Mr. Z CEO Of The Mafia

Mr. Z CEO Of The Mafia
Mendapatkan pekerjaan



Azalya berjalan tak tentu arah hingga dia kelelahan dan dia duduk dibawah pohon yang rindang. Dia benar-benar tidak tahu harus apa, Dia menatapi wajah dua anak kembarnya yang tidak ada miripnya dengan dirinya.


"Apa kalian berdua sama seperti Daddy kalian? Kalian memang jagoan-jagoan Mommy yang sangat berharga dan juga penyemangat Mommy supaya bisa lebih kuat dan bisa mengingat semuanya tentang masalalu Mommy sebelum berada disini" ucap Azalya yang mengusap kedua pipi twins baby Z yang masih terlelap.


"Ya Tuhan. Apa yang harus saya lakukan sekarang? Aku sama sekali tidak memiliki uang untuk hidupku dan juga anak-anak ku. Apa yang harus hamba lakukan?" ucap Azalya yang menatap langit mulai terik.


"Kalian berdua harus bisa mengerti Mommy ya sayang. Kita akan ke kota untuk bisa merubah hidup kita lebih baik lagi, kita akan jalani semuanya bertiga dan juga kita cari Daddy. Oke sayang" ucap Azalya yang mendorong kembali stroller baby twins yang masih anteng walau sudah terbangun.


Sedangkan Mark yang mengikuti Azalya hanya bisa diam dan mengawalnya sampai dia bisa berada dikota besar dan memang jauh dari Zayn. Bukan hanya jauh tapi sangat jauh dan berbeda negara.


Azalya sudah sampai ditelinga jalan dan ingin menuju kota, dia bingung harus bagaimana. Karena uang saja dia tidak punya, hingga ada seseorang yang melintas dengan mobil bermuatan binatang ternak yang akan dikirimkan ke kota.


"Mau kemana neng? Sudah panas terik seperti ini?" tanya Bapak yang sedang membawa mobilnya berhenti tepat disamping Azalya.


"Mau ke kota Pak, tapi sayang tidak punya uang untuk kesana. Apa boleh saya menumpang sampai kesana?" jawab Azalya yang meminta tolong pada supir mobil tersebut.


"Waduh neng, jikapun neng mau pasti akan tidak nyaman untuk kedua bayi eneng. Apa tidak masalah? Jika tidak masalah silahkan naik neng" ucap Bapak tersebut dengan ramah pada Azalya.


"Benar Pak? Wah, Terimakasih banyak Pak. Semoga kebaikan Bapak Tuhan ganti lebih banyak lagi" ucap Azalya yang memlipat stroller baby nya menjadi kecil dan dia tempatkan dibawah kakinya.


"Amin... Sama-sama neng, ngomong-ngomong eneng ke kota mau bertemu siapa? Biar Bapak bantu sekalian, karena eneng pasti repot jika berjalan sendirian seperti tadi" ucap Bapak tadi dengan niat yang sangat baik pada Azalya.


"Saya tidak tahu Pak, saya hanya ingin bisa bekerja dan bisa menghidupi kedua bayi saya saja Pak" jawab Azalya tidak terlalu yakin dengan apa yang akan dia lakukan setelah sampai di kota besar nanti.


"Ya ampun neng, jika eneng tidak ada tujuan yang pasti eneng akan susah disana. Mungkin akan banyak orang-orang jahat yang mengincar eneng. Apa eneng tidak takut? Apa lagi membawa dua bayi" tanya Bapak supir tersebut dengan menatap terus kedepan dan menoleh sekilas pada Azalya.


"Ya mau bagaimana lagi Pak, saya tidak punya siapa-siapa dan memang harus bisa mandiri. Jika Bapak memiliki kenalan orang yang membutuhkan jasa pembantu saya mau Pak, karena saya hanya bisa mengerjakan pekerjaan seperti itu" jawab Azalya yang menanyakan pada pak supir untuk mencarikan nya pekerjaan untuk menjadi asisten rumahtangga.


"Jika itu banyak yang membutuhkan neng, Tapi saya tidak tahu jika membawa anak boleh apa tidak. Yang pasti eneng harus bersabar jika ingin bekerja disana. Kebetulan saya akan mengantarkan pesanan daging untuk keluarga kaya raya neng. Mengulang bisa ikut kesana juga, siapa tahu memang diterima bekerja disana" ucap Pak supir tersebut dengan tatapan yang sangat teduh dan juga baik hati tersebut.


"Bapak serius? Saya mau pak, mau banget malah jika memang Bapak mau membawa saya kesana" tanya Azalya dengan sangat antusias dan juga terlihat sangat senang mendengar jika ada pekerjaan untuknya.


"Kalian dengan twins, Mommy akan mendapatkan pekerjaan. Jadi kalian harus baik budi dan jangan rewel, oke" ucap Azalya pada kedua baby yang sedang dia pangku tersebut.


Keduanya seakan mengerti dengan ucapan dari Mommy nya malah tersenyum dan memejamkan matanya kembali, mereka berdua sangat mendukung dan juga tidak menyusahkan Mommy nya. Seolah mereka patuh dengan apa yang pernah dia dengar sewaktu didalam kandungan sebelum Daddy nya pergi.


Setelah menempuh perjalanan lumayan panjang, mobil yang dikendarai oleh Pak supir tersebut sudah sampai didepan sebuah mainson yang sangat besar dan juga sangat bagus terlihat dari depan nya saja. Apa lagi jika sudah masuk kedalam nya, mungkin akan lebih besar lagi.


"Silahkan neng, saya sudah bilang pada kepala pelayan untuk menjelaskan pada eneng pekerjaan apa saja yang harus mengawal lakukan. Eneng sudah bisa langsung bekerja disini" ucap Bapak supir itu pada Azalya.


"Bapak serius Pak? Saya sudah bisa langsung bekerja disini sekarang Pak? Tanpa persyaratan apa-apa?" tanya Azalya dengan sangat bahagia dan juga senang mendengar dia boleh langsung bekerja.


"Iya neng, sekarang neng langsung ikut saja dengan kepala pelayan itu" ucap Pak supir yang menunjuk kepala pelayan yang sedang menunggunya didepan pintu masuk.


"Makasih Pak, makasih" ucap Azalya yang langsung salim dan mencium tangan Pak supir itu dengan binar kebahagiaan nya.


"Sama-sama neng, sana neng pergi sekarang. Nanti malah dimarahi lagi, betah-betah disini ya neng" ucap Pak supir tersebut langsung memasuki mobilnya dan pergi untuk mengantarkan ternaknya lagi.


Azalya memasuki mainson dengan pandangan kagum dan dia melihat-lihat dan juga mengingat apa saja yang boleh dan tidak boleh dia lakukan didalam mainson ini. Azalya terus mengikuti hingga berada dipafiliun belakang yang akan dia tempati bersama dengan kedua putrinya yang cantik-cantik.


"Kamu hanya bertugas untuk membersihkan setiap kamar saja yang ada didalam mainson ini. Tapi kamu harus berhati-hati jika membersihkan kamar Tuan yang berada paling atas, jangan pernah memindahkan barang satu inci pun juga. Karena Tuan akan sangat marah jika barang-barangnya ada yang bergeser apa lagi berpindah" jelas kepala pelayan yang menjelaskan apa saja pekerjaan Azalya yang mengekorinya.


"Tuan juga tidak pernah pulang kemari. Tapi beliau tidak ingin jika semuanya berantakan, karena Tuan tidak tahu akan datang dan akan perginya itu kapan. Jadi jangan pernah membuat kesalahan sekecil apapun jika masih ingin bekerja dan juga bisa hidup dengan tenang disini" ucap Pak Mun pada Azalya yang mengangguk dan mengingat-ingat semua yang dikatakan oleh Pak Mun padanya.


"Apa sudah mengerti semuanya? Jika sudah untuk saat ini kamu boleh berisatirahat dulu, besok boleh langsung bekerja dari pagi hingga siang hari. Apa kamu mengerti?" tanya Pak Mun pada Azalya yang dijawab anggukan kepala oleh Azalya.


"Ngomong-ngomong siapa nama kamu dan juga kedua bayi kembar kamu itu?" tanya Pak Mun lagi pada Azalya yang dia lupa menanyakan nama pada saat bertemu pertama kali tadi.


"Nama saya Azalya Pak, sedangkan kedua baby saya bernama Zahiya dan Zaniya" jawab Azalya memperkenalkan dirinya dan juga kedua bayinya.


"Baik, akan saya ingat nama kamu dan keduanya bayi kamu. Kamu saya panggil Alya bagaimana? Supaya tidak terlalu panjang memanggil nama kamu" tanya Pak Mun pada Azalya yang mengangguk mengiyakan ucapan dari Pak Mun yang memberikan nama panggilan untuknya.


Setelah mengatakan itu pada Azalya, Pak Mun lambung pergi dan membiarkan Azalya untuk berisatirahat dulu hari ini. Karena dia harus saja melewati perjalanan jauh dan pasti melelahkan.


"Sayang, kita akan tinggal disini bersama-sama sayang. Jangan nakal dan rewel ya jika Mommy sedang bekerja, nanti disini akan ada yang menjaga kalian disini. Kalian harus patuh ya dan juga menurut" ucap Azalya pada kedua anak-anaknya yang sedang terlelap tapi bibirnya tersenyum membuat Azalya semakin gemas dan dia merebahkan dirinya disamping anak-anaknya yang sudah terlelap diatas ranjang yang lumayan berukuran besar.


Azalya seperti bermimpi sedang bersama dengan seorang pria yang sangat berkarisma dan juga sangat tampan. Dia sering disentil keningnya olehnya, dengan reflex menyentuh keningnya dan dia tidak sadar meneteskan air matanya. Rasanya sangat sesak melihat mimpi yang sedang dia alami sekarang.


"By, kapan hubby menjemput kami? Kami merindukan hubby" ucap Azalya tanpa dia sadari mengatakan itu.


Azalya menangis sesegukan mengatakan itu semua dalam tidurnya dan dialam bawah sadarnya. Dia melihat pria itu malah pergi menjauh dengan wajah yang sangat menakutkan. Apa lagi dia melihat banyak darah ditangan pria itu.


"Hubby....!!" teriak Azalya yang langsung bangun dan mengacungkan tangan nya seperti sedang menahan sesuatu.


"Kenapa aku bermimpi seperti itu? Kenapa juga aku menangis? Aneh banget, apa itu adalah penggalan-penggalan memori dan juga ingatan ku dulu? Jika iya, siapa pria itu dan kenapa aku memanggilnya dengan sebutan hubby? Ya Tuhan, jika memang dia adalah orang yang dekat dengan masalalu ku. Dekatkan dia padaku dan segera pertemukanlah dengan kami" gumam Azalya yang langsung mengambil air wudhu untuk mengerjakan sholat.


"Ya Allah, tolong tunjukan jalan yang terbaik untuk kami. Jika memang dia adalah suami hamba tolong sampaikan padanya, jika kami sedang menunggunya dan sedang menantikan kedatangan nya. Tolong sampaikan padanya jika kami sangat merindukan nya" do'a Azalya sambil menangis terisak dan dia langsung membuka mukena yang sengaja disediakan oleh pelayan yang ada didalam mainson ini untuk pelayan Muslim.


.


Sedangkan dinegara lain, lebih tepatnya di America Zayn merasakan ada yang memanggilnya, dan itu terdengar tidak asing lagi ditelinganya. Zayn langsung bangkit dari duduknya dan menuju pintu keluar.


Semenjak Azalya tidak ada lagi Zayn tidak pernah pulang ke mainson miliknya. Karena dia merasa sangat kesepian, tidak ada wanita yang selalu membuatnya kesal sekaligus merindukan nya.


"Apa kalian baik-baik saja disana? Aku akan mencari kalian bagaimana pun caranya. Semoga saja kalian baik-baik saja walau jauh dari ku sekarang" ucap Zayn yang menatap langit malam yang sangat hitam pekat tanpa adanya bintang.


"Apa kamu menamakan nama yang aku bilang pada kamu sweetie? Zahiya dan Zaniya, nama yang cantik dan juga pasti baik hati. Sweetie, aku sangat merindukan mu" ucap Zayn yang tanpa terasa meneteskan air matanya juga mengingat Azalya dan juga twins baby Z yang sekarang pasti sudah semakin menggemaskan.


Zayn terus menatapi langit kamar yang tidak bisa menjawab dan juga hanya diam saja. Zayn tidak mengatakan apa-apa lagi, hanya diam dan berharap jika suatu saat nanti anggotanya yang dia tugaskan untuk mencari Azalya segera menemukan nya dengan kedua putrinya.


.


.


.


Yuk, main tebak-tebakan sama Othor.... Kira-kira Azalya bekerja di mainson siapa?...


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya untuk like, komen, vote dan hadiahnya ya buat Othor supaya makin semangat buat selalu up tiap hari...


Subscribe dan pollow akun Othor juga ya, supaya setiap ada bab baru langsung tahu....