Love In Trouble

Love In Trouble
40 - Terpojokan



Biarlah hari ini banyak lelahnya demi sampai pada titik yang melegakan, indah dan tak terlupakan. Meski jalan menuju ke sana, berisi kepedihan dan air mata.


 


Zaina tertawa membaca semua tulisan itu. Asing. Setelah dia pulang ke rumahnya, Zaina benar-benar merasa asing dengan rumahnya. Suasana yang canggung, sikap acuh dari mommy dan daddynya. Bahkan mereka sama sekali menghiraukan keberadaan dia. Hanya sesekali bertanya tentang keadaannya dan selebihnya, mereka benar-benar mengabaikan Zaina.


Tidak hanya itu, bahkan sampai detik ini Mahen sama sekali hilang kabar. Laki-laki itu nggak pernah menghubungi Zaina sama sekali. Bahkan, Zaina nggak tahu dirinya harus senang atau sedih.


Dia nggak paham,


“Aku marah ... aku marah sama mas Mahen, dia sama sekali nggak berusaha apa-apa untuk membela dirinya. Dia nggak pernah mau berniat bela dirinya pas masalah itu. Dia cuman diem seolah membenarkan semuanya dan sekarang? Pasti mas Mahen makin benci sama aku. Dia ngerasa kalau aku cuman main-main sama pernikahan ini. Padahal enggak ... mana ada kayak gitu. Aku juga nggak mau hal ini terjadi.”


Zaina membiarkan air shower memancur ke arahnya. Ia terdiam. Air dingin itu mulai menyelimuti dirinya. Rasa sesak kembali terasa. Tapi Zaina enggan untuk segera keluar dari tempat ini.


“Tapi ... aku nggak mau kayak gini. Aku mau jelasin sama mas Mahen. Aku nggak mau ada salah paham lagi.”


Zaina seolah tersadar dan langsung membilas tubuhnya. Ia kenakan baju lalu beranjak keluar kamar mandi. Ia ambil ponselnya dan kembali menghubungi Marhen. Zania turunkan egonya demi bisa menghubungi Mahen dan menjelaskan semuanya.


Tapi, sayang. Lagi dan lagi nggak ada jawaban.


"Harusnya aku yang marah loh! tapi kenapa kesannya kayak aku yang salah. Harusnya dia paham lah, kalau aku sama Ghaly itu udah nggak ada apa-apa. Harusnya aku yang curiga sama hubungan mas Mahen sama perempuan itu! Bisa aja kan di belakang aku, mereka saling cinta."


Zaina memekik pelan.


"Aish, aku benci di posisi kayak gini."


Drrrt ... Drrrt ...


/Nggak usah sok hubungin saya, kalau nyatanya kamu masih berhubungan sama laki-laki itu!/


Mata Zaina membola membaca pesan yang dikirim sama Mahen itu. Langsung saja dia beranjak keluar dan mencari orang tuanya. Tubuhnya tersentak saat orang tuanya hanya duduk di pekarangan halaman belakang rumahnya.


"Mom ... Dad ... aku boleh pergi nggak?" seru Zaina dengan panik. "Ada yang harus aku urus! dan aku nggak bisa ngelak sama sekali."


"Mau kemana kamu?" tanya mommynya tanpa menoleh ke dia.


Zaina bungkam. Tidak, ia seharusnya nggak usah jujur tentang tujuan dia. Zaina mengangguk yakin dan kembali menatap ke arah mommy sama daddynya.


"Ada yang harus aku urus! aku janji kali ini cuman mau ngurus urusan aku doang," serunya dengan ambigu. "Tapi izinin aku buat bawa mobil sendiri. Aku nggak mau nyusahin banyak orang. Aku juga nggak mau ada orang yang tahu ke mana aku pergi."


"No!" sentak Daddy Zidan. "Daddy nggak mau kamu macem macem lagi di luaran sana. Masalah kemarin aja belum tuntas dan masih banyak orang yang lagi cari kamu. Jadi, daddy nggak akan kasih kamu izin buat keluar mansion. Apa lagi sendiri. Nggak akan pernah."


"Tapi dad—


"Tidak Zaina!"


"Hayolah dad ... aku mohon. Aku nggak akan macem macem lagi. Aku juga nggak pernah minta ini itu sama daddy. Aku nggak akan macem-macem di luaran sana."


"Enggak Zaina!"


Zaina tersentak. Ia menunduk. Mood dia akhir-akhir ini memang cepat berubah. Orang bilang ini karena kehamilan nya. Tapi Zaina nggak peduli. Intinya dia sakit hati mendapat bentakan dari daddy nya.


"Kalian tuh sebenarnya kenapa sih?" tanya Zaina lagi. "Aku mungkin memang anak bodoh. Aku nggak punya otak karena ngelakuin hal yang di larang sama mommy dan daddy. Aku juga cuman perusak suasana. Aku cuman anak penambah masalah. Tapi aku masih punya otak untuk lakuin hal jahat itu sama diri aku sendiri ..."


"..."


"Aku nggak mungkin sengaja nyari Ghaly. Kita nggak sengaja ketemu. Beneran nggak sengaja dan niat aku baik. Dia minta maaf dan aku maafin. Kita berdamai. Kita nggak mau berada di masa lalu lagi dan janji mau temenan kayak biasa aja. Tanpa sangkut pautin masalah ini."


Zaina menggigit bibir bawahnya. Meremas tangannya sambil sesekali mengusap perutnya yang terasa sakit.


"Kita cuman ngobrol biasa. Aku juga nggak pernah menyangka kalau bakalan ada orang yang ngikutin aku. Aku nggak pernah sangka sama sekali. Kalau tahu, aku juga nggak bakalan nemuin Ghaly."


"Tapi harusnya kamu tetap hati-hati," balas sang daddy membuat Zaina tertawa, tak percaya.


"Ya ... terserah mommy sama daddy. Nggak ada yang percaya sama aku."


"Gimana kami bisa percaya sama kamu kalau kamunya sendiri yang nggak pernah bisa di percaya? selalu kamu yang berulah. Daddy capek!" seru daddy Zidan yang udah tersulut emosi.


Mommy Nadya menahan lengan suaminya dan menggeleng. Nggak mau ucapan daddy Zidan yang lagi emosi melukai Zaina.


Tapi, salah.


Nyatanya Zaina udah sakit hati sama omongan daddynya.


"Semua orang pada kenapa sih?" seru Zaina sambil menangis.


Ia mengepalkan tangan.


"Nggak mommy, nggak daddy, nggak Mahen. Semuanya jahat banget sama aku! Kenapa kalian nyerang aku dalam waktu bersamaan gini? Ya ampun ... sakit. Sakit hati aku. Nggak ada yang percaya sama aku. Padahal aku udah berusaha untuk damai sama semuanya. Tapi yang aku lakuin malah salah terus di mata kalian."


"..."


"Sekalian aja semuanya nyalahin aku. Sekalian aja semuanya nyerang mental aku. Aku capek kalau kayak gini! Aku capek banget. Nggak ada yang dukung aku. Nggak ada yang berusaha ngertiin aku. Aku juga nggak mau kayak gini, tau nggak sih!"


Zaina berbalik dan memukul dadanya. Perempuan itu hanya bisa menertawai keadaannya.


"Sekarang terserah mommy sama daddy. Aku serahin semuanya sama kalian."


Zaina berbalik dan melangkah meninggalkan orang tuanya yang kini sudah saling memandang, bingung.


Zaina membanting pintu kamarnya. Tangannya masih berada di kenop pintu sampai dia tertegun. Ia hanya bisa menunduk dan tertawa lirih.


"Semuanya kenapa nyerang aku pas barengan kayak gini sih?" ucapnya dengan suara yang sangat gemetar.


"Aku kan— nggak kuat."


Zaina terduduk dan menangis. Tangisan yang benar benar menyayat hati. Siapa pun yang mendengar akan ikut merasakan sakit hatinya.


Karena tangisan perempuan itu.