
Zahiya sengaja mengatakan itu karena dia tahu jika semua gerak-geriknya sedang diawasi oleh seseorang. Dia ingin meyakinkan dirinya supaya percaya padanya dan tidak ada keraguan lagi. Inilah yang dinamakan tarik ulur yang Zahiya lakukan.
Mungkin yang dia lakukan salah dan itu akan menjadi boomerang untuk dirinya sendiri nanti. Tapi dia ingin supaya pria itu tidak menyerang anggotanya. Karena Zahiya sudah lelah akan peperangan yang sering terjadi dalam keberapa tahun belakangan. Membuatnya ingin menjadi gadis biasa dan tidak selalu ada klan yang menyerangnya disaat dia keluar dari persembunyian.
'Aku minta maaf jika aku memanfaatkan keadaan yang tidak terduga ini untuk dekat dan menggali informasi dari dirimu. Aku melakukan ini untuk kebaikan dan juga tidak ada peperangan atau selisih faham diantara anggota kita berdua' ucap Zahiya dalam hati sambil memiringkan tubuhnya menghadap kearah tembok kamarnya.
'Rasanya sangat lelah dan tidak ingin melkukan apa-apa. Semoga saja apa yang aku rencanakan berhasil, jika tidak bersiaplah untuk perang selanjutnya' gumamnya lagi sebelum benar-benar terlelap.
Sedangkan didalam mainson seorang pemuda dengan penampilan yang sangat casual dan tidak terlihat jika dia adalah ketua Mafia pengganti dari seorang pria yang sudah mengadopsinya dulu. Siapa lagi jika bukan Zian Alfonzo. Dia memang sengaja tidak menggunakan nama Alfonzo, karena nama itu sudah banyak dikenal orang dan juga tidak pernah bisa menang walau melawan satu orang saja.
Apa lagi pria yang tidak lain Ayah angkatnya itu sangat bucin pada istri orang. Dan bahkan berniat untuk menanam saham, sayangnya itu tidak berhasil karena kejelian dari suaminya yang seorang King Mafia.
"Ck, pria tua itu masih saja membuat masalah?" tanya pemuda yang tidak lain adalah Albert Einstein yang menanyakan Zian Alfonzo yang sudah tidak waras karena selalu berhalusinasi jika dia bersama dengan wanita pujaan nya.
"Maaf Tuan Muda. Tuan memang selalu seperti itu, bahkan kami para pelayan wanita akan takut untuk mengantarkan makanan pada beliau. Karena dia akan melihat kami sebagai Azalya" jelas seorang pelayan yang ditanya oleh Albert.
"Kau boleh pergi" ucap Albert yang mengusir pelayan wanita tersebut.
"Dasar tua bangka yang menyusahkan! Jika bukan karena jasanya padaku sangat besar, saya tidak akan mau mengurusnya" gumamnya sambil melangkah kearah kamar Zian Alfonzo. Ayah angkatnya itu.
"Apa kau sudah menemukan nya? Dimana dia? Apa dia tidak ingin kemari menemuiku? Azalya, dimana Azalya. Katakan! Dimana dia" ucap Zian yang memegang bahu Albert dan mengguncangnya.
"Sudahalah Dad. Dia sudah bisa bahagia dengan keluarganya, apa Daddy tahu. Dia bahkan sudah keriput dan stroke. Apa Daddy mau dengan wanita yang seperti itu? Bahkan akan menyusahkan kita saja nantinya. Aku tidak mau memiliki Mommy yang cacat seperti itu" ucapnya berbohong supaya Zian percaya padanya.
"Benarkah? Apa kau tidak berbohong?" tanya Zian yang sudah mulai sedikit lebih tenang.
"Untuk apa aku berbohong. Aku bahkan melihatnya sendiri sedang disuapi oleh pelayan nya dan bahkan pelayan saja enggan untuk mengurusnya yang seperti itu. Apa Daddy mau menjadi pelayan nya seumur hidup Daddy yang hanya sebentar lagi ini?" jawab Albert yang menatap dengan tatapan datarnya dan dia menanyakan hal itu pada Zian.
"Daddy tidak akan melakukan itu. Tapi kau tidak berbohong bukan? Daddy tidak ingin kau hanya menjelek-jelekan Mommy kamu itu. Dia adalah wanita yang sangat cantik dan juga sangat ceria. Jika Daddy tahu kau hanya menjelek-jelekan nya saja akan tahu sendiri akibatnya" ucapnya dengan sangat tegas lalu berjalan menuju kearah jendela kamarnya yang terbuka dan menampilkan taman yang sangat bagus juga sejuk.
"Hmm, aku tahu. Aku akan segera kembali" jawab Albert yang langsung pergi dari dalam kamar Zian.
"Siapa dia sebenarnya? Kenapa aku tidak pernah melihat Daddy memegang foto atau seketsa wajah wanita yang bernama Azalya itu. Jika tahu sudah kupastikan akan ku bawa pada Daddy. Huh, sudahlah" gumamnya yang berjalan menuju kamarnya dan dia bersiap-siap untuk bertemu kembali dengan seorang gadis yang sudah beberapa hari ini dekat dengan nya.
Setelah bersiap, tepat jam 5.30 sore dia menuju kediaman seorang gadis yang tidak lain adalah Zahiya. Bahkan dia sudah menyiapkan gaun yang sangat cantik untuk dikenakan olehnya, dan tentunya senada dengan setelan yang dia kenakan.
"Apa dia benar-benar akan kemari? Bagaimana jika dia benar-benar lemari dan menemuiku? Mana aku tidak memiliki pakaian yang pantas. Masa aku harus memakai daster ini sih" ucap Zahiya yang tentu saja hanya pura-pura. Semenjak dia tahu jika semua gerak-geriknya diawasi, dia sering berbicara sendiri seperti orang waras.
Tidak lama kemudian datang seorang pria muda dengan setelan jas yang sangat rapih. Ditangan nya juga ada bucket bunga untuk Zahiya tentunya. Memang untuk siapa lagi? Juga ada sebuah paper bag yang juga dia serahkan pada Zahiya.
"Wah, ini untuk saya Tuan? Ini sangat indah. Tapi, apa saya akan pantas mendapatkan ini semua dari anda? Saya merasa ini terlalu berlebihan Tuan. Lebih baik anda bawa kembali saja" ucap Zahiya yang memegang gaun tersebut dan memberikan nya kembali pada Albert.
"Kau kenakan saja, jangan pernah menganggap diri kamu tidak pantas. Sekarang bersiaplah" ucap Albert yang mendorong tangan Zahiya untuk segera menggunakan gaun yang dia bawa. Beserta heels untuk bisa menyempurnakan penampilan Zahiya.
"Tuan, apa ini tidak berlebihan? Saya tidak bisa menggunakan ini. Memangnya saya bagus menggunakan ini?" tanya Zahiya yang sudah keluar dengan penampilan yang sangat sempurna dan juga sangat manis sekali.
'Aku tidak salah memulihkan gaun itu untuknya. Dia terlihat sangat cantik dan imut dengan tubuh mungilnya itu' gumam Albert dalam hati saat melihat penampilan Zahiya yang sangat menawan juga sangat pintar mengaplikasikan make up yang dia gunakan.
"Tuan, kenapa anda diam? Aneh ya sayang menggunakan pakaian ini? Saya ganti lagi saja ya, sudah saya katakan, jika nanti akan terlihat aneh" ucap Zahiya yang ingin masuk kembali kedalam kamar tangan nya ditahan oleh Albert.
"Kau terlihat sangat cantik. Jangan menggantinya" ucap Albert yang tidak berkedip sekalipun saat melihat penampilan Zahiya yang sangat berbeda itu.
"Tuan, sebenarnya kita akan kemana? Kenapa harus menggunakan gaun dan pakaian yang sangat bagus ini?" tanya Zahiya yang sudah duduk didalam mobil dan disamping Albert.
"Makan malam" jawabnya singkat jelas dan padat.
"Apa akan makan malam direstaurant mewah Tuan?" tanya Zahiya dengan tatapan yang dibuat lesu.
"Kenapa malah terlihat tidak bersemangat? Apa kamu tidak suka?" tanya Albert dengan tatapan bingungnya.
"Tidak Tuan, saya hanya takut jika nanti saya akan mempermalukan anda. Karena saya tidak pernah makan ditempat semewah itu. Jangankan makan, mampir saja tidak pernah. Nanti membuat anda malah membuat anda malu" ucap Zahiya dengan menundukan wajahnya.
"Untuk apa malu? Saya sudah menyewa satu ruangan untuk kita berdua. Jadi jangan pernah merasa malu, karena akan hanya ada kita berdua disana" ucap Albert yang meyakinkan Zahiya dan dia menggenggam tangan Zahiya.
"Wah, anda menyewa satu ruangan hanya untuk makan malam saja? Anda memang the real sultan Tuan" ucap Zahiya dengan bertepuk tangan heboh saat mengetahui semuanya.
"Jangan mengatakan itu, itu hanya hal biasa" ucap Albert dan dia mengalihkan pandangan nya dari Zahiya.
'Sepertinya ada sesuatu yang gadis ini sembunyikan? Dia tidak seperti yang terlihat, ada sesuatu yang tidak disangka perlihatkan' gumam orang kepercayaan dari Albert yang menjadi supir mereka.
Keduanya diam sampai didepan sebuah restaurant yang sangat mewah. Membuat Zahiya berdecak kagum akan semua yang dia lihat. Bahkan tidak ada yang bersuara sedikit pun juga. Zahiya senang bisa menjadi dirinya dulu walau hanya sejenak, dia ingin memanfaatkan keadaan dan mempersiapkan diri untuk menjadi orang lain.
"Wah, Masya Allah... Ini bagus banget" ucap Zahiya melihat sekeliling restaurant yang terlihat sangat ramai hingga didalam penuh.
"Hmm" ucap Albert sambil menggandeng tangan Zahiya menuju lantai dua yang sudah dia booking.
Mereka berdua menjadi pusat perhatian semua pengunjung restaurant, pasalnya mereka terlihat sangat serasi satu sama lain. Hingga manager restaurant tersebut yang menyambut kedatangan mereka berdua dan mengarahkan ketempat yang sudah disediakan dengan sangat romantis.
"Wah, Tuan. Ini sangat bagus sekali, Tuan. Anda mengajak saya untuk dinner romantis disini?" tanya Zahiya sambil menatap wajah Albert yang hanya diam saja.
"Ehmm, hmm. Tidak seperti itu. Ini hanya makan malam biasa saja" jawab Albert sambil berdehem karena Zahiya tahu jika ini adalah makanan malam romantis.
"Oh, saya kira seperti itu. Ternyata anda sudah berencana memberikan kejutan romantis Tuan Einstein" ucap Zahiya yang diakhir kalimat dia ucapkan dalam hati.
"Mari Tuan dan Nona, meja dan makanan sudah kami siapkan segalanya untuk anda berdua" ucap manager restaurant tersebut pada Albert dan Zahiya.
"Terimakasih" ucap Zahiya dengan senyuman ramahnya.
Zahiya dan Albert sudah duduk dikursinya masing-masing. Dan sudah dihidangkan berbagai macam makanan enak diatas meja oleh beberapa pelayan. Zahiya hanya membolakan matanya melihat makanan sebanyak dan semewah itu.
"Tuan, apa ini tidak salah? Bagaimana kita menghabisakan makanan sebanyak ini?" tanya Zahiya dengan tatapan tidak percaya.
"Apa seperti ini cara makan orang kaya?" tanya Zahiya lagi yang menatap kearah berbagai macam makanan didepannya.
'Anda sudah niat sekali Tuan Einstein. Bagaimanapun aku harus menghargai kerja keras anda membawa saya kemari Tuan. Saya akan memperlihatkan bagaimana caranya tidak bisa menggunakan table manners yang kurang baik' ucap Zahiya dalam hati sambil menatap penuh senyuman kepada Albert.
Zahiya benar-benar melakukan berbagai cara untuk bisa makan menggunakan garpu dan pisau. Tapi tetap saja tidak bisa. Dari mulai garpu yang terlempar, pisau terbang, hingga daging yang akan dipotong terbang kearah Albert dan tepat mengenai wajahnya.
Albert sudah sangat marah dan dia mencoba untuk menahan amarahnya itu. Dia tidak ingin meledak dihadapan Zahiya, karena mana mungkin jika dia melakukan itu dan meledak-ledak.
"Maaf-maaf Tuan, saya tidak sengaja. Sungguh maafkan saya, saya tidak berniat seperti itu. Saya tidak bisa menggunakan peralatan makan seperti itu. Maafkan saya, sekali lagi saya minta maaf Tuan" ucap Zahiya dengan derai air mata sambil menunduk dan ingin berlutut dihadapan Albert. Tapi Albert menahan Zahiya untuk melakukan itu.
"Oke, jangan seperti ini. Saya tidak apa-apa, sekarang lanjutkan saja makan nya sesuai yang kamu bisa" ucap Albert yang sudah menghembuskan nafasnya sebelum dia mengatakan itu pada Zahiya.
"Terimakasih Tuan, terimakasih banyak. Maaf" ucap Zahiya dengan sedikit mengangkat wajahnya untuk menatap Albert yang juga sedang menatapnya dengan tatapan teduhnya.
"Sekarang lanjutkan makan nya dan jangan memikirkan yang sudah terjadi" ucap Albert yang meminta Zahiya untuk duduk kembali dan melanjutkan makan nya.
Zahiya hanya mengangguk dan dia duduk kembali. Dia memakan steak hanya menggunakan garpu dan menggigitnya langsung tanpa menggunakan pisau steak.
Albert Einstein hanya bisa memandangi Zahiya dengan tatapan yang aneh dan akhirnya malah menatap penuh dengan rasa kagum pada Zahiya.
'Bahkan kamu tidak jaim saat melakukan itu dihadapan seorang pria. Bahkan melakukan itu tanpa malu dan dengan lahapnya makan' ucap Albert dalam hati sambil terus menatap wajahnya.
'Ternyata dugaanku salah padanya. Dia memang tidak dibuat-buat dalam melakukan apapun. Sungguh Tuan, jika anda bisa mendapatkan nya. Maka anda akan berubah lebih hangat dan tidak seperti dulu lagi yang dingin dan datar juga tidak tersentuh. Nona, anda memang sangat hebat bisa mencairkan Tuan kami yang sedingin kutub selatan' ucap orang kepercayaan Albert yang selalu berada didekatnya setiap saat.
Zahiya melakukan nya seperti Zaniya yang selalu melakukan sesuatu sesuka hatinya dan tidak pernah malu melakukan apapun walau itu bisa mempermalukan dirinya sendiri didepan orang lain. Hingga dia sudah menghabisakan separuh dari makanan yang ada diatas meja.
"EU... Alhamdulilah, kenyang. Maaf Tuan" ucap Zahiya yang langsung menutup mulutnya setelah bersendawa.
"Kenapa minta maaf?" tanya Albert yang menggelengkan kepalanya melihat tingkah Zahiya yang menurutnya apa adanya itu.
"Tidak apa-apa. Terimakasih, makanan disini sangat enak. Tapi sayangnya hanya sedikit didalam piringnya, hanya piringnya saja yang besar dibandingkan dengan isinya" ucap Zahiya yang mengatakan itu semua dengan ringan dan tanpa beban.
"Apa kau masih menginginkan nya lagi setelah menghabiskan semua itu?" tanya Albert menunjuk piring-piring kosong diatas meja.
"Hehehe, sudah kenyang Tuan. Terimakasih, saya hanya mengatakan porsinya saja. Karena dengan makan satu porsi tidak akan membuat kenyang. Makanya saya makan sebanyak itu. Apa anda keberatan Tuan? Maaf, saya kalap melihat makanan sebanyak itu" ucap Zahiya sambil nyengir menampilkan gigi putihnya pada Albert yang hanya menggelengkan kepalanya saja. Begitu juga dengan orang kepercayaan Albert yang tidak habis fikir dengan gadis dihadapan nya yang selalu bisa membuat semua orang geleng kepala saja.
"Jika sudah, kau ingin kemana?" tanya Albert yang menanyakan itu pada Zahiya.
"Memangnya saya mau kemana? Saya tidak punya rencana kemana-mana?" tanya Azalya yang bingung akan pertanyaan dari Albert Einstein.
"Mungkin ada tempat yang ingin kau kunjungi?" ucap Albert yang menanyakan itu pada Zahiya.
"Emm, saya sepertinya tahu ingin kemana" ucap Zahiya yang langsung tersenyum mengatakan semua itu pada Albert.
"Baiklah kita kesana sekarang" ucap Albert yang menggandengnya kembali dan itu membuat Zahiya merasa ada yang aneh dengan dirinya sendiri.
'Ada apa dengan ku? Kenapa perasaan ku seperti ada yang aneh? Apa mungkin aku memiliki perasaan padanya? Ah, tidak-tidak. Masa iya aku memiliki perasaan lebih padanya. Apa mungkin hanya perasaan nyaman saja seperti pada bang Daffy? Mungkin saja iya. Oke Zahiya, jangan berfikiran macam-macam. Jangan menjadi Zaniya yang selalu membuat semua orang kesal, termasuk dirimu sendiri' ucap Zahiya dalam hati dan menggeleng-gelengkan kepalanya saja sambil bergidik mengingat saudara kembarnya itu.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya untuk like, komen, vote dan hadiahnya ya....