan pekerjaan nya. Karena dia terus saja memikirkan Zaniya yang mungkin saja sekarang sudah sampai dirumahnya.
"Kenapa aku selalu memikirkan nya terus? Ada apa dengan diriku?" gumamnya menanyakan dirinya sendiri.
Tama terus saja menghela nafasnya hingga dia memutuskan untuk pulang saja. Apa lagi dia juga bekerja ditempat lain untuk nanti malam.
Setelah sampai didepan kampus dia melihat ada seseorang yang mirip dengan Zaniya yang masih berada diparkiran kampus. Saat dilihat lebih dekat ternyata bukan, mungkin saja isi fikiran Tama sudah dipenuhi oleh gadis bar-bar dan selalu bisa menggodanya itu.
"Kenapa dengan pandangan ku ini? Kenapa hanya dia yang bisa aku lihat?" gumamnya sambil menepuk-nepuk pipinya sendiri lalu dia memasuki mobilnya.
Motor Zaniya yang dia pinjam sudah dia kembalikan saat itu juga. Saat Zaniya sudah masuk Tama sengaja tidak membawa pulang motor Zaniya. Dia memberikan pada bodyguard yang sedang berjaga didepan gerbang mainson milik Zayn.
.
Sedangkan Zaniya sedang menggerutu kesal. Karena tugas yang diberikan oleh Tama sangat banyak dan sangatlah membosankan baginya. Dia terus saja menggerutu dan tidak segera mengerjakan tugasnya itu.
"Ish, dasar kanebo kering! Tukang siksa. Mana ada dosen yang memerintahkan mahasiswanya melakukan tugas sebanyak ini? Yang ada otak gue meledak jika terus-terusan mengerjakan tugas sebanyak ini! His.." gerutu Zaniya yang malah membolak balikan buku-buku yang ada dihadapan nya.
"Apa gue minta bantuan Zahiya saja gitu? Tapi dimana dia saja gue tidak tahu. Aaaaa, menyebalkan!!!" teriak Zaniya yang membuat Daffy yang melewati kamarnya menjadi panik dan langsung masuk kedalam kamar Zaniya.
"Zan, ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi pada kamu? Ada yang sakit? Apa kamu terjatuh atau... " belum sempat Daffy menanyakan kelanjutan apa yang akan dia tanyakan dipotong oleh Zaniya.
"Bang Daf, aku nggak apa-apa. Kenapa pertanyaan nya begitu panjang dan tidak ada remnya?" Tanya Zaniya malah menggoda Daddy.
"Zaniya, Zaniya... Abang sudah panik mendengar teriakan kamu tadi, kamu malah biasa-biasa saja. Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa kamu berteriak?" tanya Daffy yang menghela nafasnya kasar.
Padahal dia sudah sangat panik karena mendengar teriakan Zaniya. Yang ditanya malah cengengesan seperti tidak terjadi apa-apa. Yang ada membuat Daffy kesal dan juga khawatir.
"Aku berteriak karena kesal bang, bukan karena kenapa-kenapa" jawab Zaniya yang mengerucutkan bibirnya kesal.
"Kesal kenapa? Apa yang membuat kamu kesal? Kamu sudah membuat abang panik setengah mati tahu nggak?" tanya Daffy sambil mengusap dadanya yang tiba-tiba berdebar sangat kencang karena dia sangat panik.
"Sorry, sorry bang. Aku kesal saja sama dosen aku yang baru itu. Masa aku dikasih tugas sebanyak ini dan segambreng. Mana semuanya membuat otak aku nggak mau berfikir lagi, dari pada dipendam. Ya aku teriak saja tadi. Maaf sudah buat abang panik" ucap Zaniya yang memegang kedua telinganya meminta maaf sambil tersenyum dan mengedip-ngedipkan matanya berulang kali pada Daffy.
"Huft... Yang sudah, jika kamu perlu bantuan kenapa kamu nggak nanya sama Zahiya saja? Dia pasti mengerti dengan tugas-tugas kamu itu. Jika kamu minta bantuan abang yang ada abang akan kasih akuntansi keuangan" ucap Daffy memberi saran pada Zaniya. Dia juga mencoba menggoda Zaniya supaya tidak kesal lagi.
"Jika itu nggak perlu abang suruh juga aku bakalan ngelakuin hal itu. Tapi yang jadi masalahnya adalah, Zahiya entah diamana dia sekarang. Tadi saja abang lihat kan dia tidak ikut makan malam bareng?" jawab Zaniya yang menanyakan nya juga pada Daffy.
"Iya juga, kenapa abang baru ingat ya? Yang sudah jika kamu tidak mengerti atau tidak bisa, minta bantuan uncle kan bisa. Atau kamu bawa lagi saja kekampus, dan minta bantuan sama dosen kamu itu. Gampang kan?" ucap Daffy yang langsung kabursebelum Zaniya mengamuk.
"Abang nyebelin banget sih!!!" teriak Zaniya yang mengejar Daffy yang sudah berlari masuk kedalam kamarnya dan langsung mengunci pintunya.
"Maaf Zan, Abang tidak tahu. Sekarang lebih baik Kmu kerjakan sendiri saja" teriak Daffy dari dalam kamarnya dan dia tidak ingin menghadapi kemarahan dari Zaniya.
BRAK...
BRAK...
BRAK...
"Buka pintunya bang!! Atau aku dobrak ya pintunya? Aku hitung sampai tiga, jika nggak dibuka juga aku dobrak!" teriak Zaniya yang sedang mengambil ancang-ancang akan mendobrak pintu kamar Daffy.
"1... 2.... Ti...." belum selesai Zaniya menghitung angka tiga sudah mendapatkan jeweran dari Mom Azalya yang terlihat murka karena anak gadisnya sudah bersikap seperti preman.
"Aaaaa, ampun Mom... Kenapa Mommy malah menarik telinga Zani sih Mom?" ucap Zaniya yang mengusap-ngusap telinganya yang panas karena tarikan dari Mommy nya.
"Apa! Apa kamu fikir Mommy tidak mendengarnya hah! Kamu fikir Mommy ini tuli? Kamu sudah gedor-gedor pintu kamar Daffy. Maksud kamu apa? Mau jadi jagoan? Atau jadi preman sekalian!" ucap Azalya yang sudah sangat emosi melihat tingkah putrinya yang satu ini.
"Ya nggak gitu juga Mom. Aku sedang ngejar bang Daffy yang sudah menggoda ku. Makanya aku gedor-gedor pintu kamarnya. Tuh kan bang Daffy nya keluar juga" jelas Zaniya yang tidak ingin mendengar ceramah dari Mommy nya yang akan menghabiskan waktu empat puluh hari empat puluh malam.
"Terserah kalian. Punya anak gadis kok ya kelakuan nya sudah seperti apa saja. Mainson juga menjadi seperti pasar. Berisik!" gerutu Azalya sambil melangkah meninggalkan Zaniya dan Daffy yang masih berdiri mematung dihadapan pintu kamar Daffy.
Azalya tidak sadar jika dia juga dulu seperti itu jika bersama dengan Alkana akan sama seperti Zaniya dan Daffy sekarang.
"Mulai deh Mommy ngomel-ngomel" ucap Zaniya meninggalkan Daffy yang malah menatap bingung pada Zaniya yang tidak jadi melanjutkan pertengkaran mereka berdua.
"Dia lupa dengan yang tadi karena kedatangan auntie Azalya. Jika tidak mungkin Zaniya akan melakukan hal yang tidak terduga" gumam Daffy yang baru saja akan masuk kedalam kamarnya sudah mendapatkan pu*ulan dari Zaniya.
"Hahaha, abang kira aku akan lupa? Nggak lah" ucap Zaniya yang memu*ul Daffy menggunakan bantal sofa yang ada didekat mereka.
"Kamu ngajak abang perang rupanya. Sini, abang balas" ucap Daffy yang mulai saling serang menggunakan bantal sofa.
"Sudah bang, aku cape juga haus. Aku mau ambil minum dulu, apa abang mau sekalian?" tanya Zaniya yang mengatur nafasnya setelah perang bantal mereka berdua.
Zaniya menuruni anak tangga dan dia melihat sekeliling sudah tidak ada siapa-siapa lagi disana. Tumben Mommy dan Daddy nya sudah tidak ada lagi disana.
Zaniya melangkah menuju dapur dan disana dia bertemu dengan pak Mun yang sedang memati-matikan lampu yang masih menyala.
"Nona, apa anda membutuhkan sesuatu? Biar saya ambilkan" tanya Pak Mun saat melihat Zaniya mendekat kearahnya.
"Nggak apa-apa Opa. Zani hanya ingin mengambil air minum saja, Opa belum tidur?" jawab Zaniya yang juga balik bertanya pada Pak Mun.
"Biar saya ambilkan untuk Nona. Sebentar lagi saya akan tidur" ucap Pak Mun yang menawarkan dirinya juga menjawab pertanyaan dari Zaniya.
"Nggak perlu Opa, Zani bisa melakukan nya sendiri. Opa segera istirahat saja, Opa sudah tua jangan banyak kerja berat. Bisa-bisa Opa sakit lagi, Zani nggak mau jika Opa sampe sakit" ucap Zaniya yang merebut gelas dan botol minum yang ada ditangan Pak Mun.
"Jangan protes. Opa sekarang masuk kamar dan istilahat, atau aku akan marah pada Opa" ucap Zaniya yang mengatakan nya saat Pak Mun akan protes dengan apa yang dilakukan olehnya.
"Baik Nona, saya akan kekamar setelah anda juga naik keatas lalu istilahat" jawab Pak Mun yang mengalah jika sudah berbicara dengan Zaniya yang tidak mau mengalah.
"Ish, ya sudah. Opa masuk kamar, Zani juga naik kelantai dua. Oke, jangan protes" ucap Zaniya yang terpaksa diangguki oleh Pak Mun.
Setelah mengatakan itu baik-baik Zaniya maupun Pak Mun mereka berjalan berlawanan arah. Karena mereka sudah membuat perjanjian jika mereka akan melakukan apa yang mereka katakan.
"Ini bang minumnya" ucap Zaniya yang menyerahkan air mineral untuk Daffy.
"Makasih Zan. Kamu habis ngapain dibawah sedikit lama ngambil air minumnya?" ucap Daffy sambil bertanya juga pada Zaniya.
"Biasa, ada masalah teknis. Aku duluan masuk kamar yang bang, sudah larut dan mengantuk juga. Good night abang Daffy" ucap Zaniya yang melambaikan tangan nya pada Daffy sebelum masuk kedalam kamarnya.
"Good night too my sister. Sweet dreams" jawab Daffy yang langsung mendapatkan anggukan dan acungan dua jempol dari Zaniya.
"Anak itu tidak pernah berubah, masih sama dan selalu bisa menghibur semua orang. Semoga kamu selalu bahagia Zan, semoga kelak kamu bisa mendapatkan seorang pria yang bertanggung jawab seperti uncle Z pada semua keluarganya" gumam Daffy yang juga langsung masuk kedalam kamarnya.
.
Zahiya sudah mengetahui setengah dari rencana yang dimiliki oleh Opa nya sendiri. Siapa lagi jika bukan Opa Louis, dia ternyata tidak sia-sia menyamar sebagai Zaniya selama seharian ini. Dia merasa lelah dan melepasakan semua topeng yang ada pada dirinya.
Topeng yang dia gunakan adalah topeng keceriaan dan juga bukan karakter dari dirinya. Saat sedang mengendarai motornya, Zaniya bertemu dengan seseorang yang sedang ditodongkan senjata mainan oleh beberapa perampok yang berniat merampok seseorang yang tidak dia kenal.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi Zahiya langsung menyerang beberapa orang perampok tersebut lalu dengan mudahnya dia bisa menumbangkan mereka semua.
Zahiya langsung pergi sebelum seseorang itu mengucapkan kata-kata terimakasih nya. Karena Zahiya tidak ingin berbasa-basi dengan orang asing. Dia langsung memacu motornya dengan kecepatan penuh. Membuat orang yang ada disana bingung dan juga takut akan terjadi sesuatu padanya.
"Lumayan melelahkan juga gari ini" ucap Zahiya yang sudah sampai didalam kamarnya. Entah bagaimana caranya dia bisa masuk tanpa menggunakan pintu depan atau belakang.
Saat akan membersihkan dirinya dia baru sadar. Jika gelang pemberian dari Zayn Daddy nya tidak ada lagi ditangan nya.
"****! Kenapa bisa tidak ada. Apa mungkin dia jatuh? Tapi jatuh dimana?" gumamnya yang langsung ingat jika didalam gelang tersebut ada sebuah pelacak yang akan menunjukan dimana keberadaan nya.
Zahiya langsung membuka laptop dan dia langsung mencari keberadaan gelangnya. Dia mengerutkan keningnya saat gelang tersebut menunjukan keberadaan nya disebuah perumahan elite dan seingatnya dia tidak pernah memasuki perumahan tersebut. Dia langsung bangkit dan menggunakan ponselnya untuk menunjukan arah jalan menuju gelangnya.
Diperjalanan dia terus melihat kearah ponselnya dan tidak menunjukan pergerakan didalamnya. Dia ingin segera mengambil dan segera istirahat, rasanya seluruh tubuhnya terasa remuk semua.
"Apa benar jika ini tempatnya? Jika iya, aku harus segera masuk dan cepat keluar lagi. Sebelum mereka semua menyadari adanya penyusup" gumam Zahiya yang langsung mematikan seluruh CCTV didalam maupun diluar rumah tersebut menggunakan keahlian nya yang bisa membajak system seperti apapun. Jangankan sebuah CCTV yang akan dengan mudah bisa diakali olehnya.
"Dimana gelang ku? Kenapa aku cari-cari tidak ketemu juga" gumamnya yang terus mencari dimana gelangnya.
CKLEK...
"Hey, siapa loe. Kenapa loe bisa masuk kedalam kamar gue? Hey!!" teriak seseorang yang memergoki Zahiya sedang mengacak-ngacak kamarnya.
"Huh, hampir saja ketahuan" gumam Zahiya yang sudah berhasil kabur dari rumah tersebut dan segera melajukan motornya menuju mainson.
"Lebih baik besok saja aku fikirkan lagi bagaimana caranya untuk mengambil gelang tersebut. Tapi sekarang lebih baik istilahat saja, karena aku sudah tidak bisa lagi melakukan hal lain. Selain tidur dengan tenang dan nyenyak" gumamnya yang sudah berada didalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Zahiya langsung merebahkan dirinya setelah selesai mandi dan dia sudah tidak ingat apa-apa lagi jika sudah seperti ini. Dia benar-benar sangat kelelahan, apa lagi harus berpura-pura menjadi Zaniya yang selalu banyak bicara.
.
.
.
Seperti biasa ya, Othor selalu mengingatkan untuk selalu meninggalkan jejaknya buat selalu like, komen, vote dan hadiah nya....