
"Jadi dia sudah memiliki kekasih? Awalnya aku kembali kemari dan mencari kamu untuk bisa dekat dengan kamu Zan. Ternyata aku terlambat, apa karena aku terlalu lama disana sehingga kamu bisa dengan mudah melupakan kedekatan kita berdua dulu Zan" ucap Daniel yang mengepalkan tangan nya lalu pergi setelah mengatakan itu.
Sedangkan Zaniya dan Tama sedang duduk saling bersisian dibangku taman rumah sakit. Mereka berdua saling diam dan tiba-tiba Tama ingin mengatakan sesuatu pada Zaniya.
"Apa kamu tidak akan pulang? Ini sudah malam dan juga semakin larut. Apa kamu tidak dicariin sama orang tua kamu?" tanya Tama untuk mengalihkan perasaan canggungnya pada Zaniya.
"Aku sudah bilang pada Mommy dan Daddy jika aku akan pulang terlambat. Mungkin sebentar lagi akan ada seseorang yang akan menjemput aku" jawab Zaniya dengan santainya lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi tersebut.
"Terimakasih banyak, karena kamu sudah menolong Mama saya dan membayar semua biaya dan tagihan rumah sakit. Saya berjanji akan mengganti semuanya walau tidak bisa cepat dan langsung melunasinya. Izinkan saya mencicilnya?" ucap Tama sambil menatap wajah Zaniya yang sedang tersenyum kearahnya.
"Abang jangan memikirkan itu dulu. Lebih baik abang fokus pada kesembuhan tante saja, masalah uang kita fikirkan nanti" jawab Zaniya yang menggenggam tangan Tama dan keduanya saling pandang lalu tersenyum bersama.
"Saya antar kamu pulang. Tidak baik jika wanita pulang sendiri dan membawa motor" ucap Tama yang menawarkan untuk mengantarkan Zaniya pulang.
"Aku nggak mau naik mobil abang lagi. Kita naik motor saja lebih cepat dan tidak akan kegerahan. Bagaimana?" tanya Zaniya yang tidak menginginkan naik mobil Tama yang menurut Zaniya seperti siput.
"Baiklah. Sekarang kita pulang" ajak Tama yang mengulurkan tangan nya pada Zaniya dan langsung disambut dengan suka cita oleh Zaniya.
"Tapi aku pamit dulu pada tante. Masa langsung nyelonong saja sih, tidak baik tahu" ucap Zaniya yang akan masuk kembali kedalam rumah sakit dan menuju ruang perawatan Ibunya Tama.
"Memang kamu tahu dimana ruang perawatan Mama saya?" tanya Tama saat mengikuti langkah kaki Zaniya.
"Tidak, makanya aku ngajak abang. Ya sekalian saja mau bilang jika aku pinjem anak bujangnya sebentar, hihihi" ucap Zaniya sambil tersenyum dan tertawa cekikikan saat mengatakan itu pada Tama.
Tama hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan dari Zaniya yang memang suka asal jika bicara. Tapi dia adalah gadis yang baik dan tidak pandang setatus atau kasta seseorang jika menurutnya baik dan tidak merugikan nya dalam hal apapun.
"Assalamualaikum tante. Bagaimana keadaan tante sekarang? Apa sudah lebih baik?" tanya Zaniya saat sudah masuk kedalam ruangan rawat Ibunya Tama.
"Alhamdulilah nak, tante sudah lebih baik. Terimakasih ya sudah bawa tante kesini dan membiayai operasi tante juga. Tante berhutang budi dan juga nyawa pada kamu nak, terimakasih banyak" ucap tante Sinta pada Zaniya.
"Sama-sama tante, Zaniya ikhlas kok bantu tante. Kita sebagai sesama manusia memang sepantasnya saling membantu dan saling menolong. Jadi tante jangan terlalu memikirkan itu ya, lebih baik sekarang tante istirahat dan jangan banyak fikiran. Aku kesini untuk pamit pulang, karena ini sudah malam. Mommy dan Daddy pasti sedang menungguku dirumah" ucap Zaniya yang pamit pada tante Sinta akan pulang.
"Iya nak, kamu hati-hati. Apa Tama akan mengantarkan kamu? Jika tidak maka tante akan marah padanya" ucap tante Sinta yang mengatakan itu pada Zaniya.
"Iya tante, bang Tama yang akan mengantarkan aku pulang. Aku pinjem anak bujangnya tante dulu ya sebentar, setelah mengantarkan aku. Akan segera aku kembalikan" ucap Zaniya yang mengajak bercanda pada tante Sinta.
"Kamu ini ada-ada saja nak. Boleh saja, tapi jangan digalakin atau dicuekin, karena dia ini sudah langka dan tidak ada lagi yang seperti dia" ucap tante Sinta yang juga ikut menggoda Tama. Yang notaben nya adalah putranya sendiri.
"Siap tante. Aku pamit tante" ucap Zaniya sambil mencium punggung tangan tante Sinta dan mereka berdua berpelukan sebentar sebelum akhirnya Zaniya pergi dari ruangan rawat tante Sinta.
"Apa abang jarang berbicara dengan Mama abang atau adik abang? Kenapa terkesan sangat cuek dan tidak terlalu dekat dengan mereka?" tanya Zaniya saat sedang berjalan dikoridor rumah sakit.
"Memang jarang, tapi kami bertiga sangat dekat" jawab Tama yang sudah sangat terbuka ada Zaniya.
"Syukurlah, tapi kenapa abang terlihat biasa-biasa saja dan terkesan cuek pada mereka?" tanya Zaniya lagi sambil menatap Tama yang berada disampingnya.
"Karena inilah saya. Saya tidak terlalu banyak bicara atau basa basi" jawabnya dengan tegas dan juga singkat.
"Abang mengingantkan aku dengan saudara kembar Ku. Dia juga jika bicara seperlunya dan selalu mengatakan hal yang langsung pada intinya saja. To the point saja dia" ucap Zaniya yang mengatakan itu pada Tama.
"Apa yang kamu maksudkan adalah Zahiya?" tanya Tama yang sedikit banyaknya tahu jika Zahiya dan Zaniya adalah saudara kembar.
"Hmm, dia begitu kaku untuk ukuran seorang wanita. Bahkan aku merasa jika dia ini adalah asli turunan dari Daddy yang memang sama persis dengan dirinya. Mereka berdua sebelas dua belas, sama-sama dingin dan kaku" jawab Zaniya yang menggibahkan Zaniya dan juga Daddy nya sendiri.
"Lalu, jika dia mirip dengan Daddy kamu. Kamu sendiri mirip dengan siapa? Perasaan Mommy kamu tidak seperti kamu?" tanya Tama yang langsung mendapatkan pelototan dan juga cubi*an sayang dari Zaniya.
SRING....
Tama mendapatkan plototan tajam dari Zaniya. Bagaimana tidak? Dia mengatakan seolah-olah sudah pernah bertemu langsung dengan Mommy nya yang memang sebelas dua belas dengan nya.
"Kayak sudah bertemu saja dengan Mommy mengatakan seperti itu?!" ucap Zaniya dengan tatapan sinis dan juga langsung pergi setelah mengatakan itu pada Tama.
"Saya memang sudah pernah bertemu dengan beliau. Bahkan dengan keduanya sekaligus, apa kamu tidak percaya?" tanya Tama yang sukses membuat Zaniya menghentikan langkahnya.
"Kapan abang menemui mereka? Abang tidak bicara macam-macam kan pada mereka berdua?" tanya Zaniya yang sudah terlihat panik saat menanyakan itu pada Tama.
"Macam-macam sih tidak. Hanya satu macam saja" jawabnya dengan santai lalu dia sudah menaini motor Zaniya dan menatap Zaniya yang masih berdiri saja.
"Apa masih mau disini atau mau saya antarkan pulang?" tanya Tama yang menatap Zaniya yang masih diam tidak bergeming, hingga Zaniya menaiki motornya.
"Kenapa kamu malah diam saja? Tidak seperti biasanya yang tidak bisa diam dan selalu banyak bicara?" tanya Tama yang akan menyalakan motor.
"Tidak apa-apa. Abang kenapa nggak pernah bilang jika abang bertemu dengan Mommy dan Daddy?" tanya Zaniya yang sekarang sudah berpegangan erat pada pinggang Tama dan menemplok seperti cicak.
"Kamu tidak pernah bertanya" jawabnya dengan sangat, jelas dan padat lalu melanjukan motornya.
"His, abang ternyata sangat menyebalkan" ucap Zaniya yang mengerucutkan bibirnya kesal pada Tama.
"Saya tahu" jawab Tama dengan senyuman tipis dibibirnya dan juga ada perasaan yang tidak menentu saat Zaniya memeluknya sangat erat dari belakang.
'Kenapa aku mau mengantarkan nya menggunakan motor? Jika begini jantungku tidak akan sehat dan normal kembali. Jantung, janganlah kau terus berdebar seperti ini. Aku tidak mau jika Zaniya mendengarnya' ucap Tama dalam hati yang mencoba menenangkan jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat.
Membuat Tama semakin pusing akan jantungnya yang tidak bisa diajak kompromi. Zaniya yang merasakan detak jantung Tama dari belakang merasakan perasaan nyaman dan juga entah kenapa perasaan itu sama seperti yang dia rasakan jika bersama dengan sang Daddy. Merasa dilindungi dan juga disayangi oleh pria yang sedang memboncengnya.
'Tuhan, jika aku masih bisa merasakan seperti ini lagi. Tolong jangan biarkan ini semua berakhir dengan cepat. Ini terasa sangat nyaman dan sangat indah, tolong buatkan semuanya mengalir seperti air yang mengalir dengan tenang. Entah kenapa perasaan ini sangat mengganggu, aku hanya ingin seperti ini dengan nya' ucap Zaniya yang semakin erat memeluk pinggang Tama.
Tama sengaja mengemudikan motornya dengan kecepatan sedang. Dia juga merasakan perasaan nyaman saat berdua dengan Zaniya. Dia juga tidak ingin semuanya cepat berakhir, walau nanti bisa bertemu kembali.
"Sudah sampai Zan" ucap Tama yang baru pertama kalinya memanggilnya dengan panggilan nama pada Zaniya.
"Assalamualaikum, Mom Dad" ucap Zaniya saat sudah sampai didepan teras mainson.
"Assalamualaikum, Tuan Nyonya. Maaf saya mengantarkan putri anda terlambat" sapa Tama yang ikut turun dari motor.
"Wa'allaikumsalam, kamu masuk dan segera istirahat" jawab Azalya yang meminta putrinya untuk masuk kedalam mainson.
Azayn juga menjawab ucapan salam dari Tama dan dia berubah menjadi sosok seorang Ibu yang tegas dan tidak bisa dibantahkan. Azalya menatap Tama dengan tatapan dingin dan menusuk, sedangkan Zayn memang seperti biasa datar dan dingin.
"Terimakasih banyak sudah mengantarkan putri saya pulang. Tapi sebaiknya anda pulang karena ini sudah larut malam, tidak baik jika menerima tamu malam-malam seperti ini" ucap Azalya yang mengusir Tama dengan cara halus.
"Sama-sama Nyonya. Saya permisi, Assalamualaikum" ucap Tama yang sedikit membungkukan badan nya dihadapan Zayn dan Azalya. Lalu segera pergi dari hadapan mereka berdua.
"Wa'allaikumsalam" jawab Zayn dan Azalya setelah melihat Tama pergi dari hadapan mereka.
"By, apa aku terlalu kejam ya padanya? Aku merasa tidak enak mengatakan itu padanya" tanya Azalya saat mereka benar-benar melihat Tama sudah pergi menggunakan motor milik Zaniya.
"Itu lebih baik" jawab Zayn dengan sangat singkat, jelas dan padat. Karena dia tidak suka jika istrinya berbicara mains dan lembut pada pria manapun.
"His... Jawaban seperti apa itu? Menyebalkan" ucap Azalya yang langsung masuk kedalam mainson setelah mengatakan itu pada Zayn.
Zayn hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap dan tingkah Azalya yang masih saja sama. Dia juga mengikutinya masuk.
Sedangkan Zaniya setelah membersihkan dirinya dia langsung merebahkan tubuhnya diatas ranjang miliknya. Dia tidak langsung memejamkan matanya, yang ada dia malah memikirkan kejadian tadi saat dia berada satu motor dengan Tama dan dia memeluk pinggangnya dengan erat.
"Mampus gue! Bagaimana jika dia berfikiran gue ini cewek gampangan? Ah, bisa tengsin gue kalo ketemu sama dia lagi" gumamnya sambil menepuk-nepuk pipinya sendiri dan dia juga berguling-guling diatas kasur.
"Tapi, kenapa dia tidak peka juga sih? Padahal gue sudah sering banget ngasih kode kalo gue suka padanya. Eh, tapi... Apa Mommy dan Daddy tidak marah jika gue menjalin hubungan walau usia gue belum genap 18tahun? Ah... Tau lah, pusing. Kenapa juga gue memikirkan itu semua. Lebih baik sekarang gue tidur, karena besok akan ada mata kuliah dari dosen rese" ucapnya yang langsung memaksakan matanya untuk terpejam.
Tapi setelah mencoba berulangkali untuk memejamkan matanya dan tertidur. Tetap saja tidak bisa, membuat Zaniya frustasi dan dia akhirnya bisa terlelap setelah hari menjelang pagi.
.
Zayn, Azalya dan Zahiya sudah berada dimeja makan untuk sarapan. Tapi mereka bertiga tidak kunjung melihat tanda-tanda Zaniya akan turun kebawah dan bergabung dengan mereka bertiga.
"Kemana itu bocah? Jam segini belum turun juga" tanya Azalya saat sudah menunggu cukup lama, putrinya yang satu ini tidak kunjung turun dari kamarnya.
"Biar Zahi yang memanggilnya Mom" ucap Zahiya yang menawarkan dirinya untuk membangunkan adik kembarnya.
"Iya, suruh dia segera turun" ucap Azalya pada putrinya.
Zahiya langsung menuju kamar Zaniya yang masih tertutup rapat dan belum ada tanda-tanda seseorang sudah bangun. Zahiya langsung masuk tanpa mengetuk pintu dulu. Dia sedikit terkejut saat melihat kondisi kamar Zaniya yang sangat berantakan. Apa lagi ranjangnya yang sudah tidak berbentuk lagi, entah bagaimana posisi Zaniya tidur. Sehingga ranjangnya sangat berantakan dan kamarnya juga seperti kapal pecah.
"Zan, kamu sudah bangun?" tanya Zahiya yang membuka selimut ternyata Zaniya masih membungkus seluruh tubuhnya menggunakan selimut tebalnya dan juga tidak terlihat sama sekali.
"Zan, Mommy dan Daddy sedang menunggu mu. Apa kau tidak ada kuliah pagi?" tanya Zahiya yang mencoba untuk membngunkan Zaniya.
"Jam berapa sekarang?" tanya Zaniya saat menyembulkan kepalanya dari selimut tebalnya.
"Sudah jam tujuh tiga puluh. Cepat bangun" ucap Zahiya yang meminta Zaniya untuk segera bangun dengan menarik selimut yang digunakan oleh Zaniya.
"Apa!!! Tujuh tiga puluh" teriak Zaniya yang langsung berlari menuju kamar mandi untuk segera membersihkan tubuhnya.
Sedangkan Zahiya membetulkan letak seperi dan juga selimut yang digunakan oleh Zaniya semalam. Dia melihat ponsel Zaniya beberapa kali menyala dan menampilkan nama seseorang yang tidak asing lagi dimata Zahiya. Tapi Zahiya tidak mau melewati batasan nya yang segala ingin tahu urusan pribadi Zaniya apa lagi melanggar prifasinya. Jadi Zahiya diamkan saja lalu setelah selesai membersihkan tempat tidur milik Zaniya dia segera turun.
"Apa dia sudah bangun?" tanya Azalya pada putrinya yang baru ikut duduk dan bergabung kembali.
"Sudah Mom, dia sedang membersihkan dirinya" jawab Zahiya yang menatap ponselnya.
Karena peraturan nya akan makan bersama dan jangan ada yang mendahului jika ada yang belum ikut bergabung untuk makan bersama. Entah itu sarapan atau makanan malam, jika memang ada yang mengabari akan terlambat atau tidak ikut makan dengan alasan yang jelas.
"Morning Mom, Dad, Zahi. Maaf Mom, aku terlambat" ucap Zaniya yang sudah duduk dikursinya dan langsung mengambil sarapan nya. Dia ingin segera pergi tapi segan karena Daddy nya sudah menatap dingin.
"Kamu ini, anak gadis kok seneng banget bangun siang. Apa kamu semalam begadang lagi Zani?" tanya Azalya pada putrinya setelah dia selesai sarapan.
"Maaf Mom, semalam aku sulit tidur. Entah jam berapa aku tidur, makanya aku kesiangan deh" jawab Zaniya yang memberikan alasan pada Mommy nya.
"Banyak alasan, bukankah kamu setiap pagi seperti ini? Pake ngeles kayak bajay" gerutu Azalya saat putrinya ini selalu memberikan alasan.
"Sekarang kamu tidak ada kuliah pagi? Kenapa masih santai?" tanya Azalya lagi saat melihat Zaniya hanya diam saja dan terus mengunyah makanan nya.
"Nanti jam sembilan Mom. Jadi aku ingin makan dulu sebelum menghadapi mata kuliah dari dosen" jawab Zaniya dengan santainya dan itu membuat Daffy hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Daffy sendiri? Kenapa sejak tadi diam dan tidak segera berangkat kuliah?" tanya Azalya pada Daffy yang sudah selesai sarapan.
"Daffy masuk siang tante. Mungkin jam sepuluh atau sebelas Daffy berangkat, karena mata kuliahnya jam dua belas" jawab Daffy yang menatap Zayn dan Azalya berantian.
Mereka semua saling bercengkrama bersama dan akhirnya Zaniya pamit untuk pergi kuliah, karena sudah setengah sembilan pagi dan dia tidak ingin terlambat dan nilainya akan dipangkas oleh dosen kilernya itu.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya untuk like, komen, vote dan hadiahnya ya....