
Zaniya dan Tama masuk kedalam mainson yang ternyata sangat sepi itu. Dia melihat Pak Mun melintas dan memanggilnya untuk menanyakan keberadaan semua orang.
"Opa, dimana semua orang? Kenapa mainson terlihat sangat sepi? Eh, bukan nya memang setiap hari seperti ini ya" ucap Zaniya yang tersenyum meringis saat menyadari pertanyaan nya itu adalah pertanyaan yang salah.
"Tuan baru saja pergi Nona. Jika Nyonya dan Nona Queen sudah sejak siang pergi" jawab Pak Mun yang membungkuk pada Zaniya dan Tama.
"Yah, bukankah Daddy yang meminta untuk kita berdua datang. Kenapa malah pergi sih" gerutu Zaniya yang langsung menghempaskan tubuhnya disofa ruangan tamu dengan kasar.
"Apa ada lagi yang ingin anda tanyakan Nona?" tanya Pak Mun pada Zaniya yang mengerucutkan bibirnya kesal pada Daddy nya.
"Tidak ada Opa. Opa boleh pergi" jawab Zaniya yang malah menghentak-hentakan kakinya berulang kali dilantai.
"Saya permisi Nona, Tuan" ucap Pak Mun pada Zaniya dan Tama.
"Daddy nyebelin, dia yang membuat janji malah diam sendiri yang mangkir" gerutu Zaniya yang menatap kesal kearah pintu.
Tiba-tiba ada suara mobil memasuki halaman mainson dan siapa lagi jika bukan Zayn, Azalya dan Zahiya yang pulang. Mereka terlihat sangat lelah karena seharian ini mereka mengalami kejadian yang tidak terduga. Lebih tepatnya Zahiya yang mengalaminya, sedangkan Zayn dan Azalya hanya menjadi penengah dan memberikan solusi untuk mereka semua.
"Assalamualaikum" ucap Azalya yang masuk kedalam mainson.
"Wa'allaikumsalam, Mommy dari mana? Daddy mana?" jawab Zaniya dan Tama, lalu Zaniya bertanya juga pada Azalya yang baru memasuki mainson.
"Kaget Mommy Zan, Mommy habis arisan dirumah grandma. Kebetulan ada insiden tadi siang makanya Mommy meminta Daddy untuk datang kesana juga. Ada apa memangnya?" ucap Azalya menjelaskan semuanya pada Zaniya.
"Assalamualaikum" ucap Zahiya dan Zayn saat memasuki mainson dengan tampilan yang sangat berbeda dan dengan ekspresi yang sama. Yanitu datar.
"Wa'allaikumsalam" jawab Azalya, Zaniya dan Tama bersama-sama.
"Mom, Dad aku langsung kekamar" ucap Zahiya yang langsung masuk kedalam lalu naik menuju lantai dua dan disana dia melihat Daffy yang sudah pulang sejak tadi menatap kearahnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
'Dia memang sangat mirip dengan Zaniya jika memandangnya sekilas. Tapi jika diperhatikan lebih teliti lagi akan terlihat perbedaan diantara mereka berdua' gumam Tama saat melihat Zahiya yang baru masuk kedalam.
"Iya sayang. Istirahatlah, hari ini pasti sangat membuatmu kelelahan" ucap Azalya yang mengatakan nya sambil berteriak, karena Zahiya sudah menaiki anak tangga.
"Eh sampe lupa. Silahkan duduk" ucap Azalya dengan sangat ramah dan dia juga ikut duduk bersama dengan Zayn disampingnya.
"Terimakasih Nyonya. Maaf sebelumnya saya datang kemari tidak mengabari terlebih dahulu. Perkenalkan nama saya Wiratama dan biasa dipanggil Tama saja. Saya kemari ingin membicarakan hal yang sangat penting padanya anda berdua Tuan dan Nyonya" ucap Tama yang memperkenalkan dirinya dan dia menyampaikan tujuan nya datang kemari pada Azalya dan Zayn.
"Langsung saja apa yang ingin kau sampaikan pada kami" ucap Zayn dengan tatapan datarnya dan langsung to the point mengatakan nya.
"Kamu apa-apaan sih By, kenapa langsung dan mengatakan nya dengan kata-kata yang kasar seperti itu? Tidak sopan sekali" ucap Azalya yang menegur suaminya karena berbicara ketus pada tamu mereka.
"Tidak apa-apa Nyonya. Saya mengerti dan juga faham. Saya langsung saja, jika saya kemari ingin melamar putri anda ini yang bernama Zaniya untuk saya sendiri" ucap Tama yang menahan nafasnya saat mengatakan itu pada Zayn dan Azalya.
"Apa!! Anda, anda mau melamar putri saya? Apa saya tidak salah dengar?" teriak Azalya saat Tama mengatakan tujuan nya datang menemui mereka berdua.
"Iya Nyonya, saya memang benar-benar ingin serius dengan putri anda berdua. Karena usia saya sudah tidak muda lagi dan saya juga tidak ingin bermain-main hanya untuk menjalin hubungan dengan seorang wanita. Maka dari itu saya datang kemari dan mengatakan nya langsung pada anda berdua" ucap Tama sambil menunduk saat mengatakan nya pada Azalya.
"Apa!! Yang benar saja, usia putri saya ini belum genap berusia 18tahun. Tapi anda bilang ingin serius dengan putri saya? Apa anda tidak salah bicara?" Tanya Azalya yang mengatakan nya dengan nada yang naik dua oktav.
"Mom, biasa saja kali mengatakan nya. Kenapa harus teriak-teriak?" Tanya Zaniya yang menatap wajah Azalya dengan tatapan memohon nya.
"Oh maaf, maaf. Maafkan saya, saya hanya terkejut saja mendengarnya saat anda mengatakan jika anda ingin melamar putri saya. Tapi jika boleh tahu, berapa usia anda sekarang?" tanya Azalya yang menatap Tama dengan lekat. Dan itu membuat Zayn langsung menatap Azalya dengan tatapan tajamnya.
Membuat Azalya langsung mengalihkan pandangan nya dari Tama menjadi kearah Zaniya.
"Usia saya sudah 32tahun Nyonya, makanya saya bilang jika saya ingin serius pada putri anda" jawab Tama dengan tegas dan juga tatapan yang sangat yakin saat mengatakan nya.
"What!! Perbedaan usia sampai 14tahun. Tapi apa yang anda lihat dari putri saya ini? Dia ini masih remaja dan bisa dibilang sedang menginjak dewasa. Apa anda serius ingin menikahinya dan menjalin hubungan pernihakan dengan nya?" tanya Azalya dengan tatapan seriusnya dan mengatakan nya dengan tegas.
Sedangkan Zayn hanya diam dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh Azalya pada pria dihadapan nya saat ini. Zayn tidak ingin menyela ucapan dari Azalya, karena dia memang menginginkan seperti ini jika Tama bertemu dengan nya dan istrinya.
"Dan kamu Zaniya. Mommy tanya padamu, apa kamu serius dengan apa yang kamu putuskan itu? Apa kami sudah memikirkan nya dengan matang? Apa kamu fikir hubungan pernihakan itu hanya sebatas saling mencintai bukan sebatas saling menerima. Tapi menyatukan dua perbedaan, dua orang yang berbeda menjadi satu. Dua, dua Zaniya" tanya Azalya yang menatap dengan sangat serius pada Zaniya.
"Jika keputusan mu sudah bulat dan kamu yakin. Maka Mommy bisa apa? Mommy juga dulu menikah muda, dan itu semua tidak mudah. Tapi kamu tahu sendiri bukan, jika kehidupan Mommy pernah dalam fase paling terendah dalam hidup Mommy. Bahkan kamu dan Zahiya mengalaminya juga. Mommy akan mendukungmu dan keputusan mu jika kamu sudah mantap dan juga yakin" ucap Azalya yang merasa jika dia benar-benar menjadi seorang Ibu yang mengambil keputusan sulit dalam hidupnya.
"Untuk anda, saya minta pada anda untuk menjaga dan menyayanginya seperti kamu menyayanginya dengan sepenuh hati. Jangan pernah anda menurunkan tangan anda padanya, dan mengatakan kata-kata kasar padanya. Jaga dia, tegur dia jika dia berbuat salah, buat dia mengerti. Jangan membentaknya jika dia mengatakan kata-kata yang membuat anda marah atau membuat anda kesal. Karena dia masih sangat muda dan masih belum mengerti akan ikatan pernikahan. Hanya itu yang ingin saya sampaikan pada anda" ucap Azalya yang langsung memeluk Zayn dan dia menangis dalam pelukan nya.
"Apa lagi yang kalian lihat? bukankah kalian sudah mendapatkan jawaban nya? Kau boleh pergi sekarang juga. Ini sudah malam dan tidak baik menerima tamu selarut ini" ucap Zayn dengan dingin dan langsung membawa Azalya masuk kedalam kamar mereka.
"Terimakasih Tuan, saya akan segera pulang" ucap Tama yang membungkukan badan nya pada Zayn lalu dia keluar dari mainson dan diikuti oleh Zaniya.
"Maafkan ucapan Daddy yang bang, Daddy memang bicara kasar dan juga dingin. Tapi dia adalah pria dan Daddy yang sangat baik dan juga penuh kasih sayang. Tolong jangan dimasukkan kedalam hati bang" ucap Zaniya yang menatap pada Tama.
"Hey, kenapa harus meminta maaf? Yang dikatakan oleh Daddy kamu memang benar, dan aku tidak mempermasalahkan itu semua. Abang akan segera kembali dengan Mama dan Tami untuk melamar kamu secara resmi. Jadi tunggulah dan jangan bsrsedih" ucap Tama yang mengusap pipi Zaniya dan tersemum padanya.
"Iya, aku akan tunggu abang dan keluarga abang datang kemari. Sekarang abang boleh pulang dan bawa saja mobil yang tadi abang pakai supaya bisa lebih cepat sampai dan memberikan kabar baik ini pada tante Sinta dan Tami" ucap Zaniya yang juga tersenyum dan dia langsung memeluk tubuh Tama dengan sangat erat.
"Ehm! Apa kalian benar-benar akan segera menikah? Maaf jika tadi menguping pembicaraan kalian" ucap Daffy yang entah dari mana datangnya sudah berada didekat mereka berdua.
"Abang ihhh, kenapa coba ngagetin saja. Aku kira Daddy tadi" ucap Zaniya yang memukul lengan Daffy lumayan keras.
"Maaf-maaf, abang hanya memastikan nya saja jika Pak Tama dengan kamu memang akan segera menikah?" ucap Daffy yang juga menanyakan nya pada Tama dan Zaniya.
"Sebaiknya jangan panggil Pak deh bang. Masa dia dipanggil Pak sih, lalu aku bagaimana? Ibu begitu?" ucapnya dan juga bertanya pada Daffy.
"Lalu abang harus panggil apa? Masa panggil yang lain? Kan tidak enak jika memanggil dengan panggilan lain" ucap Daffy yang mengatakan nya sambil menatap pada Tama.
"Tidak perlu sungkan dan pada saya. Karena kamu, boleh saya memanggil dengan sebutan kamu?" tanya Tama yang menatap wajah Daffy.
"Tentu saja boleh. Apa lagi kita akan menjadi keluarga setelah ini, jadi jangan sungkan melakukan itu semua" ucap Daffy mengatakan nya dengan sangat tegas dan ada senyuman dibibirnya.
"Baiklah, terimakasih sudah menerima saya dengan baik dan mengantarkan saya kemari" ucap Tama pada Daffy saat mereka berdua sudah lebih dekat.
"Sama-sama, sebaiknya jangan terlalu formal jika bicara seperti ini dan berada diluar kampus. Kita bicara seperti biasa saja" ucap Daffy mengatakan nya dengan sangat ramah.
"Kalian ini sangat tidak pengertian, aku yang sejak tadi ada disini kalian diamkan. Sungguh keterlaluan sekali kalian berdua" ucap Zaniya yang mengerucutkan bibirnya dan melipat kedua tangan nya didepan dada.
"Oh ayolah Zan. Kamu jangan pernah mengatakan seperti itu, abang tahu jika kamu pasti merasa cemburu karena abang bisa dekat dan akrab dengan bang Tama. Iya kan? Iya lah masa nggak" ucap Daffy yang langsung berlari masuk kedalam mainson. Karena dia kabur dari kejaran Zaniya yang akan mengamuk.
"Bang Daffy..... Awas kamu nanti, akan aku beri pelajaran nanti" teriak Zaniya yang menatap Daffy malah tertawa sangat kencang saat mendengar teriakan dari Zaniya.
"Sudah-sudah, kenapa kamu malah berteriak seperti itu? Abang akan pulang dulu, kamu jaga diri dan jangan lupa kamu kerjakan tugas-tugas kamu yang belum selesai. Jangan pernah mengatakan malas atau tidam mood" ucap Tama yang akan pergi, tapi dia seperti biasa akan mengingatkan tentang tugas kuliahnya itu.
"Iya, dasar abang nyebelin. Masa mau jadi istri saja masih galak sih, nggak ada nego apa soal yang satu itu?" tanya Zaniya yang mentap Tama dengan puppy eyes miliknya untuk merayu Tama.
"Tidak, sekali tidak. Tetap tidak, jadi jangan pernah membantah apa lagi berbohong akan tugas yang satu itu" ucap Tama dengan tegas dan menatap dengan tajam.
"Ish, iya iya. Dasar dosen kiler nggak berperasaan, seenaknya sendiri. Bikin kesel" gerutu Zaniya yang menghentakan kakinya diatas lantai dan dia juga mengerucutkan bibirnya.
Tama hanya menggelengkan kepalanya saja dan dia mengusap kepala Zaniya sebelum dia pergi dari sana. Sebenarnya dia sudah menolak dan juga tidak enak jika harus membawa mobil Zaniya lagi kerumahnya. Tapi karena memang sudah larut malam dia akhirnya mau untuk membawa mobil milik Zaniya pulang, walau sungkan dan juga tidak enak pada Zaniya dan terutama pada Zayn dan Azalya.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya untuk like, komen, vote dan hadiahnya ya....
Rating ⭐️5 nya juga jangan sampe ketinggalan untuk Othor....
Thank you and happy reading... 🤗🤗🤗