
"Kenapa kakak berkeringat? Seperti sedang ketakutan" tanya Tami yang melihat ketegangan diwajah Daffy.
"Tidak, tidak apa-apa. Ayo masuk" ucap Daffy yang mencoba menetralkan perasaan nya yang sedang gugup dan tegang.
'Bismilah, kenapa rasanya seperti akan pergi berperang? Huh, tenang Daf. Semua akan baik-baik saja, didalam bukan orang lain. Mereka adalah keluarga kamu sendiri' ucap Daffy dalam hati dan dia mengajak Tami masuk kedalam.
"Kakak yakin tidak apa-apa? Apa kakak sakit?" tanya Tami yang merasa khawatir akan keadaan Daffy.
"Iya, aku baik-baik saja. Kamu bisa melihatnya kan?" jawab Daffy sangat tersenyum dan dia merasakan ada kekuatan yang mendukungnya.
"Baiklah, jika kakak baik-baik. Ayo masuk" ucap Tami yang mengajak Daffy masuk.
"Assalamualaikum" ucap Tami dan Daffy secara bersama-sama.
"Wa'allaikumsalam" jawab semua orang yang ada didalam rumah.
"Nak, silahkan masuk" ucap Mama Sinta yang menyambut kedatangan Tami dan Daffy.
"Terimakasih tante" ucap Daffy yang merasa canggung saat ditatap datar oleh Tama.
"Dari mana saja kalian berdua? Apa kalian tidak ingat waktu untuk pulang?" tanya Tama dengan tatapan dingin nya.
"Kak, kami... " belum sempat Tami menjelaskan semuanya pada Tama sudah disela oleh Daffy.
"Kami habis makan malam bersama dan jalan-jalan sebentar diluar" jawab Daffy dengan tegas dan menatap manik hitam Tama.
"Apa pulang jam segini bilang jalani sebentar? Kenapa kalian... " belum sempat Tama melanjutkan ucapan nya sudah Zaniya sela.
"Apa ini yang sering abang lakukan saat ada seorang pria mengantarkan Tami pulang dan mengajak main atau jalan? Sungguh, kalian ini sama saja. Bagaimana mau dekat dengan seorang pria, jika semua pria yang berada didekat ku seperti ini?" ucap Zaniya yang menanyakan dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
"Kak, Daf. Makasih sudah antar Tami pulang dengan selamat dan tidak kurang satu apapun. Kakak boleh pulang sekarang, karena hari sudah malam" ucap Zaniya yang meminta Daffy pulang dengan kode yang selalu mereka berdua lakukan saat menghindari kemarahan Azalya. Mommy nya sendiri.
"Baiklah, tante, saya pulang dulu. Besok pagi saya akan menjemput Tami kuliah, apa boleh?" tanya Daffy yang meminta persetujuan dari Mama Sinta.
"Iya nak tidak apa-apa. Tapi apa tidak merepotkan nak Daffy?" jawab Mama Sinta dan memberikan izin nya pada Daffy.
"Tidak sama sekali tante. Saya pamit pulang dulu tante. Selamat malam, Assalamualaikum" ucap Daffy saat akan keluar dan meninggalkan rumah minimalist itu.
"Wa'allaikumsalam" ucap semua orang yang ada disana.
"Kamu bersihkan dirimu dulu nak, lalu istirahat" ucap Mama Sinta yang mengatakan dengan sangat lembut dan penuh kasih sayangnya.
"Tunggu! Apa ini seorang wanita yang pulang larut malam itu tidak mendapatkan teguran? Apa ini baik menurut kamu Tami? Jawab kakak Tami!" ucap Tama dengan nada naik dua oktav.
"Maaf kak, sungguh, aku dan kalian Daffy tidak melakukan apa-apa. Kami hanya makan dan jalan saja, aku janji tidak akan mengulanginya lagi" jawab Tami yang menunduk dan dia baru kali ini mendapatkan bentakan dari kakaknya.
"Apa kamu tidak berfikir, jika wanita akan dicap sebagai wanita tidak baik jika pulang dan pergi bersama dengan seorang pria? Seharusnya kamu berfikir itu" ucap Tama yang membuat Mama Sinta hanya bisa diam dan memeluk Tami.
"Cukup bang, apa ini cara abang mendidik adik perempuan abang? Apa abang lupa jika kita bahkan pernah melakukan hal yang lebih parah dibandingkan dengan yang Tami dan bang Daffy lakukan. Apa abang tidak bercermin dengan sikap abang? Cukup bang, abang sudah membuat Mama dan Tami menangis. Cukup abang melakukan itu, jika abang masih melakukan itu. Jangan salahkan aku, jika aku pergi dari abang. Camkan itu baik-baik bang" ucap Zaniya yang mengeluarkan aura pembunuhnya dihadapan Tama.
"Ayo Tami, Mama. Sebaiknya Mama dan Tami istirahat saja, biarkan saja bang Tama mengintrofeksi dirinya sendiri. Karena yang dia lakukan itu adalah salah, ayo Ma, Tami" ucap Zaniya yang merangkul kedua orang yang dia sayangi sekarang.
"Tapi nak, bagaimana dengan Tama? Dia sedang marah, dan tidak mungkin jika kita malah diam saja. Mama akan berbicara padanya" ucap Mama Sinta yang mencoba untuk keluar lagi, ingin menemui Tama.
"Mama percaya pada Zaniya kan? Jika Mama percaya, sebaiknya Mama istirahat saja. Mama harus bisa jaga kesehatan, jangan sampai Mama malah drop karena banyak fikiran. Mama istirahat saja ya" ucap Zaniya yang mencoba menenangkan Mama Sinta yang menangis.
"Tami juga istirahat saja. Urusan bang Tama serahkan saja padaku, karena dia ingin menerapkan peraturan yang tidak masuk akal. Istirahatlah, jangan memikirkan yang tidak-tidak. Aku sudah kenal dengan bang Daffy sejak kecil, dia adalah pria yang baik dan tidak akan macam-macam. Jika dia berbuat macam-macam, aku yang akan memberinya pelajaran" ucap Zaniya yang mengatakan nya dengan sungguh-sungguh pada Tami.
"Makasih, jika tidak ada kakak. Pasti kak Tama akan lebih marah lagi dan tidak akan percaya dengan apa yang aku jelaskan padanya. Terimakasih banyak" ucap Tami yang memeluk tubuh Zaniya.
"Iya sama-sama. Bukankah ini gunanya keluarga? Jadi jangan difikirkan. Jika kalian berdua memang sudah mantap dan akan memutuskan untuk melanjutkan hubungan lebih dalam lagi, juga tidak apa-apa. Aku akan mendukung penuh keputusan kalian, sekarang kamu istirahat saja. Besok persiapkan diri untuk kuliah kan?" ucap Zaniya yang membalas pelukan Tami.
"Kenapa kamu membelanya? Apa karena dia adalah abang kamu? Makanya kamu membelanya?" tanya Tama yang menatap sinis pada Zaniya.
"Apa ini sifat asli kamu bang? Jika iya, sungguh picik kamu berfikiran seperti itu padaku. Aku tidak menyangka, jika pria terpelajar dan juga seorang dosen seperti abang tega melakukan itu padaku" ucap Zaniya yang menatap sinis pada Tama.
"Oke, kita lihat saja. Jika memang ini yang abang inginkan, jadi jangan pernah menganggap aku remeh dan tidak bisa apa-apa" ucap Zaniya yang mengambil bantal dan selimut untuk diartikan gunakan tidur dilantai.
"Untung bukan Zahiya, jika dia. Sudah habis kamu bang" ucap Zaniya yang mengatakan nya sambil bergumam dan menggerutu.
"Apa ini sikap pengantin baru yang malah tidur terpisah?" tanya Tama yang malah mendekati Zaniya dan memeluknya dari belakang.
"Jangan pegang-pegang. Abang sendiri yang duluan, kenapa juga main larang-larang segala" ucap Zaniya judes dan dia menyingkirkan tangan Tama dari pinggangnya.
"Maaf, abang hanya tidak mau jika mereka melakukan apa yang pernah kita lakukan Zan, abang tidak mau jika sampai mereka berdua malah mengikuti jejak kita berdua. Abang hanya takut" ucap Tama yang membalikan tubuh Zaniya untuk menghadap kearahnya.
"Oke, anggap saja abang takut. Tapi abang tidak bisa berfikir dulu sebelum mengatakan sesuatu, apa abang tidak kasihan pada Mama yang menangis melihat abang yang marah-marah? Apa abang melihat itu semua? Seharusnya abang tidak melakukan itu, karena itu menyakiti perasaan Mama. Wanita yang membesarkan abang dengan penuh kasih sayangnya" ucap Zaniya yang mengatakan nya dengan perlahan, tapi penuh penekanan disetiap katanya.
"Iya, abang tahu. Abang memang salah, tapi. Abang hanya menjaga, supaya Tami bisa menjaga diri dan tidam melakukan hal-hal yang tidak baik. Itu saja" ucap Tama yang menunduk dan tidak mau melihat kemarahan dimata Zaniya.
"Abang minta maaf. Abang janji akan selalu percaya pada mereka berdua" ucap Tama yang malah semakin erat memeluk Zaniya.
"Abang salah meminta maaf padaku. Seharusnya abang minta maaf pada Mama dan Tami. Mereka berdua yang terluka dengan ucapan abang, bukan aku" ucap Zaniya judes dan malah memejamkan matanya dan dia langsung terlelap.
"Dia ini mudah sekali tertidurnya?" gumam Tama yang melihat Zaniya sudah terlelap. Lalu dia memindahkan Zaniya diatas ranjang mereka.
"Maafkan aku. Aku membuat kamu marah, dan harus ada perdebatan diantara kita berdua. Aku memang salah dan terlalu over protective pada Tami. Aku hanya ingin yang terbaik untuknya, karena tanggung jawabku sangat besar" gumam Tama yang menatap wajah Zaniya yang sangat nyenak saat tertidur.
"Good night my wife. Maafkan aku" ucap Tama yang memeluk Zaniya dan membuatnya tersenyum.
.
Sedangkan didalam mainson, Daffy tidak karuan memikirkan Tami yang terlihat sangat ketakutan dan juga sedih. Apa lagi dia lupa meminta nomor ponsel Tami, dia benar-benar menjadi bod*h jika sudah seperti ini.
"Kenapa aku mendadak menjadi bodoh seperti ini sih? Bagaimana caranya aku tahu keadaan nya sekarang? Nomor ponselnya saja aku tidam punya. Ah, sial-sial" ucap Daffy yang malH mengacak-ngacak rambutnya sendiri.
"Apa iya aku menghubungi Zaniya? Yang ada aku akan semakin membuat suami Zaniya semakin marah saja. Huh, tunggu sampai besok pagi saja" gumamnya lagi sambil terus mengacak-ngacak rambutnya hingga berantakan.
"Lebih baik aku istirahat saja. Dari pada membuat kepala ingin meledak rasanya" gumamnya yang malah memejamkan matanya dan benar-benar terlelap.
Keesokan harinya Daffy sudah siap dengan pakaian nya dan juga sudah siap ingin menjemput Tami terlebih dahulu. Mereka sudah janjian dan akan bertemu saat Daffy berkunjung kerumah Tami. Untuk bertemu dan melihat keadaan nya yang semoga saja memang baik-baik saja.
"Loh Daf, sarapan dulu" ucap Azalya yang mengingatkan Daffy untuk sarapan.
"Nanti saja auntie, Daffy buru-buru soalnya. Dah, Assalamualaikum" ucap Daffy yang sudah berlari menuju halaman depan mainson.
"Wa'allaikumsalam, dasar anak itu. Seperti akan menjemput wanita saja yang harus terburu-buru" ucap Azalya yang menggelengkan kepalanya melihat tingkah Daffy yang memang sedikit aneh dan berbeda.
"Biarkan saja dia seperti itu, dia sedang mengenal jati dirinya sendiri dan mungkin saja sebentar lagi akan menikahkan putra kita juga" ucap Zayn yang baru bergabung dengan Azalya.
Daffy mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh menuju rumah Tami. Tidak membutuhkan waktu lama, dia sudah sampai didepan rumah sederhana tersebut. Memang terlihat masih sangat sepi, karena dia sampai tepat pukul 06.30.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya untuk like, komen, vote dan hadiahnya ya...
Terimakasih dan happy reading... 🤗🤗🤗