
"Iya, tadi dia juga mengabariku dan mengatakan apa yang dia katakan padamu" jawab Zayn yang memperlihatkan ponsel miliknya pada Azalya.
"Hmm, rupanya dia sudah dewasa dan sudah bisa melakukan apa-apa sendiri. Rasanya aku baru kemarin menimangnya" ucap Azalya yang menatap Zayn dengan tatapan berkaca-kaca.
Dia akan selalu ingat bagaimana dulu ia menimang twins yang pasti akan selalu ada rewelnya dan juga antengnya. Sekarang mereka sudah menginjak dewasa dan beberapa bulan lagi akan ulang tahun mereka ke 18tahun.
"Jangan pernah mengingat kejadian kelam dulu. Bukankah sudah aku katakan berulangkali, hmm?" ucap Zayn yang menangkup wajah Azalya dan mengecup bibirnya sekilas.
"Aku tidak mengingat kejadian kelam itu By, aku hanya mengingat kejadian membahayakan saat twins lahir dan mulai bisa berjalan lalu sudah seperti sekarang ini. Sungguh tidak menyangaka jika aku sudah tua..." ucap Azalya yang malah berteriak diujung kalimatnya.
"Kenapa kamu malah berteriak?" tanya Zayn yang mengusap-ngusap kedua telinganya yang terasa pengang mendengar teriakan Azalya.
"Tidak kenapa-kenapa. Hanya ingin saja" jawab Azalya dengan santainya dan tersenyum simpul pada Zayn yang mengernyitkan dahinya mendengar jawaban yang diberikan oleh istrinya yang aneh tapi nyata ini.
"Sudahlah tidak perlu dibahas. Aku kesini hanya ingin menyampaikan itu saja, didepan juga Daffy sudah pulang. Kita keluar saja, aku sangsi jika terus berada disini akan selamat" ucap Azalya yang ingin beranjak pergi namun tangan nya ditahan oleh Zayn lalu menariknya hingga tubuhnya membentur dada bidang Zayn yang sangat kekar itu.
"Jika seperti itu, dengan senang hati aku akan melakukan nya padamu. Jadi bersiaplah untuk mendapatkan nya" ucap Zayn yang malah membuat Azalya menelan slivanya sendiri dengan sangat susah payah.
"Aku tidak akan melakukan sekarang. Hubby ini apa-apaan sih, diluar sedang ada anak-anak dan kita orang tua malah melakukan iya iya disini? Sungguh tidak mencerminkan orang tua" ucap Azalya yang mengatakan semuanya tidak jelas dan terdengar aneh. Membuat Zayn semakin senang untuk menggodanya.
"Memangnya apa yang akan kita lakukan disini, hmm?" tanya Zayn lagi yang terus mendekatkan tubuhnya pada Azalya dan wajahnya juga semakin mendekat kepada wajah Azalya.
"Tadi bukan nya Hubby menginginkan iya iya? Ya jangan sekarang, sebentar lagi juga makan malam. Dan itu tidak akan baik" jawabnya gelagapan saat wajah Zayn semakin mendekat dan dia memejamkan matanya dengan sangat erat.
"Hahaha, kau ini masih sama saja seperti dulu" ucap Zayn yang langsung melepaskan pelukan nya dan langsung...
PLETAK...
"Awoch... Kenapa Hubby masih saja menyentil keningku sih? Lihat, akibat ulah Hubby sejak dulu" gerutu Azalya saat mengusap keningnya yang terasa berdenyut nyeri akibat sentilan dari Zayn untuknya.
"Itu akibat jika berfikiran macam-macam. Sudah merasa tua tapi fikiran nya selalu mesum" ucap Zayn yang membalikan tubuhnya dan dia malah tersenyum tipis saat mengatakan itu pada Azalya.
"Ish, Hubby nyebelin. Hubby sendiri yang mulai malah nyalahin orang lain" ucap Azalya yang menghentakan kakinya dengan kencang pada lantai yang tidak bersalah itu.
Bahkan dia menggerutu tidak jelas dan langsung keluar dari ruangan kerja Zayn dengan membanting pintu lumayan keras. Membuat Zayn tergelak melihat tingkah Azalya yang tidak pernah berubah sejak muda hingga sekarang sudah memiliki dua anak gadis yang menginjak usia 18tahun.
.
Sedangkan Zaniya sedang menatap prihatin pada Ibunya Tama. Karena dia tadi dikabari saat baru sampai didepan rumah mereka dan ternyata Ibunya Tama sudah tidak sadarkan diri lagi.
Flashback On...
Saat Zaniya akan menemui Tama dirumahnya malah sudah terlihat banyak orang yang sedang terlibat panik dan terlihat jika Tami juga sedang menangis. Itu membuat Zaniya mengerutkan keningnya dan langsung menghampirinya.
"Assalamualaikum, maaf Ibu-Ibu. Ini ada apa ya, kenapa banyak orang disini?" tanya Zaniya yang menanyakan itu pada salah seorang Ibu yang ada diteras rumah.
"Itu neng, Ibu Sinta. Dia tidak sadarkan diri, tapi tidak ada yang membawanya kerumah sakit. Karena Tama belum pulang, dan disini tidak ada yang memiliki kendaraan roda empat" jelasnya sambil terus menatap kearah Zaniya dan sesekali menatap kearah dalam rumah Tama.
"Ya sudah, biar saya bantu bawa saja. Kebetulan juga saya membawa mobilnya" ucap Zaniya yang menawarkan bantuan pada mereka.
"Yang benar neng? Baiklah dimana mobil neng sekarang? Kami akan membantu Ibu Sinta dan membopongnya" tanya Ibu-Ibu itu pada Zaniya.
"Sebentar Bu, saya akan membawa mobilnya mendekat" jawab Zaniya yang langsung berlari menuju mobil orang-orang yang Zayn tugaskan untuk menjaganya.
"Kunci mobilnya mana?! Saya sedang terburu-buru. Cepat berikan" ucap Zaniya yang menadahkan tangan nya pada dua orang yang masih berada didalam mobil.
"Nona Queen, apa yang akan anda lakukan?" tanya salah seorang dari mereka berdua yang melihat Zaniya meminta kunci mobilnya.
"Ah lama! Sekarang kalian keluar dan diam!" perintah Zaniya dengan telak membuat kedua orang itu langsung bungkam dan tidak berani mengatakan apa-apa lagi padanya.
Zaniya langsung membawa mobil tersebut mendekat kearah delandapan rumah Ibu Sinta. Dan benar saja, jika beliau memang sudah terlihat sangat pucat sekali. Zaniya langsung buru-buru membukakan pintu mobil untuk Ibu Sinta masuk.
"Kenapa kamu malah diam? Cepat masuk dan kita bawa tante kerumah sakit" tanya Zaniya padanya Tami yang malah diam mematung menatap kearah Zaniya.
"Kalo loe masih mau diam disana gue saja yang bawa tante kerumah sakit sendiri" ucap Zaniya lagi yang sekarang menggunakan bahasa yang selalu dia gunakan pada semua orang yang bukan diatasnya.
"I... Iya" jawab Tami yang langsung masuk dan memangku kepala Ibunya dan dia malah menangis saat menatap wajah Ibunya seperti itu.
Zaniya mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, bahkan dia tidak memperdulikan jika dia berada dijalanan perkampungan yang sempit. Karena dia memang sudah ahli dalam mengendarai mobil maupun motor.
Setelah menempuh perjalanan singkat karena cara membawa mobil Zaniya yang seperti orang kesetanan. Sukses bisa cepat sampai dan dia langsung keluar lalu meminta bantuan dari beberapa orang perawat yang sedang berjalan.
"Tolong beliau suster" ucap Zaniya yang ikut berlari mengikuti brangkar yang membawa Ibu Sinta menuju ruangan UGD.
Setelah sampai disana baik Zaniya maupun Tami saling diam dan larut dalam fikiran masing-masing. Saat dokter keluar Zaniya dan Tami langsung bangkit dan mendekat kearahnya.
"Siapa disini keluarga pasien?" tanya dokter yang baru memeriksa Ibu Sinta.
"Saya dok, saya anaknya" jawab Tami yang mengusap air matanya.
"Beliau harus segera dioperasi. Karena kondisinya sangatlah lemah, apa lagi radang usus yang dideritanya semakin parah. Jalan satu-satunya hanya operasi, jika terlambat datang kemari saja saya tidak menjamin jika pasien akan selamat. Tolong segera urus persyaratan untuk operasinya, supaya kami tim dokter segera mengerjakan tugas kami" jelas dokter pada Tami dan itu membuat Zaniya langsung berlari menuju ruangan administrasi.
Setelah selesai mengurus semuanya Zaniya menghampiri Tami. Yang ternyata Tama sudah datang dan sedang duduk didepan ruangan operasi.
"Kamu Zaniya kan? Zaniya ZM?" tanya seseorang yang menepuknya tadi.
"Iya, anda siapa? Apa saya mengenal anda?" tanya Zaniya padanya seorang pemuda yang berdiri dihadapan nya dan menatapnya dengan senyuman dibibirnya.
"Kamu pasti sudah lupa dengan ku. Aku Daniel Scott, kita dulu satu sekolah bareng saat SMP apa masih ingat?" tanyanya yang memperkenalkan dirinya pada Zaniya yang sedang mencoba mengingat-ingat siapa pemuda itu.
"Kacamata" ucapnya lagi dan itu sukses membuat Zaniya mengingatnya.
"Ya ampun, gue sampe pangling. Jelas saja gue nggak kenal sama loe tadi, loe berubah banget. Gimana kabar loe sekarang?" ucap Zaniya yang langsung meninju lengan Daniel saat mengatakan nya. Dia adalah teman dekatnya dulu saat dibangku sekolah menengah pertama.
"Seperti yang loe lihat. Gue baik-baik saja dan bukan kacamata lagi. Ngomong-ngomong kenapa loe ada disini? Siapa yang sakit?" jawabnya yang balik bertanya pada Zaniya yang malah bertemu disebuah rumah sakit.
"Gue nganterin nyokap temen gue. Kebetulan banget kita ketemu disini. Loe sendiri?" jawabnya yang mengatakan jika Tama adalah teman nya. Lalu Zaniya bertanya kembali pada Daniel.
"Gue mau jenguk bokap yang dirawat disini. Gue kan baru pulang dari London, jadi gue baru datang kesini untuk tahu keadaan bokap gue" jawabnya yang membuat Zaniya mengangguk dan tanpa mereka sadari interaksi keduanya dilihat oleh seseorang yang memang ingin menemuinya dan mengucapkan terimakasih padanya.
"Gue turut prihatin. Bokap loe sakit apa?" tanya Zaniya.
"Serangan jantung. Kemarin baru selesai operasi pasang ring, makanya gue buru-buru pulang saat mendapatkan kabar jika bokap masuk rumah sakit" jawabnya yang sedikit menghela nafasnya dan terlihat ada raut kesedihan diwajahnya.
"Yang sabar ya, semoga saja bokap loe lekas sembuh dan bisa seperti sedia kala" ucap Zaniya sambil tersenyum dan menepuk lengan Daniel.
"Amiin, thanks ya do'anya. Gue duluan, soalnya nyokap sudah nungguin gue. Bisa minta nomor ponsel loe? Supaya kita bisa ketemu lagi nanti" ucap Daniel yang juga meminta nomor ponsel Zaniya sambil menyerahkan ponselnya pada Zaniya.
"Tentu saja boleh" jawab Zaniya yang menerima ponsel Daniel lalu menekan nomernya dan menyimpan nya.
"Ini nomor gue, loe bisa hubungi nanti" ucap Zaniya yang mendapatkan anggukan dan juga senyuman dari Daniel yang memang sangat tampan karena dia adalah pemuda blasteran.
"Gue duluan. See you, bye" ucap Daniel yang melambaikan tangan pada Zaniya.
"Bye" ucap Zaniya yang berbalik, betapa terkejutnya dia saat pertama yang dia lihat adalah Tama yang menatapnya datar dan juga dingin.
"Eh, ada abang. Apa operasi tante Sinta sudah selesai? Atau abang butuh sesuatu?" tanya Zaniya yang gelagapan, seperti kena gap sedang selingkuh oleh kekasihnya.
"Sudah selesai. Saya tidak membutuhkan apa-apa, hanya mau mengucapkan terimakasih. Karena kamu sudah membawa Ibu saya datang kemari tepat waktu dan juga terimakasih sudah membayar biaya pengobatan Ibu saya. Saya akan membayarnya nanti, walau dengan cara mencicilnya" ucap Tama yang membuat Zaniya heran dan mengernyitkan dahinya mendengar ucapan dari Tama.
Memang Tama dingin dan jarang bicara. Tapi sekarang sikapnya berbeda dan seperti pada orang asing. Zaniya yang memang tidak suka jika ada yang mengganjal dihatinya akan langsung menanyakan nya langsung.
"Abang kenapa? Apa abang marah karena aku membayar semua biaya rumah sakit? Jika iya, aku ikhlas kok bang bantu abang dan keluarga abang. Tapi jika soal membayar kembali jangan dulu difikirkan, nanti saja setelah kondisi tante Sinta sudah pulih dan sudah sembuh total" ucap Zaniya yang menatap wajah Tama yang terlihat seperti sedang menahan amarahnya.
Tama hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan dari Zaniya. Entah kenapa dia sangat marah saat melihat Zaniya dekat dengan seorang pria, apa lagi dia sepertinya seumuran dengan nya dan itu membuat hatinya panas dan marah.
Flashback Off...
"Kenapa dengan dirinya? Aneh sekali" gumam Zaniya yang melihat Tama malah pergi menjauhinya.
Zaniya mengejarnya. Karena dia ingin melihat keadaan dari Ibu Sinta, mana mungkin dia akan menanyakan itu pada perawat atau resepsionis. Jika dia mengikuti Tama dia tidak akan bertanya semua itu padanya.
Tama yang diikuti malah berhenti disebuah taman rumah sakit. Zaniya malah merasa bingung dengan semua itu. Kenapa dia malah mengikutinya kemari? Bukan keruangan rawat atau ruanga ICU atau apapun itu.
"Eh, kenapa gue malah mengikutinya kemari? Ah sudahlah, lebih baik gue temenin dia saja dulu, sepertinya dia memang sedang sedih mengetahui jika Ibunya ternyata menyembunyikan sakit parahnya" gumam Zaniya yang terus melangkah mendekati Tama yang berdiri dan merokok ditaman rumah sakit.
"Kenapa kamu mengikuti saya kemari? Bukankah kamu sedang ada janji dengan seseorang? Pergilah" ucapnya tanpa menoleh kearah Zaniya sedikitpun juga.
"Eh, kenapa abang bicara seperti itu? Aku sama sekali nggak ada janji dengan siapa-siapa? Dan lagi disini mana kenal aku dengan orang lain selain abang dan keluarga abang saja?" tanya Zaniya merasa heran dengan pertanyaan dari Tama padanya.
"Ck, tidak usah berbohong. Bukankah kamu sudah bertemu dengan seseorang dan kalian sudah janjian bukan? Lebih baik kamu pergi dan temui dia, saya dan Ibu saya baik-baik saja" ucapnya berdecak karena Zaniya tidak mengaku jika dia bertemu dengan seseorang tadi.
'Kenapa aku malah bersikap seperti ini? Apa yang dia fikirkan nantinya tentang aku? Dasar bo*oh. Kenapa malah seperti seseorang yang sedang cemburu' gumamnya dalam hati merutuki kebodohan nya yang mengucapkan kata-kata yang menandakan jika dia cemburu.
"Abang kenapa sih? Kenapa jadi aneh seperti ini? Oh aku ingat, abang menyangka jika aku ada apa-apa gitu sama pemuda itu? Apa abang cemburu padanya?" tanya Zaniya yang malah menggoda Tama yang wajahnya sudah memerah.
"Hayo.... Ngaku saja bang, jika abang cemburu? Aku nggak apa-apa ini. Justru aku malah senang jika abang cemburu" ucap Zaniya yang malah menggoda Tama yang malah salah tingkah karena dia goda.
Tama hanya diam saja dan tidak mengatakan apa-apa, malah terlihat salah tingkah dan juga membuang wajahnya menghindari tatapan dari Zaniya yang terus saja menggodanya. Zaniya malah semakin gencar menggoda Tama, membuat keduanya semakin dekat dan tanpa mereka sadari, Daniel menatap interaksi mereka berdua.
.
.
.
Othor sudah up 2bab ya...
Jika tidak ada halangan nanti up lagi...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya untuk like, komen, vote dan hadiah... Karena Othor tidak akan pernah lelah mengingatkan setiap Othor up bab baru....
Happy reading.... 🤗🤗🤗