
"Mommy habis dari mana? Kenapa Mommy menghilang tadi?" tanya Zaniya yang mendekat kearah Azalya.
"Mommy habis memenuhi panggilan alam. Kenapa mencari Mommy? Apa ada sesuatu yang kau inginkan?" jawab Azalya dan sambil bertanya juga pada Zaniya yang sedang menatapnya.
"Keluarganya bang Tama mau pulang dan mereka sudah berpamitan pada yang lain. Hanya pada Mommy saja yang belum" jawab Zaniya yang mengatakan nya sambil menggandeng lengan Azalya menuju ruang tamu.
"Baiklah, ayo kita kesana sekarang" ucap Azalya yang melangkah menuju ruang tamu.
"Maaf, saya baru saja dari kamar mandi" ucap Azalya yang sudah bergabung dengan yang ada diruang tamu.
"Tidak apa-apa nak, saya hanya mau berpamitan saja. hari sudah semakin larut, makanya kami ingin berpamitan pada kalian semua. Kami bertiga akan pamit. Assalamualaikum" ucap Mama Sinta pada semua orang.
"Wa'allaikumsalam, kalian hati-hati dijalan. Hubungi kami jika sudah sampai rumah" ucap Mama Soraya yang meminta pada Mama Sinta.
Semua orang memandang kearah mobil yang dikendarai oleh Tama meninggalkan mainson Malik. Lalu Tama menekan tlakson dua kali tanda dia berpamitan pada semua orang yang ada disana. Setelah kepergian Mama Sinta dan keluarganya semua orang yang ada disana juga pulang kerumah mereka masing-masing dan sekarang hanya tinggal Mama Soraya dan Papa Danu yang tinggal disana bersama Azalya dan anak-anaknya.
"Kamu kenapa AZ? Kenapa terlihat lesu, dan dimana Zayn sekarang?" tanya Mama Soraya yang menatap wajah Azalya terlihat berbeda dan tidak bahagia.
"Aku nggak apa-apa kok Ma. Hubby sedang ada tugas diluar kota, dan Mama pasti sudah tahu bukan apa jawaban yang pas dengan wajahku ini?" jawab Azalya yang bertanya balik pada Mama Soraya.
"Iya, Mama sudah tahu jawaban nya apa jika sudah seperti ini. Kamu ini sudah dewasa dan bahkan sudah tua sekarang AZ, kenapa hanya ditinggal pergi suaminya saja untuk kerja. Ini malah sedih kayak gini sih AZ, dari dulu sampai sekarang kamu masih saja seperti ini jika ditinggal oleh suami kamu. Lebih baik kamu do'akan dia, bukan malah sedih dan wajahnya ditekuk begitu" ucap Mama Soraya yang mencubit kedua pipi Azalya dengan gemas.
"Mama apaan sih, aku seperti sekarang karena baru kali ini ditinggal lagi oleh Hubby. Makanya aku sedih kayak gini" ucap Azalya yang mengerucutkan bibirnya dan mengusap pipinya yang terasa sakit karena cubitan Mama Soraya.
"Sebaiknya kamu istirahat saja. Mama juga akan istirahat, karena Mama sudah semakin tua dan gampang lelah" ucap Mama Soraya yang langsung masuk kedalam kamar yang selalu Mama Soraya dan Papa Danu saat menginap disini.
"Iya Ma, aku memang sudah sangat lelah juga mengantuk" jawab Azalya yang bangkit dari duduknya lalu menuju kamarnya.
"Semoga saja mereka tidak menyadari jika Mommy tidak ada ditengah-tengah mereka semua sekarang" gumam Azalya yang sudah merebahkan dirinya diatas ranjang.
"Kalaupun mereka menyadarinya, aku tidak akan perduli. Mereka semua tidak bisa mengerti akan semua yang terjadi pada Mommy, mereka hanya sibuk dengan urusan masing-masing dan tidak ada yang peka akan keadaan dan juga kesehatan nya" gumamnya yang langsung memejamkan matanya karena sudah sangat mengantuk.
.
Sedangkan didalam kamar Zahiya, dia mendapatkan tugas untuk menjaga seluruh keluarganya yang ada disana, karena Zayn sekarang sedang tidak ada dirumah, jadi dia yang bertanggung jawab penuh atas keluarganya.
Zahiya bangun dan menuju balkon kamarnya. Disana dia bisa melihat banyak sekali anggotanya yang sedang berjaga dan dia tidak tahu apa sebenarnya yang akan terjadi setelah mereka menyadari jika Mom Vita sudah tidak ada dinegara ini lagi.
"Dad apa kalian baik-baik saja? Semoga saja, karena jika orang itu mengetahuinya. Maka akan terjadi malasah besar" gumam Zahiya yang menatap sosok yang mencurigakan.
"Kalian waspada dan lihat arah jam sebelas" ucap Zahiya pada anggotanya yang berjaga disana.
Mereka semua langsung siaga dan salah seorang dari mereka menuju tempat yang ditunjukan oleh Zahiya. Mereka tidak menembukan apa-apa disana, bahkan tidak ada siapa-siapa. Zahiya terus menatapi seseorang yang memang sengaja hanya berdiri saja disana tapi tidak dilihat oleh semua anggotanya.
Zahiya turun dengan segera dan hanya menggunakan piyama tidurnya saja. Dia tidak memperdulikan dirinya yang sedang terluka. Dia menatap sosok yang sangat mirip dengan Zayn, Daddy nya.
"Siapa anda? Kenapa anda terus mengawasi saya dan anda tidak pergi walau sudah ketahuan?" tanya Zahiya dan orang itu hanya diam saja.
"Apa yang anda inginkan? Saya tidak ingin menyakiti anda, jika anda tidak mengatakan apa yang anda inginkan, jangan salahkan saya yang akan melakukan hal diluar dugaan anda" tanya Zahiya lagi. Tapi tidak ada jawaban apa-apa dari pria tersebut, dia hanya tersenyum tipis lalu menatap wajah Zahiya dengan lekat.
'Siapa dia sebenarnya? Kenapa dia hanya diam saja dan tidak mengatakan apa-apa? Tunggu! Bukankah dia sangat mirip dengan seseorang? Tapi dia ini siapa? Apa maunya dan apa tujuan nya datang kemari dan hanya diam saja seperti ini?' gumam Zahiya yang masih terus menatap wajah tersenyum dari orang yang berdiri didepannya.
"Maaf" hanya itu yang dia ucapkan dan dia langsung pergi dengan wajah yang sangat sedih.
Tentu Zahiya tidak diam saja, dia mengejar dan terus mengikuti langkah pria tersebut. Lalu dia menggenggam tangan pria tersebut, dia memandanginya dengan tatapan tajam dan penuh selidik.
"Siapa anda sebenarnya? Kenapa anda mengawasi kediaman kami dan anda malah pergi begitu saja? Apa yang anda inginkan sebenarnya?" tanya Zahiya dengan penuh ketegasan dan juga penekanan.
"Saya hanya ingin melihat keadaan kalian semua. Karena saya begitu kesepian dan juga tidak pernah ada yang mau menjenguk dan melihat dirumah saya yang mungkin kalian enggan untuk melakukan itu. Makanya saya sendiri yang datang kemari untuk melihat keadaan kalian semua" jawab pria paruh baya tersebut dengan tatapan sedihnya.
"Apa maksud anda?" tanya Zahiya lagi yang mana membuat pria paruh baya tersebut hanya bisa tersenyum sambil meneteskan air matanya menatap pada Zahiya.
"Saya adalah Surya Pratama, saya, saya adalah kakek kamu nak. Tolong jangan pernah melupakan pria tua ini, jangan pernah lupakan itu semua nak" ucap pria paruh baya yang menyebut dirinya adalah Surya Pratama.
"Tidak mungkin, itu semua tidak mungkin. Anda sudah meninggal? Kenapa masih ada disini dan berbicara dengan saya? Saya pastikan bermimpi" ucap Zahiya dengan tatapan tidak percayanya dan dia hanya bisa menggeleng dan tersenyum kecut saat melihat pria paruh baya dihadapan nya.
"Opa, kenapa Opa datang kemari? Maaf aku belum pernah kesana dan belum sempat. Apa lagi Oma sedang dalam perjalanan untuk segera mendapatkan perawatan secepatnya. Kenapa Opa malah kemari? Jangan bilang Opa akan membawa Oma pergi dari kami, jangan pernah melakukan itu" ucap Zahiya yang menantap dengan tatapan yang sudah berkaca-kaca dan sebentar lagi akan menangis.
"Don't cry my Queen. Opa hanya ingin melihat kalian saja, Opa sudah tahu. Makanya Opa hanya memberitahukan padamu, jika harus tetap waspada dan jangan pernah mempercayai sembarang orang. Lakukan seperti Daddy kamu yang selalu memikirkan segalanya sebelum melakukan sesuatu. Opa hanya bisa memberikan ini untuk mu Queen, peganglah dan simpan. Kelak akan sangat berguna bagimu" ucap Surya Pratama lalu dia menghilang bagai buih. Tanpa jejak.
"Opa, Opa, Opa..... " teriak Zahiya yang bangun dari tidurnya dan dia melihat sekeliling. Ternyata dia masih berada dalam kamarnya.
"Aku hanya bermimpi rupanya. Tapi kenapa rasanya seperti sangat nyata? Opa datang kemari, semoga ini bukan pertanda buruk Ya Allah" gumam Zahiya yang langsung berdiri dan pergi menuju kamar mandi.
Didalam kamar mandi Zahiya hanya menatap dirinya dari pantulan cermin besar didepannya. Dia sama sekali tidak bergeming sedikit pun juga saat dia menatap dirinya sendiri, bahkan tanpa berkedip sedikitpun juga hingga pandangan nya menangkap bayangan seseorang yang memasuki kamarnya dan seperti mengambil sesuatu didalam tangan nya.
"Sial, ada penyusup masuk" ucap Zahiya yang langsung mengejar penyusup tersebut hingga dia dengan kecepatan kilat berhasil membuatnya tersungkur ditanah.
BRAK...
Zahiya dengan sekali tendangan sudah bisa melumpuhkan penyusup tersebut. Mungkin saja jika pun dia adalah ahli dalam bela diri, tetap saja jika tulang keringnya terkena tendangan akan kesakitan juga bukan?.
"Siapa kau?!" tanya Zahiya yang sudah melumpuhkan penyusup tersebut dengan sekali tendangannya yang mematikan.
"Anda tidak perlu tahu siapa saya. Yang jelas saya sudah mendapatkan apa yang saya inginkan. Sebentar lagi bantuan kami akan datang" ucapnya yang membuat Zahiya semakin geram dan mengambil apa yang ada ditangan pria tersebut.
"Kau tidak akan semudah itu bisa lepas dari ku" ucap Zahiya yang sudah benar-benar melumpuhkan nya hingga tidak bisa berjalan.
"Silahkan saja Nona, anda memang sudah mendapatkan kembali apa yang sudah saya ambil. Tapi kau tidak akan pernah bisa lepas dari kami" ucapnya yang membuat Zahiya sedikit mengenali suara tersebut.
Dengan cepat Zahiya melepasakan masker yang melekat pada wajah pria tersebut. Dan betapa terkejutnya Zahiya saat siapa yang ada dihadapan nya saat ini. Dia adalah Albert Einstein yang sedang tersenyum tipis kearahnya.
"Kau? Kenapa kau ada disini?" tanya Zahiya yang membantu Albert untuk bangun dan membawanya menuju kamarnya.
"Hanya ingin memastikan jika kau memang dia dan kau tidak seperti dugaan ku" jawabnya yang menatap bahu Zahiya yang sedikit terbuka, karena dia hanya menggunakan piyama tidurnya saja.
"Apa lukamu sudah lebih baik?" tanya Albert yang menatap wajah Zahiya yang sangat datar itu.
"Seperti yang anda lihat sendiri bukan" jawab Zahiya yang mengobati kaki Albert yang cidera olehnya.
"Apa ini sikap dan wajah asli seorang Zahiya? Sangat berbanding terbalik dengan yang saya kenal sebelumnya" ucap Albert yang membuat Zahiya menghentikan gerakan tangan nya yang sedang mengobati kaki Albert.
"Bisa dibilang seperti itu. Untuk apa anda datang kemari dan mengambil ini dari kamar saya? Apa yang anda inginkan sebenarnya?" tanya Zahiya yang menatap wajah Albert dengan sangat dingin.
"Saya hanya ingin memastikan jika saya dan insting saya tidak salah. Dan ternyata memang benar, jika kamu memang dia. Queen Z bukan?" jawab Albert yang membuat Zahiya hanya diam dan terus mengobati kaki Albert.
"Lalu apa yang akan anda lakukan setelah tahu siapa saya dan tidak sesuai dengan apa yang anda fikirkan?" tanya Zahiya yang sudah membalut kaki Albert menggunakan gips untuk menyangga kaki Albert.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan setelah tahu jika saya adalah seorang ketua Mafia dan secara tidak langsung saling bermusuhan?" Albert balik bertanya dan dia menatap manik hitam Zahiya.
"Saya akan melawan jika merasa terancam dan ada yang mengganggu. Jika tidak, walau dia klan atau musuh bebuyutan sekalipun saya tidak akan melakukan apa-apa" jawab Zahiya yang sudah kembali duduk disofa sambil menatap Albert.
"Saya justru ingin memastikan jika kau memang tidak seperti para Mafia yang hanya mengincar uang dan kedudukan semata. Tapi setelah melihat langsung bagaimana kondisi mu sekarang tidak patut untuk mendapatkan kecurangan seperti yang ada dalam fikiran saya" ucap Albert yang mengatakan nya panjang lebar pada Zahiya.
"Lalu?" tanya Zahiya yang masih terus menatap Albert Einstein itu.
"Jika saya mengatakan saya menyukai dan menaruh hati pada sosok Zahiya maupun Queen Z. Apa yang akan anda katakan sebagai jawaban?" tanya Albert yang membuat Zahiya hanya mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan dari Albert.
"Apa seorang Mafia memiliki hati seperti yang anda katakan tadi? Menurut saya itu tidak, karena saya tidak ingin jika semua itu hanya akan saling memanfaatkan dan akan berujung tidak bisa saling percaya lalu akan ada peperangan.
"Saya tidak tahu apa yang ada dalam diri saya bisa dikatakan cinta atau yang lainnya. Saya hanya sudah merasa sangat nyaman dan saat tadi melihat kamu berdekatan dengan seorang pria membuat saya ingin marah dan bahkan mungkin bisa saya menghabisi pria tersebut" ucap Albert lagi sambil terus menatap wajah Zahiya yang hanya diam saja.
'Dia pasti mengira jika Zaniya adalah aku saat berdekatan dengan Pak Tama. Tapi nanti akan aku kasih tahu, dari pada dia membuat masalah dengan mereka berdua yang baru akan menjalin hubungan serius' gumam Zahiya yang menatap kearah Albert.
"Dia adalah saudara kembar ku. Dan pria itu adalah tunangan nya, jadi anda jangan salahkan faham akan mengenali seseorang. Jika tidak maka anda melakukan itu semua salah sasaran. Karena anda akan membuat orang yang lain bisa membuat hal yang tidak akan bisa anda bayangkan. Untung saja anda tidak melakukan itu semua" ucap Zahiya yang mulai tersenyum tipis melihat Albert Einstein.
"Tapi ada satu yang bisa saya bedakan antara Zahiya dan kembaran nya itu" ucap Albert membuat Zahiya mengernyitkan dahinya saat mendengar ucapan Albert.
"Apa itu?" tanya Zahiya yang mulai kembali menjadi Zahiya yang dikenal oleh Albert sebelumnya.
"Ini, ini dan ini. Dia tidak memiliki itu semua, dan maaf jika saya lancang melakukan itu semua pada anda. Karena saat saya mengobati luka anda, saya melihat itu semua dan melihat ini" ucap Albert yang menunjuk wajah Zahiya yang memang sedikit ada perbedaan keduanya jika dilihat dengan seksama.
"Anda adalah orang yang ketiga bisa membedakan kami berdua walau bertemu hanya sebentar" ucap Zahiya yang masih setia tersenyum dan dia menatap kedepan kamarnya yang masih tertutup rapat.
"Kau sangat cantik jika tersenyum lepas seperti itu" ucap Albert yang menatap wajah Zahiya tanpa berkedip.
"Saya tahu dan saya sudah bisa mendapatkan pujian seperti itu. Dan itu sudah tidak asing lagi didalam pendengaran saya. Jadi, jika anda ingin merayu saya sebaiknya carilah kata-kata yang membuat saya berkesan dan tidak pernah datang dengar dari orang lain" ucap Zahiya yang masih terus tersenyum.
'Entah kenapa jika aku bersama dengan nya selalu bisa tersenyum seperti ini. Tidak seperti pada bang Daffy, ah, ya. Bang Daffy, dia sama sekali tidak bisa membuat ku bisa merasa nyaman dan apa lagi tersenyum seperti ini juga merasa sangat nyaman dan terlindungi. Ada apa dengan diriku ini? Kenapa aku seperti ini?' gumam Zahiya dalam hati dan dia malah hanya diam dan itu membuat Albert sangat mengagumi sosok gadis cantik didepan nya.
"Apa yang sedang kau fikirkan? Apa kau berfikir jika saya akan melamarmu secara langsung dan menikahimu secepatnya?" tanya Albert yang membuat Zahiya melototkan matanya menatap Albert yang tanpa ekspresi apapun diwajahnya.
"Jika anda ingin melakukan itu, lebih baik perbaiki diri dan jangan mudah terpedaya dan terpengaruh oleh orang lain, walau dia adalah orang kepercayaan anda sendiri. Jika itu masih terjadi, saya yakin jika suatu saat nanti hubungan itu tidak akan bisa bertahan lama" ucap Zahiya yang membuat Albert Einstein hanya bisa diam dan mengiyakan ucapan Zahiya.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya untuk like, komen, vote dan hadiahnya ya... Supaya Othor makin semangat buat selalu up tiap hari...
Terimakasih and happy reading... 🤗🤗🤗