Love In Trouble

Love In Trouble
Keputusan



Tanpa Mahen dan Zaina sadari, sebenarnya Ghaly sudah menaruh perekam di ponsel Zaina. Supaya apa yang terjadi pada perempuan itu bisa ia ketahui termasuk alamat yang sedang di diami sama Zaina. Bukan, Ghaly melakukan ini bukan karena kemauan dia sendiri. Tapi karena paksaan dari orang tua Zaina.


Pada awalnya Ghaly menolak, lantaran takut Zaina mengetahui semua ini dan malah marah pada dirinya lagi, karena sudah mengorek privasi Zaina. Ditambah Zaina paling tidak suka kalau ada orang yang mengganggu privasinya. Tapi karena paksaan dari orang tua Zaina yang takut anaknya ke napa-napa. Mau tidak mau, Ghaly menurut dan kerap menjaga Zaina saat gps perempuan itu menjauh dari mansion Zaina sendiri.


“Ini dengerin percakapannya nggak apa-apa kan?” tanya Ghaly pada dirinya sendiri sambil berusaha menyentuh tombol yang akan mengaktifkan perekam yang sudah di pasang pada Zaina.


Dengan meminta maaf, akhirnya ia mulai menyalakan dan laki-laki itu mendengar semua apa yang dibicarakan Zaina sama oma dan laki-laki asing? Ghaly hanya diam saja, sampai bentakan laki-laki di sana membuat tangannya mengepalkan tangan. Pikiran Ghaly langsung terbang ke arah Zaina yang pasti akan terluka akan masalah ini.


“Bentar ... siapa sih dia? kenapa Zaina bisa bertemu sama laki-laki yang super kasar kayak gini?”


Ghaly terus berusaha mendengar apa yang terjadi di sana sampai Ghaly merasa kalau laki-laki itu sudah pergi menyisakan tangisan Zaina yang mulai terdengar. Tanpa pikir panjang lagi, laki-laki itu langsung membawa ponselnya dan berlari keluar. Pikiran Ghaly hanya tertuju pada Zaina, benar-benar takut kalau perempuan itu ke napa-napa.


“Ya ampun, Zaina ....”


Dengan marah, Ghaly menaiki motor dengan asal. Ia melihat sebentar GPS Zaina berada dan tanpa pikir panjang ia langsung mendatangi posisi di mana Zaina berada.


Motor semakin mengebut di saat laki-laki itu terus membayangkan Zaina saat ini. Bahkan laki-laki itu nyaris menabrak pedagang, sampai mendapat bentakan dari orang karena  Ghaly benar-benar mengebut. Seperti nggak peduli sama nyawanya sendiri Ghaly terus mengebut. Laki-laki itu juga terus di klakson sampai akhirnya Ghaly bisa jauh lebih lega melihat restoran di mana Zaina berada.


Ia memarkir asal dan langsung berlari masuk ke dalam.


Ghaly tidak peduli saat semua orang memandang aneh ke arah dirinya. Ghaly terus memutar kepalanya, berusaha mencari Zaina. Ia kembali masuk ke dalam lorong untuk mencari ke tempat yang lain. Sampai langkahnya terhenti melihat Zaina yang sudah ada di pelukan seorang laki-laki. Laki-laki, yang sangat ia kenal. Alias Mahen.


Napas memburu Ghaly memperlihatkan betapa usahanya ia pergi ke sini hanya untuk menyaksi kan Zaina bersama laki-laki lain.


Ghaly terus memandang, Zaina yang terlihat sangat nyaman saat bersama dengan Mahen.


“Hah ... udah pasti Zaina bakal manggil Mahen kan?” gumam Ghaly dengan rasa kecewa


Kekhawatiran yang sejak tadi ada di ubun-ubun kini lenyap tergantikan dengan rasa sakit hati. Selama ini Ghaly memang menahan diri untuk menghilangkan perasaannya demi melihat Zaina nyaman sama dirinya. Tapi, setelah selama ini dia terlihat baik-baik saja. Kenapa sekarang malah merasa sangat sakit melihat Zaina bersama laki-laki lain?


Tanpa pikir panjang sama sekali akhirnya dengan perasaan kecewa yang menggebu, laki-laki itu berbalik dan meninggalkan tempat ini dengan perasaan sia-sia.


***


Sementara itu,


Di saat Zaina benar-benar sedang membutuhkan seseorang. Mahen tepat datang di depannya dan langsung memeluk perempuan itu tanpa mengatakan apa-apa sama sekali. Seolah Mahen tahu kalau saat ini Zaina tidak ingin di tanya apa-apa. melainkan hanya butuh di temani saja.


Mahen langsung mengemas barang Zaina yang ada di atas meja dan langsung saja membawa Zaina keluar. Mahen menggiring Zaina untuk masuk ke dalam mobilnya dan berjalan memutar, masuk juga ke kursi di balik kemudi.


“Mau langsung pulang atau pergi ke mana dulu?”


Zaina menarik napas dalam.


“Mahen ... apa semua kesalahan aku di masa lalu nggak bisa di maafkan sama sekali?” gumam Zaina saat mobil Mahen sudah mulai keluar dari area restoran. “Apa usaha aku untuk berubah dan jadi orang baik selama ini itu nggak pernah kelihatan di mata orang ya? kenapa ya ... di saat aku berusaha ngelupain semua kesedihan di masa lalu dengan susah payah. Masih aja ada orang yang buka luka lama aku dengan segampang itu ...”


“Bentar ... aku boleh nanya nggak?” tanya Mahen terlebih dahulu.


Di sini Mahen masih nggak paham sama apa yang terjadi. Dia belum mendapatkan jawaban dari perasaan buruk yang sudah ia rasakan sejak tadi itu.


“Hmm?”


“Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Kenapa kamu bisa ada di luar dan menangis? Siapa yang udah buat kamu nangis. Nggak cuman itu doang ... tumben sekali mommy sama daddy kamu kasih izin biar kamu bisa keluar. Padahal biasanya kamu itu di larang keluar. Kalau pun boleh, harusnya ada yang jaga kan? Kenapa ini nggak ada penjagaan sama sekali?”


“...”


“Zaina ... aku tahu, kalau sekarang kamu udah mulai di bela sama semua orang. Tapi tetap aja ini semua nggak seaman itu. Masih ada yang berusaha caru letak kesalahan kamu. Jadi, aku harap kamu nggak bertindak gegabah sama sekali.”


“Mahen ... aku harap kamu bisa bertemu sama perempuan yang jauh lebih baik dari aku,” ucap Zaina tiba-tiba, tanpa menjawab pertanyaan Mahen sama sekali.


“Zaina ...”


Mahen menghentikan mobilnya di bahu jalan dan menatap Zaina. Laki-laki itu berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini. Tapi Mahen sama sekali nggak paham.


“Apa pun yang terjadi sama kamu, aku nggak bakalan pernah cari perempuan yang terbaik. Karena menurut aku, kamu lah perempuan terbaik itu. Dan ... kenapa tiba-tiba mikir ke arah sini? Padahal sebelumnya kamu jelas tahu kalau aku cuman cinta sama kamu karena kamu yang udah berhasil memenuhi pemikiran aku.”


Zaina tersenyum tipis dan menggeleng.


“Enggak Mahen ... kamu bisa dapet yang jauh lebih baik, ketimbang aku. Mungkin kita bisa berteman, tapi untuk menjadi pasangan. Maaf ... aku belum bisa.”


Entah apa yang ada di pikiran Zaina, sampai perempuan itu mengatakan seperti itu. Ia sekali lagi meminta maaf dan membuka pintu mobil lalu bergegas meninggalkan mobil Mahen begitu saja. Menyisakan Mahen yang masih nggak ngerti apa-apa, dan termenung akan hal yang baru saja ia dengar ini.