
Tama hanya diam saja saat Zaniya menggerutu dan menanyakan apa yang menurutnya memang sangat tidak seharusnya dibahas disini.
Setelah berjam-jam berdiri dan menyalami tamu undangan yang hadir. Tama dan Zaniya sudah masuk kedalam kamar pengantin mereka yang sudah dihias sedemikian rupa oleh para WO dan juga atas keinginan Azalya.
"Wah, ini bagus banget" ucap Zaniya yang melihat banyak kelopak mawar merah bertebaran dilantai dan juga diatas kasur.
Disana juga terdapat berbagai lilin aromatherapy yang sudah dinyalakan dan suasana kamar menjadi sangat romantis. Tama langsung menuju kamar mandi, karena seharian berdiri membuatnya pegal-pegal dan juga lelah. Dia melihat kamar mandinya juga dihias oleh berbagai bunga-bunga yang sama dengan didalam kamar. Zaniya menyusul Tama kedalam kamar mandi.
"Abang kenapa masuk kedalam sendirian sih? Aku juga kan mau mandi" ucap Zaniya yang membuka gaun pengantin yang dia kenakan, hingga menyisakan pakaian dalamnya saja.
"Abang kenapa malah diam. Ayo mandi" ucap Zaniya yang tidak tahu jika Tama sudah panas dingin dibuatnya.
BRUK...
Tama menarik tangan Zaniya hingga Zaniya yang akan melangkah berbalik dan menubruk dada bidangnya. Tama memeluk tubuh Zaniya yang sudah resmi menjadi istrinya dan mengusap punggungnya yang putih mulus. Lalu Tama membuka pengait bra yang digunakan oleh Zaniya hingga terjatuh diatas lantai.
"Kamu kenapa selalu menggoda ku, hmm?" tanya Tama menatap wajah Zaniya yang juga sedang menatapnya.
"Aku, aku tidak menggoda abang. Abang saja yang selalu berfikiran mesum" jawab Zaniya yang merasakan panas pada sekujur tubuhnya. Juga ada getaran tidak karuan saat Tama menyentuh punggungnya yang polos.
"Biar aku kasih tahu, apa itu mesum" ucap Tama sambil berbisik dan meniup leher jenjang Zaniya. Membuat Zaniya meremang dan dia memejamkan matanya.
Tama mulai mendekatkan wajahnya dan langsung mencaplok bibir tipis Zaniya dengan perlahan tapi pasti. Tapi lama kelamaan keduanya terhanyut dan melakukan hal lebih. Baik Tama dan Zaniya, ini adalah pengalaman pertama bagi mereka berdua.
Tama membawa Zaniya menuju kamar dengan menggendongnya seperti koala, lalu Tama merebahkan Zaniya dengan perlahan. Entah sejak kapan Tama sudah ber*ela*jang dada dan hanya menyisakan boxer yang dia gunakan.
Zaniya bisa melihat ada sesuatu yang menonjol dan memperlihatkan sesuatu yang baru kali ini Zaniya lihat dan itu terlihat sangat besar.
'Oh my God. Apa sebesar itu bisa masuk? Ah, apa sih yang gue fikirkan. Kenapa gue jadi berfikiran mesum juga' ucap Zaniya dalam hati saat melihat tonjolan keras didalam boxer milik Tama.
Tama melakukan pemanasan dulu pada Zaniya. Walau ini adalah yang pertama juga untuknya, dia mengikuti instingnya sebagai seorang pria dewasa yang membutuhkan sesuatu dari istrinya. Tama melakukan berbagai cara untuk bisa membuat Zaniya merasa nyaman dan bisa lebih relax saat dia memasuki inti tubuhnya.
Entah sejak kapan Zaniya sudah polos, begitu juga dengan Tama yang sudah tidak menggunakan apa-apa.
"Tunggu dulu bang, apa abang yakin akan memasukinya? Apa sebesar itu akan muat pada punyaku yang sekecil ini?" tanya Zaniya dengan konyolnya dan menunjuk milik Tama yang besar dan memperagakan miliknya yang kecil.
"Aku tidak tahu kenapa sebesar ini. Tapi kita belum mencobanya bukan? Jadi kita tidak akan tahu, sebaiknya kita mencobanya dulu" jawab Tama yang bingung juga. Pasalnya ini adalah pengalaman pertama baginya.
Tama melakukan pemanasan kemabali dan dia mulai melakukan apa yang menurut nalurinya benar sebelum memasukinya. Tama benar-benar melakukan nya dengan lembut sehingga Zaniya merasa relax dan tidak banyak bertanya lagi. Bahkan Zaniya mengeluarkan suara sakral yang membuat Tama semakin bersemangat melakukan nya.
"Uh... Bang, aku mau pipis" ucap Zaniya yang mengatakan nya saat Tama sedang membuat Zaniya semakin menikmatinya dan membuatnya semakin basah.
"Keluarkan saja sayang, jangan ditahan-tahan" ucap Tama yang mulai keatas dan melakukan apa yang seharusnya dia lakukan.
Tama memposisikan miliknya pada milik Zaniya tanpa melepasakan tautan bibirnya pada bibir ranum Zaniya. Lalu...
BLESS...
"Aaa, sakit..." teriak Zaniya yang merasakan sakit pada inti tubuhnya dan dia menggigit bibir Tama hingga berdarah juga punggungnya dicakar dengan sangat kencang oleh kuku-kukunya yang panjang.
"Tidak apa-apa, nanti juga akan enak setelahnya. Jadi nikmatin saja semuanya" ucap Tama yang mel*mat bibir Zaniya kembali hingga suara mereka terdengar begitu indah ditelinga masing-masing.
"Bagaimana? Apa sudah enak?" tanya Tama saat melihat wajah Zaniya yang sudah dipenuhi oleh keringat dan juga wajah yang sedang menikmati apa yang dia lakukan.
"Iya, walau masih sedikit perih. Tapi enaknya lebih mendominan" jawab Zaniya sambil tersenyum dan men*e*ah saat Tama mempercepat tempo permainan nya.
"Abang... Aku... Aku... Mau, ke... luar... " ucap Zaniya yang sudah merasa ada dorongan dari dalam untuk segera dikeluarkan.
"Bersama sayang... Uh.... " ucap Tama yang menghenak-hentakan lebih cepat lalu memelan setelah dia menyemburkan kecebongnya kedalam rahim Zaniya dengan sangat banyaknya.
"Terimakasih banyak sayang. Karena aku menjadi yang pertama untuk kamu, maaf jika ini menyakiti kamu" ucap Tama yang mengecup kening Zaniya cukup lama lalu dia mencabut penyatuan nya dan menggulingkan dirinya disamping Zaniya.
"Kita bersihkan dulu tubuh kita" ucap Tama yang sudah menggunakan bathrobe ingin melangkah tapi tidak jadi saat Zaniya berteriak.
"Aw... Ssshhh" ucap Zaniya sedikit memekik kesakitan saat menurunkan kakinya.
"Ada apa?" tanya Tama yang berlari menghampiri Zaniya yang sudah duduk disamping ranjang.
"Sakit, ini semua karena abang. Aku tidak bisa berjalan dan rasanya tidak nyaman, seperti ada yang mengganjal" ucap Zaniya yang mengerucutkan bibirnya kesal pada Tama.
"Maaf, biar aku bantu" ucap Tama yang menggendong Zaniya ala bridal style menuju kamar mandi.
"Abang ternyata romantis juga" uvcap Zaniya yang sudah diletakan dipinggir bathtub.
Tama tidak menghiraukan apa yang dikatakan oleh Zaniya, dia hanya membuka bathrobe yang dia gunakan lalu masuk kedalam bathtub dan diikuti oleh Zaniya yang melakukan hal sama.
"Bang, setidaknya ganti panggilan nya padaku. Masa aku kamu terus, aku akan memanggil abang dengan panggilan Hubby atau sayang mungkin? Begitu juga untuk abang memanggil ku dengan sebutan yang manis" ucap Zaniya yang menyandarkan punggungnya pada dada bidang Tama.
"Iya" jawab Tama yang merasakan jika adik kecilnya sudah bangun kembali dan ingin merasakan nya lagi masuk kedalam sarangnya yang terasa hangat.
"Boleh aku memintanya lagi sayang? Dia sudah bangun" tanya Tama yang memeluk pinggang Zaniya dan merambat kebagian atas. Tempat paforitnya yang baru.
"Lakukanlah sesuka kamu sayang, tapi pelan-pelan saja. Masih sedikit linu" ucap Zaniya yang sedikit mengangkat ping*ulnya supaya Tama bisa memasukan nya dengan mudah.
"Ssshhh, ini sangat nikmat sayang" ucap Tama yang mendesis keenakan karena ini terasa mudah saat memasukinya. Tidak seperti pertama yang sangat sulit dan juga pastinya dia merasakan sakit, sama seperti Zaniya rasakan.
"Kita kembali kekamar saja. Jika terlalu lama disini yang ada kita akan masuk angin" ucap Tama yang mengangkat tubuh Zaniya tanpa melepasakan penyatuan mereka berdua.
"Sayang, rasanya sangat... Uh, membuat aku ketagihan" ucap Zaniya yang mengatakan nya saat Tama berjalan menuju arah ranjang. Zaniya mengalungkan tangan nya dileher kokoh Tama dengan sangat erat.
"Apa kau menyukainya sayang?" tanya Tama yang berhenti saat sudah dekat dengan ranjang mereka.
"Emm, tentu... Sajah..." jawab Zaniya yang terus mende*ah saat Tama malah melakukan nya dengan posisi yang sama seperti berjalan tadi.
Dan akhirnya mereka berdua melakukan nya dengan berbagai macam gaya yang mereka inginkan. Dari mulai gaya cicak nempel ditembok sampai yang kodok lompat-lompat. Sudah mereka lakukan hingga mereka lupa waktu dan mereka berdua melakukan nya hingga pagi menjelang. Mereka selesai sebelum subuh, hingga subuh berjamaah. Setelahnya baru mereka berdua tidur dengan berpelukan bersama.
.
Sedangkan keluarganya yang lain sedang menikmati sarapan bersama. Termasuk Daffy dan Tami yang masih ada diantara mereka semua. Sedangkan keluarga yang lain sudah kembali saat malam juga.
"Daf, apa kamu tidak kuliah hari ini?" tanya Azalya yang memang sudah sangat dekat dengan Daffy, karena mereka sudah seperti Ibu dan anak saja.
"Kuliah auntie, mungkin masuk siang. Memangnya kenapa auntie?" jawab Daffy dan dia juga bertanya kembali pada Azalya.
"Tidak apa-apa, hanya auntie mau minta tolong. Kamu bisa antarkan Aditami kuliah pagi ini, dia pasti akan sangat repot jika berangkat sendiri kuliahnya. Apa lagi jaraknya dari sini lumayan jauh" jelas Azalya yang mengatakan nya sambil menatp Tami yang hanya menunduk saja.
"Tidak perlu Aza, Tami biasa berangkat sendiri dan dia juga sudah diberikan kunci mobil oleh Tama. Jadi tidak perlu repot-repot untuk mengantarkan nya kuliah" ucap Mama Sinta yang menolak, karena merasa tidak enak akan apa yang Azalya lakukan dengan keluarganya.
"Tidak masalah mbak, lagian kampus Daffy juga satu arah kan dengan kampusnya Tami, jadi Daffy tidak mungkin repot. Iya kan Daf?" ucap Azalya yang tahu jika Daffy memiliki perasaan pada Tami. Dan meminta pendapat padanya supaya mau mengantarkan Tami kuliah.
"Tentu saja auntie, Daffy tidak repot kok. Memang satu arah kampus kami" jawab Daffy yang mencoba tetap tenang dengan semua yang akan dilakukan oleh auntie nya itu.
"Tuh, denger sendiri kan mbak. Jadi jangan khawatir, Daffy juga anak yang baik kok. Dia akan mengantarkan Aditami dengan selamat sampai tujuan" ucap Azalya yang semakin senang melihat dua anak muda itu yang terlihat malu-malu meong saat ini.
"Ya sudah jika tidak merepotkan, kalian hati-hati saja. Saya titip anak saya ya nak Daffy" ucap Mama Sinta yang merasa jika apa yang dilakukan oleh Azalya adalah usaha untuk mendekatkan keduanya.
"Iya auntie, akan Daffy jaga dan mengantarkan sampai depan kampusnya" ucap Daffy yang melanjutkan kembali sarapan nya lalu dia terus menunduk, tapi dalam hati dia tersenyum saat akan jalan berdua dengan Tami.
'Kenapa perasaan aku jadi tidak karuan seperti ini sih, saat mendengar jika auntie Azalya meminta Daffy mengantarkan aku kekampus. Dan kenapa aku malah malu-malu kayak gini? Ah... Aneh banget aku ini' ucap Tami dalam hati yang merasa gugup dengan apa yang akan dia lakukan saat berdua dengan Daffy.
"Daffy sudah selesai, Daffy mau ambil tas dulu setelah itu berangkat" ucap Daffy yang omit pada semua orang yang ada disana dan diangguki oleh semuanya.
"Tami juga mau ambil tas dulu Ma, nggak enak jika kak Daffy harus menunggu ku" ucap Tami yang juga berjalan dibelakng Daffy yang akan memasuki lift.
"Mereka ini seperti pasangan yang sedang malu-malu" ucap Azalya yang mengatakan nya tanpa beban didepan Mama Sinta.
"Oh iya mbak, jika memang mereka nanti. Nanti ya mbak, nanti mereka menjalin hubungan dan juga memutuskan menikah. Sama seperti yang dilakukan oleh Zaniya dan Tama, apa mbak akan setuju? Maaf loh mbak, jika aku menanyakan soal ini pada mbak" ucap Azalya yang membuat Mama Sinta menghentikan makan nya.
"Mbak jangan tersinggung loh mbak. Aku tidak ada maksud apa-apa kok, ini kami hanya seandainya saja" ucap Azalya yang merasa tidak enak saat melihat Mama Sinta yang tidak melanjutkan sarapan nya lagi.
"Kalo mbak sih tidak masalah Aza, cuman lebih baik mereka selesaikan dulu kuliah mereka. Karena Tama juga pernah berpesan seperti itu pada Tami, jika dia harus fokus kuliah dulu. Maaf, bukan nya apa-apa. Tama yang bisa memutuskan semuanya untuk Tami. Karena dia yang bilang akan bertanggung jawab penuh atas adiknya" ucap Mama Sinta yang menunduk dan juga merasa tidak enak atas apa yang dia ucapkan pada Azalya dan Zayn yang langsung berhenti sarapan.
"Tidak apa-apa mbak, aku tahu kok. Ini kan aku hanya bilang seandainya saja, jika tidam juga tidak maslah. Mereka mungkin akan berteman dekat dan jugakan mereka sudah terikat persaudaraan sekarang. Jadi mbak jangan merasa tidak enak atau sungkan lagi pada kami berdua. Apa lagi kita ini sudah berbesan, jadi jangan sungkan lagi mbak" ucap Azalya yang tersenyum kearah Mama Sinta dan Mama Sinta hanya mengangguk canggung saja padaku Azalya dan Zayn.
Saat mereka bertiga sedang terlibat obrolan serius, lebih tepatnya Azalya dan Mama Sinta saja. Berbeda dengan yang sedang dibicarakan oleh kedua orang tua tersebut.
"Maaf ya kak, aku jadi ngerepotin kakak" ucap Tami saat sudah berada dalam lift bersama dengan Daffy.
"Tidak apa-apa kok, kebetulan kan memang satu arah kampus kita. Jangan sungkan, aku akan sangat senang jika kamu juga menganggap aku sama seperti Zaniya" jawab Daffy yang mencoba tetap tenang saat berdekatan dengan Tami.
"Iya kak, sekali lagi terimakasih ya kak. Aku memang belum terlalu mahir membawa mobil, aku sudah terbiasa membawa motor kekampus. Itupun motor matic" ucap Tami yang mulai santai dan sudah tidak canggung lagi pada Daffy.
"Eh tapi ngomog-ngomong, aku nggak apa-apa kan panggil kak Daffy dengan sebutan kakak. Tidak abang?" tanya Tamiyang mengatakan nya sambil menggebrak? atap wajah Daffy yang terlihat memerah saat berdekatan dengan Tami.
"Tentu saja tidak apa-apa. Senyaman dan semau kamu saja memanggilku apa, jadi tidak harus sama dengan Zaniya" jawab Daffy yang merasa sangat gugup akan berbicara dengan Tami.
'Kenapa dengan perasaan ku ini? Apa ini yang dinamakan perasaan yang lain? Ini tidak seperti aku pada Zahiya, apa mungkin aku sudah bisa melupakan perasaan ku padanya? Atau memang perasaan itu tidak ada sebelumnya? Kenapa terasa berbeda jika berdekatan dan berbicara dengan Tami? Apa ini yang namanya cinta? Atau hanya rasa biasa saja? Sungguh aku tidak tahu apa-apa tentang cinta ini. Tuhan, jika memang ini adalah cinta dan dia adalah yang engkau pilihkan untuk hamba, tolong dekatkan. Tapi, jika bukan dia, jangan tumbuhkan perasaan ini. Karena akan sangat menyakitkan' ucap Daffy dalam hati sambil terus menatap kearah dinding lift yang memantulkan wajah Tami yang manis.
"Kita sudah sampai kak. Aku kekamar aku dulu ya, mau mengambil tas" ucap Tami yang membuyarkan lamunan Daffy.
"Ah, iya. Aku juga akan kekamar dulu" ucap Daffy yang melihat Tami sudah berjalan lumayan jauh darinya.
"Ah, kenapa aku malah jadi salah tingkah seperti ini sih. Semoga saja dia tidak berfikiran macam-macam tentang ku, jika tidak. Apa yang akan aku katakan padanya" gumam Daffy yang sudah masuk kedalam kamar yang dia tempati dalam beberapa malam ini.
Daffy menunggu Tami yng sekalian bersiap untuk kuliah juga membereskan pakaian nya yang akan dia bawa pulang. Dia sengaja sekalian membawanya, karena dia akan langsung pulang setelah pulang kuliah, jadi tidak perlu bolak balik kehotel lagi untuk mengambil pakaian nya.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya untuk like, komen, vote dan hadiahnya ya....
Maaf jika Othor telat up, karena HP Othor tidak bisa diajak kompromi. Sejak tadi ngelag terus dan baru bisa digunakan lagi. Semoga para reader kesayangan Othor masih setia menunggu karya-karya Othor receh ini...
Jangan lupa baca dan pollow akun Othor juga ya...
Terimakasih dan happy reading... 🤗🤗🤗