Mr. Z CEO Of The Mafia

Mr. Z CEO Of The Mafia
S2~ Terong apa Pisang????



"Apa sudah selesai dengan yang kau lakukan, hmm?" tanya Zayn saat melihat Azalya melepasakan tangan nya dari wajahnya.


"Iya, ternyata pegal juga sejak tadi berjinjit terus untuk bisa menggapai wajah Hubby" jawab Azalya yang berjalan kearah bangku dibelakang mereka.


"Makanya tumbuhnya keatas supaya tidak pegal" ucap Zayn yang mengacak-ngacak berkas Azalya.


"Hubby Ihhh" ucap Azalya pada Zayn sambil manyun.


Zayn hanya tersenyum tipis melihat Azalya yang sedang manyun padanya. Zayn merangkul Azalya dengan sangat mesra dan disaksikan oleh Zahiya yang memang ingin keluar dari dalam kamar menuju balkon.


"Semoga Mommy dan Daddy akan selling seperti itu. Jangan sampai ada yang mengganggu ketenangan kalian" ucap Zahiya sambil menatap kedua orang tuanya dari balkon kamarnya.


Zahiya langsung masuk kembali sebelum Azalya menyadari jika dia adalah dimainson. Jika sampai Azalya tahu sudah dipastikan akan heboh seluruh mainson dan akan memanggil seluruh keluarganya untuk datang dan menasehatinya.


.


Berbeda dengan Zaniya yang tidak datang kekampus. Melainkan datang kerumah Tama, dimana Ibunya sedang duduk diteras rumahnya.


"Assalamualaikum. Apa kabar tante?" ucap Zaniya sambil mencium punggung tangan Ibunya Tama dan menanyakan kabarnya.


"Wa'allaikumsalam, Alhamdulilah seperti yang kamu lihat nak. Kamu sendiri bagaimana keadaan nya?" tanya Mama Sinta pada Zaniya.


"Alhamdulilah naik tante. Apa bang Tama nya ada Tan?" tanya Zaniya yang celingukan mencari keberadaan Tama.


"Ada, dia masih didalam. Mungkin sedang bersiap" jawab tante Sinta yang tersenyum pada Zaniya.


"Tapi kenapa mobilnya nggak ada Tan? Bukankah bang Tama menggunakan itu untuk berangkat kerja?" tanya Zaniya lagi yang memang tidak melihat adanya mobil milik Tama.


"Kata Tama sedang dibengkel, maklum saja mobil tua. Pasti sering keluar masuk bengkel" jawab tante Sinta.


Tidak berapa lama kemudian Tama keluar dari dalam dan dia terkejut karena melihat Zaniya ada disana sedang dengan Mama nya. Dia menetralkan keterkejutan nya saat melihat Zaniya.


"Hai bang. Berangkat bareng yuk, sekalian aku mau menanyakan soal-soal tugas hari ini" ucap Zaniya yang mencari alasan supaya Tama mau diajak berangkat bersama dengan nya.


"Hmm, Ma. Aku berangkat dulu, Assalamualaikum" ucap Tama yang berpamitan pada sang Mama.


"Hati-hati dijalan Tama" ucap Mama nya yang dijawab anggukan oleh Tama.


"Abang yang bawa motor atau aku?" tanya Zaniya yang memperlihatkan kunci motornya.


"Saya saja" ucap Tama dengan jawaban yang sedikit ketus pada Zaniya.


"Jangan jutek-jutek bang, nanti bisa jatuh cinta berabe loh" ucap Zaniya yang menampilkan senyuman dibibirnya dan menaik turunkan alisnya pada Tama.


"Cepat naik" ucap Tama yang melihat Zaniya hanya diam saja saat disuruh naik olehnya.


Zaniya langsung naik dan memegang pinggang Tama dan dia juga sangat menempel pada punggung Tama. Itu membuat Tama tidak karuan dan merasakan panas dingin dalam tubuhnya. Dalam dirinya juga ada seseuatu yang sudah lama tertidur menjadi terbangun karena ulah Zaniya.


Tangan Zaniya juga tidak bisa dia saat berada dipinggangnya. Dia malah mengusap-ngusap kearah dada dan tidak sengaja dia menyentuh benda keramat yang sangat tidak baik untuk anak gadis.


'Aaa, apa yang gue pegang barusan. Terong apa pisang?!' gumam Zaniya dalam hati. Sedangkan Tama mengumpat kesal, karena Zaniya tidak bisa diam.


'****! Kenapa dia malah bangun? Tong, jangan bangun ya, aku tidak bisa menjelaskan nya jika kamu nakal seperti ini. Tolong kondisikan ya tong' ucap Tama yang mencoba menenagkan dirinya dan juga seseuatu yang sudah bangun dan akan murka jika tidak segera ditenangkan.


'Motor ku sayang, mogok ya... Mumpung tempatnya sepi nih, jika orang-orangnya Daddy lihat gue ajak main catur saja nanti' ucapnya dan benar saja tiba-tiba motornya mati dan tidak bisa menyala lagi.


"Apa motor kamu tidak pernah diserfis?" tanya Tama saat sudah turun dari motor. Sedangkan Zaniya masih nangkring cantik diatas motornya.


"Lupa aku bang. Mungkin terakhir kalinya serfis itu tiga bulan yang lalu deh" ucap Zaniya yang mengingat-ingat kapan terakhirnya dia serfis motor.


"Dasar malas, punya motor sports Bukanya dirawat malah didiamkan dan hanya dipakai saja tanpa serfis" ucap Tama yang melihat Zaniya hanya nyengir saja.


"Namanya juga lupa bang. Mana disuruh ngerjain tugas buanyak banget, jadi mana sempet nyerfis motor" jawabnya yang melihat orang yang bertugas menjaganya ingin membantu tidak dia izinkan. Malah meminta untuk pergi lagi.


Tama hanya menghela nafasnya kasar. Dia mana tahu urusan seperti ini, dia menengok kesana kemari. Tapi tidak ada siapa-siapa dan disini memang sangat jarang untuk dilewati oleh orang. Karena ini perkampungan.


Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya dipagi hari ini dan mereka berdua berteduh dipos yang tidak jauh dari mereka.


"Sial banget sih. Tahu gini gue bawa mobil saja saat kemari" ucap Zaniya yang menggerutu saat dia kehujanan.


"His, mana ponsel gue nggak ada sinyal lagi. Lengkap sudah penderitaan gue hari ini" ucapnya yang sedikit melirik kearah Tama yang masih diam.


"Kita mana tahu jika akan turun hujan" jawab Tama yang melihat Zaniya kedinginan.


"Pake jaket saya" ucapnya yang memberikan jaket yang sedang dia kenakan pada Zaniya. Padahal dia sendiri kedinginan juga.


"Abang juga kan dingin. Abang pake saja, aku nggak apa-apa. Aku kan memakai jaket sendiri" ucap Zaniya yang menyerahkan kembali jaket milik Tama.


"Bang, kita masuk saja kedalam yuk. Disini mulai dingin, lihat abang sudah lebih kedinginan lagi" ucap Zaniya yang mengajak Tama masuk kedalam pos yang terbengkalai tapi masih terlihat kokoh dan juga bagus.


"Apa kamu tidak apa-apa jika berada didalam ruangan bersama dengan saya?" tanya Tama yang menatap wajah Zaniya yang juga sangat kedinginan.


"Aku nggak apa-apa. Dari pada mati kedinginan, lebih baik masuk" ucap Zaniya yang masuk lebih dulu dan duduk diatas bangku yang ada disana.


"Kamu yakin tidak apa-apa? Badan kamu sangat dingin seperti ini" tanya Tama yang mengusap tangan Zaniya.


"Aku, aku nggak apa-apa kok bang. Abang juga pasti sama kan kedinginan juga, jika boleh aku ingin peluk abang" ucap Zaniya yang memberanikan diriendekat dan memeluk pinggang Tama.


Tama yang mendapatkan pelukan tubuhnya menegang dan dia ingin sekali melakuakan lebih jika saja fikiran nya tidak jernih sudah dia melakukan apa yang ada dalam hatinya.


'Sadar Tama. Jika kamu melakukan nya, kamu sama saja dengan pria-pria bre***ek diluaran sana' gumamnya dalam hati yang ingin melakukan lebih dari sekedar pelukan saja.


"Bang, apa abang baru memeluk seorang wanita?" tanya Zaniya yang menatap wajah Tama yang tegang.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Tama balik bertanya pada Zaniya.


"Kenapa kamu mananyakan itu semua? Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan?" tanya Tama lagi yang melihat wajah Zaniya yang seperti berbeda dari biasanya.


"Aku menyukai abang sejak lama. Apa abang tidak menyadarinya? Kenapa harus aku sih yang mengatakan nya lebih dulu? Bikin kesel saja!" ucap Zaniya yang awalnya bermanja-manja sekarang malah mendorong tubuh Tama yang tadi memeluknya dengan hangat.


"Apa yang kamu katakan tadi tidak berbohong? Apa yang kamu lihat dari saya dan apa yang kamu harapkan dari pria miskin seperti saya?" tanya Tama yang menatap wajah Zaniya dengan menangkup kedua pipinya dan wajah mereka berdua sangat dekat. Mungkin hanya jarak beberapa centi saja.


"Tentu saja wajahnya. Walau terlihat datar dan dingin, juga selalu membuat aku kesal. Tapi aku menyukainya, apa itu..." Zaniya belum selesai mengucapkan kata-katanya bibirnya sudah dibungkam oleh bibir Tama yang tiba-tiba mendekat dan me***atnya dengan sangat rakus.


"Apa yang abang lakukan? Ciuman pertamaku.... " ucap Zaniya yang tidak mau berteriak, karena jika dia berteriak sudah dipastikan orang-orang yang Zayn suruh akan datang menolongnya.


"Jadi aku yang pertama untuk kamu?" tanya Tama yang mendekatkan tubuhnya lagi pada Zaniya.


"Bukankah kata-kata ku tadi sudah sangat jelas ya, kenapa masih bertanya?!" jawab Zaniya dengan judesnya. Tapi dalam hati sangat senang karena mendapatkan ciuman dari pria yang dia sukai.


"Terimakasih" bukan nya mengatakan apa, dia malah mengucapkan terimakasih pada Zaniya. Dan dia juga kembali memeluk tubuh Zaniya dan dia sangat senang.


Karena pria yang dicintai oleh Zaniya adalah dirinya. Dan itu sudah sangat bersyukur, dia akan langsung mendatangi kedua orang tua zania dan meminta izin untuk menikahinya segera.


"Aku akan memintamu secara langsung pada kedua orang tua kamu" ucap Tama yang menyatukan keningnya dengan kening Zaniya.


"Apa abang serius?" tanya Zaniya yang menatap Tama dengan wajah yang berbinar.


"Hmm" jawabnya yang langsung memeluk kembali tubuh Zaniya dengan erat dan menelusupkan wajahnya diceruk leher Zaniya.


"Apa abang mencintaiku?" tanya Zaniya padanya Tama yang sedang memeluknya.


"hmm" jawabnya dengan deheman saja dan dia masih menikmati aroma parfum milik Zaniya.


"Abang Ihhh, geli tahu" ucap Zaniya yang mendorong kepala Tama untuk menjauh.


"Kenapa? Bukankah tadi ingin abang peluk?" tanya Tama yang sekarang meng abangkan dirinya didepan Zaniya.


"Cieeeee yang sudah senang dan tidak kaku lagi. Wah kenapa nggak aku abadikan ya" ucap Zaniya malah menggoda Tama dengan tatapan yang menggodanya.


CUP....


Zaniya tidak bisa berkata-kata lagi saat bibirnya sudah dibungkam oleh benda kenyal yang menempel sempurna dan juga me***atnya dengan sangat lembut dan juga penuh kasih sayang didalamnya.


Zaniya yang masih kaku mencoba mengimbangi apa yang dilakukan oleh Tama walau kaku. Tapi lama kelamaan dia merasa nyaman dan bisa melakukan nya. Saat tangan Tama tidak bisa dikondisikan Zaniya langsung tersadar dan dia melepaskan tautan bibirnya dengan paksa.


Karena dia tidak ingin bertindak terlalu jauh dan akan menyesal nantinya. Tama yang menyadari itu langsung memejamkan matanya dan mencoba meredam keinginan liar didalam dirinya lalu dia menatap wajah Zaniya dan meminta maaf padanya.


"Maaf, abang sudah bertindak terlalu jauh. Abang janji tidak akan melakukan nya lagi jika kamu tidak mengizinkan nya" ucap Tama yang menggengam tangan Zaniya.


"Abang janji? Aku tidak suka dengan itu semua" tanya Zaniya yang dijawab anggukan kepala oleh Tama dan Tama langsung memeluk dan menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan nya perlahan-lahan.


"Abang berjanji. Maafkan abang Zan, maafkan abang" ucap Zaniya yang memeluk dan mengusap kepala Zaniya.


"Untuk kali ini aku maafkan abang. Tapi tidak untuk lain kali" ucap Zaniya yang menatap wajah penuh penyesalan pada Tama dan itu sudah cukup jika Tama memang pria yang baik dan bertanggung jawab.


"Hujan nya sudah reda. Kita lanjutkan perjalanan kita" ucap Tama yang membuka pintu dan melihat hujan memang sudah reda sejak tadi.


"Apa kita akan kekampus walau sudah terlambat?" tanya Zaniya yang melihat jam tangan nya sudah menunjukan pukul 3.15 sore.


"Abang antar kamu pulang. Karena abang harus bekerja lagi ditempat lain" ucap Tama yang meminta Zaniya untuk naik keatas motor lagi.


"Apa abang bekerja dicafe Z&Z?" tanya Zaniya yang tidak ingin salah faham nantinya.


"Iya, kenapa? Apa ada yang salah dengan pekerjaan abang?" tanya Tama yang menatap Zaniya dengan lekat.


"Tentu saja tidak, hanya mau bilang jika cafe itu milik uncle aku. Dan kita kesana saja, sekalian bantuin abang juga" jawabnya dengan semangat dan dia ingin sekali selalu dekat dengan Tama.


"Tidak, kamu harus pulang dan kerjakan semua tugas-tugas kamu" jawab Tama yang langsung membuat Zaniya mengerucutkan bibirnya kesal pada Tama.


"Abang, please ya... Aku bisa ngerjain nya disana, boleh ya? Boleh bang" ucap Zaniya yang menatap wajah Tama dengan puppy eyes miliknya.


"Huh, baiklah" jawab Tama yang tidak bisa menolak keinginan dari Zaniya yang menampilkan wajah menggemaskan nya.


"Yeyyy.... Thank you future husband" ucap Zaniya yang membuat Tama tersenyum karena mendengar ucapan dari Zaniya padanya.


Zaniya memeluk pinggang Tama dengan erat dan tangan nya tidak kemana-mana. Karena dia sudah sangat nyaman memeluknya dari belakang sambil boncengan motor menuju cafe Z&Z yang jaraknya lebih jauh lagi dari kampus.


"Bang, berarti kita resmi jadian dong?" tanya Zaniya yang membonceng dibelakang.


"Hmm" jawab Tama yang masih fokus pada jalanan.


"Apa abang ingin segera melamar ku pada Daddy?" tanya Zaniya lagi yang memang lebih memilih menikah Muda dari pada berbuat dosa. Itu pemikiran Zaniya sejak lama.


"Akan abang lakukan" jawab Tama yang membuat Zaniya semakin senang dan dia semakin mengertkan pelukan nya.


"Terimakasih, abang sudah mau mengatakan nya pada Daddy" ucap Zaniya yang sangat bahagia dan menempelkan pipinya dipunggung Tama yang sangat nyaman untuknya bersandar.


'Akan abang lakukan untuk kamu Zan, karena abang juga senang kamu memiliki perasaan yang sama dengan abang. Abang kira kamu menjalin hubungan dengan Daffy maupun Daniel, abang senang kamu hanya akan menjadi milik abang selamanya. Kalaupun abang akan ditolak oleh Daddy kamu, abang akan berusaha supaya mendapatkan restu' ucap Tama yang akan melakukan apapun demi mendapatkan Zaniya.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya untuk like, komen, vote dan hadiahnya ya....


Happy reading... 🤗🤗🤗