Mr. Z CEO Of The Mafia

Mr. Z CEO Of The Mafia
S2~ Bertemu adik rese



Daffy masih menatap Zaniya yang sudah pergi dan tidak terlihat lagi. Sampai-sampai dia ditegur oleh dosen yang sedang mengajar.


"Jika sudah tidak ingin berada dikelas saya boleh keluar" ucap dosen yang memberikan pelajaran padanya dan para mahasiswa yang lain.


"Maaf Pak" ucap Daffy yang langsung kembali fokus pada pelajaran nya.


.


Sedangkan Zaniya langsung berlari menuju taman belakang kampus lagi. Dan disana ternyaga Tama masih ada disana sedang menunggunya sambil berdiri menatap Zaniya yang sedang berlari menghampirinya.


"Maaf lama" ucap Zaniya yang datang dengan berlari dan nafasnya ngos-ngosan.


"Duduk dulu" ucap Tama yang melihat Zaniya menunduk memegang lututnya karena lelah berlari.


"Nih minum" ucapnya lagi sambil menyodorkan botol air mineral pada Zaniya.


Bukan nya menerimanya, Zaniya malah mengerutkan keningnya bingung melihat Tama menyodorkan botol air mineral.


"Buat kamu, saya tahu kamu pasti haus bukan? Habis berlarian seperti tadi" ucap Tama yang melihat Zaniya tidak segera menerima botol tersebut.


"Maaf, aku tidak biasa menerima makanan atau minuman dari orang asing atau orang lain" ucap Zaniya yang mungkin saja melukai perasaan Tama yang beriat baik padanya.


"Hmm, maaf. Biar saya simpan lagi" ucap Tama yang akan memasukan kembali botol air mineral tersebut tapi ditahan oleh Zaniya yang menatap wajah kecewa dari Tama yang berniat baik padanya.


"Terimakasih, maaf melukai perasaan abang" ucap Zaniya yang langsung membuka segel dari tutup botol air mineral tersebut yang memang masih baru dan belum dibuka sama sekali oleh Tama.


"Jika kamu tidak bisa meminumnya, lebih baik jangan memaksakan. Takutnya terjadi sesuatu, saya tahu kamu pasti tidak pernah meminum minuman seperti ini dirumah kamu. Dari penampilan dan semua yang kamu kenakan, kamu bukanlah orang biasa-biasa" ucap Tama yang akan merebut botol air mineral tersebut tapi kalah cepat dari Zaniya yang sudah meminumnya lebih dari setengah botol.


"Tapi aku sangat kehausan, terimakasih. Jika terjadi sesuatu maka anda akan mendapatkan akibatnya dengan kontan. Jadi tidak masalah lah untuk ku" ucap Zaniya yang meletakan botol air mineral tersebut disampingnya duduk.


Tama hanya diam dan tidak mengatakan apa-apa, dia malah menatap wajah Zaniya yang masih mengeluarkan keringatnya bercucuran.


'Dia terlihat sangat cantik dan juga manis saat berkeringat seperti itu. His, kenapa aku malah berfikiran seperti itu!' gumamnya dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepadanya kekanan dan kiri.


"Kenapa menatapku seperti itu? Hati-hati loh bang, nanti naksir bisa bahaya" ucap Zaniya yang malah menggoda Tama yang sedang menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan fikiran nya yang tidak-tidak.


"Kamu ini Mikir apa sih. Jadi ikut dengan dengan saya? Atau tidak?" tanya Tama yang mengalihkan pembicaraan mereka yang menjurus pada suka-suka an.


"Oh God, kenapa semua pria selalu saja mengalihkan pembicaraan saat sedang berbicara serius seperti ini?" gerutu Zaniya yang mengikuti langkah Tama yang menjauh dan menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari mereka berdua.


"Terimakasih" ucap Zaniya yang sudah masuk dan duduk didalam mobil disamping Tama tanpa dibukakan pintu oleh Tama.


"Sama-sama" jawab Tama cuek dan menggunakan seat belt nya.


"Gunakan sabuk pengaman mu" ucap Tama yang langsung menyalakan mobilnya dan melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang ramai dan sedikit macet.


"Bang, bisa nyalakan AC nya? Ini panas sekali" tanya Zaniya yang mengipas-ngipas dirinya menggunakan tangan nya sendiri.


"Ini sudah menyala sejak tadi, bahkan sudah full" jawab Tama yang menunjuk pada AC mobilnya yang memang menunjukan full pada tempatnya.


"Oh God!! Kenapa abang tidak bilang" gerutu Zaniya yang sedikit kesal karena kepanasan didalam mobil. Mungkin bagi Zaniya dia merasa sedang berada didalam sauna.


Tapi Tama merasa bersalah karena mengajak Zaniya menggunakan mobilnya yang sudah tua dan mungkin saja tidak selevel dengan mobil yang sering digunakan oleh Zahiya. Tentu saja sangat jauh berbeda.


"Maaf bang, bukan nya aku bermaksud menghina apa lagi tidak menghargai milik abang. Aku hanya tidak terbiasa menggunakan mobil, abang tahu bukan. Jika aku lebih suka menggunakan motor dibandingkan mobil. Karena aku tidak suka jika kegerahan seperi ini" jelas Zaniya yang merasa tidak enak sudah mengatakan kata-kata yang mungkin sangat menyakiti perasaan nya.


"It's okay. Saya tahu jika mobil saya ini memang tidak sesuai dengan apa yang kamu inginkan. Tapi ini lumayan lah untuk digunakan dibandingkan berjalan kaki atau menggunakan motor yang jika hujan akan kehujanan dan kepanasan. Jika kamu kepanasan dan kegerahan, kamu bisa buka kacanya dan bisa menikmati udara diluar" jawab Tama yang menyarankan untuk membuka kaca mobilnya.


"Tidak apa-apa kok bang. Aku sudah lebih baik, mungkin tadi karena aku habis berlari-larian makanya gerah" ucap Zaniya yang mencoba tersenyum tulus pada Tama yang hanya diam saja dan fokus pada jalanan diluar yang sedikit macet.


Cukup lama keduanya diam dan itu sangat tidak disukai oleh Zaniya yang lebih suka keramaian dibandingkan keheningan. Zaniya sudah tidak tahan dengan situasi seperti ini dan dia menatap Tama yang masih fokus pada jalanan didepan nya saja yang sudah lancar.


"Bang, apa rumah abang masih jauh ya? Ini sudah sangat jauh dari kampus loh?" tanya Zaniya yang menatap jalanan yang sangat asing untuknya.


"Sebentar lagi juga sampai. Maaf jika ini terlalu jauh dan mungkin juga kamu risks akan menyukainya jika sudah sampai. Jadi sebelum kamu menyesalinya, lebih baik kamu mengatakan untuk tidam jadi kesana saja" jawab Tama yang menatap Zaniya sekilas dan kembali lagi menatap jalanan sana.


"Masa sudah hampir sampai masa mau menyerah. Itu bukan aku banget" ucap Zaniya yang menatap wajah Tama dengan lekat dan tidak mengalihkan pandangan nya dari Tama sedikitpun juga.


'Dia jika sedang seperti itu sangat tampan dan juga sangat manis, jadi pengen gue karungin terus bawa pulang deh... Ish, gue kenapa coba? Kenapa gue malah mengaguminya segala coba! Dasar otak kagak ada ahlak' gumam Zaniya dalam hati dan dia mengalihkan pandangan nya kearah luar jendela mobil dan melihat jalanan disampingnya terlihat sangat berbeda dan juga seperinya memasuki perkampungan.


"Kita ini dimana bang? Suasananya terlihat asing dan sangat asri. Apa ini sudah keluar dari kota?" tanya Zaniya yang menyadari jika jalanan ini sangat berbeda dan banyak pepohonan berjejer dengan rapih ditepi jalan.


"Iya, bukankah saya sudah bilang jika saya akan mengajak kamu bertemu dengan Ibu dan adik ku?" jawab Tama lalu bertanya pada Zaniya yang menatapnya dengan sangat lekat.


"Jadi berasa akan dibawa ketemu camer deh. Calon mertua, hihihi" ucap Zaniya yang tertawa cekikikan menertawakan ucapan nya sendiri yang absurd.


"Bisa jadi anggapan orang tua saya seperti itu" jawab Tama yang membuat Zaniya melototkan matanya menatap Tama yang mengatakan itu tanpa beban sama sekali.


"Apa abang yakin jika saya akan diterima dengan mudah ditengah-tengah keluarga abang? Aku rasa tidak semudah itu, jika adik kamu itu yang nantinya akan membuat semakin sulit nantinya" tanya Zaniya yang menatap serius wajah Tama yang malah menghentikan mobilnya didepan rumah sederhana yang sedang tertutup rapat.


"Memangnya kita kemari ingin apa? Bukankah hnya ingin bertemu saja?" Tama balik bertanya pada Zaniya yang malah nyengir kuda mendengar ucapan Tama yang menyinggungnya.


"Kakak... Akhirnya kakak pulang juga, Ibu sangat merindukan kakak" ucap gadis yang langsung memeluk Tama saat dia sudah keluar dari mobil.


"Kamu ini, kakak baru satu minggu yang lalu pulang. Masa sudah merindukan lagi" ucap Tama yang mengacak-ngacak rambut gadis tersebut.


Tama menyadari jika Zaniya masih berada didalam mobil dan tidak keluar-keluar.


"Kenapa tidak keluar?" tanya Tama yang malah berteriak dari depan pintu rumahnya kepada Zaniya.


"Hiss, dasar kaku. Bukan nya membukakan pintu mobilnya dan ngajakin gue masuk malah ninggalin gue gitu aja. Ngeselin, untung tampan" gerutu Zaniya yang langsung membuka pintu mobil Danu berjalan menampilkan senyuman dibibirnya pada Tama.


Tama yang melihat senyuman itu menjadi sedikit salah tingkah. Dia melihat bagaimana Zaniya mencoba untuk bisa beradaptasi dengan keadaan keluarganya.


"Siapa dia kak? Jangan bilang bocah itu calon kakak ipar aku" tanya gadis tersebut pada Tama. Yang tidak lain adalah adik Tama yang bernama Aditami. Tapi panggilan nya adalah Tami.


"Bocah kayak gini juga sudah bisa bikin bocah juga" jawab Zaniya yang memang paling tidak suka jika ada orang yang tidak menyukainya.


"Hey! Jadi kamu berencana ingin melakukan hal yang tidak baik dengan kakak ku hah?!" ucap Tami yang tidak terima jika kakaknya malah berbuat hal-hal yang diluar batasnya.


"Siapa juga yang akan melakukan itu? Gue cuman menjelaskan, walaupun gue bocah. Tapi bisa bikin bocah juga, bener kan bang?" tanya Zaniya yang malah membuat Tami melototi Zaniya dengan tajam.


Sedangkan Tama yang mengatahui sifat adiknya yang tidak bisa dekat dengan orang asing janga bisa menggelengkan kepalanya saja. Dia tidak mau ambil pusing akan perdebatan-perdebatan dua wanita yang ada dihadapan nya.


"Heh. Abang kabupaten bilang! Kamu kira kakak aku itu tukang bakso apa? Dipanggil abang segala!" teriak Tami yang membuat Ibunya keluar karena mendengar perdebatan putrinya entah dengan siapa.


"Suka-suka gue lah mau panggil apa. Mulut-mulut gue, mau panggil abang ke, mau panggil ayank atau panggil apapun itu. Suka-suka gue" jawab Zaniya yang membuat Tama hanya menepuk keningnya sendiri mendengarkan ucapan dari Zaniya.


"Enak saja... " belum sempat Tami melanjutkan ucapan nya sudah disela oleh Ibunya yang baru keluar dari dalam ruangan kondisi yang terlihat rodanya baik-baik saja.


"Tami, jaga ucapan kamu. Dia itu tamu kita, dan mungkin saja yang dikatakan olehnya itu memang benar. Kamu jangan nenghalag-halangi seseorang yang sedang dekat dengan kakak kamu" peringat Ibunya Tama dan Tami yang bernama Sinta.


"Mama, maaf Ma" ucap Tami yang menunduk tapi matanya menyiratkan permusuhan dengan Zaniya.


"Tama, silahkan bawa teman kamu masuk. Jangan dengarkan adik kamu. Silahkan nak, maaf jika merasa tidak nyaman berada didalam gubuk kami yang sudah lapuk ini" ucap Ibu Sinta pada Tama dan mempersilahkan Zaniya untuk masuk.


"Ah, Ibu bisa saja. Bahkan ini jauh lebih bagus dari pada rumah saya Bu. Ibu jangan merasa rendah seperti itu" ucap Zaniya yang juga merendahkan dirinya didepan Ibunya Tama yang merendah dihadapan nya.


Tama hanya menggeleng akan jawaban Zaniya tadi. Dia memang belum mengenal Zaniya dengan baik, tapi jika dilihat dari motornya saja sudah bisa Tama tebak. Jika Zaniya bukanlah orang biasa-biasa saja, karena setahu Tama itu adalah motor keluaran terbaru dan juga harganya bisa membeli dua buah mobil berjenis avan*a.


"Mari nak silahkan masuk" ucap Ibunya Tama yang sangat ramah dn jauh berbanding terbalik dengan putrinya yang membuat Zaniya kesal karena ucapan nya yang tidak bersahabat.


"Terimakasih Bu. Jadi ngerepotin" ucap Zaniya yang langsung duduk disamping Tama dan dia mencoba selalu tersenyum walau hatinya sangat kesal.


"Sudah tahu ngerepotin masih saja namu" sinis Tami yang membuat Zaniya mengepalkan tangan nya. Zaniya rasanya ingin menyumpal mulutnya yang selalu membuat orang kesal dan marah dengan kata-kata unfaedahnya itu.


"Tami! Kenapa ucapan kamu itu seperti anak yang tidak bersekolah dan tidak berpendidikn! Ibu tidak pernah mengajarkan kamu berbicara kasar apa lagi menyakiti dan menghina seseorang. Kenapa kamu mengatakan seperti itu?" ucap Ibunya Tami yang menaikan intonasi suaranya menjadi dua oktav dan membuat Tama melototkan matanya menatap adiknya yang berbicara tidak sopan pada tamu.


"Maaf" ucap Tami yang langsung masuk sambil mengusap air matanya yang menetes dipipinya dengan kasar.


"Nak, Maafkan ucapan putri Ibu ya. Sebenarnya dia itu adalah gadis yang baik, mungkin saja karena Tama baru pertama kali membawa wanita untuk bertemu dengan kami dan memperkenalkan nya pada kami. Sekali lagi Ibu minta maaf atas namanya" ucap Ibunya Tama yang membuat Zaniya kaget bercampur rasa senang mendengar ucapan Ibunya Tama.


'Uwahhhh, jadi gue ini adalah cewek pertama dan satu-satunya yang dia ajak kemari? Senangnya dalam hati, jadi yang pertama. Hahahah' ucap Zaniya sambil tersenyum mendengarkan penjelasan dari Ibunya Tama.


Sedangkan Tama melotot mendengar Ibunya mengatakan hal yang membuatnya malu didepan Zaniya. Gadis yang memang baru dia kenal beberapa jam yang lalu.


"Ma, Mama sudah lebih baik?" tanya Tama yang mengalihkan pertanyaan dari apa yang dikatakan oleh Ibunya pada Zaniya.


"Yah, seperti ini Tama. Mama ini sudah tua, dan ini adalah penyakit orang tua. Jadi kamu tidak perlu khawatir akan keadaan Mama. Mama baik-baik saja nak" jawab Ibunya Tama yang memang lebih terlihat pucat.


"Kita kedokter ya Ma. Mama harus diperiksa, supaya tahu Mama sakit apa. Jangan dibiarkan Ma, aku tidak mau jika Mama kenapa-kenapa" ucap Tama yang beralih duduk disamping Ibunya dan menggenggam tangan beliau yang sudah keriput dan sedikit bergetar.


"Mama tidak apa-apa. Mama baik-baik saja nak. Jangan memikirkan Mama terus, Mama tidak apa-apa. Fikirkan diri kamu sendiri juga, kamu sudah dewasa dan kamu sudah waktunya memiliki keluarga juga. Jangan hanya mengurusi Mama saja" jawab Ibunya dengan mengusap lengan putranya yang sudah lama menjadi tulang punggung mereka semenjak Ayah nya tidak ada.


"Mama jangan mengatakan seperti itu. itu sudah kewajiban Tama sepabai anak Mama yang paling besar dan laki-laki satu-satunya. Mama adalah tanggung jawab Tama, begitu juga Tami. Kalian berdua adalah prioritas utama bagi Tama" ucap Tama yang menatap wajah renta Ibunya.


Zaniya ikut merasa sedih melihat interaksi antara Ibu dan anak itu. Dia jadi bertekad untuk membantu Tama untuk mendapatkan pekerjaan nya kembali. Jika tidak bisa maka dia akan meminta bantuan dari Daddy nya atau saudara Daddy nya. Begitulah Tekad Zaniya untuk menolong keluarga Tama.


.


.


.


Maaf ya... Othor masing sibuk dan juga sedang mempersiapkan untuk pulang kembali kekampung halaman. Jadinya rada-rada telat untuk update.


Tapi Othor akan berusaha untuk bisa update disela-sela kesibukan... Mohon bersabar untuk menunggu ya....


Jangan lupa tinggalkan like, komen, vote dan hadiah seiklasnya disetiap babnya ya buat Othor ya, supaya bisa menjadi semangat buat Othor up....