Mr. Z CEO Of The Mafia

Mr. Z CEO Of The Mafia
S2~ Berbicara dengan Tama



Zahiya menatap wajah saudara kembarnya yang masih kesal dan juga melampiaskan nya pada makanan dan juga minuman. Zahiya mendekati Zaniya dan memegang tangan nya.


"Sorry, dan makasih. Kamu memang saudaraku yang paling baik" ucap Zahiya yang langsung berdiri dan merangkul pundak Zaniya dari belakang.


Daffy yang melihatnya pun ikut tersenyum. Begitulah mereka berdua, setelah berdebat dan bertengkar. Keduanya saling bicara kembali dan saling meminta maaf. Lalu tidak ada lagi ketegangan diantara mereka berdua.


"Iya, gue juga minta maaf. Gue nggak bisa nahan emosi gue jika sudah menyangkut cowok kurang a*ar" ucap Zaniya yang meminta Zahiya untuk duduk kembali disampingnya.


"Nah gitu, kalian memang harus selalu kompak dan jangan berantem seperti tadi. Abang takut tahu jika kalian berdua malah menghancurkan kampus ini" ucap Daffy yang membuat keduanya mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan dari Daffy.


"Eh lihat, bukankah itu dosen loe ya?" tanya Zaniya yang melihat kearah Pak Tama yang sedang berjalan membawa semua barang-barang miliknya dengan wajah sendunya.


"Iya, kenapa beliau?" tanya Daffy juga yang membuat Zahiya sadar jika masalah ini pasti akan berdampak pada karirnya yang baru saja dimulai.


"Aku kesana dulu. Ini pasti ada sangkut pautnya dengan kejadian viral tadi" ucap Zahiya yang langsung berlari mengejar Pak Tama.


"Pak tunggu. Kenapa Bapak akan pergi? Bukankah kelas kita adalah satu jam lagi dari sekarang?" tanya Zahiya yang sudah berada dihadapan Pak Tama.


"Saya sudah tidak bisa mengajar lagi. Kamu tahu bukan kejadian tadi yang sudah viral dan sampai ditelinga pemilik kampus dan juga kepala disini. Jadi saya memang harus mempertanggung jawabkan apa yang sudah saya lakukan" jawab Pak Tama yang langsung pergi setelah mengatakan itu pada Zahiya menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari mereka berdiri.


Zahiya langsung pergi juga dari sana. Dia langsung menuju ruangan dosen untuk menjelaskan semuanya pada mereka, jika semua yang viral itu semuanya adalah hoax. Dan dia bisa menjamin semua kebenaran nya pada mereka.


TOK...


TOK...


TOK...


"Permisi Pak, saya Zahiya ZM. Boleh saya masuk?" tanya Zahiya yang sudah dibukakan pintu oleh dosen yang ada didalam.


"Silahkan" ucapnya dengan wajah yang tidak bersahabat. Apa lagi melihat penampilan Zahiya yang biasa-biasa saja.


"Apa yang ingin kamu jelaskan pada kami?" tanyanya saat Zahiya baru saja duduk dan menatap semua orang yang ada disana.


"Saya hanya mau membuktikan jika Pak Tama tidak pernah melakukan apa yang ada didalam foto tersebut. Jika anda tidak percaya saya akan memberikan bukti" ucap Zahiya yang memberikan bukti pada dosen yang ada didalam sana.


"Dari mana kamu mendapatkan semua bukti ini?" tanya salah satu dosen yang tidak suka pada Pak Tama.


"Anda tidak perlu tahu saya tahu dari mana bukti ini. Hanya semua tuduhan yang anda berikan semuanya tidak benar. Saya mau anda semua bisa mencabut kembali semua tuduhan dan membersihkan namanya" ucap Zahiya yang sudah mengeluarkan aura pembunuhnya dan tidak bisa membuat semua orang yang ada disana berkutik.


"Saya akan mendiskusikan ini semua dengan yang lainnya dan juga pada pelilik yayasan" ucap Pak Marwan yang memang paling tidak suka pada Pak Tama.


"Saya akan menunggunya hingga nanti. Karena jika anda semua berbohong dan tidak melakukan keadilan untuk Pak Tama" ucap Zahiya yang memang tidak suka jika ada yang mendapatkan keadilan.


Semua dosen yang ada disana hanya diam dan mengangguk saja. Karena mereka semua tidak ingin salah bicara, apa lagi sekarang pihak kampus sudah mengetahui dan menurunkan surat pemecatan langsung dari atasan.


"Saya permisi" ucap Zahiya langsung bangkit dari duduknya dan membungkukan sedikit badan nya memberi hormat pada semua dosen yang ada disana.


"Kami akan berusaha semampu kami, karena ini pihak dari atas sudah tahu dan menurunkan surat pemecatan langsung. Jadi mohon dimaklumi jika akan lama prosesnya" ucap salah satu dosen yang memang memberitahukan lowongan dosen ini pada Tama.


Zahiya hanya mengangguk dan langsung pamit setelah mendengar itu dari salah satu dosen disana. Zahiya menuju parkiran untuk memberikan kabar itu pada Tama, tapi ternyata sudah tidak ada lagi disana. Begitu juga dengan mobil yang ada diparkiran sana sudah tidak ada disana.


"Ternyata sudah pergi?" gumam Zahiya yang menatap kearah parkiran mobil yang kosong.


"Sedang apa loe diam disini? Sendirian lagi?" tanya Zaniya yang menepuk bahu Zahiya yang berdiri menatap parkiran.


"Tidak sedang apa-apa. Kamu sendiri kenapa ada disini?" Zahiya balik bertanya pada Zaniya.


"Mau pulang, jam pelajaran sudah habis" jawab Zaniya yang duduk diatas mobil yang ada didepan nya.


"Loe sendiri? kenapa diam disini? Apa mau pulang juga?" tanya Zaniya lagi yang menatap wajah Zahiya.


"Aku mau kesuatu tempat dulu. Kamu pulang saja lebih dulu, aku akan pergi bersama dengan uncle Angga. Daddy juga sudah tahu" ucap Zahiya yang juga menatapnya lalu bersiap untuk masuk kedalam mobilnya.


"Jadi gue harus nunggu bang Daffy selesai dong?" tanya Zaniya yang melihat Zahiya memasuki mobilnya.


"Iya" jawab Zahiya yang langsung menginjak pedal gas meluncurkan mobilnya dengan kecepatan sedang keluar dari parkiran kampus.


Zaniya hanya menghela nafasnya melihat saudara kembarnya sudah menjauh darinya. Zahiya malah berjalan menuju taman yang ada dikampus, dia melihat ada seorang pria yang ada disana.


"Boleh duduk disini?" tanya Zaniya yang melihat pria duduk dibangku yang hanya ada satu ditaman belakang kampus yang sangat sepi itu.


"Duduk saja. Kamu kenapa tidak masuk kelas? Bukankah masih ada satu pelajaran lagi?" tanya pria yang ada disamping Zaniya.


"Tapi saya tidak mengenakan anda Pak. Kenapa anda mengatakan jika saya tidak masuk kelas lagi? Apa anda memata-matai saya?" tanya Zaniya yang tidak bisa berhenti jika sudah berbicara.


"Apa kamu mendadak amnesia? Bukankah sebelumnya saya adalah dosen kamu dikelas saya?" tanya pria yang tidak lain adalah Wiratama, yang sering dipanggil Tama oleh yang lainnya.


"Owh, saya tahu. Anda salah orang berarti Pak, saya bukan berada didalam kelas anda. Saya berada dikelas yang lain dan itu tentu bukan kelas anda. Saya berada dikelas dan jurusan yang berbeda dengan orang yang anda maksud. Karena saya mengambil jurusan bisnisnya bukan IT" jelas Zaniya yang memang dia sudah menyadari jika yang dimaksud adalah Zahiya.


"Apa kamu mau mengelabui saya? Bukankah kamu ini adalah Zahiya? Kenapa pura-pura tidak mengenal dan tahu siapa saya? Apa karena saya bukan lagi dosen kamu disini? Makanya kamu tidak mengenali saya lagi?" tanya Tama dengan senyuman sinis dibibirnya.


"Bukan begitu Pak, eh. Kak, saya memang bilang Zahiya. Tapi saya Zaniya, Zaniya ZM. Jadi anda salah orang" jelas Zaniya yang tidak ingin jika ada orang yang salah mengenalinya.


"Apa kamu kira saya percaya? Jelas-jelas kamu itu adalah dia, masih tidak mau mengaku juga. Tapi tidak masalah sih bagi saya, karena saya juga sudah tidak bekerja lagi disana dan saya tidak mungkin bisa mengenal mahasiswa kalangan atas seperti kamu ini" ucap Tama yang sudah pesimis akan Zahiya yang tidak mengenalinya.


"Oke, oke. Harus saya jelaskan berapa kali pada anda Pak? Ini jika anda tidak percaya" ucap Zaniya yang sudah frustasi menjelaskan semuanya pada Tama yang tidak percaya padanya.


Tama yang melihat pasangan layar ponsel milik Zaniya baru bisa percaya, bahwa mereka memang ada dua dan itu sangat mudah dibedakan satu sama lain. Jika Zahiya yang dia kenal sebelumnya lebih terlihat feminim dan Zahiya yang ini terlibat lebih seperti gadis tomboy dan terlihat tidak ada feminim-feminimnya sama sekali.


"Maaf, saya salah mengenali orang. Saya hanya mengenalnya saja, karena dia adalah mahasiswa yang paling bisa diandalkan dan tidak seperti dengan mahasiswa lainnya yang hanya mengandalkan uang, bukan otak mereka" jawab Tama dengan tatapan lurus kedepan sana.


"Dia memang seperti itu. Tapi kenapa anda bisa dipecat? Maaf, saya kepo" tanya Zaniya sambil nyengir menampilkan gigi putihnya.


"Memang anda itu berbeda dengan Zahiya. Karena dia akan jarang bicara dan lebih banyak diam" ucap Tama yang menatap Zaniya dengan lekat.


"Anda bisa saja Pak. Tapi memang benar, hihihi" ucap Zaniya yang tertawa cekikikan saat mengatakan itu pada Tama.


"Tapi, ngomog-ngomong kita belum berkenalan. Tidak apa-apa lah sayang yang mengatakan nya lebih dulu" ucapnya lagi sambil tersenyum menatap wajah Tama.


Pria yang lebih dewasa darinya dan terlihat sudah sangat matang jika dilihat dari sudut pandang Zaniya yang memang selalu mengagumi Daddy nya yang selalu menjadi panutan nya dan selalu mengagumi pria yang lebih dewasa darinya.


"Boleh saja. Nama saya Wiratama, kamu bisa memanggil sesuai yang kamu inginkan. Kamu sendiri?" jawab Tama dan menanyakan nya pada Zaniya.


"Oke jika begitu aku panggil abang ganteng saja. Hahah" ucap Zaniya yang malah tertawa saat mengatakan nya dan itu membuat Tama juga ikut tersenyum disaat dia pusing akan keadaan keluarganya nanti akan bagaimana.


"Sesuka kamu saja adik manis" ucap Tama yang membuat Zaniya langsung berhenati tertawa saat mendengar ucapan dari Tama yang mengatakan jika dia adalah adik manis.


"Nama ku Zaniya, bukan adik manis!" ucap Zaniya yang tidak menyukai dipanggil seperti itu oleh siapapun itu.


"Jika begitu, jangan memanggilku abang ganteng juga. Panggil saja Tama seperti yang lainnya" ucap Tama lagi sambil menatap Zaniya.


"Panggil aku Zaniya, Zani, Za atau terserahlah. Jika kedua orang tua ku memanggilnya Queen. Terserah mau memanggil yang mana, aku saja bingung jika ada yang memanggil selain mana itu" ucap Zaniya yang malah tersenyum sangatebar akan semua yang dia katakan.


"Hmm, apa kamu tidak masuk kelas? Kenapa kamu segini malah ada disini?" tanya Tama yang mengalihkan pembicaraan mereka berdua.


"Aku selesai. Dan sedang menunggu abang selesai kelasnya. Abang sendiri? Bolehkan aku panggil abang juga?" tanya Zaniya yang balik bertanya akan panggilan nya pada Tama.


"Senyaman kamu saja. Seperti yang kamu katakan tadi saat pertama bertemu, jika saya sudah dipecat dan tidak punya pekerjaan lagi. Maaf, jadi curhat" jawab Tama yang membuat Zaniya mengangguk dan dia menatap penuh prihatin pada Tama.


"Jangan menatap saya seperti itu. Karena saya tidak ingin dikasihani, selagi saya masih bisa bekerja dan menafkahi diri sendiri dan keluargaku semampu saya" ucapnya lagi saat Tama memandangnya dengan tatapan kasihan.


"Bukan begitu. Mungkin aku akan merasa sangat senang jika aku memiliki sosok abang kandung seperti kamu bang. Tapi sayangnya tidak" ucap Zaniya yang malah menghembuskan nafasnya sedikit kasar saat mengatakan itu pada Tama.


"Bukankah kamu bilang kamu memiliki seorang abang?" tanya Tama yang bingung akan perkataan Zaniya barusan.


"Dia bukan abang kandung. Kami berdua adalah anak pertama yang lahir kembar. Dan abang yang aku maksud adalah abang sepupu, jadi aku tidak memiliki abang kandung" jawab Zaniya yang malah terlihat sedih saat mengatakan itu.


"Apa kamu mau ikut bersama saya? Saya juga memiliki adik perempuan yang tidak jauh berbeda dengan kamu usianya. Dia sudah disemester empat sekarang, jika mau ikut ayo" tanya Tama yang ingin membuat Zaniya tidak merasa sedih lagi akan ucapan nya yang menginginkan seorang abang kandung.


"Jika tidak merepotkan, dengan senang hati. Tapi aku tidak suka dan tidak mau jika adik abang rese dan tidak menerima ku" ucap Zaniya yang sudah memberikan peringatan pada Tama sebelum dia ikut dengan nya.


"Jika soal itu saya tidak bisa menjamin. Tapi dia baik kok, dan mungkin juga tidak akan rese" jawab Tama yang memang tidak menjamin jika adik perempuan satu-satunya itu tidak rese.


"Hmm, tapi biar lebih akrab jangan memanggil saya lagi. Aku kamu atau gue loe, saja biar semakin akrab. Rasanya semakin canggung jika mengatakan itu" ucap Zaniya yang memang tidak menyukai berbicara formal.


"Baiklah, aku dan kamu saja. Jika yang kedua itu sangat tidak sopan untuk ukuran pria seusia saya, emm aku" ucap Tama yang meralat ucapan nya yang terakhir.


"Bisa diatur. Tapi aku mau menyerahkan kunci motorku dulu pada bang Daffy. Dan Sekalian pamitan untuk meminta izin juga padanya. Tunggu dulu disini" ucap Zaniya yang langsung berlari menuju depan kampus dan kedalam ruangan kelas Daffy.


Daffy merasa kaget saat Zaniya menghampirinya dan menyerahkan kunci motor miliknya.


"Abang pake motor ku saja ya. Zahiya sedang pergi dan aku juga akan pergi bersama dengan teman kuliah, jadi abang pulang dengan motorku. Bye" ucap Zaniya yang langsung berlari lagi keluar dari kelas Daffy setelah mengatakan semua yang ingin dia sampaikan pada Daffy.


Daffy hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah Zaniya yang selalu seperti itu.