
Tama benar-benar kebakaran jenggot karena Zaniya begitu dekat dengan Daniel. Bahkan dia belum kenal juga dengan Daffy, mungkin jika dia bertemu dengan Daffy yang sedang bersama dengan Zaniya akan marah juga. Dia sendiri masih belum menyadari jika dia memiliki perasaan lebih pada Zaniya, bukan hanya perduli pada adiknya sendiri melainkan lebih dari itu.
"Abang kenapa dan liatin apa sih serius banget?" tanya seseorang yang berada disampingnya dengan bingung. Pasalnya disana tidak ada siapa-siapa.
"Tidak ada" jawabnya langsung pergi begitu saja.
Membuat Zaniya, ya Zaniya yang bertanya pada Tama tadi. Bahkan dia bingung dengan apa yang sedang dilihat oleh Tama kearah kantin tadi.
"Dih, jangan-jangan dia bisa lihat hantu lagi. Makanya dia lihat kesana nggak kedip-kedip" gumamnya yang bergidik ngeri jika mengingat kata-kata hantu.
Zaniya langsung berlari menuju kelas karena takut jika benar-benar ada hantu. Saat masuk kelas ternyata ini memang bukan Tama yang akan mengajarkan mereka tentang programmers.
"Syukurlah bukan dia yang mengajarkan, bisa-bisa darah tinggi gue jika dia terus yang ngajarin" gumam Zaniya yang membuka laptop miliknya dan mengikuti apa yang dijelaskan didepan sana oleh dosen nya.
"Tapi bosan, kangen juga... " gumamnya lagi sambil berusaha fokus pada apa yang dijelaskan didepan.
"Gue harus ketemu dia nanti. Jika nggak ketemu dikampus, gue temuin saja emak nya" ucapnya yang malah membuat teman sebelahnya merasa bingung akan sikap Zaniya yang bicara sendiri dan cengengesan.
"Zaniya, kamu kesambet ya? Cengengesan sendiri kayak gitu?" tanya temannya yang berbisik pada Zaniya.
"Enak saja. Ya enggak lah, masa gue seperti itu" jawab Zaniya yang ikut berbisik juga pada temannya.
Setelah selesai mereka berkumpul didekat Zaniya yang bisa menjawab semuanya dengan benar saat dosen menanyainya. Membuat teman-teman sekelasnya menjadi kagum juga ingin dekat dengan Zaniya. Selain cantik, baik dan tidak sombong. Dia juga sangat pintar ternyata, begitulah mungkin fikiran teman-teman sekelasnya itu.
"Zaniya, jika seperti ini kamu memang sangat pan pantas untuk mendapatkan gelar mahasiswi terbaik dari jurusan IT" ucap salah seorang dari mereka yang memang dibilang paling dekat dengan Zaniya.
"Kalian ini apa-apaan sih. Gue nggak sepintar itu, gue masih banyak belajar lagi" ucap Zaniya yang merendah jika ada teman-temannya yang mangatakan jika dia itu pintar.
"Loe ini Zan, masih saja merendah. Bahkan semua anak-anak sushi tahu, jika loe masuk kuliah dengan usia semuda ini memang karena otak loe yang encer" ucap Prita teman sekelasnya dan dia yang selalu memperhatikan Zaniya dan ingin bisa dekat dengan nya.
"Gue nggak ngerendah sungguh. Yang ada semalaman gue begadang karena ngerjain tugas yang lumayan banyak dari guru private gue. Makanya pas ditanya, dan kebetulan soal yang sama. Jadi gue bisa jawab" ucap Zaniya yang menyembunyikan jika yang mengajarinya dan memberikan tugas-tugas kuliah adalah Tama.
"Wah, pantas saja. Dia memiliki guru private sendiri, ya pantas saja bisa mengerjakan semuanya dengan benar dan cepat. Gue juga mau dong" ucap Zahwa yang memang selalu ingin bisa memiliki guru private sendiri supaya bisa lebih pintar lagi. Karena otaknya memang suka lama koneknya, loading lah bahasa keren nya.
"Ya mau gimana lagi, ini adalah keputusan dari Mommy gue. Mau tidak mau gue harus mau, jika gue nggak mau dihukum sama Mommy gue" ucap Zaniya yang menunduk lesu karena tidak mau jika dia salah bicara nantinya.
'Maafkan hamba ya Allah, karena hambamu ini selalu berbohong dan membawa-bawa Mommy lagi. Maafkan anakmu ini Mom' ucap Zaniya dalam hati sambil meringis.
"Bagaimana jika kita kekantin lagi yuk, kita ngobrol-ngobrol sambil makan camilan gimana?" tanya Bagus yang memang selalu saja makanan didalam fikiran nya.
"Sorry nih guys, gue nggak bisa. Gue sudah ada janji dengan seseorang, lain kali ya? Sorry" ucap Zaniya yang memang sudah berencana ingin bertemu dengan Tama.
"Yah, kapan dong? Loe kan kalo makan siang pasti sama siganteng itu. Mana ada waktu kita ngumpul bareng kaya kini dan seru-seruan?" tanya Maesaroh yang suka dipanggil Mae.
"Emm, InsyaAllah deh besok gue usahain ya. Untuk hari ini sorry bnget, gue duluan ya. Bye" ucap Zaniya yang langsung bangkit dari duduknya dan berlari menuju pintu keluar kelas.
"Selamat, gue harus buru-buru nih buat menemui bang Tama" ucap Zaniya yang melihat seluruh ruangan dosen ternyata Tama sudah pulang beberapa saat yang lalu.
"Ah sial, gue telat" ucap Zaniya yang mengumpat kesal saat Tama sudah pergi.
"Sudahalah gue balik saja kali ya? Eh tapi, bukannya cafe milik uncle Zayd sedang ada promo dan ada makanan baru juga. Gue kesana saja lah, nah kebeneran banget bang Daffy ada gue ajak saja sekalian" ucapnya yang langsung berlari menuju Daffy yang ingin masuk kedalam mobilnya.
"Bang Daf tunggu!!" teriak Zaniya yang melihat Daffy ingin pergi.
"Ada apa Zan? Apa kamu nggak akan pulang?" tanya Daffy yang membuka kaca mobilnya dan menatap kearah Zaniya yang berdiri disamping mobilnya.
"Ini mau pulang. Tapi temenin makan dicafe uncle Zayd dulu yuk? Pengen makan yang manis-manis, please bang Daf temenin ya, ya, ya" ucap Zaniya yang memohon-mohon ingin ditemani oleh Daffy.
"Yey, tapi motor aku gimana bang?" tanya Zaniya yang memikirkan motornya.
"Tenang saja, tuh ada uncle Marcos yang akan membawanya. Ayo naik, katanya mau makan yang manis-manis" ucap Daffy yang melihat Marcos memang selalu ada dimana mereka ada.
"Oke deh, aku mau segera kesana. Aku yakin jika sekarang pasti sedang banyak pengunjungnya, secara ini adalah malam sabtu dan besok weekend" ucap Zaniya yang masuk kedalam mobil lalu memakai sabuk pengaman nya.
"Nah itu tahu. Kenapa ingin kesana?" tanya Daffy yang heran akan keinginan dari Zaniya.
"Ya pengen saja sih. Lagi pula kan disana memang sngat pas dan cocok buat nongkrong para anak kuliahan seperti kita. Sangat ramah dikantong pula kan harganya?" jawab Zaniya yang malah membahas soal harga yang ditawarkan memang sedikit berbeda dengan cafe-cafe lainnya.
"Kamu ini malah mikirin harga. Bukankah uncle atau kamu sendiri bisa membeli cafe tersebut, kenapa malah bicara tentang harga?" tanya Daffy yang tidak habis fikir dengan Zaniya.
"Ya seneng saja jika lihat cafe sedang ramai, rasanya sangat seru dan jarang-jarang bukan kita hang out? Masa terus-terusan dimainson dan hanya bisa melibatkan Mommy, Daddy atau Zahiya yang kek kanebo kering" jawab Zaniya tanpa beban dan mengatakan nya dengan penuh senyuman.
"Dasar kamu ini. Saudara sendiri dikatain seperti itu, tadi pagi kamu bilang dia jelangkung. Sekarang kanebo kering" ucap Daffy yang menggelengkan kepalanya.
"Habisnya memang benar adanya seperti itu. Apa lagi yang harus disembunyikan?" ucap Zaniya sambil menatap kedepan sana Danu diatas melihat jika cafe penuh pengunjung. Bahkan sampai didepan pun penuh, begitu juga rooftop nya juga penuh.
"Bagaimana? Apa mau masuk kedalam?" tanya Daffy saat sudah sampai diparkiran yang sudah penuh. Tapi dia malah masuk kedalam parkiran khusus pemilik cafe.
"Ya masuk dong, sudah sampai disini masa harus pergi lagi" jawab Zaniya yang langsung keluar dari mobil dan segera masuk kedalam cafe.
"Kita duduk dimana bang? Penuh semua" tanya Zaniya yang melihat sekeliling cafe benar-benar penuh.
"Terserah kamu saja Zan, abang ikut saja" jawab Daffy yang melihat auntie Lea ikut turun tangan langsung melayani pemgunjug cafe yang membuludak hari ini.
"Kita temui uncle Zayd" ucap Zaniya yang malah menarik tangan Daffy menuju ruangan Zayn.
Dimana disana ada seseorang yang kepanasan, tapi bukan api. Bahkan dia sampai mer*as nampan yang sedang dia pegang. Entah kenapa hati ini dia begitu kesal akan kedekatan Zaniya dengan dua pria seumuran dengan nya.
Siapa lagi jika bukan Tama. Dia sudah bekerja disini dari sore hingga malam, karena dia ingin bisa membiayai kuliah adiknya dan biaya sehari-hari mereka semua. Tama tidak pernah malu untuk mengerjakan semua pekerjaan, asalkan itu semua adalah pekerjaan halal. Akan dia lakukan.
"Sedang apa mereka disini? Kenapa harus bertemu lagi dengan Zaniya? Padahal masih banyak cafe didaerah ini, kenapa harus disini?" ucap Tama yang segera pergi sebelum mendapatkan teguran, karena tidak cepat melayani pengunjung yang ada disana.
Tama masih terus berfikir. Dia baru ingat jika mereka berdua menuju ruangan pemilik cafe.
"Apa mungkin mereka pemilik cafe ini? Jika iya siapa yang saya temui saat pertama kalinya melamar kerja disini?" gumam Tama yang membawakan makanan pesanan dari pengunjung cafe.
"Sudahalah, kenapa juga saya harus memikirkan nya" gumamnya lagi langsung pergi menuju meja pengunjung cafe tersebut.
Dia benar-benar sangat sibuk. Bahkan hingga larut malam hingga cafe tutup pengunjung masih ada disana untuk menikmati malam weekend mereka. Tama langsung pulang saat sudah mendapatkan uang lemburan dan juga beberapa tips yang diberikan pengunjung untuknya.
Inilah yang Tama sukai bekerja dicafe ini. Karena pemiliknya baik dan ramah, juga tidak pernah segan untuk membantu dan memberikan bonus untuk para pelayan maupun para koki atau asisten koki mereka berikan bonus. Hingga semua yang bekerja disana sangat senang juga segan padanya pemiliknya, karena terlalu baik dan tidak pernah pandang orang rendah. Mereka selalu bergabung dan bahkan ikut turun tangan langsung membantu para pelayan dicafe milik mereka.
.
.
.
Maaf, Othor up nya dikit. Mata Othor nggak bisa dikompromi, maaf ya 🙏🙏🙏
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya untuk like, komen, vote dan hadiahnya ya buat Othor supaya makin semangat buat selalu up...
Terimakasih.... Happy reading... 🤗🤗🤗