Mr. Z CEO Of The Mafia

Mr. Z CEO Of The Mafia
Kembali lagi semula dan Zayn terluka



"Sakit By, kenapa sih suka sekali mencubit hidungku ini? Lihat tuh, kan jadi merah gini mirip sama badut" ucap Azalya protes apa yang dilakukan oleh Zayn padanya.


"Kau ini jika sudah mengingat semuanya kenapa kembali menjadi cerewet lagi?" tanya Zayn yang masih memeluk pinggang Azalya dan menatap Azalya yang sedang mendongak menatapnya.


"Ya inilah diriku yang sebenarnya dan apa adanya. Tapi hubby suka kan?" jawab Azalya dengan senyuman mengembang dibibirnya dan bertanya sambil menaik turunkan alisnya.


"Sangat, thank you sudah bisa mengingat segalanya dan bisa kembali seperti ini lagi" jawab Zayn dengan sangat tulus dan sambil mengusap pipi Azalya dengan satu tangan dan tangan satunya lagi memegang pinggangnya.


"Aku juga berterimakasih pada hubby, berkat tadi diajak kepantai dan menggelitiki ku. Aku seperti melihat kepingan-kepingan ingatan saat aku mendapatkan hal yang serupa. Juga sangat bersyukur karena ternyata Allah sudah merencanakan pertemuan kita berdua dengan aku yang menjadi pelayan disini selama lebih dari setahun. Tapi kenapa hubby sangat tega sekali, sudah bertahun-tahun baru kemari?" tanya Azalya yang protes akan Zayn yang tidak pernah pulang ke mainson miliknya sendiri.


"Aku tidak pernah pulang ke mainson jika tidak ada yng sangat penting. Dan waktu itu aku belum merasakan jika kalian berada disini, yang aku rasakan adalah kehilangan dan terus mencari-cari kalian. Tapi yang dicarinya berada didekatku sendiri" jawab Zayn yang membuat Azalya merasa terharu dan dia memeluk Zayn dengan sangat erat lalu dia terisak dalam pelukan hangat seorang Zayn.


Zayn memasangkan cincin yang dulu lagi. Dia sudah mengambil kedua cincin yang selalu menghubungkan mereka berdua, dan Azalya merasa sangat terharu saat Zayn memasangkan kedua cincin tersebut pada tempat yang sama seperti dulu. Zayn memang tidak pernah berkata-kata manis, bahkan sering sekali berbicara pedas dan juga kasar.


Tapi sikap dan juga perhatian nya sangatlah besar padanya. Sehingga Azalya tidak bisa untuk tidak selalu mengejar untuk mendapatkan cinta dari seorang Zayn Malik yang seorang King Mafia.


"Oh, jadi kami ini tidak penting untuk hubby? Lepaskan aku!" ucap Azalya dengan judes pada Zayn yang masih memeluk pinggangnya dengan sangat erat.


"Aku tidak akan melepaskan kamu untuk selamanya, karena kamu sudah masuk kedalam cengkraman ku" ucap Zayn yang menatap Azalya dengan tatapan tajamnya dan berhasil membuat Azalya ketakutan akan tatapan yang baru pertama kali dia lihat.


"Jangan pernah berfikiran akan meninggalkan ku! Karena aku akan bisa menemukanmu. Jadi, camkan itu baik-baik!" ucap Zayn yang malah melepasakan pelukan nya dan pergi begitu saja meninggalkan Azalya yang bingung dengan sikap Zayn yang baru dia lihat sekarang.


"Ada apa dengan nya? Kenapa malah menjadi sangat menakutkan? Aku baru melihat sikapnya yang ini" gumam Azalya yang menatap Zayn yang sudah menghilang dibalik pintu.


"Apa aku salah bicara? Tapi akukan hanya bercanda saja. Kenapa dia harus marah? Lagian juga siapa yang mau meninggalkan nya, aku sudah sangat mencintainya dan juga sudah bisa mengingat segalanya" tanya Azalya pada diri sendiri yang tidak mendapatkan jawaban apa yang dia tanyakan.


.


Sedangkan Zayn langsung masuk kedalam ruangan kerjanya. Dia ingin meraih dan melampiaskan kemarahan nya pada semua barang-barang yang ada didalam ruangan kerja miliknya sendiri.


PRANG....


PRANG...


Untung saja ruangan kerja itu kedap suara sangat tidak akan bisa terdengar hingga keluar. Zayn menghancurkan guci dan juga meja yang terbuat dari kaca hingga berantakan. Zayn juga menyakiti dirinya sendiri dengan pecahan kaca dari gelas yang sedang dia pegang hingga hancur dan pecahan nya melukai tangan nya sendiri.


"Apa dia tidak berfikir jika aku ini sudah hampir gila karena mencarinya kesana kemari? Dia dengan mudahnya ingin pergi dari ku. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Tidak akan pernah!!" ucap Zayn dengan penuh penekanan dan tangan nya sudah terluka dan darah segar mengalir deras dari sela-sela jarinya.


Zayn bahkan tidak merasakan sakit atau perih sedikitpun. Hingga ada yang mengetuk pintu berulang-ulang tapi tidak ada jawaban dari dalam, karena Zayn sedang marah dan tidak ingin jika kemarahan nya akan menyakiti orang lain. Jadi lebih baik diam dan tidak keluar dari dalam ruangan kerjanya.


Sedangkan diluar ruangan, Azalya sedang bingung. Pasalnya dia sudah mencari diseluruh ruangan, tapi tidak ada. Hingga Azalya berhenti didepan pintu ruangan kerja milik Zayn. Azalya mencoba mengetuknya tapi tidak ada jawaban sama sekali darinya dalam. Bukan Azalya namanya jika dia tidak memiliki cara untuk bisa masuk kedalam ruangan kerja Zayn yang ternyata tidak dikunci.


CKLEK...


"Kenapa gelap banget? Apa mungkin hubby tidak ada disini?" gumam Azalya yang sedikit masuk lebih dalam dan...


"Aduh" ucap Azalya saat kakinya menginjak sesuatu yang dia yakini itu adalah pecahan guci.


"Untung saja aku tidak terluka, fiyuh" ucap Azalya yang terus melangkah dengan diam menyalakan lampu dan betapa terkejutnya dia melihat jika didalam ruangan ini seperti kapal pecah.


Semuanya sudah berhamburan dimana-mana, dan Azalya melihat meja kaca sudah hancur berkeping-keping. Begitu juga dengan guci yang sudah berserakan dimana-mana. Azalya mengedarkan pandangan nya hingga tertuju pada seseorang yng sedang berdiri didekat jendela dan itu adalah Zayn yang tidak bergeming sedikitpun juga.


Azalya menghampirinya dan memeluk Zayn dari belakang. Dia menempelkan pipinya dipunggung Zayn dan terus melakukan itu cukup lama sehingga dia menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Azalya menatap tangan kanan Zayn yang masih mengeluarkan darahnya.


"By, hubby terluka" ucap Azalya saat memegang tangan Zayn yang masih menggenggam tangan darah terus mengalir dengan derasnya.


"Jangan pernah tinggalkan aku lagi" ucap Zayn saat Azalya menatap dengan serius air mata sambil menatap luka Zayn yang sangat dalam dan juga ada pecahan kaca yang tertancap lumayan dalam hingga hampir saja menembus punggung tangan nya.


"Aku tidak akan meninggalkan hubby. Karena aku sangat mencintai hubby, kenapa hubby malah menyakiti diri sendiri?" jawab Azalya yang mencoba untuk mencabut pecahan kaca tersebut. Lalu bertanya pada Zayn.


Zayn tidak mengatakan apa-apa pada Azalya. Karena sekarang Azalya sudah mencabut pecahan kaca dari tangan Zayn sambil menangis dan melihat darah semakin banyak yang keluar. Azalya segera menutup lukanya menggunakan pakaian miliknya sendiri lalu membersihkan luka ditangan Zayn dan membalutnya dengan kasa.


"Apa sangat sakit? Ini lukanya sangat dalam, kita ke dokter saja bagaimana?" tanya Azalya saat mengobati luka yang sangat parah dan juga dalam ditangan Zayn.


"Tidak perlu. Nanti juga akan sembuh, jangan menangis karena aku" ucap Zayn yang mengusap air mata yang terus menetes dipipinya dan membiarkan Azalya membalut lukanya dan Zayn memeluk Azalya yang menangis dalam pelukan nya.


"Kenapa hubby menyakiti diri sendiri? Apa hubby tidak tahu jika aku juga merasakan sakitnya saat hubby terluka" tanya Azalya yang masih menangis sesegukan didalam pelukan nya saat ini.


"Maafkan aku. Aku hanya melampiaskan kemarahan ku saja supaya tidak marah pada mu, jangan menangis lagi" ucap Zayn yang mengusap kepala dan punggung Azalya yang menangis sesegukan.


"Jangan melakukan seperti ini lagi By, karena ini juga menyakiti aku" ucap Azalya yang mengurai pelukan dan dijawab anggukan oleh Zayn.


Keduanya masih saling berpelukan didalam ruangan yang sangat berantakan dan juga banyak pecahan kaca masih berserakan dan Zayn menekan tombol supaya kepala pelayan bisa segera membersihkan kekacauan yang dia buat sendiri.


Zayn keluar dari ruangan kerjanya melalui pintu lain dan tidak berpapasan dengan para pelayan yang akan membersihkan pecahan kaca dan juga guci yang berserakan juga ada bercak darah yang menetes.


"Aaron sedang kemari, jadi jangan khawatir hmm" ucap Zayn yang menenangkan Azalya yang masih menangis sesegukan sambil menatap dan memegangi luka ditangan Zayn.


"Benar ya?" ucap Azalya yang tidak ingin jika Zayn berbohong hanya untuk menenangkan dirinya saja.


"Hmm" jawab Zayn dengan deheman saja lalu memeluk Azalya yang masih memegangi dan meniupi luka ditangan Zayn.


"Mommy, Daddy. Kenapa kalian saling berpelukan dan Mommy menangis?" tanya Zahiya dan Zaniya yang baru bangun dari tidurnya melihat Mommy nya malah menangis dan berpelukan dengan Daddy nya.


"Mommy tidak apa-apa, hanya melihat luka ditangan Daddy dan merasakan sakitnya" jawab Azalya yang membuat kedua putrinya langsung berlari menghampiri mereka dan melihat bagaimana luka ditangan Zayn.


"Apa sakit Dad?" tanya Zaniya yang menanyakan hal yang membuat Zahiya menepuk keningnya sendiri akan pertanyaan dari adiknya.


"Ya tentu saja sakit Zani, masa berdarah seperti itu tidak sakit" bukan Zayn atau Azalya yang menjawab melainkan Zahiya yang menjawabnya.


"Oh, Daddy kenapa bisa terluka? Apa sudah diobati? Apa dokternya ada disini? Atau Daddy mau kerumah sakit sekarang?" tanya Zaniya dengan panjang lebar setelah menjawab ucapan dari Zahiya, saudara kembarnya.


"Kamu jika bertanya terus akan membuat Daddy semakin sakit. Sebaiknya kamu diam saja dan jangan membuat pusing" ucap Zahiya yang malah membuat Zayn tersenyum melihat sikap kedua putrinya.


"Aku hanya bertanya, kenapa kakak marah?" ucap Zaniya yang mengerucutkan bibirnya menatap Zahiya yang memarahinya.


"Sudah-sudah, Daddy tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil dan sebentar lagi juga dokter Aaron akan datang untuk memeriksa Daddy. Jadi jangan bertengkar, karena tidak baik" ucap Zayn yang melerai kedua putrinya supaya tidak berdebat karena Zaniya yang menuruni sifat Azalya yang banyak bicara dan juga selalu ingin tahu. Sedangkan Zahiya mirip dengan nya yang sedikit berbicara.


"Benarkah Daddy tidak apa-apa?" tanya Zahiya yang menatap Zayn dengan lekat dan penuh selidiknya.


"Daddy baik-baik saja. Daddy kan laki-laki dan masa laki-laki cengeng terluka seperti ini. Jadi jangan khawatir akan lah itu oke" jawab Zayn sambil mengusap kepala Zahiya dan Zaniya bergantian dan tidak memperlihatkan ekspresi sakitnya sedikitpun.


"Benarkah Dad? Syukurlah" tanya Zahiya dan Zaniya yang lalu mengucapkan syukur karena Daddy nya bilang tidak apa-apa dan itu membuat Zahiya dan Zaniya senang.


"Permisi King, Aaron sudah datang. Apa disuruh lemari atau menunggu?" ucap Angga yang melaporkan pada Zayn dan juga bertanya padanya.


"Suruh segera kemari Angga, saya tidak mau jika suamiku kenapa-kenapa" bukan Zayn yang menjawab, tapi Azalya yang memerintahkan Angga supaya segera menyuruh Aaron untuk memeriksa Zayn.


Angga menatap Zayn dan Zayn mengedipkan matanya untuk mengiyakan ucapan Azalya. Angga dengan patuh langsung mengangguk dan pergi untuk memanggil Aaron segera keatas.


"Baik Nyonya, saya akan memanggilkan Aaron segera kemari" jawab Angga yang langsung pergi dan tidak berbalik lagi.


Sedangkan Azalya sudah heboh sendiri untuk meminta Zayn berbaring dan tidak boleh bergerak dibantu oleh Zaniya yang sama hebohnya dengan Mommy nya.


Tidak berselang lama Aaron dan Angga datang kembali untuk memeriksa keadaan Zayn. Karena akhir-akhir ini Zayn memang sering drop sebelum bisa menemukan Azalya. Jadi Aaron sudah mempersiapkan semuanya.


"King, saya mohon izin ingin memeriksa anda" ucap Aaron yang sudah mengeluarkan beberapa alat yang akan dia gunakan untuk memeriksa keadaan Zayn.


"Saya baik-baik, hanya tangan saya saja yang terluka" ucap Zayn yang melihat Aaron mengeluarkan alat-alat medis yang selalu dia gunakan untuk memeriksa Zayn dan itu hanya khusus untuk Zayn saja.


"Saya tahu King, tapi keadaan anda juga tidak terlihat baik" jawab Aaron yang akan lebih tegas lagi jika Zayn sudah seperti ini.


"Kamu benar Arron, kamu periksa saja semuanya. Saya tidak mau jika terjadi sesuatu padanya, aku tidak rela" ucap Azalya yang membuat Aaron tersenyum dan mengangguk akan perintah yang diberikan oleh Nyonya nya.


Aaron mengerjakan apa yang memang seharusnya. Dia juga mengeluarkan infusan juga transfusi darah juga karena Zayn kehilangan banyak darah saat luka itu terjadi. Zayn tidak ingin mengatakan apapun karena sudah ditatap tajam oleh ketiga wanita kesayangan nya.


"Anda memang hebat Nyonya, anda bisa melakukan King Mafia seperti anda King" ucap Aaron yang sedang berbisik sambil memasangkan jarum infus pada tangan Zayn.


"Kau sudah tidak ingin melihat matahari terbit esok hari?!!" tanya Zayn dengan tatapan tajamnya dan juga siap untuk menguliti hanya dengan tatapan saja.


"Maaf King. Saya hanya bergumam saja King" ucap Aaron yang sudah ketakutan menatap Zayn yang sudah ingin menelan nya hidup-hidup.


"Kalian sedang membicarakan apa? Apa hubby tidak ingin diinfus? Apa hubby tidak ingin sembuh?" tanya Azalya yang siap akan memarahi Zayn dan juga Aaron.


"Tidak Nyonya, King tidak mengatakan apa-apa. Hanya bilang jika saya sudah memasangkan ini semua saya tidak perlu datang kemari lagi, karena disini King sudah memiliki tiga perawat yang akan siap menjaganya selama dua puluh empat jam" ucap Aaron yang sudah ditatap sangat tajam oleh Zayn karena ulahnya membuat Azalya kembali dalam mode cerewet.


"Baiklah, sekarang sudah selesai semuanya King, Nyonya. Saya permisi, semuanya harus habis dan saya akan kembali jika semuanya sudah habis. Ini obat yang harus King minum, semuanya adalah obat yang selalu King minum dan hanya ada tambahan satu saja untuk memulihkan bekas lukanya dari dalam" jelas Aaron yang memberikan obat untuk Zayn minum setiap harinya.


Azalya hanya mengangguk dan menerima semua obat yang diberikan oleh Aaron padanya. Sedangkan Zayn sudah menatap tajam pada Aaron karena sudah memberikan obat yang sangat banyak lagi untuknya. Rasanya dia sudah lelah dan juga bosan, karena setiap hari harus selalu meminum obat.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya untuk like, komen, vote dan hadiah.... Komen disetiap babnya ya.... Supaya Othor makin semangat buat selalu up tiap hari...


Subscribe dan pollow akun Othor juga ya....