Love In Trouble

Love In Trouble
Izin



Zaina menggeleng kecil. Sudah mulai biasa dengan berita tentang Mahen dan Chika. Walau sedikit buat dirinya sakit hati, tapi karena Mahen sudah memperingati dirinya. Zaina jadi sudah menyiapkan hati. Jadi, dirinya nggak terlalu sakit hati. Toh, setiap malam juga Mahen akan menelepon dirinya akan di telepon sama Mahen untuk memintanya tenang dan percaya saja sama dirinya.


"Kamu beneran mau ke kantor? Mommy beneran khawatir banget sama kamu. Karena kamu sendiri nggak akan bisa mengontrol semua orang dan mau bagaimana pun, di sini mommy nggak bisa terus ada di samping kamu."


"Mommy ..." Zaina berusaha menenangkan mommy nya itu. "Aku nggak mungkin diem aja mom," jawab Zaina sembari tersenyum kecil. "Aku juga punya tanggung jawab dan aku juga masih nggak tahu bakalan selesai sampai kapan. Tapi yang aku tahu ... seberapa lama nanti aku terkena masalah. Aku nggak bisa diem aja terus dan ngandelin mommy sama daddy doang."


"Tapi kan ... mommy khawatir banget sama kamu."


"Enggak, mom. Di sini daddy kerja untuk selesaiin masalah aku, jadi aku nggak mau buat daddy jadi nambah pikiran untuk ngurus perusahaan dan karena kondisi aku juga udah jauh lebih baik di banding sebelumnya. Jadi, mendingan aku ke kantor."


Zaina memandang jam di pergelangan tangannya.


"Sebentar lagi juga Ghaly bakalan datang kok, dia yang bakal dampingin aku. Aku juga nggak enak loh mom sama Ghaly. Masa dia harus ngurus kerja semuanya sendiri dan di sini aku malah santai gitu aja."


Pada akhirnya mommy Nadya hanya bisa pasrah dan membiarkan anaknya melakukan apa yang dia mau. Karena mau bagaimana juga, anaknya terlihat jauh lebih merasa baik ketimbang sebelumnya.


Mommy Nadya berjalan memutar dan membuka kotak obat. "Ini jangan lupa di minum, nanti mommy suruh Ghaly juga. Kamu harus minum obatnya ya. Jangan dibuang."


Zaina menerima obat tersebut dan menaruhnya ke dalam tas. "Siap mommy ... aku bakalan minum."


Tiba-tiba suara klakson dari depan sana membuat Zaina itu langsung menoleh dan mereka berdua keluar. Banyak awak media yang kembali berusaha mengambil foto mereka. Tapi untuk kali ini Zaina berusaha nggak peduli dan menghampiri mobil Ghaly yang sudah terparkir di dalam rumahnya.


"Nak Ghaly ... tolong jagain anak tante ya. Jangan maksa Zaina untuk mengurus banyak hal. Dia udah banyak ngurus yang lain. Oh iya, tolong ingetin untuk terus minum obat. Maaf ya kalau tante malah ngerepotin kamu lagi."


"Ih enggak tante .. saya nggak ngerasa di repotin sama sekali. Ini memang udah tugas saya untuk menjaga Zaina dan tante nggak perlu khawatir. Saya akan jaga Zaina dengan sangat baik. Dan saya juga akan terus informasi tentang Zaina ke tante."


"Ih mommy mah, kayak yang nggak percaya aja sama aku!"


"Bukannya nggak percaya, tapi kamu suka nekat. Mommy nggak mau kalau kamu juga sampai nggak peduli sama diri kamu. Sudah cukup mommh ngelihat keadaan kamu yang kemarin. Karena mommy—


"Sudah sudah ... iya deh terserah mommy saja. Mommy cukup percaya sama aku dan aku bakalan berusaha untuk nggak ngecewain mommy lagi."


Mommy Nadya menarik napas dalam dan akhirnya mengangguk. Memint Zaina untuk cepat masuk ke dalam mobil. Mulai merada risih karena beberapa awak media udah meminta sekaligus memaksa untuk masuk ke dalam.


Mommy Nadya menepuk tangan Ghaly, "tolong jaga anak tante ya."


"Siap tante ... saya bakal jaga Zaina dengan baik."


Ghaly masuk ke dalam mobil. Mommy Nadya hanya melambaikan tangan lalu masuk ke dalam rumah. Sementara itu para penjaga direpotkan dengan menahan para wartawan untuk nggak mendekat. Setelah ada ruang, Ghaly langsung menjalankan mobil dan meninggalkan rumah Zaina.


***


"Kamu beneran dekat lagi sama Mahen?" tanya Ghaly dengan senyum miris sekaligus melirik Zaina dari spion depan. "Gue beneran kaget loh, pas tau lu udah nggak ribut lagi sama Mahen. Kenapa bisa?"


"Entah lah ... mungkin karena aku yang masih punya perasaan sama dia, makanya kayak gampang banget maafin dia dan nggak cuman itu aja, ternyata selama ini Mahen nggak pernah berbuat salah sama gue ..."


"Gue nggak bies cerita panjang lebar sama lu karena ini masih rahasia banget. Tapi ... intinya selama ini tuh, gue sama Mahen ribut juga cuman karena salah paham doang dan Mahen juga terpaksa jahat sama aku. Karena ada satu lain hal ..."


Tangan Ghaly semakin memcengkram kuat setir mobil. Rasanya sangat senang melihat Zaina yang tersenyum lebar seperti ini walau harus membicarakan pria lain. Walau harus membiarkan hatinya terluka.


Tapi ...


Bukankah ini yang selalu Ghaly pinta? Jadi ... Ghaly nggak akan marah. Dia malah mendukung Zaina sama Mahen. Kalau Mahen memang serius dan nggak akan menyakiti wanitanya lagi.


"Ya sudah ... gue turut seneng kalau kalian memang dekat lagi. Tapi, kalau ada apa-apa jangan sungkan bilang ya sama gue."


"Hahaha tenang aja ... Mahen mah nggak bakalan berani macam-macam sama aku. Tapi, satu yang harus lu lakuin buat gue."


"Iya?"


"Tolong do'ain supaya hubungan gur sama Mahen kembali berjalan baik. Pokoknya do'ain deh supaya Mahen cepet untuk selesaiin masalah. Biar bisa lepas sama nenek lampir itu. Pokoknya biar nggak ada halangan lagi."


Pandangan Ghaly semakin menyendu. Ia berusaha untuk menatap jalanan dengan baik. Tanpa Zaina sadari, laki-laki itu sudah tersenyum miris sambil mengasihani dirinya. Mana ada perempuan yang meminta doa untuk hubungan nya dan meminta do'anya sama laki-laki yang ternyata menyukai dirinya?


"Ghaly!" seru Zaina. "Kenapa diem aja?"


"Ah iya ... bakal gue do'ain kok, tenang aja."


Tak lama mobil mulai memasuki perusahaan Zaina. Mobil sempat terhenti sebentar saat melihat depan perusahaan Zaina yang ternyata udah di penuhi sama beragam wartawan dan kameramen yang menunggu.


Dengan hati-hati Mahen menoleh ke belakang. "Ini kenapa ada di sini semua? Maksudnya ... biasanya nggak ada awak media yang ada di sini kok."


"Mungkin ... karena mereka udah dapet kabar dari wartawan yang tadi di depan rumah gue itu," ucap Zaina yang juga gak yakin.


"Terus ... sekarang harus gimana?" Ghaly merasa mereka tidak mungkin bisa melewati mereka yang sangat banyak. Di saat nggak ada penjagaan yang banyak.


Zaina termenung.


"Ghaly ..."


"Iya?"


"Mungkin ini kedengaran gila, tapi boleh nggak gue ke sana dan temuin mereka semua?"


Tangan Ghaly menahan lengan Zaina yang mau membuka pintu gitu aja. Laki-laki itu menggelebg dengan sangat cepat. Nggak suka sama rencana gila Zaina yang ternyata memang benar-benar rencana gila.


"Gue mohon, gue nggak bakal ngomong macam-macam. Gue cuman mau minta maaf aja karena udah buat ribut suasana karena tuduhan itu."


Zaina terus memohon, sampai akhirnya Ghaly tidak tega dan membiarkan Zaina untuk ke sana. Laki-laki itu hanya bisa berdoa supaya nggak ada hal buruk lagi yang terjadi.