Mr. Z CEO Of The Mafia

Mr. Z CEO Of The Mafia
S2~ 15Tahun kemudian



Zayn tidak ingin jika abangnya merasa tidak nyaman saat membahas masalah anak saat Azalya mengatakan nya. Tapi untung saja Azalya tidak melanjutkan lagi membahas masalah itu, yang ada Azalya membahas masalah kewanitaan dan juga masalah-masalah lainnya.


"Apa abang sudah yakin dengan apa yang akan abang lakukan?" tanya Zayn yang memecahkan keheningan diantara mereka berdua.


"Abang tidam bisa memutuskan nya sendiri Z. Apa lagi ada putraku yang sekarang sudah semakin mengerti akan permasalahan antara aku dan Joyce. Aku tidak ingin membuat dia merasa kecewa padaku karena masalah seperti ini. Biarkan saja semuanya mengalir seperti air" jawab Zico dengan pandangan yang menatap pada ketiga anak yang sedang bermain.


"Apa abang sudah yakin dengan semua itu? Jika iya lakukan saja, jangan menyakiti perasaan satu sama lain" ucap Zayn yang juga sedang menatap Zahiya, Zaniya dan Daffy yang sedang bermain pasir dan sesekali bermain air laut.


"Kau benar Z, abang akan melakukan yang terbaik. Juga tidak akan menyakiti semua orang, karena ini adalah keputusan abang sendiri dulunya" jawab Zico dengan tatapan lurus kedepan dan dia melihat jika Joyce memang sudah sangat berubah dan dia tidak seperti Joyce yang dulu manja dan selalu ingin dekat dan bersamanya.


Apa lagi setelah dia bekerja kembali, walau tidak sebagai model lagi. Dia semakin sulit untuk ditemui dan bahkan sudah sangat dingin padanya. Mungkin inilah yang harga yang harus dia bayar karena selalu menyia-nyiakan wanita yang sudah sabar menunggu dan menunggunya untuk bisa mencintainya dengan sepenuh hati.


Setelah pertemuan itu semuanya langsung kembali dan tidak pernah bertemu kembali. Karena semuanya terasa sangat sulit untuk dimengerti. Waktu juga bergulir dengan sangat cepat, tidak terasa usia twins Z sedang memasuki remaja. Dan sekarang mereka memang memutuskan untuk tetap tinggal disini dan tidak ingin kemana-mana.


"Mommy, Daddy... Good morning" ucap Zaniya yang memang selalu bisa membuat suasana menjadi ramai dan tidak pernah sepi.


"Morning baby" jawab Zayn dan Azalya yang menerima ciuman dari putri bungsunya ini.


"Tumben sendiri? Mana Zahi?" tanya Azalya yang melihat hanya Zaniya yang sudah turun dan duduk disebelahnya.


"Dia sedang bersiap Mom. Nah, tuh turun" jawab Zaniya yang melihat kearah tangga. Dimana Zahiya sudah sangat cantik dan juga sangat feminim, jangan lupakan jika sekarang penampilan nya sudah sangat udik dan juga culun.


"Morning Mom, morning Dad" sapa Zahiya yang sudah duduk disamping Zayn yang sedang menatapnya.


"Zahi, sudah berapa kali Mommy bilang. Kamu kenapa suka sekali berpenampilan seperti itu? Apa yang ingin kamu buktikan?" tanya Azalya yang tidak habis fikir dengan jalan fikiran Zahiya yang malah menirukan Daddy nya menggunakan kacamata.


"Aku merasa nyaman seperti ini Mom, Lagi pula Zahi tidak merugikan orang lain dengan penampilan Zahi yang seperti ini" jawab Zahiya yang memang tidak seterbuka dan seperti Zaniya yang selalu mementingkan penampilan dan juga mode.


"Sudahalah sweetie, biarkan mereka menentukan pilihan mereka sendiri. Kita hanya bisa mendukung dan mengingatkan jika mereka berdua salah jalan. Selebihnya biarkan mereka menjadi dirinya sendiri dan jangan mengekangnya" ucap Zayn yang mana memang ada benarnya.


Semenjak Zahiya dan Zaniya menginjak dewasa. Mereka berdua banyak pertumpahan yang sangat segnifikan. Bukan hanya penampilan saja yang berubah. Sifat dan juga tingkah laku mereka sangat berbanding terbalik satu sama lain, tapi sejujurnya mereka berdua saling menyayangi dan saling menjaga.


"Dengerin Mom, Zahi memang sangat suka dan mengidolakan sosok Daddy yang cool dan tenang. Jadi jangan memaksanya untuk menjadi seperti Mommy" ucap Zaniya dengan santainya dan malah mengunyah makanan nya dengan santai.


"Zani, kamu jangan bicara seperti itu pada Mommy. Aku seperti ini ya karena aku suka dan aku tidak ingin menjadi orang lain, apa lagi jika harus seperti kamu. Itu sangat tidak mungkin" ucap Zahiya yang memperingatkan adik kembarnya yang selalu bicara asal jeplak.


"Sorry, aku cuman mengatakan apa yang harus aku katakan saja. Selebihnya ya terserah Mommy bukan?" jawab Zaniya yang selalu cuek dan selalu bicara sesuai apa yang ada dalam fikiran nya.


"Sudah-sudah, kenapa pagi-pagi seperti ini malah berdebat. Lebih baik kalian habisan sarapan kalian lalu segera kuliah, bukankah kalian berdua sedang ada ujian hari ini?" ucap Zayn yang memang selalu jadi penengah bagi ketiga wanita kesayangan nya yang selalu saja berdebat jika sedang bersama dan Zayn juga bertanya pada keduanya.


"Iya Dad, aku adalah kelas pagi dan mungkin akan pulang terlambat. Karena aku ada tugas dan teman-teman yang lain ingin mengerjakan nya bersama dikampus" jawab Zaniya yang sambil mengunyah makanan nya.


"Zahi?" Zayn kembali bertanya pada Zahiya yang hanya diam dan menyimak apa yang sedang Daddy dan Zaniya bicarakan.


"Aku juga sama Dad, kami kan satu kelas dan satu fakultas. Masa iya akan berbeda dengan Zaniya" jawab Zahiya yang tidak mengalihkan pandangan nya dari makanan yang sedang dia makan sekarang.


"Hmm, mau berangkat bersama Daddy atau masing-masing?" tanya Zayn yang memang tidak pernah melakukan apapun selain hanya dirumah dan tidak kemana-mana. Apa lagi kondisi fisiknya semakin lemah jika terlalu banyak beraktifitas.


"Aku akan seperti biasa Daddy, aku akan menggunakan motor ku. Entah dengan Zahi" jawab Zaniya yang sudah selesai sarapan dan akan segera pergi lebih dulu.


"Zahi seperti biasa Daddy, Zahi akan menggunakan mobil saja" jawab Zahiya yang tahu akan tatapan dari Daddy nya yang selalu mengkhawatirkan dirinya.


Setelah selesai sarapan bersama, Zahiya dan Zaniya langsung pamit pada Mommy dan Daddy nya yang mengantarkan keduanya hingga kedepan. Lalu Zayn melihat jika baik Zahiya maupun Zaniya mereka berdua memang sangat berbeda karakter dan juga sifatnya.


"Tidak terasa ya By, jika mereka sudah tumbuh menjadi gadis yang menginjak dewasa" ucap Azalya saat keduanya putrinya sudah keluar dengan kendaraan nya masing-masing.


"Iya, mereka sudah dewasa dan bisa memilih jalan nya sendiri. Tapi kita berdua harus selalu memantaunya dan juga bisa mereka jadikan teman saat sedang ada dirumah. Jangan seperti tadi yang mana kamu selalu protes dengan penampilan Zahiya" ucap Zayn yang memeluk Azalya dengan sangat posesif.


"Habisnya, dia itu berpenampilan Terbalik dari Zaniya" jawab Azalya yang mendongak menatap wajah Zayn.


"Biarkan saja dia memilih apa yang dia inginkan. Dengan menjalani keinginan nya sendiri, bisa membuat dia lebih mengerti dirinya sendiri. Kita tidak boleh mengekangnya menjadi seperti apa yang kita inginkan" ucap Zayn yang mencubit hidung mungil Azalya dan memperingatinya juga.


"Baiklah Hubby, aku hanya tidak ingin jika dikampus mereka akan membanding-bandingkan mereka berdua yang bagaikan bumi dan langit. Itu pasti akan sangat menyakitkan" jawab Azalya yang memang sangat sensitive akan masalah anak-anaknya.


"Itu semua tidak akan mungkin jika mereka berdua tidak salah memilih teman. Sebaliknya kita masuk saja, jangan memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi" ucap Zayn yang merangkul pundak Azalya masuk kedalam mainson dan mereka lalui duduk didalam ruang santai.


.


Berbeda dengan anak-anaknya yang baru saja sampai diparkiran kampus mereka berdua. Ya bisa dibilang usia mereka masih pantas untuk menjadi anak SMA, tapi karena mereka berdua selalu bisa meraih juara umum dan mereka berdua selalu menjadi yang pertama dan mereka berdua tidak pernah berpisah dalam hal apapun.


Karakter Zahiya sangatlah feminim dan Zaniya yang terbalik. Dia lebih suka berpenampilan layaknya laki-laki dan tidak pernah berdandan sedikitpun juga. Berbeda dengan Zahiya yang selalu menggunakan riasan walau hanya tipis.


"Hai, kita barengan juga rupanya sampai kemari. Mau bareng atau?" tanya Zaniya yang selalu berpenampilan rapih tapi tidak mengenakan pakaian wanita.


"Hai, kamu duluan saja. Bukankah kamu adalah kelas pagi dan akan ujian? Sebaiknya kamu duluan" jawab Zahiya yang sedang merapikan pakaian nya.


"Dasar anak itu. Selalu saja seperti itu" gumam Zahiya yang menggelengkan kepalanya melihat punggung adiknya kembarnya yang sangat mirip dengan seorang pria. Walau rambutnya masih panjang.


"DOR!! Ngelamun mulu. Mikirin apa?" tanya seorang pria yang tidak lain adalah Daffy yang memang satu kampus dan satu jurusan dengan Zahiya. Tapi beda tingkat, karena Daffy sudah semester tiga. Sedangkan Zahiya dan Zaniya baru semester satu dan mereka baru masuk kuliah beberapa bulan yang lalu.


"Bang Daf, bisa nggak tidak ngagetin kalo datang" ucap Zahiya yang mengerucutkan bibirnya menatap Daffy kesal.


"Habis aku panggil-panggil, kamu diam saja" jawab Daffy dengan senyuman tipis dibibirnya.


"Masuk yuk, hari ini ada dosen baru loh katanya. Mungkin saja dosen kiler atau sebaliknya" ajak Daffy yang menggandeng tangan Zahiya yang mengikuti langkah kaki Daffy.


Banyak pasang mata yang menatap tidak suka pada kedekatan mereka berdua. Bahkan mereka semua sangat ingin menyingkirkan dan menjauhkan Zahiya dari Daffy. Pria paling keren dan paling tampan dari pria-pria dikampus ini, apa lagi dia adalah putra dari seorang pengusaha terkenal. Makanya banyak yang iri pada mereka berdua, terutama pada Zahiya. Gadis culun yang bisa dekat dengan pria keren dan juga tajir melintir seperti Daffy.


"Gue gedek banget sama tuh cewek! Masa cewek modelan begitu selalu deket dan Daffy tidak merasa risih sih? Sudah mirip pangeran sama pelayan nya" gerutu seorang gadis yang sudah lama mengejar-ngejar Daffy yang memang menjadi idola bagi para wanita dikampus ini.


"Iya, matanya sedang ada masalah mungkin. Masa cewek buluk kayak gitu masih didekeketin, heran gue" jawab salah seorang teman wanita tadi.


Mereka berdua saling menggunjing dan berencana ingin mengerjai Zahiya nanti. Tapi mereka berdua tidak tahu saja, jika Zahiya selalu dilindungi oleh orang-orang suruhan dari Zayn untuk menjaganya dari jarak jauh. Dengan tanpa sepengetahuan dari Zahiya dan Zaniya sendiri.


"Kita masuk" ucap salah seorang dari mereka lagi.


Sekarang mereka sedang dalam kelas dan mentap penuh kebencian pada Zahiya yang memang satu kelas dengan para wanita yang tidak menyukainya. Dan tidak sedikit dari para senior Zahiya tidak menyukainya.


"Eh cupu! Loe jadi cewek jangan sok kecakepan dan caper sama Daffy. Dia nggak pantes sama loe yang... seperti itu" ucap wanita yang sebut saja namanya Jessica wanita yang selalu berpenampilan sangat menor dan juga selalu berpakaian sexy. Dengan menatap Zahiya dari atas hingga bawah dengan tatapan merendahkan.


"Maksud kamu apa? Memangnya ada larangan, jika aku tidak boleh deket-deket sama dia?" tanya Zahiya yang malah semakin membuat Jessica semakin kesal.


"Loe harus tahu diri! Jessica ini adalah ceweknya. Loe jangan bikin masalah dengan nya" ucap teman Jessica yang mendorong bahu Zahiya hingga Zahiya sedikit mundur. Untung saja tidak terjatuh.


"Aku tidak pernah mendekatinya. Dia sendiri yang selalu mendekatiku, kenapa aku yang disalahkan? Seharusnya kamu bilang padanya supaya tidak dekat-dekat denganku" jawab Zahiya yang malah langsung melangkahkan kakinya menuju mejanya yang tidak jauh lagi darinya berdiri.


BRUK...


Jessica menjegal kaki Zahiya hingga dia tersungkur dilantai dengan tertelungkup. Zahiya hanya tersenyum tipis lalu dia bangkit dan ingin meraih kacamatanya. Tapi sayang, kacamatanya malah diinjak oleh teman Jessica yang berada didepan nya.


KREK...


"Oops, sorry... Gue sengaja. Hahaha" ucap teman Jessica yang bernama Marina yang memang sangat tidak menyukai Zahiya berada ditengah-tengah mereka semua.


Karena bagi mereka akan sangat merusak penampian kelas mereka yang dimana semua mahasiswanya adalah orang-orang terpandang dan juga sangat berkelas. Juga sangat modis dalam berpakaian.


"Kenapa kamu menghancurkan kacamataku? Apa salahnya padamu? Aku tidak pernah mengganggu dan tidak pernah membuat masalah dengan kamu" ucap Zahiya yang memungut kacamatanya yang sudah hancur berkeping-keping.


"Loe memang pantas mendapatkan nya. Karena loe berada dikelas ini dan sangat merusak image kelas paforit dan juga kelas tempat cewek dan cowok kece!" jawabnya dengan tersenyum mengejek dan merendahkan Zahiya.


Zahiya tidak menanggapinya, dia langsung duduk tanpa menghiraukan wanita-wanita yang selalu mengajaknya untuk ribut.


"Selamat pagi anak-anak" ucap seorang dosen muda yang baru saja masuk kedalam kelas bisnis.


"Pagi Pak" jawab mereka semua kompak pada dosen baru.


"Perkenalkan, nama saya Wiratama. Kalian bisa memanggil saya dengan sebutan Tama. Saya dosen baru dan saya tidak suka jika dalam mata kuliah yang saya berikan, kalian tidak boleh melakukan kesalahan sedikitpun juga. Jika ada yang melanggar peraturan yang saya berikan maka saya tidak akan segan-segan untuk memberikan hukuman pada kalian semua. Tanpa terkecuali" ucap Pak Tama dengan nada tegasnya.


"Baik Pak" jawab mereka dengan kompak tapi tidak bersemangat. Karena mereka harus berhubungan lagi dengan dosen kiler lagi.


"Sekarang kerjakan ini semua" ucap Pak Tama saat menyerahkan lembar-lembar ujian yang membuat semua mahasiswa yang ada disana melototkan matanya karena diberikan tugas sebanyak ini oleh dosen baru yang membuat mereka kesal kecuali Zahiya.


"Yang benar saja Pak. Masa kita semua harus mengerjakan soal-soal sebanyak ini? Ini penyiksaan namanya!" ucap protes seorang mahasiswa yang bernama Morgan.


"Jika kamu tidak suka. Maka keluar dari kelas saya sekarang!" jawab Pak Tama yang menatap dengan tatapan tajamnya.


Morgan tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia hanya diam dan langsung mengerjakan tugas kuliahnya dengan terpaksa. Karena dia tidak ingin jika ujian nya kali ini membuat keluarganya malu lagi.


.


.


.


Maafkan Othor ya reader... Othor baru bisa up sekarang, karena menjelang lebaran ini tugas-tugas Othor sangat banyak sekali. Apa lagi Othor sedang dirumah Ibu mertua, jadi pasti tahu lah ya jika sudah berumahtangga... Maaf Othor jadi curhat....


Semoga readers kesayangan selalu diberikan kesehatan dan selalu memberikan dukungan buat Othor...


Othor ucapkan Minal aidzin wal faidzin... Mohon maaf lahir batin 🙏🙏 Jika ada salah kata yang Othor mohon dimaafkan ya 🤗🤗