
"Ma— mana ada yang kayak gitu?"
Oma benar-benar sangat panik, ia berusaha merangkai kata yang bisa dipercaya sama orang tua Sofyan. Oma nggak akan membiarkan semudah itu rencananya hancur. Dia gak mau, setelah usahanya selama ini. Tiba-tiba rencananya itu hancur.
"Maksud kalian apa?" todong oma lagi berusaha tertawa. "Dari awal oma udah bilang kalau cucu oma setuju kok sama perjodohan ini. Kalian tinggal terima beres aja dan sekarang kenapa kalian malah nuduh oma kayak gini? kalian di hasut siapa?"
"Kalau memang cucu oma setuju, kenapa saat kita datang ke rumah mereka untuk silaturahmi. Nak Zaina tidak tahu apa-apa tentang masalah ini?" tanya ayah Sofyan dengan serius.
"..."
"Dari awal saya sebenarnya sudah curiga. Saya memang mau membuat anak saya hidup dengan baik tapi tidak dengan mengorbankan orang lain. Tapi dari awal anda itu selalu bilang kalau semua ini udah berdasarkan persetujuan cucu anda. Tapi ternyata nggak kayak gitu. Dan sekarang saya udah nggak bisa tolerir sama sekali. Saya sama istri saya datang ke sini dengan itikad baik untuk menyudahi perjodohan ini. Karena kalau di paksakan juga cuma buat anak saya sakit hati."
Oma bangkit dan menggeleng cepat.
"Bukannya dari awal kita udah berjanji untuk nggak hentiin perjodohan ini di pertengahan jalan? Nggak ... nggak ada yang boleh berhenti. Zaina dan Sofyan harus tetap menikah, bagaimana pun caranya."
Ayah Sofyan sudah menarik istrinya untuk bangkit, tapi istri nya itu terlihat masih enggan. Merasa kasihan sama oma yang sedang histeris sendiri.
"Mas, kasihan oma ..."
"Kamu mengasihi orang lain, tapi kamu nggak kasihan sama anak kamu sendiri?"
"Bukan begitu mas ..."
"Sudah lah, sekarang terserah kamu. Mau bela siapa. Inti nya mas nggak pernah setuju anak kita di jodohkan gitu aja. Biarin Sofyan cari pasangan yang baik menurutnya!" marah ayah Sofyan lalu pergi meninggalkan istrinya.
Bunda Sofyan menatap pintu rumah dan oma Zaina bergantian.
"Jeng ... jangan kayak gini lah," ucap oma lagi dengan sangat memohon.
"..."
"Oma janji akan bujuk Zaina, dia memang kelihatan nggak mau. Tapi oma yakin kalau selanjutnya dia bakalan setuju sama rencana kita. Kamu juga udah sreg kan sama Zaina? Jadi ... nggak usah lah batalin rencana yang udah berjalan ini. Sayang ..."
Raut oma langsung berubah. Wajah keriputnya tak bisa menutupi fakta saat ini oma sedang sangat marah.
"Maksudnya?"
"Waktu itu nak Zaina datang ke rumah. Awalnya saya kira cuma datang buat silaturahmi kayak biasanya. Tapi ... yaa ternyata nak Zaina datang sama kekasihnya? saya tidak tau tapi di sana nak Zaina membuka hati dan pikiran saya. Jadi, saya di sini cuma mau bilang sama oma kalau sepertinya nak Zaina bahagia dengan pasangannya jadi kita nggak usah ganggu kebahagiannya lagi."
Oma semakin meremang mendengarnya.
"Jadi kamu juga mau nyudahin perjodohan ini?"
Bundanya Sofyan terpaksa mengangguk.
"Maaf oma ... terima kasih atas itikad baik oma selama ini, tapi saya nggak mau menyakiti banyak orang lagi dan saya mau fokus ke hidup Sofyan tanpa maksa ini itu. Makasih juga karena oma udah baik banget sama saya dan keluarga saya. Tapi sepertinya perjodohan ini selesai sampai sini aja. Karena saya nggak mau menyakiti banyak pihak lagi."
Oma semakin marah.
"Saya cuma mau nitip pesan sama oma untuk mendapat maaf dari cucu oma, karena sempat jahat sama dia. Sudah dulu ya oma. Saya harap masalah ini nggak membuat hubungan keluarga kita jadi berantakan. Saya pamit."
Bundanya Sofyan langsung meninggalkan oma yang pada akhirnya menggeram marah saat mendengar mobil keluar dari rumahnya.
"ARGH"
Oma mengibaskan semua barang di meja dengan tongkat yang ada di genggamannya. Oma terus berteriak penuh amarah, menyumpahi cucunya itu yang selamanya akan dia benci.
Amarah oma yang semakin tidak terkontrol membuat para pelayan datang dan berusaha menghentikannya.
"Oma ... tolong jangan begini," histeris para pelayannya.
Dengan amarah yang sangat menggebu oma menunjuk telepon rumah. "Cepat telepon Zidan dan suruh dia bawa keluarganya ke rumah ini!" perintahnya membuat pelayan itu langsung mengangguk dan mengerjakan permintaan dari tuan di rumah itu
"Awas aja Zaina ... kamu nggak akan pernah bisa bahagia! oma pastikan kalau hidup kamu akan terus susah selama nya! sampai kapan pun itu!" sumpahnya