
Setelah menghabiskan waktu tiga puluh menit, Zahiya sudah mengerjakan semua tugasnya. Dia tidak segera memberikan soal ujian miliknya pada Pak Tama. Dia malah menyibukan diri dengan mengerjakan tugas lainnya yang dia inginkan.
'Jika begini terus, aku akan merasa jenuh sendiri. Karena semua pelajaran disini sudah aku kuasai sejak dulu' gumam Zahiya yang sedang memutar-mutar pulpen yang sedang dia pegang.
kegiatan yang sedang Zahiya lakukan tidak dibiarkan oleh William yang malah fokus pada Zahiya dibandingkan dengan ujian nya. Dimana waktu yang sudah berjalan begitu cepat dan tinggal beberapa menit lagi, tapi William belum selesai mengerjakan tugasnya. Dia malah terus memperhatikan Zahiya hingga waktunya habis.
"Waktunya sudah habis. Apa kalian sudah mengerjakan semuanya dengan benar? Apa tugasnya begitu sulitkah? Sehingga kalian semua tidak ada yang menyerahkan sebelum waktunya habis" ucap Pak Tama yang mengambil semua kertas jawaban para mahasiswanya.
"Zahiya ZM. Bukankah kamu murid yang paling berprestasi dari semua murid-murid yang lain? Kenapa kamu tidak mengumpulkan nya, setidaknya tepat waktu" tanya Pak Tama pada Zahiya yang menyebutkan nama lengkap Zahiya yang disingkat.
Karena jika dia menyebutkan namanya yang sebenarnya, bisa-bisa heboh seluruh kampus. Jika dia adalah anak dari King Mafia yang sangat terkenal dan juga ditakuti oleh semua orang. Karena semua sepak terjangnya yang bukan rahasia umum lagi bagi semua orang, baik itu orang awam maupun seorang Mafia kelas teri sekalipun.
"Saya sudah menyelesaikan semuanya Pak. Silahkan anda baca semuanya" ucap Zahiya yang menyerahkan hasil ujian nya pada Pak Tama.
Tentu saja Pak Tama sangat syok dengan apa yang dilakukan oleh Zaniya. Dia bahkan mengerjakan apa yang tidak seharusnya dia kerjakan sekarang.
"Saya boleh keluar sekarang Pak?" tanya Zahiya saat melihat Pak Tama hanya diam dan menatap kertas jawaban dari Zahiya.
"Kamu boleh keluar sekarang" ucap Pak Tama sambil mengangguk mengiyakan jika Zahiya boleh keluar dan ini adalah waktunya mereka pulang.
Karena Pak Tama benar-benar sudah merasa sangat syok melihat tingkat kecerdasan dari Zahiya. Dia hanya menatap kertas-kertas jawaban ujian dari Zahiya.
'Apa mungkin dia bisa mengerjakan tugas sesulit ini dan dia dengan mudahnya mengerjakan hanya dalam waktu tiga puluh menit saja? Sungguh mengagumkan, karena dia pasti murid paling pintar diantara yang lainnya' gumam Pak Tama dalam hati.
Dia benar-benar dibuat sangat mengagumi sosok gadis Belia yang bisa menandinginya sebagai dosen. Dia ingin mengenal Zahiya lebih jauh lagi, supaya dia bisa tahu bagaimana dan sudah sampai dimana kecerdasan nya ini.
.
Berbeda dengan Pak Tama yang sedang memikirkan cara untuk bisa dekat dengan Zahiya. Sekarang Zahiya sudah sampai didepan mainson dan seperti biasa, dia disamput oleh Azalya dan Zayn didepan pintu.
"Assalamualaikum" ucap Zahiya yang baru keluar dari dalam mobilnya dan menghampiri Mommy dan Daddy nya yang berada diluar.
"Wa'allaikumsalam. Tumben pulang cepat sayang?" tanya Azalya saat melihat putrinya berjalan mendekat dan mencium punggung tangan nya dan Zayn.
"Iya Mom. Tugas kuliah sudah selesai dan juga sudah waktunya untuk pulang" jawab Zahiya dengan wajah datarnya dan itu sudah biasa bagi Azalya melihat pemandangan seperti itu.
"Tunggu! Kacamata, kacamata tebal kamu dimana Zahi? Apa kamu sengaja melepasnya atau kenapa?" tanya Azalya saat melihat mata indah putrinya tidak ditutupi oleh kacamata tebalnya.
"Pecah Mom. Zahi lupa bawa cadangan" jawab Zahiya dengan menatap wajah Mommy nya yang mengerutkan keningnya mendengar jawaban putrinya.
"Sebaiknya kamu memang tidak perlu menggunakan kacamata sayang. Kamu kan memang tidak memiliki keluhan apa-apa terhadap mata kamu. Jadi lebih baik jangan menggunakan nya lagi menurut Mommy. Tapi Mommy nggak maksa, kalau kamu memang merasa nyaman seperti itu" ucap Azalya yang sekarang sudah lebih mengerti akan putri sulungnya ini.
"Iya Mom. Zahi masuk dulu" jawab Zahiya yang langsung pamit pada kedua orang tuanya yang mengangguk mengiyakan ucapan nya.
"Masuklah, langsung bersihkan diri kamu lalu langsung istilahat saja" ucap Zayn yang mengusap kepala Zahiya dengan sayang lalu mengangguk.
Zahiya benar-benar langsung masuk kedalam kamarnya. Zayn dan Azalya saling tatap dan Azalya menghembuskan nafasnya sedikit kasar menatap wajah Zahiya yang sangat tidak bersemangat. Walau selalu terlihat datar, tapi matanya bisa melihat jika dia tidak menyukai itu semua.
"By, apa Zahi memang tidak menyukai jika dia berada ditempat umum dan bersosialisasi dengan orang-orang? Aku takut jika Zahi merasa terbebani" tanya Azalya yang menatap punggung putrinya yang sedang menaiki tangga.
"Nanti kita bahas dengan nya. Jika dia tidak menginginkan nya juga tidak masalah. Yang penting dia merasa tenang dan tidak ada keterpaksaan" jawab Zayn yang memeluk Azalya dan memeluknya dengan erat lalu merangkulnya masuk kedalam mainson.
"Iya By, nanti kita diskusikan lagi dengan nya. Aku tidak ingin jika dia seperti ini terus, rasanya sangat tidak nyaman melihatnya" ucap Azalya yang sudah duduk disofa ruang tamu.
Saat Zayn baru duduk disamping Azalya. Angga dan Marcos datang dengan wajah yang tegang dan juga terlihat panik. Zayn memberikan kode untuk tidak mengatakan nya didepan Azalya. Zayn memerintahkan untuk menuju ruang kerjanya saja untuk membahas sesuatu yang akan dikatakan oleh Angga dan Marcos.
"Jika ada pekerjaan penting kesanalah By, aku juga ingin mengobrol dengan Zahiya" ucap Azalya yang diangguki oleh Zayn.
"Aku kekamar Zahi dulu" ucapnya lagi dan Zayn juga ikut beranjak dari duduknya menuju ruangan kerjanya.
"Ada apa?" tanya Zayn to the point saat dia sudah masuk dan duduk disofa yang ada didalam ruangan kerjanya.
"King, Nona. Nona Zahiya mendapatkan bullying dari teman sekelasnya, kami sudah memberikan peringatan pada mereka semua. Entah esok akan mendengarkan ucapan kami atau sebaliknya" lapor Angga pada Zayn dengan semua pemantauan nya pada Zahiya dan Zaniya.
"Apa mereka semua melakukan nya pada Zahiya? Lalu apa yang dilakukan oleh mereka pada putriku?" tanya Zayn yang sudah menahan amarahnya dan mengepalkan kedua tangan nya.
Karena pugrinya yang pendiam dan selalu menyendiri itu mendapatkan bullying dari teman sekelasnya.
"Sejauh ini mereka hanya menghina dan juga mengata-ngatainya saja. Dan belum ada kekerasan fisik yang segnifikan" lapor Angga lagi yang menjelaskan dan juga memberikan bukti pada Zayn.
Dimana bukti rekaman yang sangat jelas mereka berikan pada Zayn. Karena Zayn tidak benar-benar melepaskan kedua putrinya untuk berada diluar mainson dan pengawasan nya.
"Berikan mereka pelajaran dan jangan memberitahukan identitas Zahiya untuk mereka semua. Bagaimana dengan Zaniya?" tanya Zayn memberikan perintahnya lalu bertanya lagi pada keduanya.
"Nona Zaniya mendapatkan teman-teman yang baik King. Dan semua teman-temannya merasa segan padanya Nona Zaniya" jawab Marcos yang juga memberikan sebuah rekaman pada Zayn.
"Kalukan yang terbaik untuk keduanya. Saya tidak ingin kejadian seperti ini terulang kembali. Pantas saja dia tidak pernah mengatakan apa-apa padaku" ucap Zayn yang memberikan perintahnya pada Angga dan Marcos.
"Akan kamu lakukan King. Dan ini adalah dosen yang sedang mengincar Nona Muda King, sepertinya dia sangat menginginkan Nona Muda" jawab Angga dan dia memberikan sebuah foto pada Zayn.
Dimana Tama dan juga Zahiya jalan beriringan sambil membawa setumpuk kertas menuju ruangan dosen.
"Selidiki dia. Dan dia siapa sebenarnya?" tanya Zayn yang menatap datar dan dingin pada Angga yang memberikan selembar foto padanya.
"Dia adalah orang biasa-biasa saja King. Dia mungkin hanya penasaran dengan kecerdasan Nona Muda. Karena kemampuan nya imbang dengan Nona Muda King" jawab Angga dengan sangat pasti tanpa dia tahu jika Tama menyimpan rasa kagum pada sosok pendiam seperti Zahiya.
"Apa kau yakin?" tanya Zayn dengan tatapan tajamnya pada Angga.
"Itu menurut pandangan saya saja King. Karena saya tidak tahu, maaf" jawab Angga yang memang rodanya tahu apa-apa tentang perasaan cinta atau kasih sayang.
"Kalian berdua boleh keluar. Saya sendiri yang akan menyelidiki semuanya" ucap Zayn memberikan perintahnya pada Angga dan Marcos.
.
Sedangkan dikampus Zaniya baru akan menaiki motornya ditahan oleh Tama yang merasa heran dengan penampilan Zahiya yang berubah sangat drastis dengan beberapa menit yang lalu.
"Apa kamu akan pulang sekarang juga?" tanya Tama langsung to the point pada Zaniya.
"Iya Pak, ada yang bisa saya bantu untuk anda?" jawab Zaniya dengan ramah dan sopan. Dia juga bertanya pada Tama.
Karena Zaniya sudah tahu jika ada dosen baru yang mengajar dikelas kakak kembarnya.
"Bisa kamu ikut saya keruangan saya terlebih dahulu? Saya ingin menanyakan sesuatu" tanya Tama pada Zaniya yang sedikit mengerutkan keningnya bingung melihat dosen barunya mengajak untuk ikut dengan nya.
"Baik Pak" jawab Zaniya dengan santainya meletakan helem yang akan dia gunakan tadi.
'Dia pasti berfikir jika aku adalah Zahiya. Oke, kita lihat saja. Sampai kapan anda akan salah faham dengan semua ini Pak dosen' gumam Zaniya sambil mengikuti langkah kaki Tama menuju ruangan nya.
"Silahakan duduk" ucap Tama saat sudah berada didalam ruangan nya dan Zaniya hanya mengangguk dengan apa yang dikatakan oleh Tama.
"Kamu bisa menjelaskan semuanya pada saya tentang ini semua pada saya?" tanya Tama yang memberikan jawaban-jawaban yang ditulis oleh Zahiya.
'Kau sungguh berbakat Zahi membuat dosen tampan ini terpesona padamu' gumam Zaniya yang menerima semua jawaban-jawaban yang benar semuanya oleh Zahiya.
Zaniya akan terus berpura-pura menjadi Zahiya. Dia ingin tahu sampai dimana dosen nya ini ingin tahu tendang kembaran nya itu. Dia hanya senyum-senyum melihat ini semua.
"Memangnya ada yang salah dengan jawaban-jawaban yang saya berikan ya Pak?" bukan nya menjawab pertanyaan dari Tama. Zaniya malah balik bertanya padanya.
"Jawab saja pertanyaan saya" ucap Tama dengan nada sangat dingin dan datarnya.
"Saya hanya mengerjakan apa yang saya bisa saja Pak. Apa ada pertanyaan lain lagi? Karena saya akan pulang, dan saya tidak ingin terlambat untuk pulang" jawab Zaniya yang menirukan gaya bicara Zahiya yang datar dan tanpa ekspresi.
Padahal didalam hati dia sudah terbahak-bahak menertawakan pria didepannya. Dimana dia sudah sangat salah mengenali orang.
"Baiklah. Kamu boleh pergi sekarang, tapi saya ingin kamu mengerjakan seluruh soal-soal ini. Dan kamu harus menyerahkan nya pada saya besok" ucap Tama yang menyerahkan soal-soal ujian paling sulit untuk Zahiya.
Dia benar-benar ingin tahu dan ingin membuktikan jika muridnya yang satu ini sangat berbeda dan juga sangat pintar dari pada teman sekelasnya yang sama sekali tidak ada yang pintar dan dibanggakan. Yang ada membuatnya stres, karena mereka hanya menggunakan kekuasaan orang tuanya yang memang rata-rata orang kaya semua.
"Baik Pak. Ada lagi?" tanya Zaniya yang sudah tidak bisa menahan senyuman nya itu.
DEG....
'Kenapa senyumnya begitu teduh? Tidak-tidak, kenapa aku bisa berfikiran seperti itu' gumam Tama saat melihat senyuman Zaniya yang memang sangat manis dan juga sangat imut.
"Pak, apa Bapak baik-baik saja?" tanya Zaniya dengan tatapan datarnya pada Tama yang hanya diam saja menatapnya.
"Ah tidak. Saya tidak apa-apa, kamu boleh pulang sekarang" jawab Tama dengan gelagapan, karena dia ke gap sedang menatap wajah Zaniya yang dia anggap Zahiya.
"Baiklah Pak, saya permisi dulu. Assalamualaikum" ucap Zaniya yang langsung bangkit dari duduknya dan membungkukan sedikit badan nya berpamitan pada Tama.
Tama hanya mengangguk dan dia malah mengacak-ngacak rambutnya sendiri hingga berantakan. Dia benar-benar tidak tahu apa yang dia lakukan pada Zahiya.
"Dasar bodoh! Kenapa aku bersikap seperti itu tadi padanya? Bisa-bisa dia berfikiran macam-macam padaku" ucapnya sambil terus mengacak-ngacak rambutnya frustasi.
"Semoga saja dia tidak berfikiran macam-macam padaku. Karena jika seperti ini, pasti akan sangat canggung nantinya. Semangat Tama, jangan mempermalukan dirimu sendiri" gumamnya yang mencoba menetralkan nafasnya dan dia mencoba untuk tenang.
Sedangkan Zaniya langsung tertawa terbahak-bahak saat sudah berada diparkiran dan menaiki motornya.
"Hahaha. Dia kira aku Zahiya? Sungguh konyol" gumam Zaniya yang sudah meredakan tawanya dan dia segera memacu motornya meninggalkan parkiran kampus.
Dia masih tidak habis fikir dengan semua ini. Seorang dosen muda dan tampan bisa salah mengenali orang. Tapi Zaniya tidak bisa menyalahkan nya jika tidak bisa membedakan dirinya dan Zahiya. Karena jika Zahiya tidak menggunakan kacamata dan mengikat rambutnya maka akan sama persis dengan dirinya.
"Zahiya, loe harus menjelaskan ini semua pada gue. Karena loe sudah membuat gue Kulang telat" gumam Zaniya yang sudah hampir sampai didepan mainson nya.
Saat sedang mengendarai motornya, dia melihat seperti ada seorang wanita yang sedang dinganggu oleh para pria kurangajar.
"Bukankah dia kak Izy?" ucap Zaniya yang langsung menghampiri Quinzy yang sedang ketakutan karena diganggu oleh beberapa pria.
Zaniya langsung memarkirkan motornya didepan mereka semua dan para pria tadi merasa kesal karena ada yang mengganggu kesenangan nya.
"Siapa loe! Berani-beraninya ikut campur Hah!" ucap salah seorang dari lima pria tersebut.
"Loe semua tidak perlu tahu siapa gue. Karena gue paling tidak suka dengan para pria sampah seperti kalian!" ucap Zaniya yang tidak melepasakan helm miliknya.
"Si*lan loe! Nantangin kami rupanya" ucap salah seorangnya lagi yang langsung menyerang Zaniya.
Dengan gerakan cepat dan juga lues, Zaniya dengan mudahnya membuat pria tersebut mengalami patah tulang kakinya.
Quinzy merasa sangat takut. Jika orang yang membantunya terluka dan terjadi apa-apa padanya. Tapi saat melihat dengan mudahnya dia bisa membuat salah seorang dari mereka patah tulang menjadi senyum melihatnya.
.
.
.
Maafkan Othor ya reader... Karena Othor baru bisa up, Othor sedang sakit nih... Mohon do'anya supaya Othor bisa lekas sembuh dan bisa up teratur 🙏🙏
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya untuk like, komen, vote dan hadiahnya ya....