
Daffy masih terus menunggu Tami untuk keluar dari kamar. Dan tidak lama kemudian dia datang dengan koper kecil ditangan nya, membuat Daffy mengernyitkan dahinya bingung akan apa yang dilakukan oleh Tami.
"Apa kamu akan langsung pulang setelah ini? Kenapa kamu membawa koper kamu juga?" tanya Daffy yang membuat Tami hanya bisa tersenyum lalu menggelengkan kepalanya dan menjelaskan apa yang akan dia lakukan.
"Tentu saja tidak kak. Aku memang akan pulang, Tapi nanti, Setelah selesai kuliah. Jadi aku sengaja saja bawa koper aku ini, supaya tidak perlu bolak balik saja. Apa lagi Mama juga pasti akan sangat repot jika harus membawakan koperku juga" jelas Tami yang selalu tersenyum. Dan itu membuat hati Daffy jadi blingsatan tidak karuan.
"Ya sudah jika begitu. Nanti kakak antarkan kamu saja sekalian, kamu tinggal kabari saja jika akan pulang. Ini nomor ponsel kakak" ucap Daffy yang memberikan kartu namanya pada Tami.
"Wah, keren kakak ini. Masih kuliah saja sudah punya kartu nama dan ini? Apa kakak juga sudah bekerja juga?" tanya Tami yang melihat ada logo perusahaan dalam kartu nama tersebut.
"Iya, jika sedang ada waktu senggang saat kuliah. Karena itu adalah perusahaan keluarga besar kakak dari pihak Mommy" jawab Daffy yang tersenyum manis pada Tami.
'Ya Allah, kenapa senyuman nya itu adem banget ya? Sudah seperti lantai mesjid ademnya sampe kehati. Dosa nggak sih jika mengagumi jodohnya orang?' ucap Tami dalam hati dan dia malah senyum-senyum sendiri tidak jelas.
"Hey, kenapa? Apa ada yang lucu? Kenapa malah senyum-senyum?" tanya Daffy yang menjentikan jarinya didepan wajah Tami.
"Eh, nggak kok kak. Aku hanya baru mengingat, jika kambing tetangga ada yang melahirkan. Makanya aku senyum-senyum sendiri, yang sudah kak. Kita berangkat yuk, aku takut telat datang kekampus" jawab Tami yang sedikit gelagapan menjawab pertanyaan dari Daffy dengan jawaban yang aneh.
"Oh, yang sudah ayok" ucap Daffy yang mengambil alih koper milik Tami. Menjadi dia yang memegangnya.
"Aku bisa sendiri kak. Lagi pula ini risks berat kok, nanti malah semakin ngerepotin kakak" ucap Tami yang ingin merebut kopernya kembali, tapi tidak bisa, karena Daffy segera membawanya lebih dulu.
"Tidak apa-apa. Lebih baik, kita pamitan saja sama mereka semua. Kelihatan nya mereka memang sedang menunggu kita berdua" ucap Daffy menunjuk dengan dagunya kearah mereka semua yang memang sedang menunggunya.
"Iya kak" jawab Tami yang tidak henti-hentinya memandang Daffy yang memang sangat baik dan juga perhatian itu.
'Dear jodohnya orang. Aku pinjem dulu ya, karena aku juga ingin merasakan mendapatkan perhatian dari seorang pria baik dan juga tampan seperti kak Daffy ini. Jika saja, jodoh bisa rikwes, aku akan memintanya pada Allah supaya memberikan kak Daffy menjadi jodohku' ucap Tami dalam hati lagi yang masih memikirkan Daffy dan Daffy.
"Auntie, kami berdua pamit kuliah dulu. Mungkin aku juga akan mengantarkan Tami pulang juga, dia bilang tidak ingin repot bolak balik kemari lagi" ucap Daffy yang mendapatkan anggukan kepala dari Tami.
"Iya tidak apa-apa Daf, auntie mengerti. Tolong jaga dia dan jangan pulang terlambat" jawab Azalya yang memberikan izin pada Daffy.
"Kalian hati-hati. Sayang, jangan melakukan hal yang akan membuat nak Daffy kerepotan. Ingat, pesan Mama" ucap Mama Sinta yang mengingantkan putri bungsunya ini.
"Iya Ma, aku nggak akan membuat kak Daffy kerepotan" jawab Tami yang menyalami ketiga orang dewasa didepan nya itu.
Daffy dan Tami segera memasuki mobilnya dan Daffy mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kampus Tami terlebih dahulu.
"Kamu ambil jurusan apa?" tanya Daffy yang memecahkan keheningan diantara mereka berdua.
"Aku mengambil manajemen dan bisnis kak. Karena aku sangat menyukai itu semua. Memangnya kenapa kak?" jawab Tami sambil tersenyum dan dia balik bertanya pada Daffy.
"Tidak apa-apa, hanya kamu hebat saja. Disaat yang lain mengambil jurusan lain, kamu malah mengambil manajemen dan bisnis. Kakak salut pada kamu" jawab Daffy yang malah tangan nya reflek memegang kepala Tami dan sedikit mengacak rambut Tami.
'Ya Allah, hati hayati mleyot. Kenapa kak Daffy malah bersikap sangat manis seperti ini?' ucap Tami dalam hati dan dia malah mereog tidak karuan dalam hatinya.
"Maaf, kakak hanya reflek saja tadi. Maaf ya" ucap Daffy yang baru sadar jika tangan nya memengang kepala Tami.
"Tidak apa-apa kak. Aku tahu jika kakak memang selalu baik pada semua orang. Kakak pasti menganggap aku hanya teman, atau mungkin adik dimata kakak. Jadi jangan merasa tidak enak begitu" ucap Tami yang menunduk merasa lemas saat mendengar ucapan nya sendiri.
'Kenapa aku merasa sedih saat dia mengatakan teman dan adik? Apa mungkin aku memang memiliki rasa padanya? Jika iya, apa yang harus aku lakukan sikap seperti apa? Yang akan aku tempuh, semoga semuanya baik-baik saja dan tidak akan ada hati yang terluka' ucap Daffy dalam hati yang masih fokus mengemudikan mobilnya menuju kampus Tami.
'Kenapa aku merasa sedih saat aku mengatakan itu pada kak Daffy? Apa mungkin aku memiliki rasa padanya? Ah, Sudahalah. Kenapa juga aku memikirkan hal-hal tidak penting ini' ucap Tami dalam hati dan dia malah memandangi jalan yang terlihat lebih lancar dari biasanya.
Saat keduanya sedang larut dalam fikiran nya masing-masing hingga keduanya sudah sampai didepan kampus tempat Tami. Tami segera turun dari mobil Daffy dan juga pamitan pada Daffy.
"Makasih ya kak, sidang ngenterin aku kekampus. Aku masuk dulu, kakak hati-hati dijalan nya" ucap Tami yang sebelum keluar, lalu dia segera pergi meninggalkan mobil Daffy yang masih terparkir didepan kampus.
"Dia memang sangat lucu jika sudah bersikap seperti itu" gumam Daffy yang menatap kepergian Tami yang sudah menjauh darinya.
"Semoga saja kamu tidak lupa untuk menghubungi ku nanti selepas kuliah" ucap Daffy yang segera mengemudikan mobilnya menuju kampusnya sendiri.
Daffy segera pergi dari sana dan itu membuat semua mahasiswa yang melihat Tami keluar dari mobil mewah dan mungkin saja mereka berfikir, jika dia menjadi sugar baby dan dia mendapatkan bayaran yang sangat besar.
.
Sedangkan ditempat lain, Daffy juga sudah sampai dikampusnya dan dia malah bertemu dengan Daniel yang mungkin memang sengaja menunggunya.
"Ada apa? Apa kamu menangis sengaja menunggu ku?" tanya Daffy yang menatap kearah Daniel.
"Iya, aku tidak melihat Zaniya masuk kuliah. Apa dia baik-baik saja?" tanya Daniel yang memberanikan diri bertanya pada Daffy.
"Iya, dia baik-baik aja. Apa ada lagi yang ingin kamu tanyakan?" jawab Daffy yang bertanya balik pada Daniel.
"Tidak ada, aku hanya bertanya itu saja dan aku kira siapa sedang sakit atau sedang demam" ucap Daniel yang memang merasa tidak enak saat bertanya tentang Zaniya padanya Daffy.
"Oh, baiklah. Dia baik-baik saja dan tidak terjadi apa-apa padanya, kalau tidak ada lagi yang kamu tanyakan lagi. Saya akan segera masuk kelas sekarang juga" ucap Daffy yang merasa jika Daniel belum diberitahu oleh Zaniya, jika dia sudah menikah.
"Iya, silahkan saja" ucap Daniel pada Daffy.
Sedangkan Daniel merasa aneh dengan sikap Zaniya yang sudah lama tidak masuk kuliah dan sekarang juga dia belum masuk juga. Daniel sangat khawatir akan keadaan Zaniya, saat sedang berjalan menuju parkiran. Karena kelasnya sudah selesai dia malah bertemu dengan seseorang yang baru dia lihat sekarang.
"Sorry-sorry, gue nggak sengaja" ucap seseorang yang tidak lain adalah William dan dia juga sepertinya sedang mencari sesuatu juga. Dan entah apa yang sedang dia cari.
"Iya, tidak apa-apa" jawab Daniel yang baru pertama kali melihat pria ini.
"Loe tidak apa-apa kan? Gue buru-buru" tanya William yang melihat Daniel baik-baik saja dan dia langsung pergi setelah mengatakan itu pada Daniel.
"Dia siapa? Kenapa aku baru melihatnya? Atau dia dari jurusan lain, makanya aku tidak pernah melihatnya?" gumam Daniel yang menatap punggung pria tersebut. Lalu dia memasuki mobilnya untuk segera pulang.
.
Berbeda dengan pasangan pengantin baru yang malah baru saja bangun dari tidurnya yang terlihat sangat nyenak itu. Zaniya menggeliatkan tubuhnya dan itu membuat Tama kecil bangun kembali saat merasakan adanya pergerakan dari Zaniya.
"Sayang Iihhh, aku sangat lelah dan juga lemas. Kenapa kamu ini selalu saja meminta? Apa tidak kenyang juga, padahal sudah sejak semalam hingga pagi tadi. Aku sangat lapar dan juga lelah" ucap Zaniya yang membalikan tubuhnya menghadap kearah Tama.
"Aku sungguh-sungguh sangat lelah. Aku juga sangat lapar" ucap Zaniya yang menampilkan puppy eyes nya pada Tama.
"Baiklah, kita sarapan dulu. Sebelum itu kita mandi dulu" ucap Tama yang dijawab anggukan kepala oleh Zaniya.
"Gendong, kaki aku rasanya seperti jely. Sangat lemas sekali" ucap Zaniya yang merentangkan kedua tangan nya pada Tama untuk digendong.
"Dasar manja, tapi aku suka jika kamu manja seperti ini. Tapi jangan melakukan nya didepan umum" ucap Tama yang menggendong Zaniya menuju kamar mandi dan mereka berdua hanya mandi saja. Mereka tidak melakukan nya lagi.
"Sayang, lebih baik pesan makanan saja dan diantarkan kemari. Aku tidak mau jika mereka melihat seluruh tubuhku ini merah-merah seperti Macan tutul ini. Jadi lebih baik kamu pesan makanan saja" ucap Zaniya yang melihat seluruh tubuhnya banyak bercak merah yang diciptakan oleh suaminya itu.
"Sudah aku pesan. Apa ada lagi selain itu?" tanya Tama yang melihat Zaniya sangat antusias menunggu semua makanan yang sudah dipesan oleh Tama. Suaminya.
"Emm, sementara itu saja dulu. Jika aku menginginkan yang lain akan aku pesan kembali" jawab Zaniya yang memang sangat menyukai berbagai makanan yang ada. Baik itu makanan lokal maupun western, dia makan semuanya.
Keduanya sudah menikmati makanan pesanan mereka. Dan sekarang mereka berdua hanya menghabisakan waktu didalam kamar saja dengan nuansa pengantin baru yang masih mendominan.
"Terimakasih sayang. Kamu mau menerima aku yang miskin dan tidak punya apa-apa ini untuk menjadi suami dan imam untuk kamu" ucap Tama yang membuat Zaniya hanya bisa tersenyum dan memeluknya dengan erat. Karena sekarang posisi Zaniya berada diatas pangkuan Tama.
"Sama-sama sayang. Aku juga mengucapkan terimakasih pada abang. Karena abang mau menerima aku, dan bersedia membimbing ku yang manja dan juga mungkin memang kekanak-kanakan. Aku minta, tolong bantu dan bimbing aku" ucap Zaniya yang mengusap dada bidang Tama dan dia menyandarkan pipinya didada Tama lalu mendengarkan detak jantung Tama yang membuat Zaniya sangat nyaman.
"Itu sudah menjadi tugas dan kewajiban aku sebagai seorang suami. Jadi, jangan sungkan jika tidak tahu dan tanyakan jika tidak tahu" ucap Tama yang mengusap punggung Zaniya dan mengusap kepalanya juga.
keduanya saling tersenyum dan memeluk. Mereka benar-benar sangat menikmati suasana romantis dan menghabisakan waktu berdua, sebelum akhirnya mereka melakukan kegiatan nya masing-masing. Seperti Tama yang akan bekerja dan Zaniya akan kuliah kembali.
Saat sedang menikmati waktu mereka berdua, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dari luar dan Tama segera bangkit. Sebelum itu dia meletakan Zaniya diatas kursi tempatnya duduk tadi.
"Diam disini dulu. Mungkin itu Mama atau yang lain" ucap Tama yang mengusap kepala Zaniya.
"Iya, aku akan menunggu disini" jawab Zaniya yang mengangguk.
Lalu Tama segera menikah pintu dan benar saja. Jika diluar ada Mama Sinta yang sudah rapih akan pergi.
"Ma, Mama mau kemana? Kenapa sudah rapih seperti ini?" tanya Tama melihat ada koper juga disamping Mama Sinta.
"Mama mau pulang, Mama tidak betah berada disini lama-lama" jawab Mama Sinta yang melihat sekeliling kamar Tama terlihat kosong dan Zaniya tidak terlihat dimanapun.
"Kenapa Mama pulang sekarang? Apa Tami juga akan pulang?" tanya Tama yang masih menatap Mama Sinta yang mengangguk dan tersenyum.
"Tami sedang kuliah dan setelah selesai akan langsung pulang. Dimana istri kamu nak? Mama juga mau berpamitan padanya" tanya Mama Sinta yang tersenyum melihat Zaniya datang menghampiri dengan berjalan sangat pelan dan dia lakukan senormal mungkin saat berjalan.
"Aku disini Ma, kenapa Mama buru-buru pulang? Apa Mama tidak betah berada disini?" tanya Zaniya yang sudah mendekat dan memeluk Mama Sinta.
"Iya, Mama tidak betah. Lagi pula mana harus mempersiapkan untuk kalian pulang kerumah, jadi Mama harus pulang lebih dulu bukan? Kalian nikmati saja honey moon kalian dulu. Setelah selesai baru kalian bisa pulang" ucap Mama Sinta yang tersenyum dan memeluk Zaniya kembali.
"Iya Ma, mungkin besok atau lusa kami akan pulang. Karena aku sudah terlalu lama cuti kuliahnya" jawab Zaniya yang mengingat, jika dia sudah hampir tiga bulan mengambil cuti. Saat menemani Mom Vita operasi, hingga pemulihan. Jadi dia ingin segera pulang dan mengerjakan tugas-tugas kuliahnya.
Apa lagi dia mendapatkan dosen kiler dan sekarang sudah menjadi suaminya. Tapi tetap saja, walau begitu. Dia akan sulit berusaha saat dia tidak mau berfikir dan mengerjakan semuanya sendiri.
"Iya, Mama tunggu. Sekarang Mama pulang dulu ya. Assalamualaikum" ucap Mama Sinta yang pamit lalu mengucapkan salam pada Zaniya dan Tama.
"Wa'allaikumsalam, hati-hati dijalan Ma" jawab Tama dan Zaniya yang kembali menrutup pintu kamarnya dan mereka menghabiskan waktu berduanya kembali.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya... Karena Othor sudah up 2bab ya... Jadi tinggalkan jejak like, komen, vote dan hadiahnya....
Terimakasih end happy reading... 🤗🤗🤗