
Suasana rumah duka terlihat sangat sepi setelah kepergian Mom Vita, apa lagi mereka semua memutuskan untuk pindah dari mainson Edison dan meninggalkan bangunan mewah tersebut. Mereka tidak mau jika masih terus tinggal disana akan terbayang-bayang saat-saat masih bersama dengan Mom Vita.
Suasana begitu tegang dan tidak ada kebahagiaan disana. Baik Zoya, Zio, Zia, Zayn dan Zayd. Mereka semua hanya bisa diam dan menatapi makam Mom Vita yang bersebelahan dengan makam Dad Surya.
"Kak, sebaiknya kita pulang sekarang. Ini sudah malam, dan lagi, kita harus segera meninggalkan mainson yang penuh dengan luka dan air mata. Jika kita memaksakan diri tetap disana, maka tidak akan pernah bisa menata hidup keluarga kita sendiri. Sebaiknya kita pulang kerumah masing-masing" ucap Zayd yang memang paling sedih saat ditinggalkan oleh wanita yang selalu memanjakan nya sejak dulu hingga sekarang dia sudah memiliki anak remaja.
"Kalian saja duluan. Kakak masih ingin disini, kakak masih ingin bersama dengan Mommy dan juga Daddy. Kalian pulang saja lebih dulu" jawab Zia yang masih terus menatapi batu nisan yang bertuliskan nama Vita Ayla.
"Baiklah, kami akan pulang sekarang dan menyiapkan untuk do'a bersama. Kakak jangan terlalu lama disini" ucap Zayd lagi yang langsung pergi dari sana bersama dengan istrinya.
"Bang, tolong jaga kak Zia dengan baik. Dia sedang tidak baik-baik saja" ucap Zayd saat menatap Juan, suami dari Zia.
"Tanpa kamu minta pun akan saya lakukan. Kamu jangan khawatir" jawab Juan menepuk bahu Zayd dan dia menghampiri Zia yang masih menangis dalam diam sambil menatap nisan Mom Vita.
"Kita pulang sekarang sayang. Jangan kamu tangisi terus Mommy nya, karena Mommy akan sangat sedih jika melihat anak-anaknya yang ditinggalkan masih sedih dan menangisi kepergian nya. Lebih baik, kita do'akan Mommy supaya mendapatkan tempat yang terbaik. Ayo pulang" ucap Juan yang memeluk Zia untuk segera banggit dari duduknya lalu membawanya pergi dari pemakaman.
.
Sedangkan Tami masih merasa syok akan kejadian didepan matanya siang tadi. Dimana semua keluarga saling membunuh dan entah memperebutkan apa. Dia masih mengurung diri didalam kamar sampai berhari-hari.
Hari ini adalah tepat tujuh hari kepergian Mom Vita. Dan Tami masih belum bisa bertemu dengan orang lain, selain keluarganya saja. Bahkan Daffy juga tidak diizinkan untuk menemuinya, hingga Zaniya merasa bingung dan sampai memanggil Psikolog untuk membantu Tami.
"Bagaimana keadaan adik saya dokter? Apa dia akan baik-baik saja? Atau dia akan tegap seperti ini?" tanya Zaniya yang menatap wajah dokter yang baru melihat keadaan Tami.
"Dia sangat syok berat dan harus menjalani konseling lebih lanjut lagi supaya bisa berbicara lagi dan bisa seperti sedia kala. Karena jika dibiarkan seperti ini, akan lebih parah lagi. Untung saja Nona segera menghubungi saya, jika terlambat datang tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya" jawab dokter Psikolog tersebut.
"Lalu, apa dia akan segera sembuh? Karena dia hanya dimiliki dan selalu mengurung diri didalam kamar. Kami semua takut jika dia akan nekad atau apapun yang membuat kami panik" ucap Zaniya lagi yang memang gampang panik setengah dia hamil.
"Nona, sebaiknya anda jangan terlalu banyak fikiran dan juga panik. Itu tidak baik untuk kesehatan anda dan juga kandungan anda, lebih baik anda relax dan tidak memikirkan hal-hal yang membuat anda panik" ucap dokter wanita tersebut dan dia menyarankan Zaniya tidak panik.
"Iya nak, Mama tidak ingin kamu kenapa-kenapa. Tami akan mendapatkan pengobatan dari dokter, jadi kamu jangan khawatir akan keadaan Tami. Kamu harus ingat dengan kedua bayi kamu" ucap Mama Sinta yang memegang tangan Zaniya.
"Huh, iya Ma. Zani akan mencoba untuk tenang dan tidak banyak fikiran lagi" jawab Zaniya dan tidak lama Tama datang dan melihat bagaimana istrinya sedang menghela nafasnya berulangkali sambil terus diusap-usap oleh Mama Sinta.
"Sayang, kamu kenapa? Apa kamu baik-baik saja? Atau ada sesuatu yang membuat kamu tidak nyaman? Atau kamu merasa sakit? Bagian mana yang sakit? Kita kedokter saja sekarang" tanya Tama dengan beruntun, membuat Zaniya dan Mama Sinta saling tatap lalu mengedikan bahunya bingung.
"Bang, kalo nanya itu satu-satu. Kenapa malah bertanya seperti gerbong kereta yang sangat panjang" ucap Zaniya yang menggelengkan kepalanya, dan dia menatap Tama yang menghela nafasnya kasar saat Zaniya mengatakan itu semua.
"Huh, oke. Sekarang aku tanya, apa kamu baik-baik saja? Kenapa kelihatan sedang sakit?" tanya Tama yang mengulang pertanyaan nya dan dia menangkup kedua pipi Zaniya yang mulai chubby.
"Aku? Aku baik-baik saja, hanya sedang banyak fikiran saja. Dan semuanya tidak perlu dikhawatirkan, hanya aku sangat kasihan melihat keadaan Tami yang seperti itu. Aku juga sudah memanggil dokter untuk datang kemari dan memeriksanya, Tami hanrus mendapatkan perawatan lebih lanjut lagi. Supaya tidak semakin parah nantinya. Baru saja dokternya pulang setelah memeriksa kondisi Tami" jelas Zaniya yang membuat Tama diam dan tidak bisa mengatakan apa-apa. Dia juga merasa telah gagal menjaga adiknya.
"Abang kenapa diam? Apa abang memikirkan sesuatu? Jika abang menyalahkan diri sendiri karena keadaan Tami, sebaiknya jangan. Karena kata dokter, dia butuh dukungan dan juga support dari kita semua, keluarganya. Supaya dia tidak seperti itu terus lebih lama, kita akan melakukan nya untuk Tami. Kita harus kuat untuknya" tanya Zaniya yang sudah bisa menebak jika Tama menyalahkan dirinya akan keadaan Tami.
"Iya, akan abang lakukan. Kamu juga jangan terlalu banyak fikiran yang tidak-tidak, kita akan melakukan yng terbaik untuk Tami" jawab Tama yang mengangguk dan memeluk Zaniya lalu menciumi kepalanya berulang-ulang.
Mama Sinta sangat senang melihat kedua anaknya saling dukung dan juga saling menguatkan. Apa lagi dia mendapatkan menantu yang sangat baik juga perhatian pada keluarganya.
'Ya Allah, semoga semuanya tetap seperti ini. Jangan biarkan kebahagiaan mereka sirna hanya karena masalah kecil dan sepele. Kuatkan hubungan mereka dan selalu mendapatkan perlindungan dari MU Ya Robb' ucap Mama Sinta yang melihat Zaniya dan Tama sedang berpelukan.
Sedangkan didalam kamar, Tami terus menatap keluarganya yang sedng memikirkan dirinya. Dia menangis karena semua orang menjadi panik saat dia hnha diam dan mengurung diri. Dia merasa sangat bersalah dan ingin meminta maaf pada mereka semua. Lalu Tami duduk kembali diatas ranjang miliknya dan terus menatap kearah pintu kamarnya.
"Aku sudah sangat keterlaluan pada mereka semua. Aku sudah membuat mereka semua sedih karena aku, aku harus sembuh dan tidak boleh memikirkan itu semua demi mereka semua. Aku bisa dan pasti bisa" gumam Tami yang terus menatap kearah pintu kamarnya.
Dia ingin berusaha untuk bisa sembuh dan tidak banyak fikiran yang membuatnya takut. Dia bisa dan pasti bisa melakukan nya.
.
Sedangkan Daffy, dia sedang berdiri dihadapan seluruh keluarganya yang ada disana dia melihat bagaimana keluarganya saling mendukung dan juga menguatkan dirinya supaya tidak memikirkan sesuatu yang sudah terjadi.
Seperti sekarang, mereka semua bahkan sangat kompak untuk bisa membuatnya tersenyum kembali dan bisa seperti sediakala. Mereka tidak mau jika Daffy mengalami sesuatu dan memikirkan keluarga dari Mommy nya yang sekarang entah sudah diapakan oleh Zayn.
"Bang Daf, kita semua sedang berkumpul disini. Apa abang akan mengenalkan wanita yang sudah membuat abang ku ini jatuh cinta?" tanya adik sepupunya yang menggoda Daffy.
"Iya bang, kenapa tidak mengenalkan nya pada kami semua? Apa abang tidak mau jika kami semua mengenalnya?" tanya yang lainnya lagi dan itu membuat Daffy hanya bisa tersenyum tipis.
"Abang akan mengenalkan nya pada kalian semua. Tapi tidak sekarang, dia sedang tidak baik-baik saja. Dia masih syok karena kejadian seminggu yang lalu, dan dia sedang konseling dengan dokter. Mungkin nanti setelah semuanya membaik akan abang kenalkan pada seluruh keluarga kita. Dan mungkin juga abang akan meminta untuk melamarnya sekalian" jawab Daffy yang tersenyum lalu dia pergi dari ruangan keluarga untuk menghindari berbagai pertanyaan dari adik-adik sepupunya.
"Mereka memang benar-benar selalu banyak bertanya. Apa dia memang sudah baik-baik saja? Tami, maafkan aku, aku sudah membuat kamu seperti ini" gumam Daffy yang sudah berada didalam kamar dan dia menagap layar ponselnya. Dimana ada fotonya dan foto Tami yang sedang tersenyum.
Tiba-tiba layar ponselnya berkedip dan ada panggilan masuk dari seseorang yang sedang dia fikirkan. Daffy segera mengangkatnya dan segera menanyakan keadaan nya.
"Iya, aku baik-baik saja. Maafkan aku kak, karena aku sudah membuat kakak khawatir padaku" jawab Tami. Ya, yang memanggil Daffy adalah Tami. Dia memang memutuskan untuk mengubungi Daffy.
"Alhamdulilah, kakak senang mendengarnya. Apa kakak bisa melakukan panggilan video? Kakak sangat merindukan kamu" tanya Daffy yang mengalihkan panggilan nya menjadi panggilan video.
"Aku baik-baik saja kan kak? Semoga kakak juga baik-baik saja, karena kakak yang paling terluka dengan keadaan ini. Maaf ya kak, aku tidak bisa menghibur dan ada untuk kakak. Aku malah sibuk dengan ketakutan ku sendiri, sekali lagi maafkan aku kak" ucap Tami yang menunduk dan meneteskan air matanya saat mengatakan itu pada Daffy.
"Ssstttt, jangan menyalahkan diri kamu sendiri. Ini semua sudah terjadi, dan jangan kamu fikirkan lagi. Aku baik-baik saja dan seluruh keluarga juga ada untuk ku, dan aku tidak akan mengingat semua kejadian buruk itu. Begitu juga dengan kamu ya, kamu jalani saja konseling nya dengan baik. Supaya aku bisa menemui kamu lagi dan kita akan kesuatu tempat yang akan membuat kamu senang" jawab Daffy yang membuat Tami sedikit tersenyum dan dia merasakan jika Daffy memang pria yang baik dan juga tulus padanya.
"Kenapa harus nunggu nanti kak? Kakak bisa datang kapan saja yang kakak inginkan seperti biasa. Karena aku akan menyambut kakak dengan baik dan dengan senyuman aku ini" ucap Tami yang membuat Daffy semakin gemas dibuatnya.
"Baiklah, besok kakak akan kesana dengan keluarga kakak, apa kamu siap untuk menyambut kedatangan kami semua?" tanya Daffy yang malah menggoda Tami.
"Maksud kakak apa? Kakak jangan macam-macam kak, kenapa juga kakak harus membawa keluarga kakak saat datang kemari? Seperti ingin melamar saja" tanya Tami yang membolakan matanya dan dia terkejut juga menggerutu pada Daffy.
"Jika iya bagaimana? Apa kamu akan menerima kakak? Atau malah menolaknya?" Daffy malah balik bertanya pada Tami yang malah semakin kaget dibuatnya.
"Kakak jangan bercanda kak. Aku tidak tahu harus mengatakan apa pada yang lainnya jika kakak melakukan itu semua. Aku takut jika kak Tama akan menolaknya dan akan membuat kakak malu karena penolakan dari kak Tama" ucap Tami merasa jika Tama akan menolak Daffy yang berniat baik untuk melamarnya dan menjadikan nya seorang istri.
"Kenapa harus takut? Bukankah ini adalah niat yang baik dan tidak akan merugikan nya? Tapi ini malah membuatnya bisa bahagia, karena adik perempuan nya sudah ada yang meminang, bukan?" tanya Daffy yang membuat Tami semakin ketar ketir dibuatnya.
"Sebaiknya kakak jangan melakukan hal itu kak, aku takut" ucap Tami yang malah terus menunduk.
"Hey, kenapa malah takut? Lihat kakak Tami, tatap wajah kakak. Wil you merry me?" tanya Daffy yang membuat Tami bungkam dan hanya membolakan matanya menatap wajah Daffy.
"Jawab, bukan malah melotot" ucap Daffy yang membuat Tami sadar dan dia terlihat malu. Bahkan wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus.
"Iya kak, aku mau" jawab Tami yang langsung membuat Daffy bersorak bahagia dan dia melakukan selebrasi dengan sangat heboh.
"Terimakasih sayang, terimakasih. Secepatnya kakak akan mengatakan ini pada kakak kamu, dan secepatnya juga kakak akan melamar kamu. Karena kakak tidak mau jika keduluan oleh orang lain" ucap Daffy yang belum sadar jika saat dia melakukan itu disaksikan oleh saudara-saudaranya yang lain. Karena dia berteriak sangat kencang tadi, membuat semua orang langsung berlari menuju kamar Daffy.
"Kak, apa kakak sedang dikamar?" Tanya Tami yang melihat jika ada banyak orang dibelakang Daffy.
"Iya, memangnya kenapa sayang? Kakak sedang didalam kamar dan kakak hanya sendiri" jawab Daffy yang tidak sadar sama sekali. Mungkin saja saking bahagianya dia seperti itu.
"Apa kakak yakin? Coba kakak balik badan kakak dan lihat" ucap Tami yang merasa malu, karena seluruh keluarga Daffy meliahatnya.
"Tentu saja, kakak hanya sen...." ucap Daffy yang tidak melanjutkan kata-katanya saat melihat seluruh keluarganya sedang menatap kearahnya dan tiba-tiba mereka semua tertawa bersama-sama melihat sikap Daffy yang malu-malu dan gugup.
"Kenapa sayang? Apa kamu malu saat keluarga kamu sendiri tahu, jika kamu ini sudah melamar seorang gadis? Coba kamu kenalkan pada kami semua" tanya Zia yang memang tingkat kejahilan nya sangat tinggi walau sudah tidak muda lagi.
"Auntie, auntie mau apa? Aku, aku tidak apa-apa. Aku hanya sedang berbicara saja dan tidak melakukan apa-apa" ucap Daffy yang menyembunyikan ponselnya dari Zia.
"Apa kamu yakin? Auntie hanya ingin tahu saja, dan auntie ingin mengenalnya. Kenapa kamu malu-malu seperti anak perawan saja, sini ponselnya" ucap Zia yang langsung merebut ponsel milik Daffy dan ternyata Tami belum memutuskan panggilan video nya.
"Hay sayang, kita bertemu lagi. Bagaimana keadaan kamu sekarang?" tanya Zia sudah menatap wajah Tami yang tegang.
"Alhamdulilah naik tante, tante sendiri bagaimana kabarnya?" jawab Tami dan dia bertanya kembali pada Zia dengan suara gugupnya.
"Alhamdulilah tante juga baik, oh iya. Kamu Aditami yang waktu itu kan? Tante sangat ingin loh bertemu lagi dengan kamu dan memang membicarakan hal penting nantinya. Kapan kamu adalah waktunya datang?" tanya Zia yang malah membuat Daffy hanya bisa menghela nafasnya dan dia tidak bisa apa-apa jika sudah berhadapan dengan auntie nya yang satu ini.
"Insya Allah tante, jika tante juga tidak sibuk. Karena aku tidak pernah sibuk selain kuliah saja" jawab Tami yang mulai merasa nyaman berbicara dengan Zia, auntie nya Daffy.
"Wah, kita harus segera mengatur waktu untuk kita bertemu. Oh iya, ajak Mama kamu juga ya. Biar kita sekalian berkenalan juga membahas tentang pernikahan kalian berdua dengan Daffy" ucap Zia yang malah menggoda Tami yang sudah sangat malu.
"Iya tante, tante atur saja semuanya. Nanti jika sudah ada waktu yang tepat langsung kabari saja tante" jawab Tami yang tersenyum pada Zia dan mereka berdua mengobrol sangat panjang hingga battery ponselnya habis.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya untuk like, komen, vote dan hadiahnya ya buat Othor...
Siapalah Othor tanpa kalian semua.... Dukungan dan juga hadiah yang kalian berikan akan sangat membantu karya Othor bisa naik...
Terimakasih dan happy reading...🤗🤗🤗