
"Zan, kenapa malah pergi? Kamu aku suruh untuk mengerjakan semua ini" ucap Tama yang mengejar Zaniya menuju pintu keluar kelas.
"Aku malas melakukan nya. Abang saja yang melakukan, jangan maksa-maksa aku" jawab Zaniya judes dan dia malah cemberut dan membuat Tama semakin gemas melihatnya.
"Apa masih akan marah, hmm?" tanya Tama saat memperlihatkan sebungkus coklat kesukaan Zaniya.
"Abang mau nyogok aku? Nggak bisa, lebih baik aku keluar" ucap Zaniya, tapi berbeda dengan isi hatinya yang sangat menginginginkan nya.
'Aduh, gue terima nggak ya? Kalo gue terima tengsin dong gue, tapi kalo ditolak juga sayang. Ah, kenapa gue jadi dilema gini sih' teriak batin Zaniya yang merasa bingung. Antara menerimanya atau menolaknya.
"Yakin nggak mau nerima?" tanya Tama sambil menggoyang-goyangkan coklat yang ada ditangan nya pada Zaniya.
"Ya... Yakin lah" jawab Zaniya yang mengucapkan kata yakin tapi seperti terpaksa.
"Ya sudah, saya akan memakan nya sendiri. Tadinya saya memang sengaja membelikan nya untuk kamu, karena kamu nggak mau ya... Mau bagaimana lagi?" ucap Tama yang saat itu juga membuat Zaniya langsung merebut coklat tersebut dari tangan Tama.
"Aku berubah fikiran!" jawab Zaniya judes lalu membuka dan langsung memakan coklat kesukaan nya.
"Apa enak?" tanya Tama saat Zaniya makan coklat dengan sangat lahapnya hingga belepotan dibibirnya. Tama mengusap bibir Zaniya yang terkena coklat dan langsung menjilat jarinya yang mengusap bibir Zaniya.
Zaniya membolakan matanya karena apa yang dilakukan oleh Tama seperti seorang kekasih. Dia menatap Tama tanpa berkedip, lalu dia mengerjap-ngerjapkan matanya dan langsung berteriak.
"Aaaa, abang apaan sih?!!" ucap Zaniya yang memu*ul lengan Tama yang sudah berani menyentuh bibirnya dan secara tidak langsung sudah menciumnya.
"Kenapa? kenapa kamu malah berteriak?" tanya Tama yang tidak mengerti dengan apa yang dilakukan oleh Zaniya.
"Ish, dasar kaku! Kanebo kering! Masih pura-pura nggak tahu! Tadi, apa yang abang lakukan tadi? Masih mau pura-pura juga hah?!" teriak Zaniya yang ingin menghadiahkan bogeman mentah pada Tama tapi langsung ditahan.
"Maksud kamu apa? Apa yang sudah saya lakukan?" tanya Tama yang malah menatap Zaniya dengan lekat dan posisi mereka sangat dekat.
"Masih tanya juga maksud aku apa? Abang sudah melakukan... Ah sudahlah, makasih coklatnya. Aku pergi saja" ucap Zaniya yang langsung berlari keluar dari kelas.
Tama yang masih bingung hanya bisa menatap Zaniya yang sudah menjauh darinya. Dia langsung melotot saat mengingat kejadian beberapa saat yang lalu.
"****!! Pantas saja dia marah. Dasar bo*oh, spa yang kamu lakukan Tama! Bagaimana caranya aku menjelaskan padanya?" gumamnya sambil menghela nafasnya kasar lalu dia menghempaskan tubuhnya dikursinya.
"Semoga saja dia tidak berfikiran macam-macam tentang diriku. Huh, aku harus bersikap biasa saja padanya" ucap Tama dengan membereskan semua buku-buku dan dia segera beranjak dari duduknya menuju keluar.
Sedangkan Zaniya malah berteriak-teriak tidak jelas saat sudah ditempat yang lumayan sepi. Yang benar saja jika dia berteriak-teriak didepan umum, yang ada dia disangka sudah tidak waras lagi oleh semua orang.
"Aaaa, dasar nyebelin. Kenapa harus melakukan adegan romantis sih... Bikin hati hayati blingsatan saja! Kagak tau apa ya, kalo gue ini cewek yang sudah mengerti akan hal-hal seperti itu? Mana manis banget lagi. Aaaa" teriak Zaniya yang mengusap-ngusap wajahnya lalu menutupnya dengan kedua tangan nya.
"Ah, jantung gue nggak normal lagi. Gue harus segera periksa kedokter kalo gue masih mau hidup, tapi mana bisa. Jika setiap saat bertemu dan berdekatan dengan nya? Aaaaa, nggak tahu ah. Pusing gue" teriaknya lagi dengan menghentak-hentakan kakinya.
Saat sedang mengucapkan itu semua ternyata Tama berada dibelakangnya dan dia mendengarkan semua yang dikatakan oleh Zaniya tadi. Tama hanya tersenyum tipis saat mengetahui jika Zaniya senang diperlakukan seperti itu, dia akan berusaha untuk membuat Zaniya merasa nyaman dengan nya dan tidak melihat kepada pria lain.
Tama meninggalkan Zaniya yang sedang mereog karena mendapatkan perlakuan manis darinya. Tama sebenarnya ingin mengajak Zaniya makan siang bersama, tapi karena melihat Zaniya yang masih mengingat-ingat kejadian tadi membuatnya mundur kembali.
Setelah kepergian Tama, Zaniya masih duduk dibangku taman belakang kampus. Disana dia masih sendiri dan tidak melakukan apa-apa, tiba-tiba ada yang duduk disebelahnya dan memberikan sesuatu padanya.
"Eh, Daniel. Kamu, disini juga?" tanya Zaniya saat melihat siapa yang menyodorkan susu coklat kesukaan Zaniya dulu saat sekolah.
"Iya, gue baru masuk kuliah hari ini. Dan gue nggak nyangka ketemu sama loe disini" jawab Daniel yang tersenyum kearah Zaniya.
"Wah, kita bakalan sering ketemu setiap hari. Ngomong-ngomong, ngambil jurusan apa?" tanya Zaniya yang menatap kearah Daniel.
"Bisnis, gue ambil jurusan bisnis. Loe tahu sendiri bukan, jika gue ini anak tunggal dan nggak ada yang meneruskan bisnis bokap gue selain gue sendiri. Loe sendiri jurusan apa? Loe kan lebih suka tantangan, pasti mengambil jurusan kedokteran atau ekonomi?" jawab Daniel yang mengatakan nya sambil tatap-tatapan dengan Zaniya, dia juga bertanya dan menebak apa jurusan yang diambil oleh Zaniya.
"Tebakan loe salah semua. Gue ambil jurusan IT, ya... Walau awalnya gue nggak suka, tapi kesini-kesini gue menikmatinya juga dan have fun" jawab Zaniya yang tersenyum sangat manis dan sangat ceria. Bisa terlihat dari caranya mengucapkan dan mengungakapkan perasaan nya.
"Why, kenapa sangat jauh berbeda dengan loe banget? Apa ada sesuatu yang membuat loe ambil jurusan itu? Atau memiliki insfirasi lain mungkin?" tanya Daniel yang belum tahu jika Zaniya memiliki saudara kembar.
"Hanya coba-coba saja sih awalnya. Tapi makin kesini makin menikmati dan seru, yang gue lanjutkan. Jadi sampe sekarang, lagian gue juga baru beberapa bulan juga masuk kuliah" jawab Zaniya yang masih menampilkan senyuman dibibirnya. Membuat Daniel semakin terpesona olehnya.
"Ngomong-ngomong, loe sudah makan siang belum? Gue mau ngajak loe makan siang bareng" tanya Daniel yang mengajak makan siang bersama.
"Belum. Mau aja sih, asal ditraktir" ucap Zaniya yang menaik turunkan alisnya pada Daniel.
"Nggak masalah. Memangnya bakalan sebanyak apa cewek kurus kayak loe makan, hahaha" ucap Daniel menggoda Zaniya.
"Si*lan loe!" ucap Zaniya yang mem*kul lengan Daniel lumayan keras.
"Aw, sorry sorry. Yuk kantin" ajak Daniel yang langsung diangguki oleh Zaniya.
Mereka berdua jalan beriringan menuju kantin kampus. Keduanya menjadi pusat perhatian semua mahasiswa dan mahasiswi dikampus. Jika Daniel sangat dikagumi berbeda dengan Zaniya yang ditatap dengan tatapan tidak suka dari para mahasiswi.
"Loe dilihatin terus tuh sama cewek-cewek" ucap Zaniya sambil melirik kearah para mahasiswi yang sedang menatap mereka berdua.
"Biarkan saja. Memang dari dulu gue sudah menjadi pusat perhatian semua wanita" ucap Daniel yang langsung merangkul pundak Zaniya menuju kekantin.
Zaniya yang mendapatkan perlakuan seperti itu hanya bisa diam, karena mereka berdua memang sudah sangat dekat sejak dulu. Mereka berjalan sambil saling merangkul, lebih tepatnya Zaniya yang dirangkul oleh Daniel.
KREK...
Ada yang patah, tapi bukan kayu atau apapun itu. Tapi hati seseorang yang mengalami patah, siapa lagi jika bukan Tama. Dia melihat dengan penuh kilatan amarah didalamnya. Bahkan sekarang wajahnya sudah terlihat sangat menyermkan.
"Sejak kapan dia adalah disini? Apa mungkin dia menjadi mahasiswa disini juga?" gumam Tama sambil mengepalkan kedua tangan dengan erat.
Sedangkan Zaniya dan Daniel tidak menyadari jika mereka berdua sedang ditatap tajam oleh Tama. Tama sangat kesal dan tidak suka akan kedekatan mereka sekarang. Tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa, apa lagi Zaniya bukan siapa-siapa baginya dan dia juga tidak tahu kenapa perasaan nya sangat kesal saat melihat mereka berdua bermesraan.
"Loe, nggak masuk kelas lagi?" tanya Daniel saat mereka berdua sudah selesai makan dan masih duduk ditempat yang sama seperti tadi.
"Nanti satu jaman lagi. Loe sendiri?" jawab Zaniya sambil bertanya balik pada Daniel.
Saat mereka sedang mengobrol bersama Daffy datang menghampiri mereka berdua. Dan langsung duduk disamping Zaniya.
"Kamu ini, abang cari-cari ternyata nongkrong disini?" tanya Daffy yang mengacak rambut Zaniya.
"Ish, bang Daf. Kenapa suka sekali ngacak-ngacak rambut aku sih" gerutu Zaniya dan itu sukses membuat Daniel menjadi kesal.
"Siapa dia? Nggak mau dikenalin sama abang?" tanya Daffy pada Zaniya.
"Sampe lupa, Daniel kenalin abang gue namanya Daffy. Bang Daf, kenalin ini teman aku waktu SMP namanya Daniel" ucap Zaniya memperkenalkan keduanya.
"Daffy"
"Daniel"
Ucap keduanya kompak dan saling berjabat tangan saling memperkenalkan dirinya masing-masing. Zaniya hanya tersenyum melihat keduanya seperti sedang bermusuhan saja.
"Ehm, apa kalian tidak mau melepasakan tautan tangan kalian berdua?" tanya Zaniya yang membuat Daffy dan Daniel langsung melepaskan nya.
"Kalian ini kenapa? Sudah seperti sedang memperebutkan sesuatu. Atau jangan-jangan sedang caper ya sama aku?" tanya Zaniya yang malah menggoda keduanya sambil menaik turunkan alisnya.
"Zan, abang hanya mau mengingantkan saja. Jangan terlalu percaya pada seseorang, abang tidak mau jika kamu terluka nantinya" ucap Daffy yang membuat Zaniya melototkan matanya menatap Daffy yang mengatakan seperti itu padanya. Apa lagi masih dihadapan Daniel.
"Bang, aku sama Daniel itu cuman teman, dan nggak lebih. Abang jangan aneh-aneh ya, apa lagi bilang-bilang Daddy yang macem-macem" ucap Zaniya yang memperingati Daffy.
"Abang nggantung janji, apa lagi kamu tahu sendiri bukan jika semua gerak-gerik kamu sudah diawasi oleh uncle?" jawab Daffy mengatakan yang sebenarnya pada Zaniya.
"Bener juga. Tapi, aku nggak ada hubungan apa-apa bang. Sudahalah, cape ngomong sama abang!" ucapnya sambil bangkit dari duduknya lalu pergi meninggalkan dua pria yang sedang saling pandang dengan tatapan permusuhan.
"Apa benar jika kamu teman dari Zaniya?" tanya Daffy pada Daniel.
"Jika Iya kenapa dan jika tidak kenapa? Apa ada masalah dengan anda?" bukan nya menjawab pertanyaan dari Daffy, Daniel malah balik bertanya.
"Saya berhak tahu siapa kamu dan apa tujuan kamu. Karena saya adalah abangnya dan saya berhak tahu siapa kamu" jawab Daffy yang menatap tidak suka pada Daniel.
"Apa hak anda ingin tahu. Anda hanya abangnya bukan? Jadi anda tidak berhak tahu segalanya" ucap Daniel yang mengibarkan berndera perang pada Daffy.
"Kamu salah mengajak permusuhan dengan saya. Saya jelas sangat berhak atas Zaniya, karena dia adik saya. Dan saya yang ditugaskan oleh Daddy nya untuk menjaganya" ucap Daffy dengan nada penuh penekanan disetiap katanya.
Daniel langsung bungkam saat Daffy mengatakan jika dia adalah abang dari Zaniya. Dia kira Daffy adalah pria yang juga mendekati Zaniya, sama seperti dirinya. Dia merasa malu dan juga tidak enak sudah mengatakan kata-kata kasar pada Daffy.
"Saya minta maaf. Saya hanya dekat dan berteman saja dengan nya, seperti yang dikatakan oleh Zaniya tadi. Saya kira anda bukan abangnya melainkan, ya anda tahu lah apa yang saya maksud. Sekali lagi saya minta maaf" ucap Daniel yang menundukan wajahnya.
"It's okay, saya mengerti. Saya juga bersalah karena saya berbicara kasar dan menyinggung perasaan anda, saya juga minta maaf" jawab Daffy yang mengatakan hal yang sama dengan Daniel yang mengatakan maaf juga.
"Terimakasih, anda tidak perlu khawatir. Karena saya tidak mungkin berbuat sesuatu padanya, tapi jika boleh jujur. Saya memang menyukai Zaniya sejak lama, tapi saya tidak berani mengungkapkan nya langsung. Tolong izinkan saya untuk selalu dekat dengan nya, saya berjanji tidak akan memaksanya jika dia tidak memiliki perasaan apapun pada saya" ucap Daniel yang mengatakan nya langsung pada Daffy.
"Saya sudah bisa lihat dari sorot mata anda tadi. Jika anda Kira saya adalah saingan anda untuk mendapatkan Zaniya bukan? Saya tidak akan melarang siapa saja yang dekat dengan nya, hanya jangan pernah mengecewakan. Itu saja" ucap Daffy yang langsung bangkit dari duduknya, karena sebentar lagi kelasnya dimulai.
"Saya duluan, sebentar lagi kelas saya akan dimulai" ucap Daffy yang langsung diangguki oleh Daniel.
Keduanya berpisah dan setelah kepergian Daffy, Daniel menghela nafasnya kasar. Dia merasa lega karena Daffy tidak melarangnya dekat dengan Zaniya. Tapi dia benar-benar merasa sangat tidak enak padanya, awal perkenalan malah memancing permusuhan.
.
Berbeda dengan Zaniya yang sedang didalam kelas malah bertemu dengan Tama yang semakin aneh menurutnya.
"Bang, abang kenapa sih? Dari tadi sepertinya sangat senang membuat ku pusing. Sudah aku bilang, aku sudah mengerjakan semuanya dan abang malah tidak percaya" ucap Zaniya yang frustasi akan sikap Tama sejak tadi.
"Saya bukan tidak percaya pada kamu. Ini semua salah, bagaimana kamu akan mempertahankan posisi kamu tetap yang terbaik jika seperti ini?" tanya Tama yang memberikan alasan supaya dia bisa menahan Zaniya yang akan pulang.
"Oh God! Aku harus bagaimana lagi bang... Aku sudah lelah, dan lagi ini sudah waktunya untuk pulang bukan? Aku janji nanti dirumah akan aku revisi ulang dan sesuai dengan keinginan abang. Aku cape banget bang, please izinkan aku pulang" ucap Zaniya yang memperlihatkan puppy eyes nya didepan Tama.
Tama hanya menghela nafasnya saja saat melihat Zaniya yang bersikap sangat menggemaskan itu. Mau tidak mau Tama membiarkan Zaniya pulang walau rasanya begitu berat jika berjauhan dengan nya.
.
.
.
Zaniya Zayn Malik .
Wiratama atau Tama.
Daniel.
Daffy Zi Pratama.
Othor kasih visualnya ya, biar makin greget ngehalunya 😁😁😁
Jika tidak suka fikirkan sesuai dengan keinginan para reader saja...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian semua ya untuk like, komen, vote dan hadiah.... 😊😊😊